Selasa, April 29, 2014

Politik Hitam Menurut Para Filsuf dan Pemikir Dunia


Sabam Sirait, politikus gaek Indonesia, menulis buku dengan judul “Politik itu Suci”. Judul itu, bagi saya, ingin menunjuk betapa tidak sucinya politik, utamanya politik dala praksisnya di negeri ini. Lihat saja yang terjadi dalam peristiwa politik kita hari-hari ini. Politik seolah hanya milik para politikus.
Padahal, ketidakpercayaan pada (partai) politik, tak hanya di negeri ini. Kutipan-kutipan di bawah ini, menunjukkan hal itu:
“Politisi itu semuanya sama,” kata Nikita Kruschev (1894-1971) politikus Uni Soviet, “Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungai di sana.” 
Bahkan Groucho Marx, yang bukan marxist, mengatakan, “Politik adalah seni mencari masalah, menemukan itu di mana-mana, mendiagnosis hal itu sebagai tidak benar dan menerapkan solusi yang salah.”
Karena itu sebagaimana dikatakan Charles de Gaulle, presiden Perancis, “Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya.”
Itulah sebabnya sang Adolf Hitler, pemimpin Nazi, Jerman dengan sinis berujar, “Alangkah beruntungnya penguasa, bila rakyatnya tidak bisa berpikir. Aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah.”
Massa rakyat, sering hanya dianggap kumpulan otak kosong dalam kampanye satu arah. Bagi Hitler, “Massa yang besar lebih menerima daya tarik retorika daripada hal-hal lain.”
Dalam penilaian Garry Kasparov, master catur Rusia, “Memang benar bahwa dalam catur seperti dalam politik, hanyalah tentang penggalangan dana dan memberi kesenangan.”
Karena itu, “Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang,” seperti kata seorang pelawak politik Will Rogers. Walau pun sebagaimana direnungkan oleh Robert Louis Stevenson (1850-1894) penulis Skotlandia: “Politik barangkali menjadi satu-satunya profesi yang tidak membutuhkan persiapan pemikiran yang memadai.” Lugasnya, dalam politik kebodohan bukanlah merupakan cacat seperti tudingan Napoleon Bonaparte.
Politisi juga tidak memiliki waktu luang, kata sang filsuf Aristoteles, karena mereka selalu bertujuan sesuatu di luar politik kehidupan itu sendiri, yakni lebih pada kuasa dan kemuliaan, atau kebahagiaan. Dalam istilah George Orwell, novelis, “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan berlangsung secara terhormat, dan memberikan penampilan soliditas angin murni.” Hingga kemudian Aristoteles pun jauh sebelumnya sudah menyebut sinis; Manusia adalah binatang politik.
“Dia tahu apa-apa dan berpikir dia tahu segalanya,” kata George Bernard Shaw. Dan semua itu, hanyalah menunjuk jelas untuk karir politiknya semata. Atau dalam sebutan Milan Kundera, “Orang selalu berteriak mereka ingin menciptakan masa depan yang lebih baik. Padahal menurut sang penyair itu, hal tersebut tidaklah benar. “Satu-satunya alasan orang ingin menjadi tuan dari masa depan adalah untuk mengubah masa lalu.”
“Dasar dari sistem politik kita adalah hak rakyat untuk membuat dan mengubah konstitusi pemerintahan mereka,” demikian pendapat George Washington. Namun menurut Clement Attlee, Perdana Menteri Inggris, “Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi.” Padahal lanjutnya, demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut. Makanya dalam pendapat Jarod Kintz, “Jika saya harus memukul Anda untuk membuat Anda aman, itulah yang akan saya lakukan. Ini semacam cara memperhatikan orang lain yang membuat saya percaya,…”
Plato bahkan dengan sinis menyebut bahwa, “Demokrasi masuk ke dalam despotisme (faham pemerintahan yang sewenang-wenang).” Itulah sebabnya; Kebutuhan politik kadang-kadang berubah menjadi kesalahan politik, sebagaimana disimpulkan George Bernard Shaw.
Lantas, bagaimana politik yang baik, yang tidak nampak hitam? Tinggal membalik saja semua pendapat di atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar