Kamis, Januari 30, 2014

Picasso, Keajaiban Seorang Seniman

"My mother said to me, 'If you are a soldier, you will become a general. If you are a monk, you will become the Pope.' Instead, I was a painter, and became Picasso,..." demikian tutur Pablo Picasso (25 Oktober 1881 - 8 April 1973).
Tampaknya congkak, tapi itulah sikap, percaya diri, dan keyakinan. Kita menganggapnya ajaib, padahal semuanya proses yang sederhana saja. Hanya karena keminderan kita, ketidakmauan (untuk tak menyebut kemalasan) kita saja, yang membuat hal itu keluarbiasaan. "Saya selalu melakukan apa yang saya tidak bisa lakukan, agar saya dapat belajar bagaimana melakukannya," demikian ujar pelukis revolusioner abad 20 itu.
Ia seorang seniman yang terkenal dalam aliran kubisme. Jenius seni yang cakap membuat patung, grafis, keramik, kostum penari balet, sampai tata panggung. Lahir di Malaga, Spanyol dengan nama lengkap Pablo (atau El Pablito) Diego José Santiago Francisco de Paula Juan Nepomuceno Crispín Crispiniano de los Remedios Cipriano de la Santísima Trinidad Ruiz Blasco y Picasso López. Wuah, nama yang anjrit abis. Maklum, ayahnya profesor seni.
Dan tak ada yang luar biasa atau ajaib dalam dongeng ini sesunggunya. Yang pasti, dan normal saja, Picasso memiliki sifat yang selalu ingin belajar. Pada usia 14 tahun, ia lulus ujian masuk School of Fine Arts di Barcelona, dan dua tahun kemudian pindah ke Madrid untuk belajar di Royal Academy. Tak lama kemudian kembali lagi ke Barcelona, bergabung di Els Quatre Gats, tempat para penyair, artis dan kritikus untuk tukar menukar ide yang didapat dari luar Spanyol. Pada usia 23 tahun, Picasso pindah ke Paris, kota pusat seni dunia pada masa itu.
Picasso agaknya mengikuti totalitasnya. Semua anak adalah seniman, katanya, masalahnya bagaimana tetap (menjadi) seniman setelah ia tumbuh (dewasa). "Butuh waktu empat tahun untuk melukis seperti Raphael (pelukis ternama waktu itu), namun butuh seumur hidup untuk melukis seperti anak kecil," kata Picasso yang ingin membebaskan diri dari beban pengetahuan dan pengalamannya menjadi manusia yang berinteraksi. Karenanya ia meyakini, komputer tidak berguna, ia hanya bisa memberikan jawaban. Ia ingin mencari, sendiri, dalam daulat jiwa-raganya. Tidak tergantung Eyang Google. Makanya ia juga meyakini, dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi muda. Penting? Penting! 



Baginya, "melukis obyek karena saya berpikir tentang mereka, bukan seperti yang saya lihat mereka." Proses-proses kreatif semacam ini, yang jarang kita temu. Banyak seniman berkarya karena ilham, dan suka mengada-ada serta klenik, nongkrong di atas kloset atau di gunung sepi. "Inspirasi ada, tetapi memiliki untuk menemukan, itulah kami bekerja!"
Berkreasi adalah bekerja. Bekerja adalah berpikir, berpengetahuan, memahami.
Banyak seniman-seniman masyhur ditandai oleh satu macam gaya dasar. Picasso tidak. Dia menampilkan ruang luas dari pelbagai gaya yang mencengangkan. Kritikus-kritikus seni memberi julukan seperti "periode biru", "periode merah muda", "periode neo-klasik", dan sebagainya. Dia cikal bakal "kubisme." Dia kadang ikut serta, kadang menentang perkembangan-perkembangan baru dalam dunia lukis-melukis modern. Tak banyak pelukis sanggup melakukan karya dengan kualitas begitu tinggi, dengan melewati begitu banyak gaya dan cara.
Gaya kubisme mengejutkan dunia seni, karena mengubah persepsi orang akan keindahan seni. Kalau sebelumnya lukisan wanita mudah dikenali wajah modelnya, oleh Picasso dibuat berubah drastis. Bentuk lukisannya sulit dikenali lagi (seperti Demoiselles d'Avignon). Bukan berarti Picasso sembarangan. Sebelumnya ia mempelajari karya pematung Iberia dan patung-patung primitif Afrika lainnya, yang biasanya berbentuk melengkung dan tidak proporsional. Pada Picasso, lukisan bukan saja sebagai keindahan seni, tapi pula sebagai hasil penelitian dan eksperimen.
Picasso seniman yang melankolis, berkepribadian kuat, egois dan hidupnya sangat bebas. Karya-karyanya mencerminkan kepribadiannnya itu. Dan orang yang tidak melihat proses kreatifnya itu, menyebutnya 'nyentrik'. Kita hanya suka nyentriknya doang, otaknya tidak, proses kerjanya ogah.
"Saya ingin hidup sebagai orang miskin dengan banyak uang," kata Picasso. Bagaimana sampai pada pemikiran itu? Proses hidupnya yang hidup. Banyak orang yang proses hidupnya mati.
Kemelankolisan Picasso terungkap dari sifatnya yang sangat sensitif, serta rinci, dalam menilai suatu kenyataan hidup. Ia sanggup membuat kenyataan hidup sebagai sumber inspirasi karyanya. Misalnya masa-masa sulit Picasso di tengah situasi yang kompetitif. Lukisan Guernica (yang menjadi pusat perhatian di Museum Reina Sofia, Madrid), adalah goresan tangan dari hasil ingatan tragedi berdarah awal 1930-an di daerah Basque. Burung merpati, simbol perdamaian dunia dalam logo PBB, adalah rancangannya. Picasso menyelesaikan seni grafis itu setelah terisnpirasi burung Melanesia, pemberian Henri Matisse.



Ada hal lain, Picasso juga menjadikan wanita sebagai sumber inspirasi. Konon, setiap wanita memberikan inspirasi berbeda baginya. Hasilnya? Ia dikenal sebagai Don Juan, playboy, thukmis. "Cinta adalah penyegaran terbesar dalam hidup,..." ujarnya. Ehm.
Tapi, jangan hanya anehnya dan hasilnya yang dikagumi. Pelajari prosesnya, perjuangannya. "The artist is a receptacle for emotions that come from all over the place: from the sky, from the earth, from a scrap of paper, from a passing shape, from a spider's web," kutbahnya, memformulasikan selurruh perjalanan hidupnya. Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari seluruh tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba.
Karena tak suka proses, kita suka menyebutnya itu keajaiban. Menurutnya, sekali lagi; "Saya selalu melakukan apa yang saya tidak bisa lakukan, agar saya dapat belajar bagaimana (bisa) melakukannya." Itu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar