Senin, Maret 31, 2014

Golput dan Manusia di Luar Era Jaman


Manusia di Luar Era Jaman. Dalam kehidupan ini, ada orang-orang di luar era jaman. Ia bukan orang bodoh, bukan orang pandir, bukan orang buruk-buruk amat, dan bukannya tiada perannya dalam pusaran sejarah. Tetapi sejarah “tidak memilihnya”.
Sementara itu, ada orang yang menurut beberapa orang tidak pantas, tidak selayaknya, tidak jelas atau mungkin boneka, tetapi ia berada dalam lingkar jamannya. Ia in momento, dan jaman memilihnya. Apakah ia orang “bejo”, beruntung, karena bisa jadi ia tak punya dan tak bisa apa-apa, tak ada keistimewaannya, prestasi biasa saja, bahkan ia dituding punya banyak kekurangan?
Di luar itu, ada orang-orang yang kalis dari pilihan itu, tetapi mereka selalu selamat dan hadir. Biasanya mereka adalah para mediocre, para pecundang yang oleh beberapa hal dinilai pintar memanfaatkan situasi. Orang seperti ini, tidak penting sesungguhnya, karena ada atau tidak ada sama saja. Sama buruknya.
Kita bahas manusia in momento, atau yang ada dalam pilihan sejarahnya. Apakah semuanya itu kebetulan? Di dalam ilmu Tuhan, yang disebut asbabul wurudj dan asbabun nujum, yang oleh Barat disebut kausalitas sebab-akibat, tak ada kebetulan. Hukum alam ciptaan Tuhan selalu bekerja sempurna. Ketika gunung-gunung berapi makbedundug pada menjeblug, bahkan yang pasif pun mulai berulah, semuanya bukan tanpa sebab. Termasuk ketika Lapindo salah keduk dan menenggelamkan Sidoarjo.
Jika kita ngomong politik, berfikirlah sejenak dan jernih, untuk mengurut sejarah dari sejak terutama Pemilu 1955, kemudian masa interval 1965, Pemilu 1971, dan seterusnya, hingga (terutama) Pemilu 1997 dan Pemilu 2000. Bacalah fakta-fakta itu dan cari referensi yang akurat (jangan situs songong yang informasinya tak bisa dikonfirmasi dan apalagi yang lebih banyak berisi fitnah), kenapa begini kenapa begitu. Termasuk ketika Golkar mendapat 74,51% dalam Pemilu 1997, dan PDI (belum pakai P) mendapat 3,07%, sementara PPP mengantongi suara 22,43%. Tapi tak lama kemudian, Golkar rontok dalam Pemilu 1999 yang memunculkan PDIP. Golkar (Baru, tanpa Soeharto kata Akbar Tanjung) waktu itu mendapat 22,44%, sementara PDI Perjuangan di bawah Megawati mendapat 33,74%. Sambil lalu, boleh bandingkan dengan hasil survey FUI, yang memposisi Habib Rizieq beroleh suara 90% dan Jokowi 0%.
Hukum alam itu rasional, tidak ada makjegagik dan makbedundug. Politik itu tidak berada di ruang hampa. Ia mempunyai membran dan resonansi. Dan siapa yang ada dalam momento itu, nanti kita post-factum akan bisa mengatakan, kenapa begini, kenapa begitu. Bagi yang jagoannya menang, bisa ngomong macem-macem, begitu juga sebaliknya bagi yang jagoannya gigit jari. Lihat dalil-dalilnya, klenik atau sesuatu yang berada di ranah nalar normal.
Kemenangan Barrack Obama, bukan tidak by design. Ia hasil dari sebuah bacaan sejarah dan psikologi politik yang cermat. Bahwa kemudian hanya berhenti pada harapan rakyat, adalah karena kesalahan rakyat AS juga, karena membiarkan harapan itu menguap, karena tak ada komunikasi dan akses lagi sebagaimana ketika euphoria Barrack Obama marak.
Pesan sejarah itu, menarik dipelajari bagi Indonesia. Siapapun presidennya, syarat kemajuan bagi Indonesia adalah rakyat yang kuat dalam mengontrol pemimpinnya. Pemimpin hanya sebutan subyektif, tetapi rakyatlah mestinya yang punya kuasa dan kedaulatan obyektif. Jika rakyat hanya cukup puas dengan meluncaskan kemarahan di sosial media, itu hanya katarsis yang meringankan stressing psikologi kita saja. Tetapi jika rakyat berdaulat sebagai pressure group yang sebernarnya, pemimpin sesungguhnya hanya karyawan yang kita pilih untuk melayani rakyat.

Ketakutan Pada Golput. Jika Pemilu 2014 ini masih menempatkan rakyat sebagai obyek, dan bukan subyek, maka Reformasi 1998 memang hanya omong kosong. Betapa digdayanya Soeharto yang telah membungkam kita selama 32 tahun.
Kata kuncinya, mau tidak mau, jadilah pemegang hak suara yang cerdas, baik untuk memilih atau tidak memilih. Itu soal biasa dalam demokrasi.
Golput adalah alat kontrol bagi kualitas demokrasi. Tidak sebagaimana yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam kolomnya, jika kita tidak memilih terus Tuhan akan mengejek kita kalau mengeluh; “Lha kamu nggak milih aja kok minta bangsamu sejahtera.”. Terlalu simplistik. Tetapi Golput juga tidak sepelik pemikiran Goenawan Mohamad, dalam capingnya, dengan mengajukan tokoh bernama Bartleby.
Apa yang terjadi di Hongkong, dalam pileg 31 Maret 2014 kemarin (untuk pileg di luar Indonesia diselenggarakan mulai 31 Maret), dari kertas 117.065 suara, hanya terpakai 7.000 suara. Kebanyakan pemegang surat suara adalah buruh. Alasannya karena tidak ada nama dan gambar Jokowi!
Dalam definisi KPU sendiri (bukan saya), apakah 110.065 suara abstain itu bukan Golput? Dan apalah para TKI, sebagian besar yang tidak memakai suara itu pasrah tidak berjuang? Mereka berjuang, mencari sesuap nasi di negeri orang, meninggalkan isteri atau suami dan anak, jauh dari tanah air. Kurang apa? Toh pileg tetap berlangsung dan itu syah, dan Indonesia tidak rontok. Tetapi lembar kertas suara yang tidak dipakai itu memberi pesan penting bagi mereka yang mau memajukan kualitas demokrasi. Pertanyaan semestinya adalah: Kok bisa begitu, kenapa? Cari akar masalahnya, dan perbaiki. Bukannya: “Lha kamu tidak milih kok minta bangsamu sejahtera,…” Wong dikasih tahu kok malah menyalahkan! Jika kita percaya Tuhan Mahabijak, beliau pasti tidak semudah manusia yang suka mengejek dengan menyederhanakan masalah.
Persis iklan pemilu di televisi, yang memakai bintang iklan Yanto Herkules, itu cowok gede-dhuwur gondrong tukang angkat barbell, “Awas kalau tidak memilih, bisa kena bogem,…!”
Beriklan kok tidak mutu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar