Jumat, Januari 03, 2014

Omongan Rombeng di Pasar Klithikan



Syahdan menurut sahibul bokis sebokis-bokisnya, beberapa anggota sosialita kita berkumpul di warung burjo belakang Pasar Klithikan. Seperti biasanya sebagai manusia beyond economic, mereka pun ngobrol-ngobrol, nggak pernah jelas apa kerjaannya, persis tokoh-tokoh dogol dalam sinetron kita.
“Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama, bagaimana lagi jika tiada agama?” tiba-tiba Benjamin Franklin membuka obrolan. Sosialita ini tak ada hubungan darah dengan Benyamin Suaeb, harap tahu saja. Dengan dengan Bang Haji mungkin saja, maksudnya mungkin saja tidak sama sekali.
“Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh,” Albert Einstein menjawab sembari menghisap rokoknya dalam-dalam, sampai ketelen.
“Sesiapa yang tidak berfikir panjang, kesusahan telah menunggu di mukanya,” ujar Khong Hu Cu sembari mengemut roti Khong Guan, maklum sudah ompong.
Percakapan berhenti sejenak. Ada keributan, seorang perempuan cantik kecopetan hatinya. Kata seorang jurnalis tivi yang kebetulan berada di TKP, karena copetnya cakep.
“Semiskin-miskin orang, ialah orang yang kekurangan adab dan budi pekerti,” Hukama mengajak para sosialitas kembali ke fokus.
“Yang kekurangan adab tuh kayak apa sih, Eyang?” bertanya Eyang Sepuh Hakim pada eyang-eyangnya itu.
 “Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar,” Confucius menjawab sembari mengelus-elus jenggotnya yang seperti gambar di botol anggur cap Ortu, “dia tidak malu belajar dari orang yang berkedudukan lebih rendah darinya,...”
“Orang yang sukses dalam hidup adalah orang yang jelas tujuannya hidupnya, dan menjangkau kepadanya tanpa menyimpang,” kata Cecil B. DeMille. Ini nama nggak kuno banget, tapi rada asing. Beliaunya orang produser dan sutradara film sohor, antara lain The Ten Commandments adalah film yang pernah dibuatnya.
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai sesuatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa merdeka,” tiba-tiba Bung Karno berdiri. Orang-orang sepasar menoleh padanya. Sukarno memang mempesona. Sukarno berdiri dengan gayanya yang gigantik. Dan tiba-tiba, ada orang mendekat padanya memegang-megang baju bekas Sukarno, menanya pada yang jual burjo, “Ini harganya berapa? Dijual nggak?”
“Rakyat itu akar bangsa. Jika akarnya sehat, pokoknya pun sehat,” ujar Beng Tju prihatin melihat adegan itu.
“Oh, Beng Tju, Beng Tju, bagaimana kalau yang terjadi pokoknya penyakitan, dan akhirnya membuat akarnya pun lumpuh tiada terbimbing?” seorang tokoh anonim berkelebat, nyari kaset orisinal dari Erni Djohan, “Marilah berdebat, Beng Tju, sembari ndengerin lagu Teluk Bayur,....”
Di Pasar Klithikan itu, aku mencari-cari otakku, siapa tahu dijual temanku dan dijajar di antara barang-barang rombeng di sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar