Senin, Februari 24, 2014

Mencuri Salah atau Tidak, Tahu atau Tidak

"Manusia itu mencuri karena tidak tahu kalau mencuri itu salah," ujar Socrates suatu ketika. Namun lain kali, Aristoteles, mengatakan "Manusia tahu atau sadar ketika mereka mencuri bahwa mencuri itu salah."
Padahal kita tahu, Aristoteles (384 SM – 322 SM) adalah murid Plato (427 SM - 347 SM), dan Plato adalah murid Socrates (469 SM - 399 SM). Mengherankan? Tidak.
Hal itu menunjuk pada adanya perubahan pandangan, dan mungkin perubahan nilai moral, berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri.
Bisa jadi, jaman Socrates adalah jaman di mana-mana muncul nilai-nilai absolut dan transendental, yang pandangan atau pegangan pokok. Kita bisa menelusuri pokok pikirannya.
Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun. Sumber utama pemikiran Socrates berasal dari tulisan Plato, muridnya. Ciri-ciri karya Plato bersifat Sokratik (sangat dipengaruhi Socrates). Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangan, dan hampir semua karyanya ditulis dalam nada dialog.
Plato berpendapat, bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu (Surat VII). Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog. Dalam dialog itulah banyak kita temui adanya mite-mite. Dengan mite-mite itulah ia menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi. Dalam karya-karyanya, Plato selalu menggunakan nama gurunya sebagai tokoh utama, sehingga sangat sulit memisahkan gagasan Socrates yang sesungguhnya dengan gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates.
Socrates dikenal suka berkelilingi, mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi, yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut.
Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi. Caranya berfilsafat untuk membantu lahirnya pengetahuan, melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak, meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut, berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak, karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana, sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak, karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.
Cara berfikirnya itu yang kelak berujung pada kematian Socrates, bahwa ia dituduh merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang bisa dipatahkan, sebagaimana ditulis Plato dalam Apologi. Tapi ia memilih minum racun, sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.
Demikianlah Socrates, sehingga "wajar" jika ia bisa berpikiran bahwa yang bisa melakukan kejahatan, mencuri, adalah karena ia tidak tahu bahwa mencuri itu salah. Kalau ia tahu bahwa mencuri itu salah, dia "pasti" tidak akan melakukan tindakan mencuri itu. Meski pun logika Socrates ini sampai kini masih dipakai, terutama oleh para penjahat yang ketangkep atau dipidanakan oleh KPK.
Sementara, cucu muridnya, Aristoteles berpendapat beda. Seseorang mencuri itu karena tahu dan bahkan sadar bahwa ketika mereka melakukan tindakan itu adalah salah. Dan omongan ini, menarik dibaca dalam konteks Indonesia, misalnya pada Akil Mochtar dan kawan-kawan, orang-orang yang tahu hukum, seperti hakim, polisi, jaksa, lawyer, anggota DPR, tapi mereka tetap saja melakukan pelanggaran hukum.
Dalam logika Aristoleles, maka oleh karena itu pada akhirnya nanti mesti ada pemberitahuan, ilmu pengetahuan dan aturan, bahwa ini harusnya begini itu harusnya begitu. Mana yang baik mana yang buruk, dengan alasan apa. Kemudian muncullah traktat, hukum, undang-undang, agar sebaiknya kehidupan berlaku sebagaimana yang diatur para adimulia. Dari Akademi Plato karya-karyanya menjadi penting dan berkontribusi di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni. Karya-karyanya menggambarkan kecenderungan akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam.
Sementara itu, berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Dikatakan pula semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya, maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya, hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Logika Aristoteles adalah sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya, ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
Apa yang kita bacai dari Socrates, Plato, dan Aristoteles, adalah tentang yang kita sebut perubahan. Pengetahuan selalu bergerak, dengan ukuran-ukurannya yang pasti dan menetap (continuum). Sementara, kita sekarang ini, mau politikus dan kritikus, sering begitu suka mengabadikan waktu dengan ukuran-ukuran tetap dalam pengertian membeku, bukan sesuatu yang continuum, terus-menerus bergerak. Itu sebabnya, tiba-tiba tulisan-tulisan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir yang indah itu, diganyang habis oleh . Mereka, dua generasi iniu, sedang memperebutkan definisi, lewat kata-kata.
Jika Plato mendirikan Akademi Plato, maka kita mendirikan 'D Academic, kemudian ndangdhutan! Makanya Rhoma Irama pun tak perlu malu mencapreskan diri.

2 komentar:


  1. SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

    BalasHapus
  2. saya AHMAD SANI posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan










    BalasHapus