Senin, Januari 06, 2014

33 Toko Sastra Indonesia Paling Terpengaruh

[Sebuah Resensi] 

Judul buku ini, agak kontroversial, karena dengan jelas menunjuk angka "33 Toko Sastra Indonesia Paling Terpengaruh".
Yang harus segera dijelaskan tentunya, apa yang dimaksud dengan toko sastra di situ. Apakah toko itu menyediakan sastra, atau menyediakan buku sastra? Dua hal itu berbeda dan harus diusut. Kalau toko buku sastra, kenapa kata buku di situ dihilangkan? Ada upaya pengaburan dengan sadar. Atau, apakah maksudnya Sastra Indonesia itu yang dijual? Siapa yang menjual? Dijual kepada siapa? Berapa harganya? Apakah toko itu hanya penyalur, distributor, atau diam-diam toko itu juga menjadi penerbitnya? Masalah ini, harus clear sebelum kita menginjak analisis akademik soal kata 'Paling Terpengaruh'.
Kata itu, secara teoritik, tentu mengandung dan mengundang. Ini bukan persoalan memindah-mindah hurud u dan a, tetapi secara semantik memang berbeda. Kita mengenal idiom gerimis mengundang, tapi tidak gerimis mengandung. Kalau langit mengandung hujan, mungkin pernah ada penyair gemblung menulis seperti itu, meminjam istilah politik jaman Lekra dan Manikebu dulu bertarung.
Satu-satunya keberanian yang patut diacungi jempol, tentu penyebutan angka 33 secara jelas. Ada kemajuan cukup menggetarkan, karena menyebut jumlah pasti toko-toko sastra itu berarti kini kalangan sastra mengenal istilah metodologi ilmiah dan akademik, sampling eror, metode random, dan margin eror, seperti halnya kalkulasi margin laba dan rugi. Siapa tahu nanti ada buku sastra dan sastrawan terpopuler berdasar polling.
Hal lain, sebelum kita menukik pada isi buku, adalah soal penulis. Penulis buku ini, ditulis di sampul; Jaman E. Rancuman dkk. Tidak jelas, apakah yang menulis Jaman dibantu kawan-kawannya, atau kawan-kawannya yang menulis kemudian Jaman yang membantu? Ini butuh klarifikasi, karena kita butuh memastikan juga, apakah honorarium untuk penulisnya dibagi rata, adil, atau berdasarkan ranking? Misal dari sisi usia, alfabet nama, atau mutu masing-masing? Butuh akuntan publik untuk ini, yang sudah bersertifikasi tentu.
Tapi, kalau kita menilik isi buku, 33 toko sastra ini tidak jelas paling terpengaruh oleh apa? Oleh kenaikan harga gas, oleh skandal SS, atau upaya toko tertentu untuk mendamaikan toko sastra yang selama ini saling bertikai lempar-lemparan batu mecahin etalase toko, berebut pengaruh? Apalagi di situ ditulis 'paling terpengaruh'. Kata 'paling' tentu arti dan maknanya adalah yang lebih dari yang lain. Paling, lebih menunjuk ke sebuah peringkat. Kalau tunggal, maka dia ialah yang nomor satu, tak ada yang mengalahkan. Paling ganteng, terganteng, satu-satunya yang ganteng, yang lain tentu kurang atau tidak ganteng. Lha kalau 33 Toko Sastra yang Paling Terpengaruh, maksudnya apa? Mosok 'ter' kok rombongan? Kalau pakai kata 'paling', mestinya ada pemeringkatan, siapa yang palingnya paling gede, paling nomor 1, paling nomor 2, 3, 4, dan seterusnya hingga paling bontot nomer 33. Atau, jangan-jangan kata paling di sana salah tulis? Yang dimaksud bukan paling, tapi maling? Tapi, mana ada maling terpengaruh? Kalau maling mempengaruhi, itu paling mungkin, setidaknya mempengaruhi yang kemalingan.
Masalah-masalah itu mesti dijelaskan, dan baru nanti resensi atas buku ini bisa kita mulai secara serius. Yang jelas, di sebuah toko buku sastra di Indonesia, A. Teeuw pernah tersiksa. Sehabis capek-capek nyari buku sastra, ia kebelet ke toilet. Perutnya mules. Sayangnya, toko sastra itu sama sekali tak menyediakan toilet.
Mungkinkah toko sastra yang dimaksudkan Teeuw itu termasuk di antara 33 toko sastra dalam buku bersampul anak nangkring di closet itu? Benarkah gambar anak di sampul buku itu, yang krukupan ember, adalah anak Teeuw? Masih teka-teki. Ada yang tahu? Atau tempe?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar