Rabu, Maret 12, 2014

Cerita Silat Gerpol 2014: Mencari Kitab Pararaton



PENGANTAR | Menyambut masa kampanye partai politik menjelang Pemilu 2014 pada 9 April mendatang, maka disodorkanlah cersil gerpol (cerita silat gerakan politik) ini sebagai persembahan cinta. Persamaan nama, tempat, dan waktu kejadian, anggap sebagai kesalahan yang tidak disengaja. Tapi jika ada yang ngotot disengaja, penulis terbuka untuk mendiskusikannya kembali. Cersil ini akan di-posting sesuai urutan aktual setiap harinya, hingga tanggal 8 April 2014 mendatang. Selamat menikmati. | Sunardian Wirodono

01 | Tiba-tiba Susilo dan Mbambang bermusuhan. Gara-garanya sepele. Soal 9 April nanti, ketika posisi mereka berbeda. KPU sudah mencanangkan,bahwa Pemilu 2014 ini adalah “Tolak Golput”. Dalam sosialisasi serentak secara nasional kemarin, jelas-jelas tema itu yang diusung.
“Kalau Golput ditolak, bukannya dirangkul, itu sesat politik. Bahasa saja sudah dikorup, apalagi kekuasaan,” Mbambang yang golput berapi-api. Ia memakai baju dan celana komprang putih, seperti pendekar Kapak 212 Naga Geni. Cuma dadanya ditattoo dengan angka 234, sebagai perokok aktif keturunan Ji So Kam, nenek moyang Sun Go Kong.
“Mangsudnya, kita menolak gerakan Golput agar semua mereka yang punya hak pilih beramai-ramai datang ke TPS, memilih wakil rakyat pada 9 April itu,” Susilo menukas sengit. Kali ini, agak terlihat pintar. Berbeda dengan Mbambang, ia memakai pakaian warna hitam.
“Pokoknya, semua yang menolak golput adalah golhit, dan kau adalah salah satunya!”
“Dalam politik jangan ada pokoknya!”
“Lho, kalau tidak ada pokoknya, emang politik ada apanya? Politik itu nggak ada isinya, karena yang ada cuma pokoknya. Politik itu hanya mengenal putih dan hitam. Yang menolak putih tentulah yang suka hitam. Penolak golput adalah golhit.”
“Lho, dalam demokrasi kan ada grey area,…”
“Itu teorinya. Selebihnya omong kosong. Mereka yang abu-abu, itu kebanyakan berjenggot. Abu Yazid, Abu Choiri, Abu Bakar,… Lihat, jubah mereka kebanyakan kalau tidak putih, ya hitam. Jarang ada jubah abu-abu, kecuali mereka mau digolongkan sebagai Syiah. Pokoknya Cuma pakai baju putih polos, tapi hati dan pikirannya hitam. Mereka tidak memakai baju hitam, padahal menolak putih. Ini politik apaan?”
“Aes, terlalu banyak alasan,…” Susilo memotong kalimat Mbambang yang berkepanjangan.
Dengan satu hentakan, Susilo melesat terbang. Dengan jurus garuda terbang,ia melayangkan pukulan ke arah Mbambang. Dengan sigap Mbambang menghindar sembari melepaskan tenaga dalamnya. Benturan dua kekuatan itu memercikkan kembang api di udara.
“Dhuaaaarrrr,…” begitu bunyinya.
Pertarungan tak terhindarkan. Mbambang memancing ke area yang lebih luas. Dengan mengepakkan dua tangannya, ia meloncati atap-atap rumah penduduk. Susilo mengejarnya dengan penuh nafsu.
Tiba di tanah lapang, terlihat aneka bendera parpol berkibaran. Ada yang biru, merah, hijau, orange.
“Lihat,…” Mbambang menjejakkan kakinya di titik pusat lapangan, tepat di mana bola diletakkan ketika tendangan pertama pertandingan sepakbola dimulai. “Ada berbagai warna, kenapa kalian menolak Golput, sementara dasar dari semua bendera-bendera itu adalah putih?”
“Juga hitam ingat!”
“Tapi hitam hanya ada karena ada putih. Sementara, begitu hitam itu muncul, warna lain tidak akan terlihat. Jangan lupa, untuk memunculkan warna lain di atas hitam, butuh putih,…”
“Itu ‘kan teori nyablon!”
“Politik memang tak bisa pisah dengan sablon-menyablon. Lihat, banyak politikus mendatangi tukang sablon kaos, seolah dengan begitu mereka sudah berkomunikasi politik!”
Tanpa diduga, Susilo melancarkan pukulan ke arah dada Mbambang.
Mbambang terjengkang beberapa langkah.
“Curang! Rasakan pembalasanku,…!” Mbambang mantak aji, membaca mantra dengan kepalan tangannya. “Aji Empat Pilar,…!”
Susilo melompat pula, sembari umak-umik, “Aji Mumpung,…”
Keduanya kini head to head di udara. Persis acara televisi yang nggak bermutu. 


02 | Benturan pun tak terhindarkan. Karena sama kuatnya, keduanya terjatuh. Suara berdebuman seolah Gunung Merbabu yang berdehem dari tidur panjangnya. Dan semalam, Merapi pun tergoda menghujani abu dedaunan biru (mana adaaa).
Pertarungan terus berlangsung tiada mengenal waktu. Dalam semua sejarah cerita silat, tak ada pertempuran yang masing-masing pendekarnya memakai jam tangan. Juga tak ada dewan juri seperti D Academy atau pun Indonesia Idol. Tak ada orang waras yang mau dibayar dengan cara menunjukkan ketololan mereka.
“Mengapa kamu memusuhi aku?” Susilo mencoba menghentikan pertarungan. Jendral Purnawirawan, eh, pendekar kita ini ding, memang suka saltum dan salting. Kadang juga salkom.
“Mengapa kalian golhit meneriakkan seruan tolak golput?” Mbambang menukas. “Itulah bukti, bahwa kalian ini masih anak murid Kanjeng Kyai Soeharto, dengan pandangan mutlak-mutlakan. Semua yang berbeda, harus ditolak. Sama seperti orang-orang Islam yang menolak orang kafir, bukannya diajak dan dicerahkan sebagaimana Kanjeng Nabi Muhamad mengajarkan kebijakan dan merangkul yang jahiliyah menjadi tidak jahil lagi! Itu baru manusia transformative namanya.”
“Jangan bawa-bawa agama, apalagi di fesbuk, nanti jadinya diskusi SARA yang tidak penting!”
“Halah, fesbuker mah, nggak penting. Kalau nggak asal ngomong mereka juga asal nulis. Setelah itu mereka juga kemudian masturbasi.”
“Tapi, kan enak jamannya Soeharto!”
“Enak mbahmu, Goblog kok nggak berkurang. Kalau Soeharto baik dan tidak korup, Indonesia tidak akan melahirkan presiden kayak SBY kualitasnya. Indonesia sudah pasti maju. Gara-gara Soeharto, kita malah menjadi makin miskin,” Mbambang dengan tangannya merauk tanah yang diinjaknya. “Nih, lihat, dengan program intensifikasinya, dan Indonesia jadi swa-sembada beras, bahkan ekspor, tapi apa hasilnya? Kurang dari 10 tahun kemudian, Soeharto membunuh tanah dengan pupuk un-organik dan kita harus menunggu 30-an tahun lagi agar tanah kembali ke kesuburan semula, itu pun kalau presidennya tidak gemblung. Doktor pertanian cum-laude tapi pikirannya dibeli Negara industri. Itu badut busuk!”
“Hei, Mbang. Ini cersil, bukan cerpol. Kalau cersil, mestinya kita tak banyak dialog tendensius dan bau politik! Nanti jadi kayak novel Groota Azzura STA!”
“Ciaaaaattttt,…!” Mbambang lagi-lagi menghimpun serluruh daya yang ada dalam dirinya.
Ajaran yang ia dapatkan dari Perguruan Rendah di Bukit Telamaya sangat diandalkannya. Selama ini, pendidikan selalu mendongak ke atas. Tapi di Bukit Telamaya, Mbambang bertemu seorang pertapa aneh. Sang pertapa menamakan lembaga pendidikannya Perguruan Rendah, karena memang berada di sebuah lurah, bukan lurah Lenteng Agung, tapi lurah serendah-rendahnya, tak ada keagungannya. Dan itu lebih baik, daripada memakai nama besar, tapi lebay. Memakai nama Soesilo Bambang Yudhoyono, tapi etikanya selalu menghindari perang. Pada setiap perang, dia tidak ada, tidak hadir, tidak eksis. Padahal, menurut ilmu eksistensialisme, untuk menjadi sastrawan itu harus berkawan dengan sastrawan terkenal, hingga mau menjilati pantat sastrawan terkenal itu, agar ia dikenal sebagai sastrawan pula.
“Masyarakat komunal selalu melahirkan sastrawan komunal!” dengus Mbambang.
“Eh, apa hubungannya? Kita berada di ranah cersil. Dialog-dialognya mesti disamakan dengan dialog dalam cersil Kho Ping Hoo, SH Mintardja, Herman Pratikto, atau paling tidak Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira,…”
"Sitok Srengenge? Dia nulis cersil juga lho?"
"Fuck you!"
“Kamu memang banyak bacot. Enyahlah kau dari muka bumi,…” Mbambang kehilangan kesabaran.
“Babo! Aku ladeni sampai kapan maumu,” Susilo pasang kuda-kuda.
Tiba-tiba, entah bagaimana, muncul seorang perempuan cantik dalam nude. 



03 | Pertarungan berhenti mendadak. Para pembaca cersil ini juga lebih tertarik siapa perempuan cantik nude itu. Tubuh perempuan itu begitu luar biasa bagusnya. Kakinya. Pinggangnya. Susunya.
“Stop!” Susilo tiba-tiba protes, “Ini cersil apa cerpor?”
“Cerpor?”
“Cerita porno!”
“Lho, judulnya ‘kan cersil? Kita masuk dalam genre sastra silat, bukan sastra kilat, sastra catatan kaki, atau sastra survey,” Mbambang menjelaskan.
“Halah, nggak penting! Lanjutkan pertarungan!”
Dan pertarungan pun kembali berlangsung. Perempuan cantik yang nude tadi? Tak penting. Bukan pokok bahasan. Apalagi bahasanya terlalu vulgar, tidak semendayu Ganes Th kalau mendeskripsikan perempuan sexy.
“Pembaca kecewa dong?” Mbambang masih menawar.
“Ciaaaaatttttt!” Susilo sama sekali tak menggubris. Ia meloncat dengan penuh amarah.
Mbambang menggeser kakinya sedikit ke kiri. Kepala Susilo nyungsep ke dalam tanah, sedalam 13 centimeter. Tapi, tiba-tiba tanah itu jadi gembur, mengeluarkan air yang dingin luar biasa. Secepat kilat Susilo berdiri, dengan muka penuh lumpur. Bisa jadi, karena kesaktian Susilo tanah itu jadi lumer. Mirip kesaktian ARB yang bisa mengocorkan lumpur Lapindo dan menenggelam Sidoarjo.
Duel pun terus berlangsung. Saling serang.Saling pukul. Kalau akun fesbuk ini dilengkapi audio-file, mungkin terdengar suara mereka yang gedebugan. Untungnya tak ada fasilitas itu, hingga makian-makian mereka yang tak baik untuk anak-anak kecil, tidak terdengar.
Tak terasa waktu merambat. Mungkin waktu juga termasuk jenis hewan mamalia. Menuju gelap. Tapi pertarungan terus berlangsung, setidaknya sampai minggu tenang.
“Apakah kita tak memerlukan gencatan senjata?” Susilo tampak mulai kelelahan.
“Mana ada duel berhenti hanya karena waktu? Salah satu tewas, baru pertarungan ini berhenti,” Mbambang merasa di atas angin. Dia pasti tidak tahu ilmu pasti alam, karena di atasnya sebetulnya juga tetap ada angin. Di kanan dan kirinya juga. Karena itu, mestinya Mbambang memasukkan puisi Rendra dalam daftar bacaannya, agar tahu bahwa dalam jiwa kita pun terdapat angin. Karena itulah pula manusia bisa kentut.
Tapi pertarungan akhirnya berhenti dengan sendirinya. Karena sudah berlangsung dua hari dua malam. Sementara keduanya lelah dan ngantuk. Dan keduanya tertidur tanpa dinyana. Susilo ngorok dengan suara dengkur bak geludug berkepanjangan. Mirip dengkuran para jurkam yang tiada henti.
Pada saat itulah, perempuan nude yang muncul pada waktu pertarungan itu, kembali menampakkan dirinya. Sayangnya, pas malam dan seting lokasi perkelahian di tengah hutan (semula di tengah lapangan, tapi serunya perkelahian membuat mereka tak sadar telah bergeser tempat). Akibatnya, bagaimana detail perempuan nude itu sama sekali tidak terlihat. Hanya gelap. Gelap semata. Hingga beberapa orang pun mata gelap.
Perempuan nude itu tiba-tiba membopong tubuh Mbambang. Dengan sekali hentakan, perempuan nude itu melesat, dan berloncatan dari antara pepohonan yang ada. Persis seperti aksi pendekar perempuan dalam cersil Gan KL.
Hatta, entah berapa lama kemudian, Mbambang membuka matanya. Ia pandangi sekeliling. Ia ingat betul, sepertinya pernah berada di ruangan itu. Tapi di mana? De javu? Javu galian singet?
“Sudah bangun kau kiranya,…” terdengar suara lembut mendayu.
Seperti suara Reza Artamevia ketika sedang menyanyi lagu porno.
"Belum,..." jawab Mbambang antara sadar dan tidak.
Beberapa saat kemudian, Mbambang kaget. Ia masih ingat, perempuan nude yang muncul di akun fesbuk SW kemarin (hihihi, numpang beken). Jangan-jangan, ia bertemu dengan Ratu Kalinyamat, seorang aktivis golput pada jaman Mataram, yang bertapa telanjang di tengah gua itu? Gua apa elu?
Darah panas mengalir dalam tubuh Mbambang. Tubuhnya terasa hangat. Beberapa bagian organnya mengeras. “Jangan-jangan aku terkena kutukan,…” desis Mbambang dengan degup jantung menggelepar.
Mereka berdua saja di dalam gua. Berhadap-hadapan.


04 | “Siapakah gerangan paduka tuan?” Mbambang bertanya ragu. “Benarkah paduka Kanjeng Ratu Kalinyamat?”
“Ya, akulah Ratu Kalinyamat itu,…” jawab perempuan nude itu.
Mbambang terdiam beberapa saat. Bagaimana mungkin? Bukankah Kanjeng Ratu Kalinyamat sudah meninggal pada 1579? Limaratusan tahun lampau? Bagaimana bisa?
“Halah, soal hilangnya pesawat MH370 kalian bisa kaitkan dengan misteri waktu, ngutip-ngutip rahasia semesta alam dan Alquran. Tapi giliran ketemu dengan yang bau-bau Jawa, kau bilang klenik,…” sungut Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Mbambang terdiam. Ada dua penyebab. Pertama; Ia hanya membatin, tetapi bagaimana mungkin Kanjeng Ratu Kalinyamat mengetahuinya? Kedua; Karena sang ratu itu dalam kondisi nude, alias bugil kalau dalam kitab-kitab porno. Yang terakhir itu alasan sesungguh-sungguhnya.
Bagaimana bisa konsentrasi berhadapan dengan perempuan nude? Tapi benarkah Kanjeng Ratu Kalinyamat tatoan di atas dadanya yang menonjol di sebelah kanan?
“Itu hanya isyu!” tiba-tiba Kanjeng Ratu Kalinyamat nyolot.
Dan lagi-lagi Mbambang masgul. Bagaimana menghentikan pikirannya, agar tidak dibaca oleh perempuan di depannya ini? Mbambang agak sedikit kecewa karena tak sempat kenal baik dengan Rommy Rafael, tukang sulap yang selalu ngaku bahwa ‘kita tidak saling kenal’ itu.
“Kalau benar panjenengan Kanjeng Ratu Kalinyamat, mengapa panjenengan bertapa dengan cara telanjang? Benarkah paduka ini yang pertama penganjur golput? Apakah paduka tidak takut, bahwa penganjur golput diusulkan oleh Tantowi Yahya dan Priyo Budi Santosa untuk dipidanakan?”
“Dari mana dua orang itu?”
“Golkar.”
“Oh, pantes saja goblog.”
“Kalau mereka pintar?”
“Tentu saja tak jadi anggota DPR,…” Kanjeng Ratu Kalinyamat menukas dengan dingin. “Kalian itu terlalu banyak membaca gossip, terlalu banyak melihat televisi. Kalau pun buka internet, kalian hanya baca situs-situs model arrahmah.com atau voaislam. Mengaku-aku Islam tapi penuh kebencian pada sesama. Jangankan yang beda agama, yang sama-sama Islam tapi beda aliran saja kalian maki-maki. Belajar agama kok dari website yang penuh kemarahan dan kebencian. Teladanilah Kanjeng Nabi Muhamad, itu Islam paling benar menurutku. Beliau tidak pernah mbaca website.”
“Katanya, menurut Allah beliau juga disayang,” Mbambang sok tahu.
“Aku tidak tahu. Aku nggak pernah dapat anugerah ngomong langsung dengan Allah.”
“Lho, panjenengan itu bukankah anak dari Sultan Demak pertama? Raja dari kerajaan pertama di Indonesia yang memakai hukum perundang-undangan syariat Islam? Bahkan jauh sebelum para fanatikus yang terinfeksi para salafi dan wahabian itu?” Mbambang makin sok tahu.
“Yang pakai akhiran tikus, selalu tidak baik,” Kanjeng Ratu Kalinyamat berkata pendek.
“Contohnya, Kanjeng?”
“Fanatikus, politikus,…”
Mbambang sebenarnya mau ketawa ngakak.Tapi takut dikira tidak sopan, dia pun memilih diam.
“Ketawa aja yang bebas dan lepas. Mau ketawa kok ditahan, wkwkwkwk,…” Kanjeng Ratu Kalinyamat menyindir. Ketawanya mirip fesbuker.
“Kanjeng Ratu punya akun fesbuk?” Mbambang iseng bertanya.
“Hihihihi, pertanyaan iseng tak perlu dijawab. Fesbukan, kayak kurang kerjaan,…”
“Tapi, jika boleh mengetahui,…” Mbambang agak gemetaran bibirnya. Pikiran untuk dicipok Kanjeng Ratu Kalinyamat sempat berkelebat, tapi segera dihapusnya, “bagaimana bisa saya berada di goa ini? Jika paduka adalah Kanjeng Ratu Kalinyamat, bukankah ini berarti di gunung Danaraja, wilayah Jepara? Seingat hamba, kemarin saya masih bertarung dengan sohib saya di Kemang, Jakarta,…”
“Ceritanya panjang,…” berkata Kanjeng Ratu Kalinyamat dengan tatapan kosong.
“Bolehkah saya merokok, Kanjeng?” Mbambang tampak agak nervous. Baru kali ini ia berbincang dengan perempuan nude. Biasanya kalau dengan perempuan nude aktivitasnya bukan berbincang. Tapi aktivitas yang lain.
“Dengarkan baik-baik,….” Kanjeng Ratu Kalinyamat berdiri tepat di hadapan Mbambang terduduk. Mbambang hanya menunduk. Tak berani mendongak, apalagi mencongak.



05 | Mbambang pun tak berani berfikiran mesum. Tidak baik katanya. Kalau berbuat, mungkin malah baik, pikirnya.
“Itu lebih tidak baik, tidak senonoh. Kamu tuh piktor!” Kanjeng Ratu Kalinyamat mengomentari pikiran Mbambang.
Mbambang hanya terdiam.
“Kamu ketika ketemu aku pasti mikir yang mesum. Perempuan bertapa telanjang. Terus kamu menduga-duga aku ini kelainan sexual. Oh, no! Emangnya DP! Belajarlah sastra Jawa, jangan hanya sastra Barat dan Timur Tengah mulu. Sekali-kali minggir. Bacalah‘Babad Tanah Jawi’, dalam tembang Pangkur disitu dituliskan; Nimas Ratu Kalinyamat/ Tilar pura mratapa aneng wukir/ Tapa wuda sinjang rambut/ Apane wukir Donorojo/ Aprasapa nora tapih-tapihan ingsun/ Yen tan antuk adiling hyang/ Patine sadulur mami,…”
“Yang artinya?”
“Nimas Ratu Kalinyamat, meninggalkan istana bertapa di gunung. Bertapa telanjang berkain rambut, di gunung Danaraja. Bersumpah tidak (akan) sekali-kali, memakai pakaian, jika tidak memperoleh keadilan Tuhan (atas) meninggalnya saudaraku,… Gitu!”
Ratu Kalinyamat kemudian menjelaskan, bahwa bertapa ‘dengan telanjang’ dan berkain rambut semestinya tidak ditafsirkan apa adanya. Perkataan ‘wuda’ dalam bahasa Jawa tidak hanya berarti telanjang. Bisa juga bermakna tidak mengenakan perhiasaan mewah, atau pakaian yang indah-indah.
“Tapi, kenapa Kanjeng Ratu harus bertapa begitu rupa?”
“Mau tau aja apa tau banget?”
“Tau banget!”
“Ya, aja’ banget-bangetlah,… nanti dikira kepo!” Kanjeng Ratu Kalinyamat nyekikik. Sepertinya sudah terjadi intimitas. Tinggal nunggu waktu yang tepat, pas para pembaca pada ketiduran, karena bosan dengan cerita silat yang nggak mutu ini.
Tapi demi apresiasi sejarah bangsa, sang ratu pun kemudian bertutur tentang protesnya pada Sultan Hadiwijaya yang tidak tegas. Mirip SBY, kata Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Padahal Kanjeng Ratu menemukan bukti, bahwa Sultan Hadirin tewas dengan keris Sunan Kudus yang terhunjam di tubuh suaminya. Dengan intuisi intelijennya, Kanjeng Ratu dalam gelar perkara mengatakan bahwa Adipati Jipang menjalankan perintah Sunan Kudus, untuk menghabisi Pangeran Hadirin. Tapi lantaran Adipati Jipang tidak berani berhadapan dengan Pangeran Hadirin, akhirnya mengutus pembantunya. Dan terjadilah kecerobohan itu, karena keris Sunan Kudus dibiarkan menancap di tubuh korban.
“Apa penyebab semua itu, Kanjeng?”
“Waduh. Kamu tuh emang parah. Jasmerah, kata Sukarno,” gerutu Kanjeng Ratu Kalinyamat. “Meski Demak memakai perundang-undangan dan syariat Islam, konflik politik begitu sengit. Jangan lupa, para fustun juga menjadi biang persoalan. Bukan fustun dari Persia, tapi dari Cina yang oleh para host di Metro TV selalu dibaca ‘cai-na’ itu,…”
Mbambang manggut-manggut.
“Lantas, kenapatah paduka culik hamba ke sini? Kenapa, Kanjeng?”
“Aku hendak minta tolong, kau selamatkan Kitab Pararaton ini dari perburuan orang-orang sesat,” Kanjeng Ratu Kalinyamat berkata serius. Tangan kanannya menimbang sebuah kitab pusaka. “Nah, kau lihat itu,…”
Mbambang menoleh ke arah yang ditunjuk Kanjeng Ratu Kalinyamat. Tampak beberapa orang peziarah, beriringan menuju ke puncak gunung Danaraja.
“Siapa mereka, Kanjeng?”
“Sepertinya para caleg.”
“Kenapa mereka ke sini, Kanjeng?”
“Menjelang Pemilu, tempat ini selalu didatangi para caleg. Kadang juga cabup, cagub, capres, camen, atau mereka yang menginginkan jabatan duniawi,…”
“Apa hubungannya politik dengan klenik?”
“Pertanyaan bodoh. Politik itu ya klenik, kok nanya apa hubungannya!” Kanjeng Ratu Kalinyamat menghardik. “Situnya cuma baca text dari Amerika dan Eropa. Nganalisis politik Indonesia malah kayak dukun salah mantra,…”
“Terus, kapan saya bisa bertarung kembali, Kanjeng? Dari tadi cuma dialog mulu. Kan saya ditakdirkan ama SW jadi karakter pendekar silat,…”
“Halah, SW aja kok digugu. Udah, kamu sekarang pergi, selamatkan Kitab Pararaton ini,…”
“Bentar Kanjeng, Kitab Pararaton ‘kan jaman Ken Arok, sebelum Majapahit ada? Padahal, Kraton Demak itu setelah Majapahit runtuh,” Mbambang penasaran. 


06 | “Kitab Pararaton itu artinyabuku panduan untuk para pemimpin. Ini buku motivasi. ‘How to be’ ngono kuwilho, blug! Kayak buku-buku karangan John C. Maxwell, William A. Cohen, atauKafi Kurnia, Mario Teguh,” Kanjeng Ratu Kalinyamat menjelaskan. “Apahubungannya dengan Ken Arok? Tidak ada, dan tidak harus. Di Salatiga, Ken Aroksudah bubar malahan. Kalah ama bukak sithikjosss,…”
“Hihihihi, itu Ken Arok nama grup ndangdhut,Kanjeng. Saya kenal ama pemimpinnya, rambutnya kribo kayak Achmad Albar.Pendangdhut kok kribo, nggak ngarab blas. Nggak bisa pake kopiah atau karpus‘kan Njeng Ratu? Itulah kenapa Bang Haji Rhoma Irama mendapat gelar professor.”
“Emang, Rhoma juga nyaleg ya?”
“Dia capres, Kanjeng, bukan nyaleg lagi. Nggaklepel!”
“Ya-awoh, pantes makin banyak golput. Memang, apakerjaan partai politik selama ini? Pantesan, lebih banyak orang baik dilahirkandi luar parpol. Sementara orang baik yang masuk ke parpol malah jadi penjahatdan narapidana.”
“Indikasinya, Kanjeng?”
“Lho, bayangin coba. Dari anggota DPR yang cutikarena nyaleg lagi, menteri yang masih menjabat juga cuti nyaleg, presiden yangmasih berkuasa juga minta cuti untuk kampanye. Ini apa-apaan. Mestinya, parpolitu tempat pengkaderan, tempat pembelajaran, tempat jalan sipil melakukanrekrutmen kepemimpinan. Artinya begitu jadi pejabat Negara, warna dan benderaparpol dilepas, dan kemudian hanya mengabdi pada Negara. Kok sudah jadi pejabatNegara minta cuti untuk kampanye partai. Gimana sumpah jabatan mereka, yangkatanya seluruh kehormatannya diabdikan pada bangsa dan Negara, dan tidakmemihak pada kepentingan golongan dan partainya. Cobak? Di mana otak mereka?Salahkah kita golput kalau sistem politiknya seperti ini? Mana rakyat nggakpunya akses untuk mengontrol, yang ngaku wakil rakyat tapi mentalnya samadengan pejabat dan birokrat. Makanya makin nggak tinemu nalar ketika ARB bilangmau ngidupin lagi Orba. Hadeeehhh, lumpur Lapindo layak menguburnya.”
“Tapi, ‘kan tidak ada aturan perundang-undanganyang dilanggar?”
“Karena memang aturannya dibuat seperti itu.Korupsi itu sudah dimulai sejak di undang-undang. Bahkan korupsi sudahdilakukan sejak dalam pikiran, gitu menurut Pram anak Mblora itu,” Kanjeng RatuKalinyamat terasa begitu jengkelnya. “Dan itulah soehartoisme atau bahayalatent Orde Baru. Formalis dalam berfikir, pragmatis dalam bertindak, danvandalis dalam berkuasa. Tak ada pertimbangan moral dan etik di sana,…”
Mbambang hanya terdiam. Ia seolah sedang mendapatkuliah dari Kitab Salokantara dan Jugul Muda dari Sultan Abdul Fatah dariDemak. Perempuan selain cantik tapi juga pintar, rasanya sexy banget. Bedaketika dia wawancara dengan DP, di ruang ganti pakaian sebuah studio TV Swasta.Sampai DP hanya pakai celdam dan kutang, Mbambang tak terinspirasi babarblas.
“Ya, sudah, kamu segera tinggalkan tempat ini.Turun gunung. Bawa Kitab Pararaton, simpan, dan hanya kau berikan pada orangyang tepat untuk itu,…” Kanjeng Ratu Kalinyamat pun tiba-tiba lenyap.
Asemik. Senyampang langit mulai cerah, dan ketikasiluet tubuh Kanjeng Ratu menuju ke terang-benderang, eh, malah ngilang.Jiannnnncuk!
Dengan lemas lunglai, Mbambang pun kemudianmelangkah keluar dari pengap goa.
Perut keroncongan membawa Mbambang mampir keangkringan desa, tak jauh dari Kendal Kaline Wungu. Ini konon tempat PangeranHadirin terseok-seok sebelum ajalnya. Di mana darah ngendal, membeku, danmenyebabkan air sungai menjadi ungu. Dari sini pula, ungu kemudian menjadi namagrup band. Gara-gara Pasya tertarik pada politik, sepertinya band ini sudahkehabisan nafas.
Belum usai acara makan siang, tiba-tiba sajamejanya digebrak seorang lelaki berwajah komik. Bukan komik pelawak stand-upcomedy, tapi wajahnya mirip dalam komik-komik silat Ganes Th atau Man, TatangS, Usyah, Djair, dan sejenisnya itu. Berewokan dengan kumis melintang. Golokdiselipkan di ikat pinggang segede gaban.
“Huahahahahaha,…” lelaki berewokan itu tertawatanpa sebab. Persis dalam film-film laga Indonesia. “Kamu yang bernamaMbambang?”
Mbambang kaget. Bagaimana ada orang yang mengetahuinamanya, padahal belum kenal sebelumnya? Jangan-jangan diriku memang terkenal,kata hati Mbambang. Sayangnya, Mbambang tidak punya telinga hati, jadi ia takmendengar kepedeannya.
Alkisah, alias bokis ah, terjadilah pertarungantanpa sebab-musabab. Tanpa ujung pangkal. Namanya juga cerita silat, jadi yangpenting harus ada pertarungan silatnya. Sejurus-duajurus, pertarunganberlangsung seru. Debu mengepul di udara. Beberapa orang yang merubung agaknyasudah terbiasa, terbukti bahwa mereka masing-masing sudah membawa kain maskerpenutup mulut dan hidung. Tapi mungkin juga karena mereka penduduk di negeriring of fire, negeri cincin api dengan ratusan gunung berapi. Tapi meskibegitu, televisi yang jadi sastra hari ini, hanya mengajarkan tontonan macam SiBolang. Si bocah berkulit belang berkepala peyang.


07 | Diselang-selingcommercial-breaks, pertarungan terusberlangsung. Sampai empat segmen cuma ciat-ciat mulu. Gedebag-gedebug.Bagbigbugbag. Bangbingbungbang. Seolah tak ada kosakata atau idiom lain. Sampaipegel nulisnya. Sementara yang duel belum pegel juga.
Tapi pertarungan harus diakhiri. Kita semua tidak ingincersil ini menginspirasi lahirnya kekerasan.Biar saja hanya Tom and Jerry yang sampek tuwek sampek matek terusgulung-koming seenak kreatornya. Toh rasanya kita lebih percaya tontonan itudaripada gebug-gebugan dan guyur-guyuran tepung model Sule atau pun Olga,apalagi goyang Caezar. Huh!
Dengan ilmu harimau terbang, Mbambang pun tiba diperbukitan Imogiri. Di kawasan ini banyak ditemuinya makam para manusia jamanMataram, anak-turun dari Sultan Agung Hanyakrakusuma. Tapi, lagi-lagi di tempatterpencil itu, Mbambang bertemu sosialita politik dari Jakarta. Duduk tercenungsendirian, bersila, di depan sebuah tumpukan batu yang berlumut. Mirip RadenSyahid alias Brandal Lokajaya, yang disuruh menunggui tongkat Sunan Bonang dipinggir kali, hingga ia kemudian berjuluk Sunan Kalijaga. Hanya disuruh nungguitongkat bisa jadi sunan. Pantesan, anak didik Soeharto sering kungkum ke kalikramat dan berharap dengan begitu bisa jadi presiden.
“Nami panjenengan Ical, nggih?” Mbambang menyapaorang yang rasanya ia kenal itu.
“Nggih, nami kula Ical,…” sahut orang itu denganaksen yang aneh. Maklum, baru beberapa bulan belajar bahasa Jawa, dalam rangkamengejar cita-cita menjadi presiden.
“Oh, jadi, nama sampeyan ternyata sudah hilang?Duh, betapa menyedihkannya. Jika nama adalah manifestasi kehadiran seseorang,maka sampeyan sebenarnya sudah tiada. Dan semua yang sampeyan kerjakan sia-siabelaka,…” Mbambang ngomyang nggak karuan.
Orang yang diajak ngomong tampak dungu, terdiam.Tapi dengan sekali jentikan tangan kirinya, tiba-tiba Mbambang sudah dirangket.Beberapa prajurit perempuan tiba-tiba saja muncul, dan meringkus dirinya.Mbambang tak kuasa melawan. Tubuhnya kini tergantung di antara pepohonanraksasa. Matanya nyalang melihat beberapa perempuan dengan kostum yang tidakpantas menurut faham wahabi. Semuanya overweight dan oversize. Begitukah seleracapres?
“Serahkan Kitab Pararaton itu padaku, dan kau bolehnikmati kebebasanmu. Sebagai presiden, aku akan menjamin hidupmu,seanak-turunmu,…” lelaki yang mengaku kehilangan nama itu menggerakkan bibirnyadengan malas. Mungkin karena proporsi dagunya yang 33 derajat celcius miring kekiri itu.
Kerongkongan Mbambang tercekat. Bagaimana kabarmengenai Kitab Pararaton itu bisa diketahui orang lain?
“Hahahahaha, semua tempat-tempat keramat di seluruhNusantara ini, telah kami sadap,….” Suara ketawa lelaki itu tampak aneh. “Jadi,tak ada rahasia yang bisa disembunyikan dari mata dan telingaku. Memangnyahanya KPK yang punya alat sadap? Kasih tahu tuh Fahri Hamzah yang sok tau dansok pahlawan, hahahaha,…”
Gawat. Mbambang tak berkutik. Lebih tak berkutiklagi, ternyata ia lupa di mana ia simpan Kitab Pararaton titipan Kanjeng RatuKalinyamat. Sial. Celaka tigabelas. Rasanya, inilah masa-masa terakhir dalamhidup Mbambang. Tak ada harapan lagi. Tapi, tidak! The world needs dreamers andthe world needs doers. But above all, the world needs dreamers who do. Begitutulis Sarah Ban Breathnach, dalam Simple Abundance: A Daybook of Comfort andJoy (1996). Dunia membutuhkan pemimpi, dan juga pelaku. Tetapi di atas semuaitu, dunia membutuhkan pemimpi yang melakukan.
Mbambang pun matak-aji untuk bermimpi bebas danmelakukannya. Ia mengheningkan cipta. Megeng nafas. Sayup-sayup terdengar lagu‘Dari Yakinku Teguh,…’ seolah menjadi backsound yang syahdu dan religious.
Kalau Mbambang tewas di sini, maka cerita ini punsulit untuk dilanjutkan.
Susilo? Oh ya, di mana lelaki tambun dengan otakyang juga bongsor itu? Bongsor artinya gede doang. Isinya mah sir pong delegosong. Katanya sih, doctor pertanian cuma laude dari IPB. Tapi entah kenapalebih mirip calo tanah yang tak sayang menjual tanah pada orang luar.
Mari sejenak kembali ke Jakarta. Untung hujan sudahtak menghajarnya lagi, meski kini Jokowi dan Ahok dihajar masalahnya sendiri.Terlalu culun sih. Di dunia ini ketulusan itu sesuatu yang harus terus diukur,Jok ‘n Hok! Bukan sesuatu yang genuine!
Susilo mendapati dirinya berada di RSPAD GatotSubroto. Gawat. Kenapa ada di sini?



 08 | Tak ada yang tahu, mengapa Susilo ada di rumah sakit tentaraitu. Tak ada juga yang tahu, bagaimana sejarah rumah sakit itu menjadi miliktentara. Jangankan masyarakat sipil, Panglima ABRI saja tidak tahu, bagaimanalembaga Negara yang dipimpinnya bisa punya rumah sakit yang besar dan mewah.
Tapi apa pentingnya memasukkan cerita sejarah tentara dalam cerita silat ini? Karena tak jelas kepentingannya,kita langsung pada tokoh kita yang satu ini. Susilo. Tak ada yang tahu juga,siapa nama lengkap dari tokoh ini. Kelahiran mana, pekerjaannya apa, bahkanmungkin agamanya pun tak ada yang tahu. Yang orang mengenalnya, seperti sudahdisebut sebelumnya, ia doctor pertanian IPB. Disertasinya mendapat jempol daripara promotornya. Di samping itu, yang pasti, ia anti golput. Oleh karenanya,bagi Mbambang, Susilo masuk dalam golhit. Golongan Hitam.
Sebagaimana tokoh-tokoh golhit dalam ceritapersilatan, Susilo seorang antagonis. Wataknya buruk. Pendendam, mudahmembenci, tapi juga dikit-dikit curhat, dikit-dikit curhat, dikit-dikit curhat.Curhat kok dikit-dikit?
Tapi demikianlah kemampuan politiknya. Beda bangetdengan golhit lainnya, yang meski hitam tapi pede. Sementara tokoh satu ini,hanya nama partainya saja yang pede. Perilakunya tidak. Apalagi kalau isterinyasudah marah-marah di instagram, mending dia milih tidur di bawah ranjang.
Jakarta sunyi. Banjir yang melanda beberapa pekanlalu, seolah sudah sirna dari lubuk ingatan warga. Dari berbagai acara jogetndangdut di tivi-tivi swasta, semuanya dipenuhi rakyat jelata yang tampak lusuhdan menderita, namun tetap bisa ketawa sembari goyang badan kiri dan kanandepan dan belakang. Para hero seperti Olga, Rafi Achmad, Denny Cagur, Sule, UyaKuya, Ayu Tingting, Bopak, muncul menjadi idola baru yang membuat kampanyePemilu 2014 di Jakarta menjadi sunyi senyap.
Meski agenda coblosan nasionalkonon bisa mengubahmasa depan Indonesia, Pemilu tahun ini sunyi-senyap saja. Namun yangmenyebalkan, kampanye politik kali ini langsung menyusup ke rumah-rumahpenduduk pula, melalui televisi-televisi, yang memang kebanyakan milik mereka.Tiba-tiba Harry Tanoe gendong anak lumpuh. Wiranto dikerubuti kamera dikanan-kiri menyaru menjadi tukang becak. Dan menurut para juru kamera besertacrew-produksi yang berjibun, para tukang becak tidak tahu kalau Wirantomenyamar. Ngarang banget, nggak ketahuan.
Melalui televisi miliknya, Surya Paloh yang kinijualan nasi adem itu, petantang-petenteng, tudang-tuding dengan gayaarmy-looknya. Seolah sangat heroik, dan seolah ia tahu bahwa kepresidenan cukupselesai dengan citarasa metro-sexual itu. Belum lagi gayaq ARB yang sok akrabdan mendaku bahwa suara rakyat adalah suaranya. Nya yang mana?
“Tapi, kenapa saya ada di sini?” Susilo bertanyapada seorang perempuan perawat yang mengecek detak jantungnya.
“Karena Anda sakit,…” jawab perempuan perawat yang,ya Allah, wajahnya mirip Drew Barymore.
“Kamu cantik,…” Susilo dengan norak menggodaperempuan perawat itu.
“Anda jelek,…” sahut Drew Barymore tetap menjagakesopanan secara paripurna.
Dialog-dialog berikutnya sama sekali menyebalkan.Tidak bermutu sama sekali. Beda dengan dialog-dialog dalam karya sastraadiluhung.
Sebagai anggota golhit, Susilo tersinggung. Dengangerakan cepat, ia menarik pestol dari balik pinggangnya. Ditodongkannya padawajah Drew Barymore. “Berbalik, dan lakukan semuanya sebagaimana biasa,…”
Susilo berdiri di belakang Drew Barymore. Dengansodokan ujung pestol di punggung, ia perintahkan Drew mengantarnya ke luar darikamar.


 09 | Di ruang terbuka, dalam keriuhan lalu-lalang manusia, Susilomenyuruh Drew Barymore untuk meninggalkannya. Drew Barymore? Bukan. Hanya miripsaja, agar tak diprotes lagi oleh Andre Kaliva dan para fesbuker lainnya.
Lagian, siapa yang kenal Drew Barymore sekarang,apalagi film-filmnya. Ia bagian dari masa lalu. Menyebut judul-judul filmnyasaja, bisa jadi tak banyak yang tahu kini.Kecuali mungkin Batman Forever, Charlie’s Angels, Poison Ivy, atau BeverlyHills Chihuahua. Dalam ‘Scream’, aktris ini kegenitan muncul sebagai cameo.Tapi, sudahlah, lupakan.
Tapi melupakan perempuan dalam sebuah cersilsungguh bukan langkah bijak. Banyak cersil digilai para cersiler karena selaluhadirnya perempuan, yang jika bukan karena cantik dan pintar silat, biasanyatokoh aksesoris perempuan lenjeh, obyek seks dalam bias gender kesenian kita.Beberapa penulis cersil tahu benar, bagaimana cersiler bisa menikmatiberpuluh-puluh buku cersil, tanpa beranjak dari ranjangnya yang lusuh dan bauapek. Biasanya cowok. Kalau pun ada cersiler cewek, kecenderungannya tomboy.Ketika cersil ini diunggah di fesbuk, pas ada perempuan nude, jumlah likermeningkat. Tapi giliran agak cerewet dengan narasi, bisa dipastikan mendapatsedikit jempol. Hiks!
Drew Barymore, eh, perempuan perawat RSPAD ding,harus kita kembalikan ke markanya. Daripada cersil ini belibet dengan sejarahtentara. Bayangkan saja, urusan kesehatan capres-capres kita, selama ini selalumenjadi urusan RSPAD, bukan rumah sakit umum milik pemerintah lainnya. Jangantanyakan padaku, nanti ‘ku ditembak, oh!
Begitu sampai di pintu gerbang RSPAD, sebuah mobilluxury berhenti tepat di sisi Susilo. Pintu mobil terbuka secara otomatis, danSusilo pun lenyap dalam mobil yang kemudian serasa raib dari pandangan.
Menyusuri jalanan Jakarta yang blangsak dihajarhujan, bukan sebuah perjalanan yang nikmat. Bukan karena jok kursi yang mampumelenyapkan semua goncangan, melainkan siapa yang bisa melawan kemacetan?
Lagi pula pemandangan sepanjang perjalanan dikotorioleh gambar wajah-wajah yang sok suci, sok pahlawan, sok imut. Semuanya riuhmenawarkan keindah-keindahan absurd. Konon katanya suara rakyat adalah suaramereka, ya, tentu saja, kalau bukan suara rakyat, memang Pemilu suara siapa?Suara Tuhan? Kalau suara Tuhan, tidak perlu ada Pemilu. Tuhan tinggal mencomotorang baik dan didudukkan jadi pemimpin. Tapi karena Tuhan tidak bodoh (siapayang berani ngatain Tuhan bodoh?), beliau berikan persoalan dunia kepadamanusia, hingga ilmu pengetahuan dan peradaban berkembang. Tapi kalau ada orangpintar membiarkan kebodohan dunia bersimaharajalela, dengan membiarkan parapenjahat menguasai Senayan kembali, alangkah malangnya rakyat Indonesia Rayaini. Padahal, Pemilu adalah kesempatan rakyat menghukum para penjahat danpenipunya.
Itu pula alasan Batman tak mau bertualang keJakarta. Batcarnya yang super deluxe, canggih, dan anti macet itu, pasti samasekali tiada berdaya apa melawan macet.
Jangankan Batman, Gundala Putera Petir yang produkIndonesia, kini tak lagi terlihat bertualang. Karena kemacetan Jakarta? Bukan.Tapi karena kalah bersaing dalam industri komik. Kini komik yang sedang ngetopdi Indonesia komik stand-up comedy. Padahal, para komikanya sudah mulai takbisa dibedakan dengan pelawak panggung jadul model Srimulat.
Akan halnya Gundala yang tak beredar lagi,bayangkan dengan kemampuan larinya yang super cepat itu. Maklumlah puterapetir. Meski pun sebenarnya Gundala kalah sakti dengan kita, sebagai anak-cucuKi Ageng Sela dari Pengging, yang bisa menangkap petir itu.
Dengan kecepatan lari secepat kilat, bisadibayangkan. Gundala bisa nabrak-nabrak mobil atau bangunan gedung-gedung yangdibangun tanpa disain tata ruang dan tata wilayah serta tata dado yang memadai.Bisa lebam-lebam tubuh Gundala gara-gara nabrak sana-sini-situ. Makanya Gundalapun milih pensiun, dan Om Hasmi milih berteater lagi di Yogya.
Mungkin superhero macam Spiderman yang merasa asyikdi Jakarta, bisa bermain-main di antara gedung-gedung pencakar langit. Padahallangit tak punya salah, tapi entah kenapa manusia membangun gedung-gedung untukmencakarnya. Meski pun suatu ketika, karena salah perhitungan, Spiderman pernahterjerembab di belakang tower kembar Apartemen Slipi, dan nyungsep di warungrujak cingur Asmuni Anggrek Cendrawasih. Jadilah Spiderman waktu itu ngobroldengan Asmuni dan SW,…
“Kemana, Boss?” terdengar suara perempuan dibelakang kemudi. Suaranya se-sexy jasmaninya ternyata. Apalagi kostumnya. Lebihbaik diserahkan pada imajinasi masing-masing pembaca. Biar para pejuang danjihader pakaian sopan tidak bisa merazia dengan alasan syariat. Dalam imajinasipembaca, sang sopir perempuan ini bahkan boleh saja difantasikan tanpa busanasama sekali, sekalian vulgar, tanpa gentar dihajar para laskar. Merdekar!
Susilo belum juga menjawab. Ia ternyata juga ikutansedang berimajinasi, bagaimana kalau sopirnya ini tanpa busana. Membayangkanmelesat di tengah jalanan Jakarta dalam keadaan begitu rupa, mungkin lebihrevolusioner dibanding fantasi Moamar Emka tentang industri lendir extravaganzaJakarta.
“Boss,…” sang sopir kembali menyapa dengan suarasexy.
“Bentar, aku lagi berfantasi,…” Susilo menjawabsambil merem.
“Langsung ke Cikeas?”
Susilo belum juga menjawab.


10 | “Nyalakan TV!” tiba-tibaSusilo memerintahkan sopir sexynya.
Pesawat televisi dalam mobil itupun menyala. Jokowidicapreskan oleh PDIP.
Tatapan mata Susilo sulit ditafsirkan. Jakarta seolahtraffic-jam.
Mobil yang dikemudikan perempuan sexy ini pun untuksementara muter-muter Jakarta. Meski interior mobil itu menjanjikan kemewahanuntuk menghapuskan duka-derita jalanan,tetap saja bukan sesuatu yang menyenangkan. Karena agak aneh juga selera-selerapara sosialita Jakarta itu. Membeli mobil mewah di sebuah ibukota yanginfrastrukturnya benar-benar tidak memadai. Bahkan, jalanan Jakarta pun samasekali tidak memadai untuk bajaj atau pun para biker’s dan pejalan kaki.
Hanya di ibukota yang kampungan, para pejalan kakibisa disuruh minggir oleh klakson sepeda motor yang menerjang kakilima. Bukanberarti kampungan kualitasnya lebih rendah, maafkan, tapi kondisi kampung takbisa memadankan Jakarta dengan kampung, meski akhirnya Jakarta terpaksa disebutsebuah kampung besar. Karena para kaum urban membawa tradisi dan gaya hidupmasing-masing, tanpa tahu bahwa mereka berada di sebuah wilayah yangkosmopolit, sebuah melting pot yang mestinya dibangun oleh aturan yang ketatuntuk kebersamaan.
Tapi adakah itu? Adakah Jok ‘n Hok mempunyaiabstraksi Jakarta masa depan? Kenapa Jok ‘n Hok hanya ngomong jadi gubernurJakarta itu mudah, karena tinggal menjalankan saja? Persoalannya, tinggalmenjalankan pun ternyata bukan perkara mudah bukan? Kalian berdua tahu politik,duhai Jok 'n Hok? Terus kemudian Jok dicapreskan dan Hok menjadi gubernur?
Kita tak hanya butuh pemimpin yang cerdas dangalak, tapi juga visioner. Dan itu yang sampai kini belum juga bisa dilahirkanoleh lembaga pendidikan kita, dan apalagi oleh partai politik. Karenanya parasuperhero seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka and his gang itu tetap sajamempesona. Dan kita cukup puas mengaduk-aduk masa lalu, namun tanpa bisamemecahkan persoalan dasar kita masa kini, apalagi masa depan.
“Siapa presiden yang pernah punya ide mindahinibukota Indonesia?” tiba-tiba Susilo mendengus. Pandangannya lurus ke depan.Televisi masih ribut soal pencapresan Jokowi.
“Sukarno,” jawab si sopir yang sexy.
“Kita ke Blitar!” Susilo tiba-tiba berteriak.
“Blitar? Ngapain, Boss?”
Susilo tak menjawab. Sang sopir pun dengan sigapputar haluan mencari jalan ke arah luar kota. Adakah gara-gara kemarin Jokowike Blitar dan kemudian hari ini dicapreskan?
Melintasi patung pemuda yang cancutnya hampirmelorot, mobil superdeluxe itu menuju Semanggi.
Sialan. Pintu tol Semanggi pun macet juga. Susilotampak gelisah.
“Tenang, Boss,…” sang sopir menekan sebuah tomboldi sisi kanan kemudi.
Sebuah baling-baling perlahan nongol dari atapmobil. Mobil itu tiba-tiba terangkat, dan kemudian terbang meninggalkanJakarta.
“Mau ziarah ke makam Bung Karno, Boss?”
“Kita harus mendapatkan Kitab Pararaton!”
“Bukannya itu kitab jaman Ken Arok?”
“Sukarno pasti tahu di mana Kitab Pararatonberada!”
“Kalau Kitab Blirik BK pasti tahu,…”
“Maksudmu Bung Karno?”
“Butet Kartaredjasa, Boss,…”
“Anak siapa dia?”
“Pak Bagong, Boss,…”
“Wah, berarti cucunya Semar? Pastikan kau agendakanpertemuan dengannya. Siapa tahu dia ngerti juga soal Super Semar itu.”
Mobil luxury ini mengangkasa. Pernak-pernikgedung-gedung nun jauh di bawah sana, tampak makin memenuhi Indonesia Raya.Tanah-tanah yang dulu menghijau, kini serasa makin menyempit. Bendera parpoltampak berkibaran di mana-mana, bercampur kibaran kutang dan celdam dalamjemuran rumah-rumah rakyat jelata.
Langit sore Indonesia tidak begitu bersahabat.
Susilo mencoba melongok ke bawah, “apa itu?”
“Hm, tak usah melongok ke bawah gitu, Boss. Cukupkita lihat di monitor ini. Di bawah mobil ada kamera yang bisa zoom out zoomin. Kita akan tahu dengan jelas, apa yang ada di bawah kita,…” sopir nan sexyitu mempraktekkan kecanggihan mobilnya.
Gambar pencapresan Jokowi pun berganti. Di monitorTV itu kini terlihat perempuan bugil sedang mandi di sebuah bilik pinggirsungai.
“Bisa dizoom-in?” mata Susilo melotot.



11 | Di layar monitor tampak seorang perempuan yang masih muda dan ranum. Begitu para penulis cersil sering menggambarkan para perempuan penggoda di sela-sela halaman bukunya. Selalu saja perempuan disitu menempati posisi penggoda. Ada juga yang bukan penggoda, tapi pengajak.
Alangkah malangnya kaum perempuan, dalam dunia male-chauvinism ini. Dengan syariatnya, konon Demak menjadi moncer ke duniapura. Namun dengan itu pula Demak hancur. Ketika terjadi krisis hebat di negeri Darussalam itu, perebutan tahta kerajaan tak terhindarkan.
Setelah Sultan Abdul Patah mangkat, dan disusul pula wafatnya Pangeran Sabrang Lor sebagai Sultan Demak II, tahta kerajaan harusnya berpindah tangan ke adiknya yang paling tua, Pangeran Seda Lepen. Namun tokoh ini mampus dibunuh oleh Sunan Prawata, yang agaknya telah lama mengincar tahta kerajaan Demak. Karena pembunuhan tersebut, tahta kerajaan jatuh ke tangan Pangeran Trenggana, ayah Sunan Prawata.
Cita-cita Sunan Prawata pun tercapai. Ia menjadi pewaris tahta kerajaan Demak. Namun Arya Penangsang, anak Pangeran Seda Lepen, geram karena terbunuhnya sang ayah. Jika tidak, tentulah Arya Penangsang yang bakal meneruskan tahta kerajaan. Itulah sebabnya ia menuntut haknya sebagai pewaris kesultanan Demak yang sah.
Maka Arya Penangsang menyuruh abdinya, Rangkut, membunuh Sunan Prawata. Usaha tersebut berhasil. Celakanya, kekuasaan dan kekayaan jatuh ke tangan Sultan Hadirin, yang sekaligus mendapat hak menjadi pengampu Arya Pangiri, putra mahkota kerajaan Demak yang masih kanak.
Istri Sultan Hadirin, Kanjeng Ratu Kalinyamat, adalah adik Sunan Prawata.
Atas kematian Sunan Prawata, Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin meminta keadilan pada Sunan Kudus atas perbuatan Arya Penangsang. Tapi Sunan Kudus yang menjadi penasehat spiritual dan politik Arya Penangsang, justeru membenarkan tindakan itu. “Kakakmu telah hutang nyawa pada Arya Penangsang. Karenanya kakakmu bagaikan membayar hutang saja.”
Kanjeng Ratu menjadi kecewa atas perkataan Sunan Kudus dan ia segera pulang bersama suaminya. Namun di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh utusan Arya Penangsang yang memang ditugaskan untuk mencegat mereka. Dan, kemudian yang diketahui banyak pendongeng, Kanjeng Ratu Kalinyamat pun bertapa telanjang di gua Danaraja.
Ratu Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana, cucu Sultan Abdul Patah Sultan Demak pertama. Dari perkawinannya dengan Putri Cina, Raden Patah mempunyai enam anak. Yang sulung Ratu Mas, menikah dengan Pangeran Cirebon, sementara adik-adiknya berjumlah lima, laki-laki semuanya. Mereka adalah Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Seda Lepen, Pangeran Trenggana, Raden Kanduruwan, dan Raden Pamekas. Dua terakhir tak berbekas, alias dianggap tak penting dan tak terceritakan. Itulah histori, hanya mencatat nama-nama besar, atau yang bermasalah.
Tenggelamnya Demak, dengan berbagai konfliknya kemudian memunculkan beberapa lingkar kekuasaan yang lebih kecil. Kalinyamat, yang berada di wilayah Jepara, menjadi pusat pemerintahan sendiri, meliputi Jepara, Pati, Rembang, dan Juana. Karena itulah muncul sebutan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Sementara pemerintahan Demak waktu itu, dalam masa Sultan Trenggana, telah bergeser ke Pajang, dengan Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir yang berkuasa.
Sejarah dinasti politik kekuasaan kita, memang penuh intrik politik di dalamnya. Belum lagi soal kawin-mawin para tokohnya, yang menyebabkan kisah-kisah mereka sering tak lepas dari sastra selangkangan, yang diawetkan oleh Ayu Utami dan para sponsornya. Tapi apakah kita pernah melahirkan sastra sex yang fenomenal atau hanya aksesori? Dalam tradisi sastra komunal, maka yang muncul hanyalah sastra sex peripheral, hanya selangkangan semata dalam busa-busa kata. Tanpa mampu menjadi bagian dari alat untuk mendedahkan sejarah peradaban bangsa ini. Dan yang kita temu kemudian, seorang yang oleh lingkungannya disubya-subya jadi penyair dan novelis, tapi dituntut pasal perkosaan oleh gadis yang dihamilinya. Itu sastra sundal tak berkelas.
Di mana text-text dari Kitab Salokantara dan Jugul Muda sebagai referensi moral, etik, dan syariat, di Indonesia, eh, Demak? Tak ada sama sekali. Persis Pancasila dan UUD 1945. Sementara negeri-negeri sekuler bisa menjangkau kemakmuran dan kesejahteraan begitu rupa bagi rakyatnya. Di Arab Saudi yang konon lebih religious, mereka yang kaya hanyalah raja dan kerabatnya, dan beberapa pegawai istana. Sementara rakyat jelatanya menjadi sopir taksi, atau kuli angkut para jemaah haji. Sama persis dengan Indonesia, di mana rakyatnya bangga menjadi kuli bangsa asing. Dan negeri yang subur makmur dengan kekayaannya ini, jadi bulan-bulanan para calo importir, bahkan untuk teri, ikan asin, atau air galon sekali pun.
Bagaimana bisa terjadi itu semua? Meinsma menulis dalam Babad Tanah Jawi, lagi-lagi intrik politik itu berjalan linier dengan soal selangkangan. Adakah para politikus kita hari-hari ini juga berpusar karena selangkangan, atau aku berkisar diantara mereka, sebagaimana puisi Chairil Anwar?
Jika selangkangan adalah idiom lain dari hedonisme, maka ucap para kyai dalam humor-humor mereka, di pesantren-pesantren kecil di dusun, mungkin ada benarnya. Bahwa dunia ini berputar lebih karena selangkangan, bukan karena poros dari alfa et omega, atau hukum kausalitas alam yang klenik dengan metode-metode fisika dan kimia.
Apa yang dipamerkan oleh Akil Muchtar, Wawan, Tommy Soeharto, Adiguna Poncosutowo, Ahmad Fatonah, Lutfie Hasan Ishaq, hanyalah contoh-contoh kecil; bagaimana sastra selangkangan itu mereka hayati, dari nama-nama penyanyi dangdut, para fustun, foto model, atau artis-artis sinetron.




 

12 | Mobil luxury yang ditumpangi Susilo mendarat di pinggiran kota Blitar. Beberapa orang yang menyaksikan hal itu, mendadak sontak geger. Mereka pun kemudian ngetuit dan mengunggahnya menjadi gossip di akun-akun fesbuk, blog, website, instagram, dan apapun media yang mereka punya.
Bagi Blitar dan sekitarnya, peristiwa itu lebih memukau tinimbang membaca berita-berita aktivitas sosial Ibas Yudhoyono yang berada di dapil itu. Apalagi berita soal Anas Urbaningrum, lelaki kelahiran Blitar. Jika KPK benar bisa membuktikan dakwaannya atas AU, masyarakat akan berbondong datang ke Monas.
“Ke Bendo Gerit!” perintah Susilo pendek.
“Tempat siapa, Boss?”
“BK!”
“Butet Kartaredjasa?”
“Bung Karno!”
“Oh,... emang rumahnya di, apa tadi, Bendo Gerit?”
“Itu makamnya, di desa Bendo Gerit.”
“Lho, kalau BK itu sudah meninggal, kita mau ngapain ketemu dianya, Boss?”
Susilo diam saja. Pertanyaan dogol tak butuh jawaban.
Sebuah SMS masuk ke handphonenya. Dari Mbambang.
Darah Susilo tersirap.
“Mane aje? Pertarungan belum usai, wahai Golhit!”
“Diamput Golput!” reply Susilo.
“Gatel nih tangan,...” Mbambang kemudian menelpon Susilo.
“Kamu melarikan diri!” sahut Susilo.
“Kanjeng Ratu Kalinyamat membawaku pergi,....”
“Siapa tuh? Fustun?”
“Fustun ndhasmu!”
“Jokowi sudah dicapreskan!”
“Nggak ada urusan. Hari ini aku di Blitar, mau ketemu BK,...”
“Wkwkwkwkwk, biar dicapreskan juga?”
“Mau nanyain Kitab Pararaton,...”

Insert Cut: Jantung Mbambang berdeburan lebih kencang.
Seperti gebugan drum Mike Portnoy dari Dream Theater.


“Halo, haloo,...” Susilo kehilangan sinyal. Dengan cepat ia perintahkan sopirnya, “Cari hotel dulu,...!
Sopir sexy menghidupkan GPRS-nya, kemudian memutar haluan kembali ke dalam kota.
Blitar adalah kota kecil yang identik dengan Bung Karno, bukan dengan Anas Urbaningrum sekali pun tersangka KPK ini kelahiran Blitar. Bung Karno sendiri bukan kelahiran Blitar, melainkan Surabaya. Soeharto dkk saja yang bisa mengubah merah jadi putih, putih jadi lebih putih lagi, walau sejatinya hitam.
Tak jauh beda dengan politik jaman Mataram. Musuh politik adalah musuh kemanusiaan juga. Karenanya Panembahan Senapati bisa memerintahkan anak menantunya dimakamkan dengan jasad separoh di dalam beteng separohnya di luar beteng, karena sang menantu ini sebelumnya makar pada sang mertua. Untung Prabowo dan Titiek Hediati sudah bercerai, dan untung lagi Soeharto sudah tiada, hingga tidak ada cerita jasad Prabowo kelak akan dimakamkan di Astana Giri Bangun seperti jasah Ki Ageng Mangir.
Jika Sukarno dimakamkan di Jakarta, mungkin saja dianggap Soeharto akan mengganggu aura kekuasaannya. Tak boleh ada matahari kembar. Tapi juga kekuasaan tak boleh diganggu, apalagi oleh mahasiswa. Karenanya kampus Universitas Indonesia dipindahkan ke Depok, dan di pintu gerbang jalan Margonda Raya dia taruh markas tentara, agar jauh sebelum mahasiswa bergerak ke Jakarta, semua pintu masuk sudah bisa ditutup. Sementara kampus-kampus di pusat kota, cukup diagendakan dengan tawuran antarmahasiswa, untuk kesibukan pelipur lara mereka.
Jalan Margonda Raya adalah nama yang paling unik. Mungkin banyak yang mengira Margonda nama kampung, wilayah, atau nama tanaman. Padahal dia manusia ciptaan Tuhan, seorang aktivis pemuda yang giat dalam kelaskaran rakyat. Bahkan pernah dengan tokoh-tokoh pemuda lokal di Bogor dan Depok membentuk Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) menjelang kebangkrutan Belanda di Indonesia. Hanya dia yang namanya diberi embel-embel raya. Sementara tak satu pun jalan utama yang diberi nama pahlawan diberi embel-embel raya. Tak ada jalan Jendral Sudirman Raya, MH Thamrin Raya, Gatot Subroto Raya, S. Parman Raya,....
Sudahlah, biarkan saja. Tak penting. Toh di UI sudah ada sejarawan Betawi bernama JJ Rizal, yang ahli sejarah tentang Depok dan sekitarnya.
Di sebuah hotel yang lumayan representatif, Susilo dan sopir sexynya berada dalam satu kamar.
“Make me horny,....” kata Susilo pada sopirnya, “I want to fantasize for a moment,...” 




13 | Susilo dan sopir sexynya dalam telanjang. Tapi baru saja permainan hendak dimulai, tiba-tiba pintu kamar didobrak dari luar. Dua orang lelaki dengan baju ninja menerjang masuk.
Pertarungan tak terhindarkan. Seperti biasa, tanpa penjelasan sebab. Empat orang baku-hantam dalam kamar berukuran 6x4m. Meubelair dan aksesori ruangan berantakan. Susilo dan sopir sexy masih bugil dalam pertarungan itu. Itu agaknya yang membuat ninja satunya bergerak tak leluasa. Apalagi sopir sexy itu babonan (lawan sebutan jagoan) pula dalam beladiri.
Dengan ilmu meringankan tubuh, Susilo dan sopir sexy meloncat keluar, menerjang jendela kamar. Dua ninja itu pun terbang memburu Susilo dan sopir sexy.
Pertarungan kini berpindah ke ruang terbuka. Di sebuah alas tak jauh dari desa Bendo Gerit. Untung saja tempat itu jauh dari jangkauan manusia, hingga tak ada penonton usil memfoto dan mengupload ke facebook. Sangat memalukan tentu mengetahui pendekar bertarung dalam bugil di media sosial. Biar cukup seorang Ketua MUI Bogor saja yang mengupload video 3some-nya. Diiring doa, semoga para pendekar jauh lebih mulia akhlaknya daripada ulama.
Entah sudah berapa ribu jurus mereka pamerkan. Entah sudah berapa aji-aji dan mantra mereka ujikan untuk memenangkan pertarungan. Entah sudah berapa banyak pohon besar tumbang, terkena sambaran tenaga dalam masing-masing petarung itu. Tapi semuanya harus diakhiri, karena meski cersil, kita tak ingin menghabiskan paragraf demi paragraf hanya untuk adu-jotos. Itu sangat tidak sastra. Itu pun kalau sastra masih dianggap penting, di jaman puisi essay seharga 10 juta plus ngilunya hati. Kita bisa bayangkan, bagaimana sang penyair itu dulu mengancam akan menggugat jika puisi essaynya diterbitkan dalam buku Puisi Essay 23 Penyair. Tapi hasil akhirnya, honor 10 juta dikembalikan sang penyair, buku puisi essay itu terbit tetap dengan menyertakan puisi sang penyair, dan jalan keluarnya duit 10 juta pun dinafkahkan ke rumah yatim piatu. Siapa bilang puisi tidak berkait dengan kemanusiaan? Sastra kemanusiaan kita adalah sang penyair tidak jadi menggugat, puisinya tetap diterbitkan, honornya pun untuk anak-anak yatim piatu. Pastilah Tuhan Allah telah mengatur, betapa keindahan puisi itu sebagaimana tertulis dalam surat Al Maun. Sungguh celakalah orang-orang yang,...
“Mana ada cersil religius!” protes sopir sexy pada penulis cersil ini. Ia merasa tidak diperhatikan. Bayangkan, betapa sakit hatinya perempuan bugil tidak diperhatikan.
Ah, tapi penulis cerita tak boleh masuk mencampuri persoalan para tokohnya. Nanti dikira masturbasi. Penulis cersil ini diam saja, dan membiarkan pertarungan kembali terjadi.
Ninja yang bertarung melawan sopir sexy jatuh tersungkur. Kepalanya kejedos batu gilang. “Dhuaaarrrrr!” begitu bunyinya.
Mengetahui hal itu, ninja yang satunya kabur langkah seributiga.
Dengan cepat Susilo dan sopir sexy merangket ninja yang agaknya juga hendak kabur. Secepat kilat, Susilo dan sopir sexy melucuti pakaian ninja. Susilo kemudian memakai celana ninja, sementara sopir sexy memakai baju si ninja. Duh, malah lebih sexy, apalagi kalau tidak dikancingkan.
Ninja itu berambut cepak. Tubuhnya sangat sentausa. Sepertinya anggota dari sebuah angkatan. Entah Angkatan 45, Angkatan 66 atau angkatan lainnya. Tapi tampaknya hanya Angkatan 45 dan 66 ciptaan HB Jassin, yang terlanjur diakui sebagai periodisasi sastra Indonesia. Sementara angkatan-angkatan lainnya, seperti Angkatan 80, Angkatan 2000, tidak ada gemanya. Dan tetap saja Angkatan Bersenjata yang lebih kuat dari semuanya itu.
“Jangan bunuh saya, ampun,...” lelaki ninja itu tampak jerih. Sopir sexy menyodokkan stiletto ke leher ninja.
“Siapa yang menyuruhmu?” Susilo menghardik.
Ninja itu hendak membuka mulutnya. Nafasnya tampak memburu.
“Sebutkan cepat!” Susilo tak sabar.
“Ssu,..., ssu,...” ninja itu seolah hendak mengeja nama.
Tapi, seperti dalam tradisi cersil bersambung, dalam saat-saat krusial seperti itu, tiba-tiba sebuah piauw nancap di leher ninja. Dan ninja pun mampus seketika.
Susilo dan sopir sexy serentak menoleh ke arah datangnya piauw.
Tak ada sesiapa. Hanya pepohonan yang mengitari, tegak lurus dengan langit. Kosong.
“Adakah tikus-tikus yang berinisial Su?” Susilo bertanya.
“Sunardian,....” sopir sexy itu menyebut nama.
“Arrrrrgggghhhh, narsis!” Susilo menggeram.
Keduanya berpikir keras. Lebih keras dari besi baja. Mereka berpikir siapa Su yang dimaksudkan ninja. Tentu saja tak mungkin jika Su yang dimaksud adalah Susilo itu sendiri. Atau ada Susilo lainnya? Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya? Su lain adalah Prabowo Subianto, tapi agak meragukan karena Su-nya ada pada nama belakang. Prabowo tak pernah dipanggil Su. Sementara nama-nama lain tak berkaitan dengan Su. Jokowi, Ruhut Sitompul, Ramadhan Pohan, Ridwan Saidi,...
“Sutan Batoeghana!” sopir sexy berteriak.
“Oh, ya? Tapi apa kepentingannya? Bukankah kutu-kupret itu sebentar lagi dipidana KPK?” 



14 | Kita tinggalkan Susilo dan sopir sexynya yang sedang kebingungan mencari tahu, siapa Su yang dimaksud, dan apa pula latar belakang serta tujuannya.
Mbambang terduduk lesi di sebuah ruang tertutup. Hanya ada seberkas sinar dari jendela berjeruji yang sempit. Sebuah pintu besi tertutup rapat.
Sepertinya usai sudah perjalanannya. Sampai di sini. Di suatu tempat yang entah. Yang dia ingat, terakhir kalinya, ia berada tak jauh dari Imogiri, di area makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta. Tapi yang terpikir olehnya justeru tentang Susilo. Ada apa curut satu itu di Blitar? Dan mengapa Susilo mencari Kitab Pararaton pula? Di makam Bung Karno?
Kenapa setiap pemilu kita selalu diseret-seret pada nama-nama Bung Karno, Soeharto, atau bahkan sampai ke Jaka Tingkir, Sultan Agung, Bung Hatta, Tan Malaka? Ada yang tidak beres dalam kehidupan demokrasi kita? Kenapa kita tidak bicara tentang bagaimana masa depan kita, bagaimana cara menggapainya? Bangsa yang selalu bicara masa lalu adalah bangsa yang gagap dengan masa depannya. Sedikit-sedikit jasmerah, sedikit-sedikit jasmerah. Jasmerah kok Cuma sedikit-sedikit? Huh!
Sementara Mbambang sendiri sebenarnya juga lagi kelimpungan. Di mana Kitab Pararaton ia tinggalkan? Di angkringan Imogiri? Duh, Kitab Pararaton yang dicari-cari hampir seluruh calon presiden kok ketinggalan di Angkringan? Angkringan Wedang Uwuh pula. Kalah keren dengan Super Semar, yang hilang entah ke mana. Jauh lebih mistis, sekaligus guoblog. Soeharto benar-benar tak tahu malu, mati bersama Super Semarnya. Super Semar is Dead, dan sama sekali tidak meninggalkan sebiji lagu pun, tidak sebagaimana Superman is Dead!
“Anakku, Mbambang,...”
Tiba-tiba terdengar suara lirih merdu, seolah buluh perindu yang merindukan bulan. Padahal bulan tidak datang, karena kalau datang bulan sungguh merepotkan. Para lelaki pada kelimpungan jika pasangan mereka sedang datang bulan.
Mbambang mencari-cari di mana sumber-suara yang ia dengar. Tak ada siapa-siapa. Hanya tembok dingin dan bisu. Betapa mengerikannya jika tembok bisa bicara. Karenanya meragukan jika ada peribahasa dinding dan pintu pun bertelinga. Buat apa bertelinga tapi tak bisa ngomong?
“Jangan berlagak bego. Kalau kau sudah bisa mendengar suara, masih perlukah kau perwujudan fisik?” suara lembut itu terdengar kembali.
Mbambang terdiam. Ada juga benarnya. Tapi, suara semerdu itu tanpa perwujudan, bukankah eman banget? Pastilah suara merdu itu juga perwujudannya tak kalah indahnya. Dan alangkah indahnya jika perwujudan fisik yang indah itu berada di ruangan yang tidak indah ini.
“Baiklah, jika kau penasaran,...” suara merdu itu kembali terdengar.
Di hadapan Mbambang, buzzzzz,... tiba-tiba muncul jerangkong. Wujudnya begitu jelas dalam keremangan bias cahaya jendela berjeruji.
Kerongkongan Mbambang bagai tersumbat. Lidahnya kelu. Mau menjerit, tak bisa. Mau pipis, sudah terlanjur keluar tanpa sadar. Ih, njijiki.
“Apa kau tak ingat ini suara siapa?” suara merdu itu muncul dari jerangkong di depan Mbambang. “Aku Kanjeng Ratu Kalinyamat,...”
Mbambang diam saja. Sekitar tiga menit yang lalu dia pingsan.
“Laki-laki kok cemen,...” jerangkong yang mengaku Kanjeng Ratu Kalinyamat pun menjunjung tubuh Mbambang. Ia berjalan perlahan, menembus tembok bak menembus gumpalan awan.
Tahu-tahu, dan tempe-tempe, Susilo tersadar di tengah hutan. Di puncak bukit milik Fakultas Kehutanan UGM. Fakultas Kehutanan UGM? Apa hubungannya dengan Jokowi? Tak ada. Tapi sekedar informasi saja, bahwa kawasan hutan di daerah Imogiri, oleh Kanjeng Sultan Hamengku Buwana X memang diserahkan pada UGM untuk dikelola. Sekian informasi.
“Paduka muncul kembali, tapi kenapa tidak bugil, Kanjeng?” Mbambang mencoba mengingat-ingat.
“Hadeh, kamu tuh piktor. Yang ada di otakmu hanya yang cabul dan mesum. Sekali-kali pikirlah tentang filsafat kehidupan,” Kanjeng Ratu Kalinyamat tampak gemas. “Pantes saja sembarangan kau taruh Kitab Pararaton itu. Sekarang kau harus temukan kembali Kitab Pararaton, sebelum 9 April!”
“Sembilan April 2014?”
“Lha iya, apa mau nunggu 10 tahun lagi, ketika orang-orang didikan Soeharto sudah mampus semua?” Kanjeng Ratu Kalinyamat menghardik. “Kalau mereka sudah mampus, kita nggak akan ribut-ribut soal politik klenik, karena kelak generasi baru Indonesia sudah bebas dari bahaya latent Orde Baru yang mau ditegakkan oleh ARB!”
“Kanjeng Ratu juga bakal nyoblos besok?”
Kanjeng Ratu Kalinyamat menukas, “Nyoblos gundulmu,...” 



15 | Pagi cemerlang di bukit Imogiri. Matahari mencorong dari balik perbukitan. Berlari-lari kecil, naik turun jalanan hotmix mulus di antara hutan pinus, keringat berleleran di sekujur tubuh Mbambang.
Menjelajahi desa Mangunan, dari kawasan kebun buah hingga hutan pinus Dlingo, Mbambang mampir di rumah Mbok Sum, penjual thiwul ayu yang cukup sohor di kawasan Bantul timur itu.
Ia teringat waktu mengantar Sharon Stone ke Thiwul Ayu Mbok Sum. Waktu itu sehabis Sharon berziarah ke makam raja-raja Mataram Yogyakarta dan Surakarta di Imogiri.
Mbambang mengantar Sharon Stone? Sharon Vonne Stone, yang sangat erotis dalam Basic Instinct? Ya, dan ya! Mbambang ingat waktu itu, pagi-pagi harus meninggalkan Jakarta menuju Yogya. Sharon Stone minta dipastikan ada yang bisa mengantarnya ke Imogiri.
Pontang-panting Mbambang cari tiket, agar sebelum jam 12 bisa tiba di Hotel Aman Jiwo sebelah barat Candi Borobudur. Tak jauh dari rumah Tanto Mendut, pedagang keris yang ampuh se kota Muntilan.
Meski tak se-aduhai tampilannya dalam Basic Instinct, Sharon Stone tetap saja terlihat lebih sexy dibanding Ani Yudhoyono. Sumpah, bukan menghina. Mbambang masih menyimpan foto-foto telanjang Sharon di Majalah Playboy, ketika aktris kelahiran Pennsylvania itu dinobatkan jadi satu diantara 25 bintang terseksi abad ke-20. Waktu Mbambang bertemu Sharon, sudah masuk ke abad 21, wajar kalau Sharon Stone tak lagi memukau. Apalagi sekarang.
Perannya sebagai Catherine Tramell dalam Basic Instinct, sangat dihafal oleh Mbambang. Dan mungkin itu satu-satunya film Sharon Stone yang paling disukai Mbambang. Sayang dalam film itu tak ada adegan Chaterine Tramell kelihatan vaginanya, ketika sedang diinterograsi polisi. Padahal Paul Verhoeven memang menghendaki hal itu. Bagaimana tampak dari samping dan belakang Sharon dalam kostum tipis yang memperlihatkan bahwa ia tanpa celdam dan kutang. Dalam preview internal, Sharon Stone menampar sutradara film itu, "Saya tahu saya harus mengangkangkan kaki begitu, tapi saya tidak tahu bahwa vagina saya akan terpampang di layar lebar," kata Sharon. Agaknya sang sutradara tidak memberi tahu, bahwa ia memasang kamera tersembunyi untuk merekam gambar tersebut. Pas intercut itulah disensor oleh Sharon.
Basic Instinc film thriller erotis yang menghabiskan biaya$ 49.000.000 dan menjadi box office yang menghasilkan keuntungan senilai $ 352.927.224, dan tentu kecemerlangan berikutnya pada Sharon.
“Made of what this Tiwul?” Sharon Stone bertanya sambil berjuang merasakan pertarungan rasa gurih, asin, dan manis yang berkelindan di lidahnya, dan menyerang syaraf-syaraf di kepalanya.
"Tiwul first food of the poor, made from cassava,..." Mbambang menjelaskan.
Proses pengolahan tiwul memiliki proses yang cukup panjang dan sedikit rumit. Singkong yang telah dikupas kemudian dijemur hingga kering, untuk kemudian diolah menjadi tepung gaplek. Setelah menjadi tepung, proses selanjutnya adalah menguleni adonan dengan cara menaruh tepung gaplek di atas tampah, yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat. Setelahnya tepung diperciki air, sambil diaduk-aduk hingga berbentuk butiran-butiran. Adonan ini kemudian dikukus di dalam dandang, hingga matang dan tak lupa diberi campuran daun pandan, untuk menambah aroma pada tiwul. Untuk penambah rasa, biasanya tiwul ini diberi tambahan gula jawa dan parutan kelapa.
Thiwul Ayu Mbok Sum memang sohor. Meski ia mengolah makanan rakyat nan ndesit, namun ia sudah melakukan beberapa inovasi dalam hal rasa. Bahkan rasa dan macam thiwul sekarang beragam, dari tiwul gula jawa, tiwul gula pasir, tiwul gurih, dan thiwul sambal. Sehingga dapat diterima lidah kaum hedonis sedunia. Termasuk lidah Sharon. Entah kenapa dalam hal lidah Sharon itu, justeru Mbambang yang kelojotan setiap butiran tiwul itu tergigit lidah Sharon.
Tapi jangan sekali-kali menikmati tiwul dalam keadaan perut kosong, karena menjadikan perut terasa begah. Sebaiknya makan makanan biasa dulu, sebelum menyantap tiwul. Mbambang waktu itu tidak mengetahui hal itu. Jadi, habis makan tiwul perut Sharon Stone begah. Untung tak ada wartawan infotainment yang mengetahui hal ini. Jika tahu, pasti soal perut begah Sharon karena tiwul, bisa jadi trending-topic berminggu-minggu di berbagai televisi gemblung kita. Belum lagi jika ketahuan Sharon Stone minum wedang uwuh. Bagaimana minuman sampah memasuki leher jenjang mulus sang aktris sexy abies itu?
Lagian, ngapain Sharon Stone ke Imogiri? Mau jadi presiden juga, seperti lelaki yang mengaku kehilangan nama yang menculik Mbambang?
Banyak makam raja-raja, atau makam-makam yang angker, diziarahi para politikus busuk dan mereka yang menginginkan kuasa uang dan dunia. Masa depan tentu saja berhubungan dan merujuk referensi masa lalu. Namun betapa memiriskan, setiap menjemput proyeksi masa depan, kita selalu berupaya mematerialkan masa lalu. Agar bisa diekstrak menjadi kekuatan pendorong, kesaktian, untuk menggapai cita-cita, yang ditransformasikan dalam asap dupa dan klembak menyan serta jampi-jampi.
Maka yang kemudian kita dengar, jika bukan petuah bulukan, sering yang keluar dari mulut mereka adalah caci-maki untuk menyingkirkan lawan. Kompetisi politik yang terjadi di Indonesia, hingga kini, adalah ‘ZZG’, zero zone game. Jaman dulu, dekade 70-an, ZZG adalah inisial Zan Zapha Group, sekumpulan wartawan freelance yang dikomando Hasanta untuk menyuplai berita-berita hiburan majalah Aktuil, majalah musik paling terkemuka di Asia Tenggara. Demikianlah, majalah pun kita dulu bisa ekspor. Sekarang kacang-kedelai, ikan teri dan asin, kita suka banget impor. Untuk member penghasilan bagi para calo impor dan lumbung uang partai politik.
Tapi, kenapa juga Sharon Stone ke Imogiri? Adakah dia perlu susuk kecantikan, atau agar bisa terpakai terus sebagai aktris?
Mbambang lupa menanyakan.
Dan Sharon Stone pun juga lupa menjawabnya.
Namanya juga sama-sama lupa.
Mbambang masih kepikiran mengapa Susilo ke Blitar, dan mencari pula Kitab Pararaton? Buat siapa kitab itu?
Buru-buru ia hubungi Susilo lewat handphonenya.
Beberapa kali nada panggilan tak bersahut, hingga operator seluler memberitahu kalau nomor yang dihubungi Mbambang keliru. Kacau. Bagaimana keliru? Kalau keliru kan tidak mungkin terhubung? Soal yang dihubungi tidak ngangkat, kan bisa banyak sebab? Ketiduran, habis pulsa, handphone kecemplung toilet, atau mungkin si empunya nomor sedang asyik masyuk dengan pasangannya?
Menuruni perbukitan Imogiri, Mbambang bertemu puluhan mobil pick-up dan truk-truk dengan bak terbuka. Di kanan-kiri bodynya dipenuhi dengan spanduk dan bendera-bendera partai warna kuning. Musim kampanye terbuka sudah dimulai.
“Itu dia orangnya,….” Tiba-tiba seseorang berteriak sembari menuding ke arah Mbambang.
Mbambang tak punya pilihan lain.





Bersambung ke jilid-jilid berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar