Minggu, Maret 30, 2014

Apa Sesungguhnya Politik Itu



Menurut nantulang Sabam Sirait, sampai dibela-belain nulis buku, “Politik itu Suci”. Dan beliau sibuk ngeluarin dalil-dalil. Kata John F. Kennedy, jika politik kotor puisi yang membersihkan, jika politik bengkok sastra akan meluruskannya. Sementara itu, jika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara, kata Seno Gumira Ajidarma.
Sepertinya, dalam point di atas, sastra begitu sangat digdaya. Tapi mohon jangan tanyakan saya, jika sastra kotor, siapa yang ngebersihin? Cleaning service? Jangan singgung dunia sastra dulu, lagi sensitif. Mendingan singgung dunia politik yang lagi ngetrend.
Menurut kaum cerdik-pandai; Politik adalah jalan kemuliaan, untuk mereka yang hangrungkebi demokrasi, sebagai jalan pemuliaan dalam berbangsa dan bernegara. Maka dari itu, pemilu adalah jalan satu-satunya, sebagai penghargaan pada rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara. Kekuasaan dibatasi dan dikontrol oleh undang-undang dan aturan. Daulat raja yang hegemonik atau mutlak-mutlakan, diubah menjadi daulat rakyat, dengan sistem perwakilan.
Tapi, bagaimana praksis politik kita hari ini? Yang kita tahu, satu sama lain kompetitor (caleg, capres), dan para sponsor serta pendukungnya, lebih meyakinkan sebagai pribadi-pribadi yang, meminjam istilah SBY, memprihatinkan.
Politik dalam pengertian partai politik, lebih dipakai untuk menghardik orang lain, yang tak segolongan dan sekepentingan. Maka ada istilah politik itu soal kepentingan, dan tak ada persahabatan abadi selain kepentingan (yang sama tentu). Musuh dari musuh kita, adalah sahabat kita. Di mana azas gotong-royong dan musyawarah mufakat bangsa ini, yang konon ramah dan baik hati, sebagaimana nilai-nilai Pancasila?
Yang mengherankan, bagaimana bisa politik justeru tidak memberikan ruang untuk perbedaan pendapat, dan cenderung diekspresikan dengan meninggalkan nilai-nilai etik dan adab. Bahkan sebagai politikus, justeru lebih memakai serangan pada pribadi-pribadi (personalitas), tapi senyampang dengan itu mengajak orang agar tidak memilih berdasarkan personalitas, tapi kualitas kepemimpinan. Ini contradictio in terminis.  Hal itu menjelaskan ketidakkonsistenan para politikus kita yang parah.
Politik tanpa konsistensi (untuk kepentingan ini pakai dalil itu, untuk kepentingan itu pakai dalil ini), menunjukkan tiadanya ideologi yang jelas, kecuali hanya meraih kekuasaan bagaimana pun caranya. Termasuk boleh menculik orang asal santun, ‘kan sebagai prajurit hanya menjalankan tugas. Dalam kemiliteran, tak ada prajurit salah, yang salah panglima. Makdirodok.
Yang lebih menyedihkan, politik konon menurut para teoritikus adalah jalan pemuliaan. Namun faktanya, justeru cenderung mendegradasi orang pintar jadi bodoh, orang mulia jadi pecundang. Buktinya, ada budayawan, profesor, akademisi, bisa berkomentar secara bar-bar di media maupun di panggung-panggung kampanye, tak jauh beda dengan fesbuker alay, dan perbincangan kelas perondaan di kampung. Tidak lagi ngomong fakta dan data, tapi makian dan umpatan sampai fitnah. Buktinya lagi, ada orang baik yang terbukti secara sah dan meyakinkan, menjadi koruptor dan akhirnya masuk bui gara-gara politik.
Dalam kehidupan keseharian, banyak pertemanan terganggu karena beda pilihan politik, dan beda jagoan capres atau caleg masing-masing. Tak urung remove-meremove, atau bully-membully, menjadi kecenderungan baru, setelah dulu ingin memecahkan rekor mempunyai teman sebanyak-banyaknya.
Jadi, politik dan politikus itu apa? Pemilu itu apa? Pencalegan itu apa? Pencapresan itu apa? Lha wong politik itu cuma soal pilihan dan cara dunia. Dan pilihan itu soal senang tidak senang, itung-itungan manusia, dengan segala taktik, strategi dan tipu-tipunya. Hal itu menunjukkan bahwa fitrahnya manusia itu beragam, makanya diadakan pemilihan umum. Tapi giliran ngadain pemilu, nggak siap mentalnya. Nggak siap menang, nggak siap kalah. Nggak siap pula bagaimana cara mengungkapkannya.
Lha kita-kita ini kepentingan dan keuntungannya apa? Kan ya cuman seneng  kalau pilihannya kepilih, kecewa kalau jagoannya tersingkir? Apa begitu pemilu selesai dengan memuaskan dan mulia, Indonesia langsung berubah gitu? Nggak juga. Tergantung sampeyan-sampeyan rakyat mengawal dan mengontrolnya. Termasuk mengontrol wakil rakyat tentunya.
Mangkanya nggak usah ndakik-ndakik, apalagi bawa-bawa Gusti Allah hanya untuk memaki  orang lain. Seolah-olah paling gegares dalam kesucian Illahi. Pilih yang sampeyan senangi, yang menurut pertimbangan baik dan tepat, kalian kenali dan ketahui track-recordnya. Jika nggak ada yang disenengi, ya Golput dibolehkan UUD kita sebagai hak warga negara. Sing ngomong Golput dosa mlebu neraka, doakan saja masuk sorga.
Dipakai santai saja, tetapi tetep dibimbing akal dan jiwa sehat. Untuk membangun Indonesia ini, masih banyak lapangan untuk berkiprah, ora mung jalan politik. Jangan lupa, banyak anak muda tanpa liputan media, terus tekun belajar dan bekerja di seluruh pelosok Nusantara, membangun lingkungan masing-masing. Memberdayakan dan tumbuh bersama masyarakat, bukan memperdaya masyarakat hanya lima tahun sekali, bar kuwi ditinggal mak prung.
Masiyo sampeyan ngamuk-ngamuk, pancet ae yang namanya pemilu itu, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, artinya pembuat pilu. Dalam bahasa Inggris, pemilihan umum disebut General Election. Tapi menurut John Lennon, general election itu yang tepat adalah general erection. Lajel bebarengan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar