Selasa, April 29, 2014

Black Campaign dan Kebenaran Obyektif

Entah pagi, siang, sore, bahkan malam, di koran, televisi, media online, fesbuk, twitter, Anda dipusingkan dengan begitu banyak omong kosong para politikus, capres beserta para pendukung, pemuja dan pencacinya?
Anda bisa segera menutup semua media itu, dan kembali tenang bekerja untuk pemuliaan diri. Tapi, sebaik orang, adalah orang yang mengetahui dan dengan demikian tidak akan mudah tertipu atau ditipu.
Dalam postingan saya tentang ‘Politik Hitam’ sebelumnya, kita tahu hampir semua yang diomongkan para filsuf dan pemikir dunia itu, dipraktikkan oleh para politikus kita dan para cocomeyonya.
Semua mengatakan dirinya baik, mulia, tepat, namun sembari menjelek-jelekkan sampai bahkan memfitnah lawan, dan ujung-ujungnya meminta kita memilih dirinya. Itu dilakukan siapa saja, bahkan oleh Fahri Hamzah yang mengaku beragama, namun perilakunya bisa bertolakbelakang dari nilai-nilai agamanya.
Lantas siapa yang terbaik? Kalau hal ini kita kaitkan dengan pilpres mendatang, ngapain juga pusing memikirkannya? Jika tak yakin kita boleh golput, jika yakin mestinya kita tahu apa yang akan kita lakukan.
Apapun kata sosmed mengenai para capres, ukur dengan sederhana, seberapa obyektif informasinya. Apakah itu penilaian dari seseorang tentang seseorang, penilaian banyak orang tentang seseorang, atau penilaian beberapa orang dalam perbandingan oleh beberapa orang atau pun seseorang. Apakah yang disampaikan fakta peristiwa (empirik), permasalahan, atau pendapat? Di situ kita bisa mengukur obyektifitasnya.
Objektivitas berdasarkan pemaknaan filosofis, berarti doktrin dimana pengetahuan berdasarkan kenyataan objektif (berdiri sendiri). Objektivitas bermula dari istilah filosofis yang dikenal pada tahun 1620 dan memiliki arti "pertimbangan antara hubungan sesuatu dengan obyeknya" (sebagai lawan kata dari subjektif), "tidak bias, berdiri sendiri (tanpa keterlibatan pribadi)".
Objektif sebagai kata benda merupakan serapan dari bahasa Inggris yang berarti "tujuan, sasaran". Kata ini dimaknai sebagai "obyektif dari suatu pikiran;" yang juga berarti "arahan". Karena itu, kenyataan obyektif adalah sesuatu yang memiliki obyektif dimana nilai sesuatu diwakilkan oleh hal nyata (terjadi) lainnya, dengan ukuran-ukuran yang obyektif pula.
Jumlah kenyataan obyektif dari sebuah pemikiran, pendapat atau informasi, ditentukan oleh apakah dalam kenyataan formalnya, informasi tersebut memiliki "barang" (atau fakta) yang mewakilkannya?
Descartes menggunakan argumentasi kenyataan obyektif sebagai inti dari argumentasi keberadaan Tuhan. Mungkin agak ketinggian analoginya, namun bahasa sederhananya; kenyataan obyektif itu tidak bohong, tidak bullshit, atau omong kosong.
Informasi yang tidak obyektif, biasanya hanya satu sisi, tidak ada nilai pembanding, dan bahkan tidak faktual. Ia bisa hanya berupa pendapat seseorang tentang seseorang. Misal, poster Emha Ainun Nadjib yang mengatakan bahwa Prabowo itu orang baik. Itu informasi subyektif. Benar atau tidak? Itu urusan yang menyebabkan poster itu dibuat.
Lebih buruk dari itu, jika kemudian dilanjutkan mengatakan si A baik, sembari mengatakan si B buruk, namun tanpa penjelasan dan pembeberan fakta obyektif (tetap hanya opini sepihak), makin lemah dalilnya.
Dan lebih buruk dari yang terburuk tadi, jika ternyata yang menyampaikan adalah orang yang memilih, mendewakan, dan bahkan bagian dari si A.
Lebih cermat lagi, teliti di mana informasi itu dimuat, di media apa (apalagi media online), sebagian besar berisi informasi tentang apa saja, dan yang terpenting siapa di belakang media itu? Media yang mestinya obyektif, di jaman manipulatif dan tanpa standar moral dan etika ini, sama nilainya (menurunkan derajat) dengan jagoan yang disodorkannya. Maka jangan terlalu lugu dan unyu di jaman perang media, yang penuh agenda setting atau hidden agenda. Di situ akan terasa apa kepentingannya, dan itulah nilainya. Sama seperti bakul pakaian rombeng di pasar, mereka memuji-muji dagangannya agar sampeyan membeli.
Kalau kita mau sedikit berfikir saja, kita bisa nyaman ngeblog atau fesbukan, dan biarkan anjing menggonggong, sampai mulutnya berdarah-darah.
Pilihan kita cuma dua, memilih atau tidak memilih. Memilih berdasar pengetahuan obyekttif kita, atau menjadi golput. Dan kita rakyat jelata, bisa dengan tenang kembali ke habitat asali kita, menjadi manusia sederhana dengan akal sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar