Sabtu, Februari 22, 2014

Bencana Alam dan Ketidakmampuan Membacanya



Wahyu pertama yang diperintahkan untuk manusia. Dalam Alquran, ayat Tuhan yang harus dibaca manusia terdiri atas ayat-ayat kauliyyah (kalam) dan ayat-ayat yang bersifat kauniyyah (alam). Membaca Alam, Membaca Kalam! Membaca adalah mencermati setiap hal yang bisa dicerna panca indera, untuk kemudian dicerna, diolah, dan dianalisis dengan otak, untuk menjadi ilmu pengetahuan yang dapat berdaya guna dalam meraih hidup yang lebih baik, untuk hari ini, esok, dan masa depan.
Jika kita menafakuri alam ini dengan pikiran jernih, kita akan menemukan bahwa alam semesta bagaikan bangunan rumah, yang menyediakan berbagai perlengkapan yang sempurna. Langit ditinggikan seperti atap. Bumi dihamparkan seperti lantai. Bintang-bintang ditaburkan seperti lampu. Dan barang-barang tambang di perut bumi, ibarat kekayaan yang terpendam. Semua itu disiapkan dan disediakan untuk kepentingan alam itu. Sementara itu, manusia ibarat pemilik rumah yang dianugerahi segala isinya. Berbagai jenis tumbuhan disediakan untuk memenuhi kebutuhannya, dan bermacam-macam hewan diberikan untuk menopang kehidupannya.
Langit diciptakan dengan warna yang dapat dipandang mata. Seandainya langit diciptakan dalam bentuk sinar atau cahaya, pasti akan menyakitkan mata orang yang memandangnya. Warna kebiru-biruan membuat mata manusia bisa menikmati pemandangan langit. Apalagi ketika malam mengganti siang, dan bintang-bintang serta bulan bercahaya terang. Manusia dapat memandang ciptaan Allah, dan dalam keindahan langit, manusia dapat menemukan Tuhan, pencipta jagat raya.
Selanjutnya ketika menyadari keindahan langit, manusia akan merenungkan keindahan tata surya. Perputaran bintang-bintang memberikan petunjuk, arah dan waktu kepada manusia. Ada lintasan-lintasan yang bekas-bekasnya dapat terlihat, di barat dan di timur. Ada juga kumpulan bintang yang membentuk rasi tertentu, sehingga menjadi petunjuk arah bagi orang yang tersesat. Dengan petunjuk rasi bintang, manusia dapat menemukan arah yang ditujunya. Ingat dongeng tiga raja yang menemu bayi Yesus di kandang domba Yerusalem?

ALAM SEBAGAI PEMBELAJARAN | Dalam sebuah dongeng sufi, Tsabit Bannani berkata, "Suatu ketika Kanjeng Nabi Daud melewati sebuah lampu penerang yang sedang menyala. Kemudian dia teringat akan api neraka yang dahsyat. Maka seketika itu juga, dia bergetar dan menjerit dengan keras, sehingga tampak anggota badan dan sendi-sendinya seakan terputus."
Demikianlah di antara akhlak sufi yang mulia. Seorang sufi sejati selalu memandang dunia dengan pandangan iktibar (pelajaran) bukan pandangan syahwat dan rasa senang, dan atau rasa marah serta kekecewaan yang mendalam.
Ketika kita berhadapan dan apalagi tertimpa bencana alam, sering ungkapan yang muncul adalah; “Mungkin Tuhan sedang marah, atau mulai bosan dengan dosa-dosa kita”, dan “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.”
Dua ungkapan itu, tidak cukup inspiratif, dan hanya menunjuk kelemahan kita. Bagaimana mungkin kita mampu bertanya pada rumput yang bergoyang, jika bencana alam pun hanya dimaknai sebagai “Tuhan marah kepada kita”. Tentu saja, bertanya pada rumput yang bergoyang hanya idiom, tetapi idiom itu dengan jelas merujuk pada keputus-asaan karena ketidaktahuan. Kenapa tidak bertanya pada pengetahuan, sedang Tuhan sendiri selalu menyediakan jawaban atas hukum alam yang dipetakannya?
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal," demikian dituliskan dalam Quran, Ali Imran, 190. Artinya, segala sesuatu bisa diuraikan, ada asbab-musabab, ada hukum kausalitas yang melingkunginya.
Bencana memang datang tak diundang. Kalau diundang mungkin bukan bencana, tapi kenduri atau kondangan. Namun meski teknologi sudah bisa memprediksi beberapa bencana, tetap saja gejolak kekuatan alam muncul di luar konstruks akal manusia.
Sementara itu, perilaku manusia, sebagai salah satu penyumbang bencana alam jadi tampak “kejam” dan “jahat”, adalah kebandelan dan kebanggaan pada kebodohannya. Sudah tahu tinggal di daerah banjir, tetap bandel tinggal di daerah itu. Menolak dipindah karena alasan ini dan itu. Tapi kalau sengsara atau menderita, mengeluh-ngeluh minta sumbangan. Kalau mendapat nasi bungkus berlauk telur dadar dibuang sembarang di sungai. Terus ceramah soal HAM dan sebagainya.
Kalau pas tidak musimnya, perilaku kesehariannya tidak menghargai lingkungan. Setelah bencana lewat pun, tidak segera mampu melakukan perubahan perilaku untuk mengantisipasi. Kalah dengan hewan, yang selalu adaptif dalam menghadapi rahasia alam itu. Bahkan, binatang selalu lebih antisipatif daripada manusia. Manusia bodoh saja yang mencengcang sapi di permukimannya, sementara mereka mengungsi di daerah aman (kalau dituding begini, biasanya ngamuk-ngamuk, dan menyodorkan kemiskinan sebagai alasan).
Padahal persoalannya bukan pada kemiskinan atau kekayaan, tetapi mau belajar atau tidak. Antisipatif atau tidak. Tentu saja, Pemerintah juga harus dituding sebagai penyebab, entah dari pembiaran sampai tidak adanya mekanisme untuk melakukan social enginering. Yang mereka lakukan pembangunan itu hanya hal fisik, namun perilaku dan pola pikir, sama sekali tidak ada yang mengurus. Sementara sekolah-sekolah kita dari TK hingga Universitas, sama sekali tidak serius dipandang oleh pemerintah (dan apalagi swasta) dalam merekonstruksi pertumbuhan masyarakat.
Di situ sesungguhnya perbedaan manusia dan binatang. Jika binatang hanya “hit and run” menghadapi bencana, manusia mempunyai akal untuk mempelajari dan mengantisipasinya. Termasuk bagaimana manusia bisa mengatur tata-ruang dan arsitektur bangunan.

HEWAN LEBIH PEKA DARI MANUSIA | Dalam hal membaca alam, manusia kalah dengan hewan. Selama berabad-abad hewan dapat memprediksi bencana alam, jauh sebelum manusia dapat memprediksinya. Hewan seolah-olah memiliki indera keenam untuk mengetahui akan adanya badai, gempa bumi, dan tsunami. Para ilmuwan berteori bahwa hewan mampu menangkap getaran-getaran atau perubahan tekanan udara di sekitar mereka, yang tidak dapat dilakukan manusia.
Memang hewan memiliki sensor yang sangat halus. Pada beberapa spesies, ada yang memiliki kemampuan sensor diluar kemampuan manusia. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah mencoba menentukan kemampuan sensor tersebut. Sesungguhnya, ini keunggulan manusia yang berakal, untuk justru memanfaatkan hal tersebut sebagai penanda. Tapi di kota-kota besar, hewan-hewan dieksploitasi dan direduksi sensitivitasnya.
Padahal, peneliti di China telah mempelajari masalah ini sejak tahun 1950-an, dan menemukan bahwa beberapa hewan seperti ular, dapat mendeteksi gempa bumi. Ular terlihat keluar dari sarang mereka di tengah hibernasi (tidur panjang) musim dingin, dan binatang lain tampaknya juga dapat merasakan gempa sebelum benar-benar terjadi.
Di Sri Lanka dan Thailand, ada sebuah cerita tentang gajah-gajah berlari ke bukit satu jam sebelum tsunami tahun 2004, yang menghancurkan desa dan membunuh hingga 150.000 orang di kedua negara itu. Ravi Corea, presiden dan pendiri Sri Lanka Wildlife Conservation Society, mengatakan bahwa orang-orang melihat tiga gajah yang melarikan diri menuju tempat yang lebih tinggi, satu jam sebelum adanya tsunami, di suaka margasatwa terbesar kedua di Sri Lanka, Yala National Park.
Pada kenyataannya hewan-hewan memiliki pendengaran yang fenomenal. Gajah dapat merespons dan memproduksi gelombang infrasonik (gelombang suara pada frekuensi yang lebih rendah dari gelombang yang dapat didengar manusia). Mamalia yang memiliki kemampuan sama adalah jenis paus tertentu. Ada kemungkinan perubahan geografis menghasilkan suara dengan frekuensi rendah yang tidak bisa didengar oleh manusia, tapi dapat ditangkap oleh gajah. Namun gajah bukanlah satu-satunya hewan yang dapat mendeteksi adanya bencana. Burung, monyet, anjing dan semua makhluk lain tampaknya bertingkah aneh sebelum adanya bencana alam.
Beberapa kelelawar, yang aktif di malam hari dan biasanya tidur di siang hari, menjadi sangat aktif setengah jam sebelum gelombang tsunami datang. Anjing yang biasanya terlihat senang, melompat-lompat dan berlari-lari dengan pemiliknya, menjadi tidak tertarik melakukan hal tersebut. Begitu pula dengan monyet yang biasanya sangat suka dengan pisang, tiba-tiba menjadi tidak tertarik dan bertingkah sangat aneh.
Hal-hal tersebut mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan tanda-tanda alam yang ada sebelum terjadinya bencana alam. Hewan liar dapat bertahan hidup dengan selalu waspada. Alam sangatlah lentur, dan kita tidak boleh lupa bahwa manusia juga bagian dari alam.
Tetapi, manusia terasa lebih unggul karena ia adalah mahkluk pembelajar karena akal budinya. Berbeda dengan hewan yang “hanya” hit and run, manusia semestinya bisa merekayasa dan mengantisipasinya. Sementara apa yang terjadi akhir-akhir ini, jika kita melihat reportase media pada korban bencana, tampak manusia menjadi jauh lebih bodoh dari hewan. Disamping tidak bisa membaca tanda-tanda alam, melakukan antisipasi pun tidak bisa.

BACALAH ALAM BACALAH KALAM | Teknologi bencana gempa hingga kini masih belum bisa secara tepat memprediksi datangnya bencana. Ilmuwan baru bisa memprediksi kemungkinan terjadinya gempa karena ada pergeseran bumi, tapi tidak tahu persis kapan waktunya. Sedangkan letusan gunung berapi harusnya juga mulai diwaspadai jika sudah ada tanda-tanda peningkatan suhu udara yang ekstrem sekitar gunung.
Mencintai alam adalah salah satu cara kita bersyukur pada sang pencipta alam beserta isinya. Keindahannya semestinya kita jaga, kita nikmati, kita resapi, karena alam adalah anugerah yang tak pernah habis. Itulah bukti kita mencintai alam sekitar kita.
"Kapan salah seorang diantara kita dapat menjadi orang yang selalu mengambil pelajaran?" bertanya Bannani pada Hatim Al Ashamm.
Hatim menjawab, "Apabila orang itu dapat melihat bahwa apapun di dunia akan sirna dan bahwa orang yang memiliki kekayaan dunia juga akan sirna."
"Hendaklah pandanganmu terhadap dunia adalah pandangan iktibar, pemanfaatanmu pada dunia adalah keterpaksaan, dan penolakanmu pada dunia adalah pilihan," kata Yahya bin Muadz.
Para sufi senantiasa melihat proses penciptaan alam sebagai sarana menuju (keridhaan) Allah. Mereka selalu membaca berbagai hikmah yang ada di balik alam. Mereka menafakuri semuanya hingga menghasilkan rumusan pengetahuan purna, yang berguna bagi kehidupan manusia setelah mereka. Matahari, bumi, dan langit di pandang oleh mereka bukan sekadar untuk dinikmati keindahannya, tetapi untuk direnungkan hikmah dibaliknya. Bacalah alam, bacalah kalam.
Jadi, jangan hanya berkeluh kesah, menuntut sumbangan, atau saling menyalahkan. Apalagi mengkambinghitamkan bencana sebagai kemarahan Tuhan. Berhimpunlah rakyat jelata, pemerintah dan orang pintar (politikus jangan diajak, nanti cuma ngibul dia). Jadilah manusia pembelajar, bacalah alam. Kalau pun tak bisa, bacalah kalam. Tak bisa juga? Artinya kita memang kurang bisa bersyukur.


2 komentar:


  1. SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

    BalasHapus
  2. saya AHMAD SANI posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan










    saya AHMAD SANI posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan










    BalasHapus