Kamis, Januari 30, 2014

Buku 33 Tokoh Sastra, Sastra Tanpa Perspektif Sastra

Melintas di Wayag, foto Amston P., nominator Lomba Foto Sadar Wisata 2013
Membaca "pembelaan" Ahmad Gaus dan Jamal D. Rahman (dua dari Tim 8; Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah), atas kritik pada buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh", semakin memperlihatkan bahwa tolok ukur mereka lebih pada persoalan "berpengaruh" dalam konteks bahwa buku itu diperbincangkan di domain yang berbeda dengan ukuran kualitatif sebuah karya kebudayaan (sastra). Demikian pula ukuran memasukkan nama Denny JA di antara 33 "tokoh sastra", juga didasarkan pada hal yang kurang lebih sama, misalnya menyebut Denny JA lebih populer dibanding Agnes Monica, yang meraih netter, follower, atau visitor sampai 8 jutaan dalam waktu "sekejap" di dunia maya.
Sementara Jamal D. Rahman pada waktu yang sama, menafikan penolakan yang dilakukan teman-teman di dunia maya itu dengan mengatakan jumlahnya hanya sedikit, minoritas, tidak mewakili. Padahal, Jamal, sebagaimana Gaus, memakai "banyaknya" netter pada Denny JA dan buku "33 Tokoh Sastra,..." sebagai petunjuk penilaian. Pada sisi itu, saya melihat ketidakkonsistenan. Ia berstandar ganda, menisbikin yang merugikan dan mengagungkan yang menguntungkan. Itu ciri debat prokrol-bambu. Tidak proporsional.
Saya tidak ingin ngomong soal sastra (karena bisa digertak; yang tak ngerti sastra jangan ngomong). Tapi soal logika berpengaruh (dan penting) bersandar pada jumlah perbincangan di dunia internet. Pada perbincangan di ranah darat, saya dapati kenyataan, buku "33 Tokoh Sastra,..." itu cacat secara akademik, dan cenderung menipu. Di mana cacatnya, di mana menipunya, justeru itu mestinya yang harus dibuktikan, dianalisis, dicermati, secara proporsional dan komprehensif (itu yang saya lihat belum dilakukan).
Saya fokus ke soal media internet saja. Seperti di dunia televisi, rating (yang dikelola lembaga rating seperti AC Nielsen), itu sama sekali tak berhubungan dengan kualitas. Pekerja dan penonton TV sama-sama tidak mengetahui hal ini. Rating dalam program televisi, adalah ukuran banyaknya ditonton. Apakah banyak berarti bermutu? Di situ perbedaannya. Tergantung orientasinya. Apakah adab kebudayaan ditentukan semata oleh jumlah, bukan nilai? Di situ persoalannya. Apakah demokrasi 50% + 1, dengan segala peliknya, jadi ukuran keadilan dan kebenaran? Jika kita memakai logika demokrasi, bahwa SBY dipilih 46% suara, sementara 23% golput, dan 41% tidak memilihnya, kenapa dia bisa terpilih sebagai presiden? Bagaimana kita memahami perbedaan intrinsik jumlah dan nilai? Di situ pergulatan peradaban manusia dengan nilai-nilai intrinsiknya diperdebatkan.
Membandingkan karya Denny JA dan Agnes Monica pun, juga hanya menunjukkan anakronisme itu. Karena tidak ada perspektif di sana. Sementara kita tahu, bagi orang yang ngerti main-main soal internet, netter, follower, visitor (saya baru dikuliahi anak saya yang suka otak-atik internet), itu barang mudah, apalagi punya duit. Ada yang bisa membuktikan, follower puisi-esei itu jutaan dalam waktu singkat, tapi yang tahu program kerja internet, bisa mendapatkan bukti, followernya itu siapa, netter-nya siapa. Bisa jadi dalam waktu 2 jam jutaan pengunjung muncul, tapi pengunjung palsu yang tak tercatat, sementara pengunjung real dalam kurun waktu bersamaan itu justeru sama sekali tak ada. Bagaimana cara kerjanya? Kaum sastra yang keberatan soal alibi-alibi Gaus dan Jamal boleh mengundang pakar komputer dan internet.
Dalam praktik demokrasi di Amerika, pemilu dan lembaga polling bisa dikibuli oleh kerja program komputer. Bagaimana kasus itu terjadi bisa dilihat waktu majunya Al Gore dari Demokrat. Pemilu yang menggunakan komputer, bukan manual, dinilai canggih. Padahal dengan komputer bisa diprogram yang milih "Republik" bisa masuk ke data-entry "Demokrat" dan sebaliknya. Di Indonesia, kasus 2009 soal pembelian alat komputer untuk penghitungan suara, menjadi persoalan, hingga kemudian kita tahu Antasari Azhar harus dipenjarakan. Di Jakarta 2012, dalam Pilkada, lembaga survey Denny JA berkali-kali menginformasikan hasil surveynya, bahwa Foke leading dan akan menang satu putaran. Dan kita tahu apa kenyataannya. Dan seterusnya.
Dengan apa yang terjadi di seputaran Tim 8 itu, kesimpulan saya adalah, penerbitan buku "33 Tokoh Sastra,..." ini hanya proyek pertemuan antara yang punya uang dan yang butuh uang, dengan alasan kebudayaan (sastra), yang kedua belah pihak sama-sama melakukan patrap di luar proporsi kebudayaan (kalau 'butuh uang dan kuasa' adalah budaya manusia, itu pada kelas budaya elementer, alias ecek-ecek, yang kecenderungannya antara lain; tega berbuat kriminal, sampe ati menipu, nggak malu ngotot meski sudah tahu kalau melakukan pengkhianatan nurani, dan sejenisnya).
Maka kalau Gaus dan Jamal mengaku pekerjaannya dalam kaitan buku itu kerja intelektual, kita terima tantangannya, memperbincangkan karya itu secara intelektual pula. Tidak perlu bawa-bawa Agnes Monica. Bukan karena Agnes tidak masuk kaum intelektual, tapi kembalikan pada proporsinya; pada argumen-argumen sastra itu sendiri, betapapun orang bilang itu absurd, tetapi sejarah sastra kita toh tetap berlandaskan akar yang sama. Cuma kepentingannya saja yang berbeda. Itu yang namanya perspektif, dan itu yang Jamal dan Gaus gamang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar