Senin, Februari 17, 2014

Tan Malaka Pejuang Kemerdekaan yang (Hendak) Dilupakan



PENGANTAR | Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949, pada umur 51 tahun. Beliau seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia (Warisan Tan Malaka, Tempo Interaktif 11 Agustus 2008), pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia (Award  of the Republic of Indonesia (dalam bahasa Indonesia)

Dia ‘kan PKI? Komunis, iya, apalagi dia adalah ketua Komunis Internasional (Komintern). Tapi kalau pun dia komunis, terus kenapa, bukankah pemikiran Bung Karno, Bung Hatta, pun juga kiri, sebagaimana para pejuang kemerdekaan lainnya waktu itu, melawan mainstream kolonialism? Lagi pula, apakah misalnya kalau dia orang “PKI”, dan kemudian saya yang membaca namanya kemudian menjadi PKI? Menjadi komunis? Anti-Tuhan? Terus jadi musuh ormas-ormas suruhan? Kenapa ormas-ormas suruhan itu kok tiba-tiba menjadi penting banget? Apa kepentingannya dibenturkan dengan Tan Malaka?  
Tan Malaka sendiri pernah menjabat sebagai pimpinan PKI pada 1921. Namun, perbedaan pendapat antara dirinya dengan sejumlah elite PKI seperti Semaun, Muso, Alimin dan Darsono akhirnya membuatnya memilih keluar dari PKI. Salahh satu contoh perbedaan pemikirannya dengan para elite PKI itu adalah soal pemberontakan PKI pada 1926-1927. Tan Malaka saat itu tak setuju dengan pemberontakan yang akhirnya berujung pada kegagalan itu. 
Meski tak lagi berada di PKI Tan Malaka tetap konsisten berjuang dengan paham komunis yang dianutnya. Sebab, komunisme bagi Tan Malaka adalah jalan hidup dan metode untuk memperbaiki dunia. Meski seorang komunis, Tan Malaka adalah sosok yang percaya akan adanya Tuhan. Sejak kecil dia sudah hapal Alquran. Bahkan saat berpidato di Kongres Komunis Internasional (Kominter) pada 1922, Tan Malaka dengan lantang menyatakan Pan-Islamisme bukanlah musuh komunis. Pan-Islamisme justru sahabat untuk menghancurkan kapitalisme.
"Kalau saya berdiri di depan Tuhan, saya adalah seorang muslim. Bila saya berdiri di depan manusia saya bukan seorang muslim," demikian pidato Tan Malaka di hadapan Lenin saat itu.
Pernyataan itu dapat diartikan bahwa Tan Malaka memisahkan urusan agama dengan urusan sosial duniawi. Untuk akhirat dia adalah seorang muslim. Tapi untuk urusan dunia dia menggunakan komunisme sebagai jalan untuk membebaskan dunia dari keserakahan kaum kapitalis.

Bagi yang antipati, tentu saja mereka tidak merasa penting membaca sejarah. Tak peduli Tan Malaka adalah pahlawan nasional, dan apalagi dia lebih penting bagi Indonesia daripada ormas-ormas itu. Sesuai data Sekretariat Negara berdasar Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 yang menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional. Dan ini adalah data negara, yang sampai sekarang sah berlaku, tidak ada perubahan. Masa’pahlawan nasional ditandingin dengan perusuh dengan ideologi yang tidak menghargai keberagaman Indonesia? 
Tulisan ini dirangkumkan dari berbagai sumber, oleh Sunardian Wirodono.


(1) TAN MALAKA SANG PACAR MERAH | Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Nama lengkapnya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, dan tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa.
Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat. Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya GH Horensma, Malaka, meskipun kadang-kadang tidak patuh, adalah murid yang pintar. Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat Ia lulus dari sekolah itu pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk. Ia menerima gelar tersebut dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.
Meskipun diangkat menjadi datuk, pada bulan Oktober 1913 ia meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), yang didanai oleh para engku dari desanya. Sesampainya di Belanda, Malaka mengalami kejutan budaya, dan pada 1915, ia menderita pleuritis.
Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat setelah membaca de Fransche Revolutie, yang diberikan kepadanya sebelum keberangkatannya ke Belanda oleh Horensma. Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia semakin tertarik pada komunisme dan sosialisme, membaca buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Friedrich Nietzsche juga menjadi salah satu panutannya. Saat itulah ia mulai membenci budaya Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Dia kemudian mendaftar ke militer Jerman, Bagaimanapun, ia ditolak karena Angkatan Darat Jerman tidak menerima orang asing. Saat itulah ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal dari-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia). Ia juga tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Demokrat Sosial Guru). Pada bulan November 1919, ia lulus dan menerima ijazahnya yang disebut hulpactie. Menurut sang ayah, selama Tan Malaka di Belanda, mereka berkomunikasi melalui suatu sarana mistik disebut tarekat.
Setelah lulus, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia tiba di sana pada Desember 1919; dan mulai mengajar anak-anak itu bahasa Melayu pada Januari 1920. Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor.
Selama masa ini, dia belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera.[18] Ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa. Salah satu karya awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920. Ia juga menulis mengenai penderitaan parakuli kebun teh di Sumatera Post. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. 
Tan Malaka sendiri pernah menjabat sebagai pimpinan PKI pada 1921. Namun, perbedaan pendapat antara dirinya dengan sejumlah elite PKI seperti Semaun, Muso, Alimin dan Darsono akhirnya membuatnya memilih keluar dari PKI. Salahh satu contoh perbedaan pemikirannya dengan para elite PKI itu adalah soal pemberontakan PKI pada 1926-1927. Tan Malaka saat itu tak setuju dengan pemberontakan yang akhirnya berujung pada kegagalan itu. 
Meski tak lagi berada di PKI Tan Malaka tetap konsisten berjuang dengan paham komunis yang dianutnya. Sebab, komunisme bagi Tan Malaka adalah jalan hidup dan metode untuk memperbaiki dunia. Meski seorang komunis, Tan Malaka adalah sosok yang percaya akan adanya Tuhan. Sejak kecil dia sudah hapal Alquran. Bahkan saat berpidato di Kongres Komunis Internasional (Kominter) pada 1922, Tan Malaka dengan lantang menyatakan Pan-Islamisme bukanlah musuh komunis. Pan-Islamisme justru sahabat untuk menghancurkan kapitalisme.
"Kalau saya berdiri di depan Tuhan, saya adalah seorang muslim. Bila saya berdiri di depan manusia saya bukan seorang muslim," demikian pidato Tan Malaka di hadapan Lenin saat itu.
Pernyataan itu dapat diartikan bahwa Tan Malaka memisahkan urusan agama dengan urusan sosial duniawi. Untuk akhirat dia adalah seorang muslim. Tapi untuk urusan dunia dia menggunakan komunisme sebagai jalan untuk membebaskan dunia dari keserakahan kaum kapitalis.

Ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921.

Madilog dan Gerpolek kerduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Gerpolek. Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.
Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Tan Malaka dalam fiksi. Dengan julukan Patjar Merah Indonesia, Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst. Nama patjar merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang seorang pahlawan Revolusi Perancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Musso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat). Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Tiga buku pertama ditulis oleh Matu Mona, sementara yang keempat dan kelima ditulis oleh Yusdja: Spionnage-Dienst (1938). Rol Patjar Merah Indonesia cs (1938). Panggilan Tanah Air (1940). Moetiara Berloempoer: Tiga Kali Patjar Merah Datang Membela (1940). Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)


(2) ASAL-USUL NAMA TAN MALAKA | Ibrahim dibesarkan di lingkungan keluarga Islam. Ia lahir dan tinggal bersama kedua orangtua serta seorang adik laki-laki di Suliki, Sumatera Barat.
Ayahnya, HM Rasad, sedang dan ibunya, Rangkayo Sinah, tentu bukan orang miskin. Sang ayah bekerja sebagai pegawai pertanian, sementara ibunya orang yang disegani di desanya, karena berasal dari keluarga terpandang.
Ibrahim dibesarkan dalam kultur Islam. Belajar mengaji menjadi kegiatan wajibnya sehari-hari. Saat berusia 16 tahun, desakan terhadapnya datang dari orang tua dan warga kampungnya. Ia diminta menerima dua tawaran. Diberi gelar Datuk Tan Malaka dan ditunangkan dengan gadis yang telah dipilihkan oleh keluarga.
Ibrahim menolak secara diplomatis. Ia mengusulkan hanya menerima salah satu dari dua tawaran itu saja. Jika tawaran yang pertama diterima, maka tawaran yang kedua harus dibatalkan, begitu juga sebaliknya.
Keberatan dan usul Ibrahim itu, seperti dituliskan dalam 'Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah' (Masykur Arif Rahman), dikabulkan oleh keluarganya. Setelah melakukan pertimbangan, keluarga lantas lebih memilih memberikan gelar Datuk Tan Malaka kepada Ibrahim, daripada menjodohkannya.
Bagi keluarga Ibrahim, gelar lebih penting ketimbang perjodohan. Sejak saat itu, Ibrahim lebih dikenal sebagai Tan Malaka. Namun demikian, Tan Malaka tak pernah menggunakan gelar Datuk di depan namanya.
Keluarganya mungkin tak pernah menyangka, nama Tan Malaka di kemudian hari menjadi begitu terkenal di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, Tan Malaka dikenal sebagai pemikir dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Di luar negeri, Tan Malaka dikenal sebagai tokoh komunis asal Indonesia, dan menduduki posisi ketua Komunis Internasional (Komintern) wilayah Asia tenggara.
Namun sayang, meski memiliki jasa besar bagi perjuangan kemerdekaan dan revolusi Indonesia, nama Tan Malaka nyaris tak dimunculkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Tan Malaka menjadi pahlawan yang dilupakan bangsanya sendiri. Mungkin karena ia pernah menjadi ketua Komintern itu. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. Tapi ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921. Ia sendiri telah lenyap dari permukaan Indonesia pada 1949. Waktu meletusnya pemberontakan PKI Madiun 1948, sejak 1946 Tan Malaka berada di penjara, itu pun karena pertarungan politiknya dengan Sjahrir waktu itu, bersama Persatuan Perjuangan. Sementara tak lama setelah aktivitas politiknya tahun 1919-1922, maka pada akhir tahun itu ia terusir dari Hindia Belanda. Sampai 1942, Tan berada di luar negeri dan pelariannya.
Peristiwa 3 Juli 1946, yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka, bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, mungkin dianggap sebagai biangnya. Itu berkait dengan persaingan elite politik waktu itu, ketika Sutan Sjahrir menjadi Perdana Menteri. Tan Malaka dipenjara tapi tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948, dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu. Dan barulah Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Soekarno sendiri mengakui, betapa Tan Malaka mempunyai andil penting dalam revolusi Indonesia. Dan itulah sebabnya, negara kemudian memutuskan pada 1963, memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada Tan Malaka, yang dikabarkan lenyap di kawasan Jawa Timur pada 1949.


(3) TAN MALAKA PENDIDIKAN BAGI KULI | Setelah kurang lebih enam tahun sekolah guru di Belanda, Tan Malaka pulang ke Indonesia pada 1919. Saat itu, Tan Malaka ditawari bekerja sebagai tenaga pendidik anak-anak kuli, di perkebunan yang berada di Senembah, Deli, Sumatera Utara.
Tawaran yang langsung diberikan oleh Direktur Perusahaan Senembah, Dr Jansen, itu tak disia-siakan
Tan Malaka. Selain membutuhkan uang untuk membayar utang kepada para engku di kampung halaman, dan kepada bekas gurunya Horensma, Tan Malaka juga ingin mengetahui langsung dan merasakan penderitaan para kuli bangsanya itu.
Tan merasa ketimpangan yang luar biasa terjadi di perkebunan itu. Kelas-kelas dibagi dari tingkat pejabat tinggi hingga kuli kontrak. Para tuan besar Belanda digaji dengan jumlah besar ditambah bonus besar tahunan. Padahal belum tentu mereka mengerti pekerjaannya, dan belum tentu berilmu. Kebanyakan pekerjaan mereka hanya jalan-jalan.
"Mereka bisa lekas kaya karena gaji besar dan mendapat bagian tetap dari keuntungan apabila sudah bekerja sementara tahun saja. Kalau saya tak salah, di luar gaji puluhan ribu setahun itu, tuan kebun mendapat bagian untung f200.000," kata
Tan Malaka dalam biografinya 'Dari Penjara ke Penjara Jilid I".
Hal itu berbeda jauh dengan nasib para kuli pribumi. Mereka digaji dengan nilai yang tak masuk akal. Padahal mereka bekerja dari dini hari sampai malam hari atau sekitar 12 jam. Menurut kontrak, mereka digaji hanya f 0,40 sehari. Belum lagi siksaan dan cacian dari para tuan besar yang diterima mereka. Hal itu semakin membuat
Tan Malaka miris atas kondisi saudara sebangsanya. "Makanan biasanya tidak cukup buat kerja mencangkul di tempat panas 8 sampai 12 jam sehari. Pakaian pun lekas rombeng-rombeng lantaran sering kerja di hutan," kata Tan Malaka.
Kesulitan ekonomi itu mengakibatkan para kuli kontrak mencoba peruntungannya dengan berjudi. Namun, judi nyatanya bukan sebuah solusi. Mereka kalah dan semakin sulit keuangan.
Tanpa disadari mereka telah masuk perangkap yang sengaja dibuat kapitalis Belanda. Pihak perusahaan lantas memberi pinjaman kepada mereka. Karena terikat utang, para kuli itu mau tidak mau kembali meneken kontrak kerja dengan pihak perusahaan meski digaji amat kecil.
"Pertentangan tajam antara bangsa kulit putih, goblok, sombong, ceroboh, penjajah, dengan bangsa berwarna yang berpengalaman membanting tulang tetapi tertipu, terhisap, tertindas, dengan perantaraan dua-tiga bangsa Indonesia sendiri sebagai buruh pandai, skilled labour, inilah yang mengeruhkan suasana Deli dan terus menerus menimbulkan penyerangan kuli terhadap Belanda-kebun," kata
Tan Malaka .
Selama
Tan Malaka bekerja di perkebunan itu, tiap tahunnya orang Belanda yang tewas atau luka diserang para kuli berjumlah antara 100 hingga 200 orang. Sesungguhnya, pandangan miring dari para tuang besar tak hanya kepada kuli kontrak. Tan Malaka yang saat itu merupakan lulusan Belanda pun dipandang miring oleh mereka.
Hal itu hanya karena Tan Malaka adalah pribumi yang di mata mereka adalah rendahan. Namun, kebaikan dan dukungan dari Dr Jansen membuat Tan Malaka bisa bertahan.
Singkat cerita,
Tan Malaka kemudian dituduh para tuan besar terlibat dalam pemogokan buruh Deli Spoor. Saat itu, Tan Malaka memang dikenal dekat dengan para kuli. Tan kerap menggelar rapat dengan para kuli di rumahnya untuk membicarakan pendidikan yang tepat bagi anak-anak mereka.
Selain itu, Tan juga kerap menulis di sejumlah koran, dan memiliki hubungan dengan para pemimpin pemogokan. Namun Tan membantah tuduhan itu. Tan mengaku tak pernah menulis di surat kabar dengan nama samaran Ponco Drio seperti yang dituduhkan.
Sementara soal kedekatannya dengan para kuli, Tan menyatakan kewajibannya untuk mengangkat harkat martabat rakyat bangsanya. Namun tak selesai di situ, persoalan itu sampai-sampai membuat Dr Jansen langsung menemui Tan dan menanyakan kebenarannya.
Tapi Tan berhasil menjawab apa adanya, dan Dr Jansen pun yakin Tan tak bersalah. Tan akhirnya diajak Dr Jansen untuk menghadiri rapat dengan para tuan besar Belanda. Di situ Tan ditanyai soal sekolah tempatnya bekerja.
Pertanyaan itu dijawab dengan diplomatis oleh Tan. Jawaban Tan itu hingga kini bahkan masih terkenal dan kerap menjadi slogan tujuan pendidikan. "Bahwa maksud pendidikan anak kuli, terutama adalah mempertajam kecerdasan, dan memperkokoh kemauan, memperhalus perasaan, seperti dimaksudkan dengan anaknya bangsa apapun dan golongan apapun juga,..."
Tan berpendapat kuli dan anaknya harus mendapat pendidikan yang baik. Hal itu nantinya akan membawa efek positif kepada perusahaan. Namun, para tuan besar tetap berpandangan tak ada gunanya para kuli dan anaknya diberi pendidikan, hanya buang-buang uang saja.
Tan juga mengetahui, para petinggi perusahaan itu di belakang kerap menjelek-jelekkan Dr Jansen karena dinilai terlalu idealis dengan mendirikan sekolah untuk anak kuli itu.
Tan Malaka akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tan sadar Dr Jansen akan segera pulang ke Belanda. Takkan ada lagi orang yang membelanya dari tindakan semena-mena para tuan besar.
Tapi hal itu bukan menjadi alasan utama sang Patjar Merah mundur. Tan merasa tujuannya sudah tercapai meski hanya sedikit. Tan sudah mengetahui kondisi nyata para kuli dan Tan juga sudah memperoleh uang untuk membayar utang-utangnya.
Di tempat itu jiwa revolusioner
Tan Malaka semakin menjadi. Ia semakin mantap untuk berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan kaum imperialis. Tan Malaka lantas meninggalkan Deli dan menuju ke Jawa.


(4) TAN MALAKA CALEG TERMUDA DI ROTERDAM | Terusir dari Hindia Belanda, Tan Malaka pergi ke Belanda. Di Rotterdam, 30 April 1922, dalam status orang yang diusir dari tanah airnya sendiri (oleh pemerintah kolonial Belanda). Ia menumpang di rumah seorang seniman bernama Peter Alba. Tapi justerudi sini Tan tak mengalami kesulitan berarti.
Kisah keberanian Tan Malaka menentang kapitalis dan penjajahan Belanda, sudah menyebar dan menjadi pemberitaan media komunis di Belanda. Karenanya tak heran sahabat perjuangannya di Belanda, langsung menyambut baik kedatangan sang Patjar Merah.
Oleh Dr Van Ravenstijn, pengurus Partai Komunis Holland (CPH), Tan Malaka lantas diminta datang pada perayaan Hari Buruh 1 Mei, sekaligus rapat bersama CPH. Dalam buku 'Tan Malaka Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah', dituliskan rapat itu digelar di Gedung Diamantbeurs, Amsterdam.
Di rapat itu, Tan Malaka disambut baik dan diperkenalkan. Gedung pertemuan penuh sesak oleh para peserta rapat. "Dan sungguh hebat sekali pertemuan itu, kaum buruh revolusioner Amsterdam, ketika menyebut kawan kita Tan Malaka dari Indonesia yang dibuang itu, serentak berdiri dari kursi, dalam suatu letupan semangat yang lama sekali tidak pernah kita alami," demikian isi pemberitaan surat kabar komunis di Belanda, De Tribune.
Tan Malaka sempat diberi waktu untuk berbicara dalam forum itu oleh Ketua CPH Wijnkoop. Alhasil, sambutan peserta yang hadir saat itu, amat memuaskan. Mereka memuji dan mengagumi Tan Malaka yang gagah berani, melawan dan menentang sistem kolonialisme dan kapitalis Belanda.
Tak hanya itu, Tan Malaka juga diusulkan untuk dicalonkan menjadi anggota parlemen Belanda dari CPH. Hal itu merupakan kali pertama bagi orang Indonesia. Nama Tan Malaka pun terdaftar di nomor urut tiga, setelah nama dua pimpinan CPH yakni Wijnkoop dan Van Revesteyb.
Meski tak terlalu berambisi, Tan Malaka sadar, pencalonan itu dapat dimanfaatkannya untuk mengangkat isu kemerdekaan Indonesia dan perjuangan melawan kapitalis. Tan lantas rajin menulis di De Tribune, dan hadir di universitas di Belanda. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk menjelaskan penangkapannya, dan tuduhan yang dilontarkan Belanda kepadanya. Dia juga membicarakan soal konsep pendidikan yang baik. Tan juga menemui mahasiswa asal Indonesia, dan meminta dukungan dari mereka.
Pada 5 Juli 1922, pemilihan dilaksanakan. Dalam biografinya 'Dari Penjara ke Penjara' hasil perolehan suara Tan Malaka meraih suara terbanyak.
Namun, sayang, meski meraih suara terbanyak, Tan tetap tak lolos ke parlemen. Sistem pemilihan yang digunakan saat itu bukan suara terbanyak, melainkan sistem proposional representasi, alias perwakilan seimbang dengan banyaknya pemilih. Jadi meski mendapat suara terbanyak atas namanya, Tan tidak terpilih karena ia di nomor ketiga.
Namun katanya, "Sebagai perintis jalan buat calon orang Indonesia dan di hari depan, suatu contoh yang praktis dan baik. Sesudah saya, tetap ada orang Indonesia dalam parlemen Belanda. Jika saya ditaruh di tempat nomor 2 dalam list CPH, pada tahun 1922 itu, maka tentulah saya pada tahun 1922 sebagai orang Indonesia yang pertama sekali memasuki parlemen Belanda,..."


(5) TAN MALAKA DI HONGKONG | Tan Malaka diusir Belanda dari tanah air pada 1922. Sejak saat itu, Tan Malaka mengembara ke sejumlah negara di berbagai belahan dunia, salah satunya di Hongkong.
Selama dalam pengembaraannya,
Tan Malaka selalu menggunakan nama dan identitas palsu. Di Kowloon, Hongkong, Tan Malaka menggunakan nama samaran Ong Soong Lee.
Tan kabur ke Kowloon saat angkatan bersenjata Kwangtung, Cap Kau Loo Kun, atau Tentara Ke-19, terlibat bentrok dengan tentara Jepang di Shanghai pada 1932.
Sialnya, di Koowlon,
Tan ditangkap oleh dua orang polisi rahasia Inggris. Ia ditangkap usai turun dari kapal ferry yang menyeberangkannya dari Hongkong. Di Hongkong, Tan Malaka bertemu dengan kawannya, Dawood.
Dalam buku 'Dari Penjara ke Penjara' diceritakan,
Tan Malaka ditangkap oleh dua orang polisi Inggris. Seorang Tionghoa dan seorang Benggali tinggi besar. "Dengan segala muslihat saya berusaha melepaskan diri dari mata mereka, tetapi karena keadaan Kota Kowloon, di tengah-tengah malam hari pula, tiadalah berhasil usaha itu. Saya tetap diikuti," kata Tan Malaka.
Di kantor polisi Kowloon, Ong Soong Lee alias
Tan Malaka diinterograsi anggota I.S. (Badan Penyelidik) Inggris yang datang langsung dari Singapura, Pritvy Chan. Selama interograsi, Tan Malaka mendapat perlakuan kasar dari badan penyelidik Bengali tersebut.
Namun, akhirnya Privity Chan meminta maaf, setelah
Tan Malaka menunjukkan paspornya. Privity Chan ternyata salah menduga, Tan Malaka bukanlah seorang Filipina yang dicarinya, yang tak lain adalah Dawood. Privity Chan menyesal telah menangkap Tan Malaka.
Tan Malaka lantas dipindahkan ke kantor pusat kepolisian di Hongkong. Dia kembali dihujani pertanyaan. Kali ini Kepala Inspektur Polisi Hongkong, Murphy, yang menginterograsi langsung.
"Sesampainya di kantor pusat Hongkong, oleh Kepala Inspektur Polisi, Murphy, saya dihujani dengan pertanyaan yang mengenai kepolisian dan gerakan kemerdekaan," kata
Tan Malaka.
Singkat cerita, pada suatu hari di bulan Desember 1932,
Tan Malaka pemerintah Hindia Belanda mengirimkan wakilnya bernama Viesbeen, untuk menginterview Tan Malaka. Meski sempat menolak, Tan akhirnya mau diinterview Viesbeen. Hal itu terjadi atas permintaan Murphy. Sebab, Viesbeen tak percaya Tan menolak keinginannya.
Murphy memberi jaminan kepada
Tan Malaka, bebas menjawab atau tak menjawab pertanyaan Viesbeen. Saat interview, Tan ditunjukkan foto dirinya bersama serdadu dan Kikoq di desa Sion Ching. Foto itu diperoleh dari Subakat saat ditangkap di Bangkok.
Dalam interview inilah, Tan berujar sebuah kalimat yang hingga kini sangat terkenal.
"Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi," kata
Tan Malaka.
Murphy lantas meminta sekretarisnya untuk mencatat perkataan Tan itu. Tak hanya itu,
Tan Malaka juga memberi peringatan kepada pemerintah Hindia Belanda. "Topan di depan, jangan kehilangan kepala," kata Tan Malaka.
Maksud dari perkataan Tan itu adalah, jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala karena dipotong. Namun perkataan Tan itu justru ditertawai oleh Viesbeen. Padahal perkataan Tan itu terbukti pada 1942, saat Belanda menyerah kepada Jepang. Saat itu Belanda tak hanya kehilangan akal tapi juga kehilangan kepala. "Sayang Viesbeen sebelumnya 'nujum' itu terlaksana, sudah mati. Kabar ini kebetulan saya baca dalam salah satu surat kabar," kata
Tan Malaka.
Setelah interview itu, Viesbeen mendesak Hongkong untuk menyerahkan
Tan Malaka ke Belanda. Tapi hal itu ditolak oleh pemerintah Inggris. Sebab, mereka telah dua kali berjanji kepada Tan akan memegang teguh undang-undangnya, yakni akan melindungi pelarian politik yang berada di wilayah kekuasaannya.
Setelah lima bulan ditahan,
Tan Malaka akhirnya dibebaskan dan diizinkan keluar dari Hong Kong. Hal itu terjadi akibat desakan dari salah seorang anggota parlemen Inggris asal partai komunis, yang dikirimi surat oleh Tan secara diam-diam.
Tan dibolehkan keluar Hong Kong dan pergi kemana dia suka. Tapi dia tidak diizinkan pergi ke Filipina, karena Amerika Serikat tak menghendakinya. Begitu juga Inggris dan Belanda. Tan bingung harus pergi kemana. Semua negara yang ditujunya dikuasai oleh penjajah yang menolaknya karena dinilai berbahaya. Akhirnya Tan memutuskan pergi menuju Shanghai.

 
(6) TAN MALAKA DI SINGAPURA TONGPES | Dulu, Singapura menjadi salah satu tempat pelarian Tan Malaka dari buruan polisi rahasia negara imperialis Inggris, Belanda dan Amerika Serikat. Bapak Republik Indonesia itu pernah dua kali tinggal di Singapura pada 1927 dan 1937.
Tan datang kali kedua di Singapura meninggalkan Amoy, karena tentara Jepang telah masuk ke wilayah China itu.
Tan Malaka tiba setelah menumpang kapal dari Amoy menuju Hong Kong dan Rangoon, Burma. Meski kapal itu sempat berlabuh di Singapura, Tan tak langsung turun di kota itu. Sebab, saat itu Tan memiliki tiket menuju Ranggon dan pihak kapal menahan USD 25 dan kartu pas penumpangnya, sebagai jaminan agar tak turun di tempat yang tak sesuai dengan tujuan di tiketnya.
Saat itu, Tan harus benar-benar berhemat, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan. Saat itu, isi dompetnya sudah habis, dan ia terancam tak bisa makan alias kelaparan. "Di manakah saya bisa tinggal untuk mendapatkan pekerjaan pertama kali untuk sumber penghidupan. Inilah pertanyaan yang mendesak di dalam pikiran saya, karena uang simpanan saya semakin hari semakin habis," kata
Tan Malaka dalam biografinya 'Dari Penjara ke Penjara Jilid II.'
Tan berupaya mencari pekerjaan. Namun jumlah penganggur saat itu cukup besar. Sementara untuk melamar menjadi guru, dia tak memiliki ijazah Inggris yang berlaku saat itu, dan untuk menggunakan ijazah Belanda tak mungkin dilakukan. Hal itu sama saja membuka rahasianya sebagai seorang pelarian, yang sudah terkenal oleh agen rahasia negara imperialis.
Berubahnya kondisi Singapura saat itu, semakin membuat Tan bingung. Sebab saat 1927, Singapura masih mayoritas didiami orang Indonesia, dengan komposisi 90 persen dari jumlah penduduk. Alamat dan lokasi tinggal para sahabatnya pun jelas saat itu.
Namun, pasca-Inggris masuk, jumlah pendatang ke Singapura yang berasal dari etnis Tionghoa dan Hindustan, India, tak terbendung. Alhasil, komposisi penduduk berubah. Orang Indonesia yang awalnya mayoritas, kini hanya tinggal 5 persen, bahkan ada yang menyebut 1 persen saja dari total penduduk saat itu. Tak hanya itu, lokasi-lokasi pemukiman warga Indonesia pun tergusur, dan diganti oleh para pendatang itu.
Meski demikian, Tan sempat menemui dua orang temannya. Satu orang temannya mencoba membantunya, dan menitipkan Tan untuk tinggal dengan saudaranya. Namun sayangnya, saudara sahabat Tan itu ternyata seorang pensiunan polisi Inggris. Hal itu tentu mengkhawatirkan bagi Tan.
Tan lantas pergi meninggalkan rumah tersebut, setelah meminta pertimbangan dari sahabatnya. Tan lantas diberi sejumlah uang oleh sahabatnya itu. Tan kembali menemui sahabatnya yang lain, tapi sahabatnya itu kini telah menjadi seorang borjuis yang penuh kemewahan, dan sudah tak tertarik dengan semangat kemerdekaan.
Meski diterima dengan baik, Tan sadar kehadirannya itu tak diharapkan, karena bisa membahayakan sahabatnya itu. Tan lantas meninggalkan sahabatnya yang memiliki empat istri.
"Dalam satu dua minggu saya tinggal di Singapura itu saya coba memasuki kantor maskapai yang besar-besar buat mendapatkan pekerjaan juru tulis atau pun bujang, tapi tak berhasil,.... Lain sekali keadaan pada tahun 1937 itu dari 10 tahun lampau. Dahulu mudah saya mendapatkan pekerjaan. Tetapi pada 1937 itu dikatakan dalam surat kabar 4.000 pemuda keluaran sekolah menengah yang menganggur," kata Tan.
Tan semakin terdesak. Uang di dompetnya benar-benar sudah habis tak tersisa. Letih, kekurangan tidur dan makan, membawanya termenung di sebuah bangku di gedung Museum Raffles. Tan berandai-andai jika saja sahabatnya Buna ada, selesailah semua kesulitannya. Tiba-tiba tampak di depan mata Tan, seorang Tionghoa yang cara berjalannya seperti Buna.
"Saya panggil dia dengan suara agak keras, sambil menggosok-gosok mata saya sendiri. Keduanya kami tercengang atas pertemuan yang tiada disangka-sangka itu. Tiada sanggup kami berbicara berapa lama," kata Tan.
Keduanya lantas langsung berangkat mencari seorang sahabat yang dikenal keduanya saat masih di Amoy. Sahabat yang tak disebut namanya, hanya dengan inisial YY oleh Tan itu, punya teman yang memiliki sebuah sekolah. Tan berharap bisa bekerja sebagai guru di sekolah itu. Setelah sempat kesulitan mencari YY, Tan dan Buna akhirnya berhasil menemukannya.
Tan kemudian menjadi guru bahasa Inggris di sekolah rendah itu, dan mendapat gaji awal USD 8 per-bulan, kemudian naik menjadi USD 10 per bulan. Di sekolah itu, Tan merasa aman dari buruan agen rahasia negara imperialis. Tan pun semakin banyak mengenal orang.
Atas koneksinya yang semakin bertambah, Tan akhirnya bisa mengajar bahasa Inggris dan ilmu bumi di sekolah menengah tinggi. Soal ijazah Inggris yang tak dimilikinya, tak menjadi masalah. Di tempat itu, Tan bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia dan mengorek informasi soal perjuangan di Indonesia. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan Tan, memilih Singapura sebagai tempat pelariannya setelah Amoy.
Namun, 'kenyamanan' itu tak berlangsung lama. Tan harus kembali pergi setelah pasukan tentara fasis Jepang menguasai Singapura. Saat itu Inggris menyerah kepada Jepang, yang berhasil membombardir tentara Inggris di Singapura melalui udara dan darat.
Tan lantas meninggalkan Singapura, menuju Penang pada Mei 1942, dengan menumpangi tongkang alias perahu kecil. Dari sana Tan menuju Medan.


(7) TAN MALAKA MENUJU KE INDONESIA | Tan Malaka memutuskan meninggalkan Singapura pada 1942, setelah tentara fasis Jepang berhasil merebut Singapura dari tentara Inggris. Tan Malaka yang menjadi buruan agen negara imperialis itu, memutuskan pergi ke Penang, dan kemudian ke tanah air yang sudah 20 tahun ditinggalkannya, karena diusir oleh penjajah Belanda.
Namun, perjalanannya dari Penang menuju Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara (pertengahan Mei 1942), tidaklah mudah. Tan bahkan menceritakan pengalaman tegangnya menyeberangi lautan, hanya dengan menumpangi tongkang.
Jangan bayangkan tongkang yang dinaiki oleh Tan adalah kapal besar. Kapal yang dikemudikan oleh orang Tionghoa itu, hanya sebuah kapal kecil. Jika dalam kondisi normal, tongkang biasanya dinaiki sebanyak 20 orang. Namun kala itu tongkang memuat 40 orang. Tan tak ingat persis nama tongkang yang ditumpanginya. Ia hanya ingat namanya Tongkang Hongkang.  Tan benar-benar merasakan bagaimana penuhnya tongkang tersebut. Penumpangnya berdempetan, karena kapal tersebut benar-benar penuh.
Setelah naik, Tan bersama penumpang lainnya langsung berburu tempat di bawah geladak atau dek. Saking banyaknya orang, hawa di bawah dek sangat panas. Keringat Tan pun bercucuran. Di bawah dek gelap gulita jika malam hari. "Lantaran banyaknya manusia, kami merasa senang karena dapat menyeberang menuju ke tempat yang baru," kata Tan.
Tan begitu gembira setelah sebelumnya malang melintang di Singapura hingga menyeberang ke Penang. Di tongkang, Tan bertemu banyak penumpang dari berbagai negara. Ada Indonesia, Tionghoa, dan Hindu atau India.
Dalam kapal, Tan banyak bertanya, mengapa orang India enggan berdekatan dengan orang India sendiri. Alasannya, mereka bukan 'bangsanya'. Tan tak langsung percaya begitu saja. Ia kemudian menyelidiki sendiri.
Ternyata, di sana terdapat lebih 3.000 kasta berbeda. Di situlah baru diketahui terjadinya perbedaan. Tapi bagi Tan, perbedaan itu bukan karena kasta. "Perpecahan itu bukan disebabkan oleh perbedaan kasta, melainkan oleh perbedaan agama Hindu dan Islam," ujarnya.
Ada juga penumpang lain tak mau berdekatan, padahal warna kulit dan bentuk muka mirip. Tan menyebutnya bagaikan kucing dan tikus, saling bermusuhan.
Terlepas dari itu semua, Tan melihat ada rasa persaudaraan saat tongkang diterjang topan. Mereka bahu-membahu menurunkan layar, agar kapal tidak terguling. Selat Malaka yang dilalui kapal kecil itu bukanlah laut tenang. "Apalagi kalau menghadapi angin topan dan bahaya, manusia itu merapatkan diri satu dengan yang lainnya," katanya.
Perjalanan Tan selama 20 hari terombang-ambing ombak laut, memberikan banyak pelajaran. Salah satunya muncul rasa persaudaraan dan saling membantu. Mereka semua merapatkan barisan ketika ada persoalan seperti saat topan mengombang-ambingkan Tongkang Hongkang.


(8) TAN MALAKA BAPAK REVOLUSI | Ketokohan Tan Malaka di era 1920-an hingga 1940-an tak bisa diragukan. Meski pada 1922, Tan Malaka berada di luar negeri, karena dibuang oleh Belanda, namanya tetap berkibar di kalangan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Setelah kembali ke tanah air pada 1942,
Tan Malaka tak langsung membuka identitas aslinya. Tan Malaka baru membuka identitasnya kali pertama kepada Soebardjo, pasca Proklamasi Kemerdekaan.
Tan Malaka lantas dipertemukan dengan
Soekarno dan Hatta. Setelah itu, Tan Malaka melakukan perjalanan keliling Jawa, termasuk ke Surabaya. Saat itu, Surabaya tengah dalam kondisi perang sengit dengan Inggris pada November 1945.
Kabar keberadaan
Tan Malaka di Surabaya, tercium oleh media massa. Namun, hanya harian Merdeka saja yang saat itu yakin memberitakan keberadaan Tan Malaka. Keragu-raguan publik soal kembalinya Tan Malaka ke tanah air, pun hilang setelah Moh. Yamin menulis sebuah artikel panjang di surat kabar Jakarta 'Ra'jat' pada 22 Desember 1945. Yamin memberi judul artikel itu dengan judul  'Tan Malaka Bapak Republik Indonesia.'
Artikel Yamin tersebut seakan mematahkan keraguan
Tan Malaka untuk tampil di depan publik dalam waktu dekat. Dengan gaya tulisannya yang khas, Yamin mengungkapkan kegembiraannya atas pulangnya sang Patjar Merah ke tanah pertiwi.
"Di atas lembaran sedjarah Negara Indonesia selama lima boelan ini, maka perdjoeangan Rakjat Moerba mengalami soeatoe kegembiraan jang penoeh dengan kechidmatan sanoebari dan kesjoekoeran hati terima kasih karena kesoenggoeh-soenggoehan telah sampai kepada kepastian chabar jang menggirangkan, bahwa di tengah-tengah njalaan api Revolusi Proletariat Indonesia teroetama di kota Soerabaja tampak tersemboenji ikoet berjoeang dengan Boeroeh dab Pemoeda gagah perwira di bawah kibaran Merah Poetih pandji-pandji kedaoelatan internasional seorang poetera Indonesia jang telah beroemoer kira-kira lima poeloeh tahoen dengan bernama Ibrahim dan memikoel gelar warisan Tan Malacca, Bapak Republik Indonesia," tulis Yamin seperti dikutip dari 'Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia' Jilid 1 Karya Harry A Poeze.
Dalam artikelnya, Yamin juga menulis
Tan Malaka akan ikut serta dalam perjuangan besar Republik Indonesia, sesuai yang diinginkannya sejak lama. Yamin bahkan mensejajarkan Tan Malaka dengan Jefferson dan Washington, yang telah membangun kemerdekaan Amerika Serikat.
"Ia (
Tan Malaka) pantas menerima segala kehormatan sebagai Bapak Republik Indonesia, seperti telah diramalkannya di dalam risalahnya tahun 1924," kata Yamin.
Tak berbeda dengan Yamin, Presiden
Soekarno juga memiliki rasa kagum terhadap Tan Malaka. Bung Karno bahkan menyebut Tan Malaka sebagai 'orang yang mahir dalam revolusi.
Soekarno mengenal risalah-risalah dan pemikiran
Tan Malaka sejak tahun 1920-an. Dari 'Naar de Republiek Indonesia' sampai 'Massa Actie' telah dilahap habis oleh Soekarno untuk dipelajari. Terutama 'Massa Actie' sangat berpengaruh kepada pemikiran politik Soekarno.
Bahkan pada 1931,
Soekarno diadili pemerintah Belanda karena dituduh menghasut pemberontakan. Saat itu, dalam vonis sidang berkali-kali disebut 'Massa Actie' merupakan salah satu referensi utama Soekarno dalam pemikiran.
Namun sayang,
Tan Malaka dan Soekarno akhirnya berbeda jalan. Tan Malaka tak suka dengan jalan diplomasi dan perundingan yang dilakukan Soekarno terhadap penjajah Belanda. Sebab, menurut Tan Malaka, kemerdekaan harus diraih 100 persen dengan jalan diperjuangkan, bahkan jika perlu lewat perang, bukan lewat perundingan.
Perundingan baru bisa dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen dan menarik pasukannya dari wilayah Indonesia.
Tan Malaka menyatakan, tak ada penjajah yang mau memberi kemerdekaan kepada wilayah yang dijajahnya. "Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang merampok rumahnya," demikian prinsip Tan Malaka.
Tan Malaka sering disebut juga Che Guevara dari Indonesia. Dua tokoh ini bukannya tak saling mengenal.
Che, semua orang di dunia mengenal sosoknya. Dengan cambang, mata tajam dan baret hitam berbintang merah. Che adalah simbol perlawanan kaum revolusioner pada kapitalisme dan rezim penguasa. Kisah hidup
Che Guevara nyaris serupa dengan Tan Malaka. Tan adalah pahlawan besar. Sayangnya justru di Indonesia nama Tan Malaka seolah tak dikenal.
"Tan Malaka sama seperti
Che Guevara , mempelajari kisah mereka berdua penuh dengan romantisme perjuangan," kata Harry A Poeze, peneliti Belanda yang menghabiskan hidupnya dengan meneliti Tan Malaka.
Tan Malaka dibuang dari Indonesia karena dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda. Tulisan-tulisan Tan dipakai bahan diskusi tokoh-tokoh pergerakan seperti
Soekarno. Dengan berani Tan menulis 'Naar de Republiek Indonesia' atau Menuju Republik Indonesia tahun 1925, diikuti Massa Actie atau Aksi Massa pada 1926.
Tan memilih dibuang ke Belanda. Dari sana dia memulai perjalanan keliling dunia. Jerman, Rusia, China, Thailand, Filiphina, Hongkong, dan sejumlah negara lain. Tan menggerakkan revolusi di beberapa negara yang dikunjunginya.
Tapi saat kembali ke Indonesia, Tan kecewa melihat Soekarno dan Sjahrir yang memilih berdiplomasi dengan Belanda yang ingin kembali. Buat Tan Malaka merdeka harus 100 persen. Bagaimana berunding dengan penjajah yang menaruh kapal perangnya di perairan Indonesia?
Maka Tan memilih masuk hutan. Bergerilya daripada berunding dengan Belanda. Sama seperti
Che Guevara yang juga menolak intervensi Uni Sovyet di Kuba. Dia meninggalkan Kuba, lalu bergerilya ke Kongo hingga Bolivia.
Tan dan Che, sama-sama revolusioner yang gelisah. Nasib keduanya pun berakhir tragis.
Che meninggal ditembak tentara Bolivia yang memburunya tahun 1967.
Tan Malaka pun mati dieksekusi pasukan TNI, di bawah pimpinan Letnan Dua Sukotjo 21 Februari 1949.
Kisah revolusi memang tak seindah dongeng. Seperti kata Poeze. "Revolusi memakan anaknya sendiri."


(9) TAN MALAKA DAN KESENDIRIANNYA | Tan Malaka dikenal sebagai seorang revolusioner yang kesepian. Sang revolusioner seumur hidup, dan diketahui tak pernah menikah, apalagi poligami, Bib!
Meski demikian bukan berarti pria ini tak pernah jatuh cinta. Tan Malaka pernah ditanya salah seorang pengikutnya, Adam Malik, "Apa Bung pernah jatuh cinta?"
Tan pada Si Bung Kancil, mengakui pernah jatuh cinta kepada wanita. "Pernah. Tiga kali malahan. Sekali di Belanda. Sekali di Filipina dan sekali lagi di Indonesia. Tapi semuanya itu katakanlah hanya cinta yang tidak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan (Indonesia)," jawab Tan Malaka.
Hal itu diamini oleh SK Trimurti, istri dari Sajoeti Melik, "Ia (Tan Malaka) tidak kawin karena perkawinan akan membelokannya dari perjuangan. Ia bersikap penuh hormat terhadap perempuan. Ia juga tak pernah berbicara tentang perempuan dalam makna seksual. Dari sudut ini ia seorang yang bersih."
Dalam buku 'Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah', Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya, yakni Syarifah Nawawi. Cinta itu bertepuk sebelah tangan. Syarifah menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur yang saat itu sudah memiliki lima orang anak.
Tan Malaka juga pernah memiliki kedekatan dengan Paramitha 'Jo' Abdurrachman pasca Proklamasi Kemerdekaan RI. Paramitha berkenalan dengan Tan Malaka saat masih tinggal di rumah Soebardjo, Menteri Luar Negeri RI pertama, tahun 1945. Tan sangat menyukai kepintaran Pramitha bermain piano.
Setelah Tan Malaka tak lagi tinggal di rumah Soebardjo, Paramitha masih kerap bertemu dengannya. Paramitha memiliki rasa kasih dan cinta terhadap Tan Malaka . Ia kerap berbincang lama dan memberi perhatian lebih kepada Tan. Namun, keduanya tak sampai menuju pernikahan.
Di Belanda, Tan Malaka juga dikabarkan pernah menjalin hubungan dengan gadis Belanda bernama Fenny Struyvenberg. Mahasiswa kedokteran itu bahkan kerap datang ke rumah sewa yang ditinggali Tan Malaka .
Sementara Tan Malaka dalam biografinya "Dari Penjara ke Penjara Jilid I' sempat menyinggung kedekatannya dengan seorang gadis Filipina bernama Carmen, yang menolongnya dalam pelarian, hingga sukses masuk ke negeri itu. Namun sayang kedekatan antara Tan Malaka dan Nona Carmen tak gamblang dijelaskan.
Tan Malaka memang bertolak belakang dengan Soekarno. Tak hanya dari cara memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi juga soal kehidupan pribadi dan perempuan.
Peneliti sekaligus penulis buku Tan Malaka, Harry A Poeze mengatakan, dalam pelariannya di luar negeri, Tan Malaka sempat berhubungan khusus dengan sejumlah wanita. Namun sadar sebagai tokoh gerakan radikal yang diburu oleh dinas rahasia negara kapitalis seperti Amerika Serikat, Inggris dan Belanda, ia tak mungkin bisa menikah. "Tan Malaka bilang saya orang gerakan radikal dan diburu selalu. Saya harus bisa meloloskan diri karena itu gak ada waktu untuk berkeluarga. Ini nasib seorang revolusioner," kata Poeze dalam sebuah diskusi.
Jika pun disebut oleh Tan, para perempuan yang pernah dekat itu disebutnya sebagai kekasih Belanda, kekasih Rusia, kekasih Filipina dan sebagainya.
Mungkin itu nasib seorang revolusioner yang ingin berbuat bagi kepentingan orang banyak, harus rela mengorbankan kepentingannya, "Barangsiapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan dirinya sendiri," kata Tan Malaka.

Kita mengetahui, Tan Malaka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kepentingan bangsa. Dan untuk itu ia mengorbankan kepentingan dan kehidupan pribadinya. Saat itu, Tan Malaka bahkan sampai rela dipenjara, dibuang oleh Belanda ke luar negeri, karena tindakannya dinilai mengancam kepentingan negeri kolonial di Nusantara. Pada saat itu ia mendirikan sekolah-sekolah rakyat di Semarang, Bandung dan tempat lain. Dia mengajarkan rakyat soal perjuangan, anti-kapitalis, penjajahan dan lainnya. Hal itu tentu membahayakan bagi Belanda.
Dari pembuangan di luar negeri,
Tan Malaka tetap berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Tan mensarikan pemikirannya melalui artikel dan buku, yang kemudian dibaca dan dijadikan rujukan berpikir dan berjuang para pejuang dan politisi tanah air, seperti Soekarno , Sjahrir dan lainnya.
Saat kembali ke Indonesia pada 1942, atau setelah Belanda hengkang dan Jepang berkuasa,
Tan Malaka kembali meneruskan perjuangannya untuk rakyat. Namun, saat itu Tan Malaka memiliki perbedaan pemikiran dan cara perjuangan dengan para politisi dan pejuang lainnya seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifudin dan lainnya.
Namun meski demikian, Tan terus bekerja, berjuang. Pria kelahiran Suliki, Sumatera Barat, 1894 itu, bahkan rela hidup susah tanpa uang demi memperjuangkan cita-citanya memerdekakan Indonesia, dan mewujudkan keadilan pemerataan ekonomi bagi rakyat. Tidak sebagaimana politikus sekarang ini. Yang lebih suka menghujat lawan politiknya, tetapi juga suka bertindak sebagai penilep duit negara atas nama rakyat.
Apa coba bahayanya Tan Malaka dan pemikirannya, kecuali bagi mereka yang dirugikan kepentingannya oleh eksistensialisme Tan Malaka?

3 komentar:


  1. SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

    BalasHapus
  2. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    BalasHapus
  3. saya PAK SLEMET posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan






    saya PAK SLEMET posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan

    BalasHapus