Kamis, April 17, 2014

Para Penari Jathilan dan Anak-anak Muda Kalah

Di sebuah desa kawasan Bantul (DIY), saya punya status sebagai penasehat spiritual sebuah Pakempalan Seni Jathilan 'Rina Gumbira' (siang yang riang). Itu kesepakatan anak-anak muda anggota grup itu sendiri, dan ditulis formal dalam struktur organisasi. Saya sakti? Pastilah tidak, itu cara mereka meledek situasi.
Menurut mantan gubernur Jateng, Bibit Waluyo yang militer itu, seni kampungan. Tak usah ngamuk. Mau kampungan mau ndesit, apakah maksudnya tidak berharga? Tidak bermutu? Biarkan sajalah.

Meski agak bau eskapistik, seni jathilan menjadi sebuah media, ruang atau cara katarsis anak-anak muda desa dalam situasi yang kalah. Mereka miskin, tidak berpendidikan cukup, dan tanah mereka dirampas oleh kemiskinan, dan muncullah tuan-tuan tanah baru dari kota, yang membuka usaha seperti cafe, resto, loundry, kost-kostan, tempat futsal, game center, dan lain sebagainya, karena di wilayah itu berdiri sebuah kampus besar dengan ribuan mahasiswa yang tiba-tiba mengubah desa miskin itu dengan potential buyers bernama mahasiswa, si agent of change itu.
Dalam seni jathilan, bukan hanya seni tari tetapi ada proses trance, ketika para penari kerasukan entah apa. Ada yang menyebut roh halus, roh kasar, penunggu ini-itu, arwah leluhur, dsb. Tidak penting bagi saya. Tapi yang penting, adalah ketika para penari itu hilang kesadaran.
Tenaga mereka bisa berlipat ganda, ngamukan, makan apa saja minum apa saja sesaji yang tersedia. Kembang, ketela, pepaya, nasi kuning, nasi masih dalam cething, beras, gabah (bukan ghibah), daun pepaya mentah, kaca-beling, tanah, air comberan, buah-buahan seperti bengkoang, jambu, disikatnya dengan cara makan langsung dengan mulut, tidak pakai tangan apalagi sendok. Tapi, bukan hanya makanan ndesa, pernah saya taruh coklat magnum, lolipop, mbanggula karet dan buah apel amerika, disantapnya juga lahap.
Kostumnya bagus. Penuh aksesoris mencolok. Dulunya pakai hem putih, tetapi karena selalu menjadi kotor, diganti kaos putih polos lengan panjang. Wajahnya dirias model coretan Picasso, pakai kacamata item.
Ketika mereka trance, itulah saat katarsis, benar-benar pembebasan. Yang dalam keseharian kalem, pendiam, bisa liar, kasar, brutal, teriak-teriak seenaknya, dan tentu ngamukan. Siapa yang membuat mereka marah, akan dilabrak, dikejar, dan mereka bisa melompat pagar lebih dari satu meter yang melingkari mereka.
Kalau sang dukun sudah menjapamantra, mereka yang trance sadar dan lemes, habis tenaga, dan mereka kembali menjadi anak-anak muda yang kalah. Tapi area permainan seni jathilan, memberi ruang pembebasan dan keberanian buat mereka. Di sanalah anak-anak pinggiran itu mendapatkan ruang eksistensialnya, sampai akhirnya mereka bisa punya pacar, isteri, dan melanjutkan perjuangan dalam kehidupan keseharian.
Tulisan ini ada hubungannya dengan pemilu atau capres-mencapres? Tak ada. Tapi, ketika anak-anak 'Rina Gumbira' itu lama tidak dapat job atau tanggapan, pemilu memberi ruang pada mereka, untuk ikut kampanye dari parpol mana saja, asal ada duit untuk bensin dan makan. Mereka merasa bisa eksis ketika berombongan di jalan raya, dan berteriak-teriak lepas. Mereka aktivis politik? Saya kira, mereka hanya rindu grup mereka lama sudah tidak berpentas. Dan kampanye politik memberi ruang untuk itu, untuk nebeng trance.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar