Rabu, April 30, 2014

Dengan Internet; Indonesia Negara Maju atau Mundur?


Pengguna internet di Indonesia hingga akhir 2013, menurut data BPS, mencapai angka 71,19 juta orang. Dibanding tahun sebelumnya, naik sebesar 12%. Dengan angka itu, bisa diartikan, penetrasi internet di Indonesia sekitar 28 persen. Untuk menyesuaikan tuntutan Millennium Development Growth (MDGs), yang juga disepakati International Telecom Union (ITU), maka tuntutan melek internet 50 persen belum tercapai.
Namun pada sisi lain, jika dibandingkan dengan pertumbuhan buku (media cetak) di Indonesia, dunia internet di Indonesia sangat cepat pertumbuhannya. Bahkan melebihi pertumbuhan internet di beberapa Negara kawasan Asia Pacifik. Bahkan, Indonesia masuk 10 besar pengakses internet. Luar biasa?
Sementara pertumbuhan buku di Indonesia, hanya sekitar 6%, itu pun dengan data buku yang terjual dalam tahun 2013, hanya mencapai 33.199.557 eksemplar dari rata-rata 30.000 judul buku yang bisa diterbitkan. Terbesar adalah buku anak-anak (23%), buku fiksi dan sastra, agama, serta pendidikan masing-masing 13%, buku referensi dan kamus 9%, lain-lain 31%. Unesco menetapkan kriteria negara maju adalah penerbitan jumlah judul buku setahun bagi negara tersebut adalah 1% daripada jumlah populasi rakyatnya.  Jika diukur dengan hal itu, menurut Unesco, Indonesia tidak masuk Negara maju.
Dengan pertumbuhan 6% pertahun, kapan kita bisa menerbitkan 2,4 juta judul dalam setahun? Jangankan dibandingkan Korea dan Jepang, dengan Taiwan saja, dengan 26 juta penduduk, mereka mampu menerbitkan sebanyak 30,000 judul setahun (sama dengan capaian Indonesia, tapi dengan jumlah penduduk hampir 10 kali lipat). Tapi di sisi lain, dalam tuntutan MDGs dan ITU, Indonesia juga belum memenuhi syarat sebagai Negara modern. Belum lagi jika kita pakai data World Bank, bahwa 40%penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Gimana dong?
Itulah jika Indonesia sebagai bukan Negara yang independen dalam relasi globalnya. Tidak mandiri secara ekonomi, politik, dan kebudayaan. Agenda-agendanya, lebih ditentukan oleh Negara luar, yang notabene tentu melihat Indonesia sebagai pasar potensial dengan jumlah penduduknya.
Fakta lain yang juga harus disodorkan. Bahwa 7 juta penduduk Indonesia masih buta huruf. Sementara tingkat melek huruf (literasi) anak-anak sekolah, belum sampai pada tahap yang memungkinkan berpartisipasi efektif dan produktif dalam hidup sehari-hari. Pertumbuhan ekonomi semakin jauh meninggalkan produksi barang dan jasa kebutuhan riil sehari-hari. Ekonomi Indonesia lebih berkait transaksi produk-produk finansial, yang pada satu sisi dapat menyebabkan seseorang meraih laba besar di bursa-bursa efek, hanya dengan mengandalkan rumor bahwa akan terjadi transaksi.
Dan tiba-tiba, makbedunduk, masyarakat mendadak internet. Pada sisi lain, hasil riset Kemeninfo yang didanai UNICEF,  menemukan fakta sebanyak 30 juta anak dan remaja Indonesia merupakan pengguna internet. Media digital kini menjadi pilihan utama saluran komunikasi mereka.
Studi lebih lanjut menemukan, 80% responden yang disurvei merupakan pengguna internet dengan bukti kesenjangan digital yang kuat, antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera di Indonesia, dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan (dan kurang sejahtera). Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jakarta, misalnya, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet.
Studi ini mengungkapkan bahwa 69 persen responden menggunakan komputer untuk mengakses internet. Sekitar sepertiga atau 34 persen menggunakan laptop dan sebagian kecil atau hanya 2 persen terhubung melalui video game. Lebih dari setengah responden (52 persen) menggunakan ponsel untuk mengakses internet, namun kurang dari seperempat (21 persen) untuk smartphone dan hanya 4 persen untuk tablet.
Persoalannya, apa yang diakses oleh para pengguna internet, dalam berbagai bentuknya itu? Dalam dunia kontemporer kita hari-hari ini, salah satu sumber kenikmatan terbesar berasal dari teknologi digital. Inilah revolusi teknologi yang melahirkan dunia maya. Dan Indonesia berada di dalamnya. Negeri dengan 240 juta penduduknya ini, adalah salah satu dari sepuluh negara pengguna terbanyak internet. Namun penggunaan terbanyak (95%) masih untuk media sosial. Indonesia juga merupakan negara pengguna aktif facebook nomor empat di dunia. Lebih menakjubkan lagi, tuitan terbanyak, ternyata berasal dari Jakarta. Termasuk di dalamnya tentu dari SBY, Tifatul Sembiring, TrioMacan, dan sejenisnya itu. Dalam satu detik, Jakarta memproduksi 15 tuitan, dan dengan begitu merupakan kota tertinggi di dunia dalam penggunaan twitter.
Kenyataan itu menunjukkan, sebuah budaya baru hadir di tengah kita bernama teknologi digital. Budaya selalu terhubung, budaya berkomentar, dan kecenderungan untuk selalu berbagi, menjadi begitu massif (Geert Lovink, “Networks without a Cause: A Critique of Social Media”, Cambridge: Polity Press, 2011).
Segala sisi ruang-ruang sosial kita, berkembang melesat ke media sosial yang secara paradoksal, penuh kontradiksi, dan kegetiran, mengarah ke perilaku a-sosial. Tentu saja, hal tersebut bagian dari ketiadaan arah dan grand-design, ke mana Indonesia menuju.
Gejala itu membawa kita ke situasi yang saling bertolak-belakang. Karena senyampang dengan itu, kita menyadari bahwa masalah-masalah yang mendera makin membutuhkan pemikiran yang mendalam. Pada kenyataannya, sebagaimana ditulis Sherry Turkle, peneliti media sosial dalam “Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other”  (New York: Basic Books, 2011), “Kita menciptakan budaya berkomunikasi yang justru mengurangi waktu kita untuk berpikir tanpa tersela, di bawah godaan untuk segera melontar komentar, (dan) kita tidak lagi punya cukup waktu untuk memikirkan problem-problem yang rumit.” Hasrat untuk segera berkomentar, atau menyimak komentar orang lain tentang kita, membuat kita menjadi mahluk pauseable, bisa dijeda, seperti tape atau video recorder, kata Turkle. Dan bersamaan dengan itu, sebagai makhluk multi-akses, kita menjadi manusia multi-fokus, multi tasking, dengan berbagai dampaknya.
Lihat dalam kaitan Pemilu 2014, betapa meriah dan gegap gempitanya Indonesia. Tiadanya aturan (yang artinya juga tiada norma, etika) membuat kita hidup dalam simpang siur informasi, dan kemungkinan merancang diri secara baru meski dalam kegagapan begitu nyata, mudah ditebak ke mana arahnya dengan teknik rendah.
Celakanya, juga dengan tingkat rendah literasi kita, informasi dengan gampang mengambil wujud kebenaran. Promosi iklan mengambil bentuk komunikasi intim. Dan citra menggantikan realitas. Kalau hermeneutik berisiko menggusur kebenaran ke permainan kosa kata, teknologi digital merancang isi kebenaran dan menciptakan dunia makna dalam bentuk baru.
Tanpa ketersediaan waktu untuk menakar informasi (dan juga karena kemampuan literasi yang elementer), citra hadir silih ganti. Tumpang tindih berkelindan, sebagai potongan-potongan realitas yang berisi pernyataan sepotong-sepotong. Dunia maya merupakan sebuah dunia tidak teraba, namun menimbulkan efek nyata dan dialami sebagai ruang, relasi, pencipta nilai-nilai baru (Rob Shields, “The Virtual”, Routledge: London, 2003).
Tentu saja, dunia internet adalah sebuah ruang atau media, garbage in garbage out. Semua akan sangat tergantung siapa penggunanya. Pemaknaan kepentingan, kemudian jadi lebih mudah terdeteksi. Media massa itu sudah mati. Yang ada kemudian media personal, yang tingkat biasnya jauh lebih tinggi, karena peran subyektifnya jauh lebih menonjol disbanding peran obyektif sebagai media bagi semua orang (massa). Di tangan penjahat, dia membuka ruang kejahatan yang luar biasa. Dan tampaknya, itu jauh lebih menarik serta mudah. Apalagi dalam keterhubungan personal yang maya, dimana identitas bisa dikamuflase dan disembunyikan. Hingga akhirnya, seseorang bisa memaki-maki orang lain, meski bisa jadi mereka berada di ruang yang sama. Hanya berjarak 1 meter, dan hanya dipisahkan dinding bilik warnet, yang hanya setinggi 1 meter pula.
Tak bisa dipungkiri, internet merupakan media komunikasi yang efektif dan efisien. Salah satu efek dari internet, membuat komunikasi lebih mudah dan murah. Ada banyak media yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan perantara jaringan internet, seperti Facebook (social network), Twitter (microblogging), Skype (video calling), dan sebagainya.
Salah satu dampak positif internet, dapat membantu mereka yang menjalankan bisnis penjualan. Bisa meningkatkan omset penjualan, yang tentunya ini akan berimbas langsung terhadap meningkatnya pendapatan. Hadirnya teknologi internet membuat proses pemasaran menjadi lebih mudah dan murah. Kita bisa membuat blog gratis di Blogspot atau WordPress, atau kita mempromosikannya di Facebook atau Twitter.
Pada sisi lain, dan ini yang penting, internet juga menyediakan berbagai macam saluran sebagai media hiburan. Dengan internet, kita bisa menonton video online, mengunduh lagu-lagu kesukaan, menonton tv streaming, memainkan game online, dan lain sebagainya.
Efek positif lainnya, bisa memperoleh informasi yang begitu melimpah tak terbendung. Ini tentu memudahkan dalam menyelesaikan sesuatu. Kemudahan ini sangat dirasakan utamanya untuk para pelajar. Namun kita juga harus hati-hati, karena tidak semua informasi di internet valid, atau yang biasa disebut hoax.
Saat ini kecenderungan orang untuk bersosialisasi dengan orang lain berubah. Orang lebih sering bersosialisasi di dunia maya, ketimbang bersosialisasi di dunia nyata. Kita bisa melihat dari begitu besarnya pengguna jejaring sosial Indonesia. Pengguna Facebook di Indonesia lebih 65 juta pengguna, pengguna Twitter telah mencapai 20 juta pengguna. Bukankah ini potensi (atau petaka) yang luar biasa? Tergantung sudut pandang dan kepentingannya.
Salah satu hal yang penting diketahui, tidak semua informasi yang ada didalam jaringan internet dapat difilter. Hal ini memungkinkan para pengguna internet di Indonesia, dapat mengkonsumsi dan bahkan memproduksi konten-konten sesuai pilihan dan kepentingan masing-masing.
Secara tak sadar, kadang kita menghabiskan waktu yang begitu lama, ketika sedang berinteraksi dijejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Padahal waktu tersebut seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan lainnya dalam interaksi sosial, seperti bermain dan belajar bersama, bekerja, dan lain-lain. Di dalam game online, misalnya, dengan mudah orang bisa tertular kecenderungan untuk bersifat keras, kasar, bahkan anti-sosial.
Belum lagi berbagai modus penipuan via internet. Kejahatan dunia maya, bukan hanya sekedar tipu-menipu dalam bisnis online, atau hadirnya para spammer yang mengajak berkenalan, namun berujung penipuan (biasanya via facebook dan twitter). Namun dunia tipu-menipu di dunia politik, juga tak kalah keras, sadis, dan kasarnya. Termasuk tentunya dalam soal pemahaman ideologi lainnya seperti dalam hal keber-agama-an. Sorga dan neraka di dunia maya, seolah sudah menjadi rahasia umum, bukan lagi otoritas Tuhan.
Masih ingat kata-kata Rhoma Irama dulu, menjelang pilkada DKI Jakarta? Beliau mengatakan bahwa ibunda Jokowi beragama Kristen. Dari mana informasinya? Dari internet, jawab Bang Haji, yang mengatakan karena info itu dari internet maka menurutnya sahih.
Untung Bang Haji tidak jadi presiden Indonesia dalam pilpres Indonesia. Bisa haram jadah nanti yang namanya begadang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar