Kamis, April 10, 2014

Politik Keledai 2014, Urung-urung Wis

Dalam adagium Jawa, dikenal istilah 'hurung-hurung wis,...' (belum-belum sudah,...) ungkapan untuk menunjukkan belum apa-apa, sudah melakukan ini dan itu. Dan itulah kelakuan partai politik di Indonesia.
Belum juga penghitungan hasil suara pileg rampung (baru ngerti dari quickcount), beberapa orang partai sudah ngomong soal koalisi ini dan itu dengan berbagai kalkulasinya. Dari semua omongan mereka, muaranya sama, bisa berkoalisi dengan siapa saja. Tidak ada perbedaan yang jauh dan prinsipil, karena platform masing-masing partai relatif sama.
Anak saya yang baru pertama kali memilih kemarin, sampai pada pertanyaan yang sulit saya jawab. "Saya pilih partai ini, karena saya tidak mau milih partai itu." Lantas masalahnya di mana? "Masalahnya, sekarang partai ini mau bekerjasama dengan partai itu,..."
Tentu saja, politik bukan sesuatu yang mudah dijelaskan, apalagi praksis politik di Indonesia yang lebih berorientasi pada kekuasaan. Jika dikatakan bahwa masing-masing partai tidak mempunyai perbedaan ideologi yang menonjol, memang demikian adanya. Bahkan ideologi mereka sama persis, yakni ideologi kekuasaan.
Jadi, teriakan-teriakan gagah parpol di panggung-panggung kampanye dan media itu? Itu gimmick, itu teater, itu akting, itu anjing. Dan untuk itu, bahkan mereka membangun melodrama, pseudo-teater, common-sense dan sekaligus common-enemy. Agar kemudian produksi simpati publik bisa diraih.
Tapi setelah suara diraih? Suara itu sama sekali tidak dihargai, karena memang tidak ada kontrak, tidak ada komitmen. Apa rakyat bisa cawe-cawe turun tangan, ketika wakil rakyat yang dipilihnya dulu salah jalan atau bertindak tidak sesuai keinginan aspirasi rakyat? Tidak ada cara dan jalannya.
So? Ini patah hati pertama kali anak saya dengan politik. Dan saya membatin, anak ini akan potensial golput kelak.
Ini tragedi politik kita. Di bawah, ada orang yang mau lihat dan ikut kampanye parpol A, dan bukan B. Simpatisan partai C bisa bentrok dengan simpatisan partai D. Bahkan karena itu, bisa terjadi anarkisme, perkelahian, sampai jatuhnya korban. Untuk apa semuanya itu ketika dibela-belain menempeli kendaraannya dengan sticker, memakai bendera, syal, ikat kepala, dan dicoreng-coreng wajahnya dengan simbol-simbol partai? Kebodohan? Betapa anjing dan teganya penyebutan itu.
Semua itu, melahirkan apatisme, dan golput karena kesadaran, akan selalu terus hadir. Jika benar perhitungan sebuah lembaga survey tentang Golput, dalam Pemilu 2014 ini merupakan kemenangan mutlak Golput karena mencapai angka 34%. Tak ada parpol pun yang bisa melampaui angka itu kalau kita sama-sama percaya quick-count.
Siapa yang membuat itu? Para politikus yang tidak paham politik sehingga tidak bisa memberikan pendidikan politik publik. Pemerintah yang tidak memberikan arah pada perjalanan ke depan bangsa dan negara. Dan dalam hal ini KPU dan Bawaslu, yang sudah tahu ini pekerjaan lima tahun sekali (artinya disiapkan sepanjang 5 tahun) dengan persoalan dan data entris yang sama, tapi masih saja melakukan kesalahan yang sama.
Berapa orang terpaksa Golput karena ulah KPU dan Bawaslu ini? Tanya orang-orang di luar Jawa. Di pelosok Papua, Sulawesi, NTT, NTB, Nunukan, dan seterusnya dan sebagainya. Jangankan itu, sementara di Bogor saja, bisa didapati di satu TPS kartu suara sudah dicoblos sebelum sampai ke pemegang DPT. Bagaimana di Badui, semua jadi Golput karena di kertas suara tak ada foto, sementara mereka buta huruf? Di Polemandar azas luber-jurdil dilanggar oleh KPPS-nya sendiri. Ada yang salah kirim padahal satu dan lain daerah itu tak bisa ditempuh dalam setengah hari. Ada TPS sampai habis jadwal belum dapat kiriman logistik, ada pula satu wilayah sampai hari H belum mendapatkan kartu pemberitahuan atau undangan memilih, dan seterusnya. Semuanya itu menimbulkan frustrasi, karena ini Pemilu ke empat yang dilakukan paska kekuasaan Soeharto.
"Demokrasi? Basa-basi!" sebagaimana dinyanyikan Slank.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar