Kamis, Januari 30, 2014

Film Soekarno dan Sekali Lagi Referensi yang Dangkal

Dalam sebuah tulisannya di; http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2014/01/post-hegemony-xxxii-transvaluasi.html?spref=fb, H. Agus Sunyoto antara lain mengindikasikan kecurigaan, bahwa Han Tio adalah agen baru CCF, yang hendak menghancurkan nasionalisme bangsa Indonesia, antara lain dengan jalan de-Soekarno-isasi.
Han Tio (saya menyebutnya Hanung Bramantio) dalam tulisan Agus Sunyoto itu, bagi saya agak diposisikan berlebihan, seolah ia tahu apa yang dilakukannya. Dari karya-karya filmnya, ideologi anak ini lebih pada psikologisme pasar yang berangkat dari kontroversi. Ia hanya melihat pesona pasar dengan kegaduhannya. Saya berpegangan pada pengakuannya sendiri, dan saya kira ini akurat.
Ia mengaku pada Desi Anwar yang mewawancarainya dalam acara Tea Time with Desi Anwar (Metro TV, Minggu, 5 Januari 2014). Saat itu Desi mempertanyakan apa yang jadi kecurigaan publik, bahwa film itu tidak disertai riset yang mendalam. Dengan wajah inosens-nya, Hanung menjawab bahwa interpretasinya mengenai Soekarno pasti korek. Karena apa? Karena interpretasi itu sangat sesuai dengan fakta-fakta yang dikemukakan oleh buku Lambert J. Giebels. Itu sangat mengagetkan, dan membuat saya paham, mengapa film itu cenderung 'melecehkan' Soekarno. Soekarno dengan tinjauan satu buku saja, bener-bener logiak Soehartois yang mutlak-mutlakan dan wts (waton sulaya, asal ngeyel).
Dalam buku 'Soekarno: Nederlandsch Onderdaan, Biografie 1900-1950' (Giebels, 1999), buku ini seolah hadir begitu tak berjarak dengan Soekarno, tetapi isinya antara fakta dan fiksi begitu baur. Dan buku inilah yang menjadi referensi penting kalangan sosialis untuk menghantam Soekarno. Bagaimana Rosihan Anwar pernah mengangkat hal itu, soal betapa lebaynya Soekarno di Ende, berdasar buku John Ingleson, yang oleh kawan dan lawan Soekarno waktu itu pun diragukan kebenarannya.
Soal pandangan ideologis, mau nasionalis mau sosialis, terserah saja. Namun sebagai seniman film yang menyodorkan karakter tokoh yang dikenal luas oleh publik, ia mesti netral dalam pengertian memahami masalah, berimbang, proporsional. Kita tahu bagaimana Spielberg menggarap 'Lincoln' atau Oliver Stone menggarap 'Heaven 'n Earth', mereka melakukan riset terlebih dulu, secara seimbang. Form sejarah tetap pada garisnya (se-subyektif apapun), tetapi opini mereka sebagai seniman film lebih diproyeksikan pada bagaimana manusia kini belajar dari sejarah itu. Tentu juga ada sudut pandang, tetapi tak pernah hal itu disodorkan sebagai satu-satunya interpretasi, terus nanti nantangnya; "Kalau tak setuju, ya bikin film sendiri dong,...!" Itu logika sampah. Bukan berarti sampah tidak berguna, tapi mesti didaur ulang terlebih dulu.
Untuk film dengan tokoh sejarah, Hanung bukan filmaker yang baik. Kalau dia mau mengintepretasikan kehidupan anak manusia dalam film macam 'Brownies,..." dan sejenisnya, itu terserah dianya saja. Pada Soekarno, Hanung menjadi sangat culun ketika membaca buku Giebels, dan menganggapnya sebagai sebuah penemuan penting bagi dirinya (padahal buku itu sudah 13 tahun lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia).
Sayangnya, Hanung saya kira tak berusaha mencari pembanding atas narasi yang disusun Giebels. Apa yang dikritikkan oleh Pak Salim Said, mendapatkan alurnya di sini, meski Yudhistira ANM Massardi dan Tempo memuji film ini, namun film bukan hanya soal persoalan penyutradaraan, teknis film, editing, melainkan juga unsur cerita dan cara bercerita, dengan berbagai akurasinya. Pada sisi itu, film Soekarno gagal memenuhi 'hasrat' keingintahuan dan pengetahuan masyarakatnya, dan menemui kegagalannya seperti dipertanyakan.

Buku 33 Tokoh Sastra, Sastra Tanpa Perspektif Sastra

Melintas di Wayag, foto Amston P., nominator Lomba Foto Sadar Wisata 2013
Membaca "pembelaan" Ahmad Gaus dan Jamal D. Rahman (dua dari Tim 8; Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah), atas kritik pada buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh", semakin memperlihatkan bahwa tolok ukur mereka lebih pada persoalan "berpengaruh" dalam konteks bahwa buku itu diperbincangkan di domain yang berbeda dengan ukuran kualitatif sebuah karya kebudayaan (sastra). Demikian pula ukuran memasukkan nama Denny JA di antara 33 "tokoh sastra", juga didasarkan pada hal yang kurang lebih sama, misalnya menyebut Denny JA lebih populer dibanding Agnes Monica, yang meraih netter, follower, atau visitor sampai 8 jutaan dalam waktu "sekejap" di dunia maya.
Sementara Jamal D. Rahman pada waktu yang sama, menafikan penolakan yang dilakukan teman-teman di dunia maya itu dengan mengatakan jumlahnya hanya sedikit, minoritas, tidak mewakili. Padahal, Jamal, sebagaimana Gaus, memakai "banyaknya" netter pada Denny JA dan buku "33 Tokoh Sastra,..." sebagai petunjuk penilaian. Pada sisi itu, saya melihat ketidakkonsistenan. Ia berstandar ganda, menisbikin yang merugikan dan mengagungkan yang menguntungkan. Itu ciri debat prokrol-bambu. Tidak proporsional.
Saya tidak ingin ngomong soal sastra (karena bisa digertak; yang tak ngerti sastra jangan ngomong). Tapi soal logika berpengaruh (dan penting) bersandar pada jumlah perbincangan di dunia internet. Pada perbincangan di ranah darat, saya dapati kenyataan, buku "33 Tokoh Sastra,..." itu cacat secara akademik, dan cenderung menipu. Di mana cacatnya, di mana menipunya, justeru itu mestinya yang harus dibuktikan, dianalisis, dicermati, secara proporsional dan komprehensif (itu yang saya lihat belum dilakukan).
Saya fokus ke soal media internet saja. Seperti di dunia televisi, rating (yang dikelola lembaga rating seperti AC Nielsen), itu sama sekali tak berhubungan dengan kualitas. Pekerja dan penonton TV sama-sama tidak mengetahui hal ini. Rating dalam program televisi, adalah ukuran banyaknya ditonton. Apakah banyak berarti bermutu? Di situ perbedaannya. Tergantung orientasinya. Apakah adab kebudayaan ditentukan semata oleh jumlah, bukan nilai? Di situ persoalannya. Apakah demokrasi 50% + 1, dengan segala peliknya, jadi ukuran keadilan dan kebenaran? Jika kita memakai logika demokrasi, bahwa SBY dipilih 46% suara, sementara 23% golput, dan 41% tidak memilihnya, kenapa dia bisa terpilih sebagai presiden? Bagaimana kita memahami perbedaan intrinsik jumlah dan nilai? Di situ pergulatan peradaban manusia dengan nilai-nilai intrinsiknya diperdebatkan.
Membandingkan karya Denny JA dan Agnes Monica pun, juga hanya menunjukkan anakronisme itu. Karena tidak ada perspektif di sana. Sementara kita tahu, bagi orang yang ngerti main-main soal internet, netter, follower, visitor (saya baru dikuliahi anak saya yang suka otak-atik internet), itu barang mudah, apalagi punya duit. Ada yang bisa membuktikan, follower puisi-esei itu jutaan dalam waktu singkat, tapi yang tahu program kerja internet, bisa mendapatkan bukti, followernya itu siapa, netter-nya siapa. Bisa jadi dalam waktu 2 jam jutaan pengunjung muncul, tapi pengunjung palsu yang tak tercatat, sementara pengunjung real dalam kurun waktu bersamaan itu justeru sama sekali tak ada. Bagaimana cara kerjanya? Kaum sastra yang keberatan soal alibi-alibi Gaus dan Jamal boleh mengundang pakar komputer dan internet.
Dalam praktik demokrasi di Amerika, pemilu dan lembaga polling bisa dikibuli oleh kerja program komputer. Bagaimana kasus itu terjadi bisa dilihat waktu majunya Al Gore dari Demokrat. Pemilu yang menggunakan komputer, bukan manual, dinilai canggih. Padahal dengan komputer bisa diprogram yang milih "Republik" bisa masuk ke data-entry "Demokrat" dan sebaliknya. Di Indonesia, kasus 2009 soal pembelian alat komputer untuk penghitungan suara, menjadi persoalan, hingga kemudian kita tahu Antasari Azhar harus dipenjarakan. Di Jakarta 2012, dalam Pilkada, lembaga survey Denny JA berkali-kali menginformasikan hasil surveynya, bahwa Foke leading dan akan menang satu putaran. Dan kita tahu apa kenyataannya. Dan seterusnya.
Dengan apa yang terjadi di seputaran Tim 8 itu, kesimpulan saya adalah, penerbitan buku "33 Tokoh Sastra,..." ini hanya proyek pertemuan antara yang punya uang dan yang butuh uang, dengan alasan kebudayaan (sastra), yang kedua belah pihak sama-sama melakukan patrap di luar proporsi kebudayaan (kalau 'butuh uang dan kuasa' adalah budaya manusia, itu pada kelas budaya elementer, alias ecek-ecek, yang kecenderungannya antara lain; tega berbuat kriminal, sampe ati menipu, nggak malu ngotot meski sudah tahu kalau melakukan pengkhianatan nurani, dan sejenisnya).
Maka kalau Gaus dan Jamal mengaku pekerjaannya dalam kaitan buku itu kerja intelektual, kita terima tantangannya, memperbincangkan karya itu secara intelektual pula. Tidak perlu bawa-bawa Agnes Monica. Bukan karena Agnes tidak masuk kaum intelektual, tapi kembalikan pada proporsinya; pada argumen-argumen sastra itu sendiri, betapapun orang bilang itu absurd, tetapi sejarah sastra kita toh tetap berlandaskan akar yang sama. Cuma kepentingannya saja yang berbeda. Itu yang namanya perspektif, dan itu yang Jamal dan Gaus gamang.

Picasso, Keajaiban Seorang Seniman

"My mother said to me, 'If you are a soldier, you will become a general. If you are a monk, you will become the Pope.' Instead, I was a painter, and became Picasso,..." demikian tutur Pablo Picasso (25 Oktober 1881 - 8 April 1973).
Tampaknya congkak, tapi itulah sikap, percaya diri, dan keyakinan. Kita menganggapnya ajaib, padahal semuanya proses yang sederhana saja. Hanya karena keminderan kita, ketidakmauan (untuk tak menyebut kemalasan) kita saja, yang membuat hal itu keluarbiasaan. "Saya selalu melakukan apa yang saya tidak bisa lakukan, agar saya dapat belajar bagaimana melakukannya," demikian ujar pelukis revolusioner abad 20 itu.
Ia seorang seniman yang terkenal dalam aliran kubisme. Jenius seni yang cakap membuat patung, grafis, keramik, kostum penari balet, sampai tata panggung. Lahir di Malaga, Spanyol dengan nama lengkap Pablo (atau El Pablito) Diego José Santiago Francisco de Paula Juan Nepomuceno Crispín Crispiniano de los Remedios Cipriano de la Santísima Trinidad Ruiz Blasco y Picasso López. Wuah, nama yang anjrit abis. Maklum, ayahnya profesor seni.
Dan tak ada yang luar biasa atau ajaib dalam dongeng ini sesunggunya. Yang pasti, dan normal saja, Picasso memiliki sifat yang selalu ingin belajar. Pada usia 14 tahun, ia lulus ujian masuk School of Fine Arts di Barcelona, dan dua tahun kemudian pindah ke Madrid untuk belajar di Royal Academy. Tak lama kemudian kembali lagi ke Barcelona, bergabung di Els Quatre Gats, tempat para penyair, artis dan kritikus untuk tukar menukar ide yang didapat dari luar Spanyol. Pada usia 23 tahun, Picasso pindah ke Paris, kota pusat seni dunia pada masa itu.
Picasso agaknya mengikuti totalitasnya. Semua anak adalah seniman, katanya, masalahnya bagaimana tetap (menjadi) seniman setelah ia tumbuh (dewasa). "Butuh waktu empat tahun untuk melukis seperti Raphael (pelukis ternama waktu itu), namun butuh seumur hidup untuk melukis seperti anak kecil," kata Picasso yang ingin membebaskan diri dari beban pengetahuan dan pengalamannya menjadi manusia yang berinteraksi. Karenanya ia meyakini, komputer tidak berguna, ia hanya bisa memberikan jawaban. Ia ingin mencari, sendiri, dalam daulat jiwa-raganya. Tidak tergantung Eyang Google. Makanya ia juga meyakini, dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi muda. Penting? Penting! 



Baginya, "melukis obyek karena saya berpikir tentang mereka, bukan seperti yang saya lihat mereka." Proses-proses kreatif semacam ini, yang jarang kita temu. Banyak seniman berkarya karena ilham, dan suka mengada-ada serta klenik, nongkrong di atas kloset atau di gunung sepi. "Inspirasi ada, tetapi memiliki untuk menemukan, itulah kami bekerja!"
Berkreasi adalah bekerja. Bekerja adalah berpikir, berpengetahuan, memahami.
Banyak seniman-seniman masyhur ditandai oleh satu macam gaya dasar. Picasso tidak. Dia menampilkan ruang luas dari pelbagai gaya yang mencengangkan. Kritikus-kritikus seni memberi julukan seperti "periode biru", "periode merah muda", "periode neo-klasik", dan sebagainya. Dia cikal bakal "kubisme." Dia kadang ikut serta, kadang menentang perkembangan-perkembangan baru dalam dunia lukis-melukis modern. Tak banyak pelukis sanggup melakukan karya dengan kualitas begitu tinggi, dengan melewati begitu banyak gaya dan cara.
Gaya kubisme mengejutkan dunia seni, karena mengubah persepsi orang akan keindahan seni. Kalau sebelumnya lukisan wanita mudah dikenali wajah modelnya, oleh Picasso dibuat berubah drastis. Bentuk lukisannya sulit dikenali lagi (seperti Demoiselles d'Avignon). Bukan berarti Picasso sembarangan. Sebelumnya ia mempelajari karya pematung Iberia dan patung-patung primitif Afrika lainnya, yang biasanya berbentuk melengkung dan tidak proporsional. Pada Picasso, lukisan bukan saja sebagai keindahan seni, tapi pula sebagai hasil penelitian dan eksperimen.
Picasso seniman yang melankolis, berkepribadian kuat, egois dan hidupnya sangat bebas. Karya-karyanya mencerminkan kepribadiannnya itu. Dan orang yang tidak melihat proses kreatifnya itu, menyebutnya 'nyentrik'. Kita hanya suka nyentriknya doang, otaknya tidak, proses kerjanya ogah.
"Saya ingin hidup sebagai orang miskin dengan banyak uang," kata Picasso. Bagaimana sampai pada pemikiran itu? Proses hidupnya yang hidup. Banyak orang yang proses hidupnya mati.
Kemelankolisan Picasso terungkap dari sifatnya yang sangat sensitif, serta rinci, dalam menilai suatu kenyataan hidup. Ia sanggup membuat kenyataan hidup sebagai sumber inspirasi karyanya. Misalnya masa-masa sulit Picasso di tengah situasi yang kompetitif. Lukisan Guernica (yang menjadi pusat perhatian di Museum Reina Sofia, Madrid), adalah goresan tangan dari hasil ingatan tragedi berdarah awal 1930-an di daerah Basque. Burung merpati, simbol perdamaian dunia dalam logo PBB, adalah rancangannya. Picasso menyelesaikan seni grafis itu setelah terisnpirasi burung Melanesia, pemberian Henri Matisse.



Ada hal lain, Picasso juga menjadikan wanita sebagai sumber inspirasi. Konon, setiap wanita memberikan inspirasi berbeda baginya. Hasilnya? Ia dikenal sebagai Don Juan, playboy, thukmis. "Cinta adalah penyegaran terbesar dalam hidup,..." ujarnya. Ehm.
Tapi, jangan hanya anehnya dan hasilnya yang dikagumi. Pelajari prosesnya, perjuangannya. "The artist is a receptacle for emotions that come from all over the place: from the sky, from the earth, from a scrap of paper, from a passing shape, from a spider's web," kutbahnya, memformulasikan selurruh perjalanan hidupnya. Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari seluruh tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba.
Karena tak suka proses, kita suka menyebutnya itu keajaiban. Menurutnya, sekali lagi; "Saya selalu melakukan apa yang saya tidak bisa lakukan, agar saya dapat belajar bagaimana (bisa) melakukannya." Itu!
ANEKDOTE MANSUR SAMIN | Mansur Samin, Anda tahu? Lelaki kelahiran Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 29 April 1930 ini, adalah sastrawan Indonesia. Pendidikan terakhir: SMA Solo. Pernah menjadi guru, redaktur Siaran Sastra RRI Solo, redaktur mingguan Adil, (Solo), wartawan harian Merdeka (Jakarta), dan redaktur majalah Cerpen. Oleh Jassin dimasukkan ke Angkatan '66. Banyak menulis puisi, dan juga kumpulan cerita anak. Salah satu sajaknya, "Raja Sisingamangaraja", mendapat Hadiah Kedua Majalah Sastra tahun 1963.
Tak banyak cerita tentang Mansur Samin ini, kecuali sebagaimana yang diceritakan penyair Adri Darmadji Woko, bahwa beliau seorang pelupa. Ceritanya, pada suatu hari ketika Mansur Samin hendak pergi, istrinya meminta ia agar membawa payung. Maklum waktu itu musim hujan. Tentu saja tujuannya, jika turun hujan di perjalanan, Mansur tidak kehujanan. Biasa saja dan logis saja. Tapi, ketika pulang dan sampai di rumah kembali, isterinya melihat Mansur Samin basah kuyup, kehujanan. Soalnya, payung yang dibawa Mansur tadi, tetep saja cuma dijepit di keteknya.

Gol A Gong Berumah Dunia

Pada anak-anak kecil, ia akan menjawab; Tangannya patah karena jatuh dari pohon. Sementara pada anak-anak remaja, dia akan menjawab, tangan kirinya dipotong karena jatuh dari sepeda motor. Entahlah, kalau cewek yang menanyakannya, apalagi yang naksir dia. Mungkin dia akan jawab ngebelain rakyat kecil, yang hendak diterkam macan.
Itulah Gol A Gong (d.h Gola Gong, tapi saya bilang 'gola gong' itu nggak ada artinya, karena yang ia maksudkan dengan namanya adalah bagaimana ia punya target "A" sebagai gong atau akhir pencapaiannya). Nama aslinya? Rahasia. Ia dulu dikenal sebagai penulis remaja yang produktif. Dikenal luas oleh anak-anak muda Indonesia dengan "Ballada si Roy". Beberapa saat terakhir, ia dikenal sebagai penggiat penulisan, merintis Rumah Dunia sebagai sanggar kegiatan kreatif di Serang, Banten.
Gambaran tentang dirinya, bisa ditelusuri dari cerita serial Roy, yang dulu bertengger di Majalah HAI (dekade 80-an), berseling-selang dengan serial "Lupus" Hilman Hariwijaya. Dua nama itu, cukup top-markotop, yang kalau dolan ke beberapa daerah, mesti nyamar dengan topi yang ada rambutnya. Soalnya, histeria cewe-cewe penggemarnya bisa seperti anak band.
Ia adalah pendekar bertangan satu. Suka gowes jauh sebelum hal itu dikenal sebagai hobi. Ia pernah berkeliling Asia dengan sepeda. Tak lupa menenteng raket bulutangkis, karena di mana tempat singgah, ia akan menantang siapa saja yang bisa bulutangkis untuk mengalahkannya. Lumayan, saya bisa mengalahkannya, padahal sama-sama memegang raket dengan satu tangan, dan sama-sama tangan kanan.
Berkat Roy, lelaki yang pernah kuliah di Sastra Unpad Bandung ini sukses di dunia. Dan itulah sebabnya, ia kini mendirikan Rumah Dunia. Bukan Rumah Akherat. Karena menurutnya, kalau di rumah dunia itu kita bisa bangun kebaikan, kelak akan mendapatkan akherat yang baik juga. Sudah tidak badung lagi memang, karena ia sudah bergelar haji. Haji Gol A Gong!
Di belakang rumahnya, di Kompleks Hegar Alam (Kampung Ciloang, Kemang Pusri), Serang, kini berdiri Rumah Dunia, sebuah area publik yang sering dipakai untuk kegiatan kreatif seperti sastra, jurnalistik, pelatihan penulisan, diskusi kebudayaan, dan sebagainya.
Rumah Dunia menempati tanah 500M2, berkat kegilaannya yang luar biasa. Ia membeli tanah itu dari royalti sinetron "Pada-Mu Aku Bersimpuh" (sinetron terbaik Ramadhan versi MUI, RCTI 2001). Pemilik tanah, Haji Abu, menjual tanah itu seharga Rp. 100 ribu/m2. Tidak langsung terbeli, harus mencicil, dan kelimpungan kehabisan duit, padahal pemilik tanah sudah mengejarnya. Berbagai cara halal tak mudah didapatkan. Itulah Rumah Dunia juga menjadi penerbit buku. Menerbitkan buku yang keuntungannya untuk melunasi tanah dan membiayai Rumah Dunia. Gong menawarkan semangat perubahan Indonesia lewat literasi.
Gagasan membangun Rumah Dunia, berawal dari isterinya, Tias Tatanka, yang sejak tinggal di wilayah itu, 1998, membuka 'lapak' membaca di teras rumah. Ia mengundang anak-anak kompleks dan kampung Ciloang, yang sama sekali hanya mengenal buku tulis dan buku pelajaran sekolah.
Kini di Serang, setidaknya di Rumah Dunia, kita bisa mendengar cerita lain tentang Banten. Tak melulu soal korupsi, tapi juga soal semangat berbagi dan peduli pada lingkungan. Sederhana sih, dan mungkin nggak ngaruh banget di kalangan para sastrawan yang berpengaruh. Tapi setidaknya, di Rumah Dunia itu nama-nama sastrawan Indonesia yang dulu tak pernah mereka tahu, kini mereka baca karyanya. Gong sendiri terus berkelana, menyemangati anak-anak muda untuk membangun perpustakaan di lingkungannya. Maklumlah, ia kini Presiden FTBM (Forum Taman Bacaan Masyarakat) Indonesia.
Gong sejak mahasiswa, hidup mandiri dari menulis, hingga berkeluarga, punya anak, beli rumah, membangun Rumah Dunia serta membiayainya. Hanya dari menulis dengan satu tangannya. Tidak dari korupsi. Di Rumah Dunia pula terjadi peristiwa menghanyutkan, gara-gara Gong. Seorang remaja pedagang gorengan, yang semula suka mangkal di Rumah Dunia, meninggalkan profesinya dan beralih menjadi penulis.

Selasa, Januari 28, 2014

Bencana Alam; Kemarin dan Esok adalah Hari Ini






“Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja.

Langit di luar,
Langit di badan,
Bersatu dalam jiwa”

| Rendra


 
Betapa tidak mudah memahami kata-kata mudah dari Rendra di atas. Bagaimana memahami bencana dan keberuntungan sebagai sesuatu yang “sama saja”? Puisi banget! Kalau kita suka mengumpat "hidup tak semudah cocote Mario Teguh", bolehkah kita ngomong yang sama untuk cocote Rendra ini?
Tapi demikianlah. Indonesia berada dalam posisi yang rawan, bukan dalam pengertian semantik, atau sinisme terhadap bobroknya mentalitas manusia korup kita. Kita berada di negeri rawan bencana, tapi sayangnya bukan sebagai bangsa yang terlatih dan sudi belajar. Sukanya menuntut pemerintah yang tidak sigap.
Dua kali gempa tektonis dari Kebumen, seolah menginterupsi konsentrasi kita pada bencana banjir di berbagai daerah dan erupsi Sinabung. Dan media televisi, yang menjadi referensi keseharian kita, sama sekali tidak inspiring dan membimbing kita untuk mengerti. Malah-malah, ia menjadi teror atau ancaman itu sendiri, dengan pertanyaan-pertanyaan dogol yang diulang-ulang. "Bantuan apa yang sudah diberikah pemerintah? Pengungsiannya nyaman tidak?"
Peringatan akan adanya gempa dan bencana alam ini-itu dari pakar, sering mendapatkan respons yang justru negatif. Masyarakat justeru me-negasi dengan negatif. Informasi awal mengenai potensi gempa, memang bisa membuat publik panik. Namun, informasi tersebut tak sepenuhnya salah, karena Indonesia memang memiliki catatan bencana alam yang beragam. Persoalannya, masyarakat memang cenderung mempunyai ketergantungan yang tinggi pada negara atau pemerintah, pada situasi-situasi chaostic. Ini tentu karena social enginering kita tidak berjalan dengan semestinya. Pemerintah hanya sibuk dengan mereka-reka angka, dan manusia hanya didekatinya dengan matematika seperti itu.
Pemerintahan kita menganggap rendah potensi bencana, yang niscaya dan akut. Itu semua karena miskinnya apresiasi pemerintah dan rakyatnya, sebagai akumulasi dari ketidakpedulian kita pada potensi bencana. Masyarakat kita memandang bencana sebagai kewenangan mutlak Tuhan Sang Maha Pencinta, dan kita tak bisa apa-apa. Belum lagi jika dikaitkan dengan dosa-dosa manusia, kutukan Tuhan, dan sebagainya.
Nopember tahun lalu, saya bertemu dengan beberapa nelayan di pulau Sebatik (Kalimantan Utara), yang kesehariannya mencari ikan di laut. Mereka sedang giat-giatnya bekerja secara keras, mencari ikan sebanyak-banyaknya, agar bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Buat apa sebanyak-banyaknya itu? Agar mereka bisa menabung, karena hari-hari berikutnya, cuaca akan tidak bersahabat, angin dan hujan tak menentu, dan dipastikan mereka tak bisa melaut.
Jika mereka tidak melaut, padahal itu satu-satunya cara mencari nafkah, lantas bagaimana memenuhi hajat hidupnya? Itulah sebabnya mereka menabung untuk kebutuhannya selama 2-3 bulan ke depan, selama cuaca tidak bersahabat, dan selama mereka tak bisa melaut. Mereka bukan pembaca alam ghaib, tetapi karena mempunyai kewaskitaan yang dididik oleh keakrabannya dengan alam.
Siklus alam kita, sesungguhnya bukan misteri yang tak teruraikan. Dan Allah sendiri menjanjikan kita boleh menafsirnya dengan logika yang dianugerahkan. Peristiwa bencana alam, sesungguhnya bukan peristiwa yang tak bisa dimengerti dari sisi peradaban manusia sebagai mahkluk yang diperkenankan berpikir.
Ketika saya bercengkerama ke beberapa penduduk di Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Muntilan (Jateng), beberapa penggali pasir yang berada di ring satu bahaya Merapi, mengatakan bahwa Gunung Merapi memberi kehidupan dan rejeki pada mereka. Sehabis gunung meletus, kata mereka, maka pasokan pasir, batu, begitu melimpah, dan menjadi sumber mata pencaharian. Demikian juga bagi para petani, pasca letusan Merapi, tanah menjadi subur, dan menjadi pengharapan untuk masa tanam berikutnya.
Jika demikian, mengapa fenomena alam itu tidak dipersahabat, sebagaimana naluri hewan-hewan yang tajam, yang akan menjauh dari Merapi, ketika peristiwa erupsi itu terjadi?
Di Jepang, setelah bencana besar Fujiyama, pemerintah dan para ilmuwan Jepang, berfikir keras mengenai hal itu. Dan hasilnya, terjadi perubahan pada konstruksi sosial dan budaya masyarakat setempat. Bentuk rumah dan konstruksinya, pekerjaan atau mata pencaharian penduduk, semua didisain untuk mengantisipasi sebagai resiko lingkungan yang rawan dan tidak stabil.
Pemerintah dan akademisi Indonesia, sesungguhnya juga bisa, mendisain setepatnya, bagaimana memposisikan hubungan masyarakat sekitar ruang-ruang bencana itu. Sehingga kita tidak hanya bicara soal "tanggap bencana" atau "musibah alam", padahal itu adalah peristiwa kerutinan yang bisa diperkirakan.
Artinya, sikap mental, karakter budaya, pola pikir masyarakat kita, adalah persoalan social enginering yang selama ini diabaikan. Dan kita hanya ribut jika hal tersebut terjadi. Ribut keprihatinan, ribut aksi sosial, ribut anggaran bencana.
Negeri ini berada di cincin api bencana. Bencana alam adalah keniscayaan. Namun kita tidak mendengar ajakan, untuk memikirkan penyikapan kita atas fenomena dan pembacaan kuasa Tuhan atas alam semesta ini. Hal itu bukanlah kesombongan yang dungu, melainkan kedunguan yang sombong. Manusia mahluk lemah, baiklah. Kita tak peka dengan tanda-tanda alam, baiklah juga. Namun, jika kita tak mampu membaca alam, mengapa kita tidak mau membaca buku?
Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memberikan kemampuan bagi manusia untuk meramal bencana. Tapi kita suka mengacaukan ilmu dengan klenik. Padahal agama tanpa ilmu, kata Einstein, adalah buta. Kita tak bisa menjaga dan membaca alam, diam-diam ikut merusaknya, tetapi ketika alam bereaksi atas ulah manusia, Tuhan juga yang dituding marah dan menghajar habis makhluk ciptaannya. Bacalah doa lingkaran Rendra di atas, bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja. Semuanya dari sikap kita menghadapinya.
Jika bencana demi bencana ini tak kunjung usai, benarkah karena "Mungkin Tuhan mulai bosan, terhadap tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,..." begitu ajakan Ebiet G. Ade. 
Bertanya pada rumput? Membaca alam saja tak bisa, apalagi ngajak bercakap-cakap dengan rumput.

Sastra Indonesia dan Regimentasi Kapital

Halim Hade (Solo) dan Anindita S. Thayf (Makassar) | Foto Odi Solahuddin
Mengkritisi sebuah buku, apalagi buku kebudayaan (sastra di dalamnya) dengan sebuah diskusi, dan apalagi petisi untuk menolaknya, bisa jadi mengundang sinisme. Dan kita selalu mendengar anjuran klasik, lawan buku dengan buku.
Persoalan kita kemudian akan jatuh pada persoalan perspektif, yang mau tak mau tentu berkait dengan persepsi masing-masing mengenai sesuatu hal, dengan kepentingan-kepentingannya. Diskusi di ruang maya, bisa sangat bias dan kurang maksimal, meski bisa memberi efek mediasi tersendiri (yang itu juga dimanfaatkan pihak yang pro dan kontra dengan follower masing-masing). Sementara diskusi di ruang-ruang nyata (bukan berarti dumay tidak nyata), juga bukan perkara mudah untuk mengerucut pada suatu rumusan, karena bisa sarat kepentingan.
Celakanya, di Indonesia, tidak ada sesuatu yang bisa menjadi suatu tolok ukur yang komprehensif. Tiba-tiba, kita merasa, bahwa proses berkebudayaan kita masih sangat muda. Orde Baru membonsai kita dalam involusi. Di mana asosiasi profesi dicurigai bahkan ditolak, namun senyampang dengan itu, tumbuh kembali keinginan mendirikan pusat-pusat kebudayaan pada masing-masing kelompok, setelah mitos-mitos kemutlakan rejim Soeharto tumbang. Dan ketika reformasi tidak mengantar kita pada strategi kebudayaan yang terarah, yang terjadi adalah situasi chaostic. Kita masing-masing bicara, dan tanpa mau mendengar. Ketika tiba-tiba kapital masuk dalam regimentasi kebudayaan, yang secara perlahan menggeser regimentasi pasar dan tokoh, kita semuanya kaget dan anomali. Pada sisi lain, ketika masyarakat konsumen kita belum cukup terdidik, dalam merespons ruang-ruang di sekitar, kaum kapital bisa menggunting dalam lipatan. Perspektif sejarah, sebagai ukuran proses peradaban dan keadaban, boleh diabaikan.
Saya senang, diskusi yang diselenggarakan teman-teman di Yogya, mampu mengambil jarak untuk melihat pokok persoalannya, yang bukan sekedar pantas dan tidak pantas soal "puisi esei", "Denny JA", atau "Jamal D. Rahman dkk." Amatan Halim Hade dalam "Diskusi Sastra 27 Januari 2014; Mengurai Cengkeraman Rezim Pasar di Ranah Sastra dan Kebudayaan; Menolak Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh", di Yogyakarta itu, agaknya hendak menuju ke sana. Bagaimana muncul kepentingan-kepentingan di luar nilai-nilai kebudayaan, yang menghegemoni kepentingan intrinsik karya kebudayaan (intelektualitas) itu. Praktik yang terjadi kemudian, sebuah proses intelektualisasi bisa didorong oleh faktor-faktor yang melingkupinya. KPG (Kelompok Kompas Gramedia, sebagai "penerbit" buku 33 Tokoh itu), yang dulunya dianggap representasi kepentingan publik dengan buku-buku bermutu dan terpercaya, bisa mengalami distorsi. Karena rejim kapital bisa menggusur tolok ukur kepantasan yang merepresentasikan keutamaan publik. Logo penerbitan yang merepresentasikan 'pride' dan 'legacy', bisa dibeli untuk menerbitkan buku (apapun) asal penulisnya membayar biaya cetak dan 'sewa' logo. Banyak buku memoar atau biografi tokoh terkenal, yang terbit dengan logo resmi KPG, namun hal itu bukan berdasar kriteria standar penerbitan seperti biasanya, yang mesti harus melalui proses seleksi dan penilaian dewan redaksi. Regimentasi kapital ini, bisa kita lihat pada karya-karya kesenian lain, yang kemudian menjadi sangat dan makin personal (dan individual) sebagai penghamba yang melayani. Kemuliaan publik, tidak menjadi kepentingan karya, kecuali menjadi urusan pencanggihan-pencanggihan teknis kreator, kurator, editor, dan calo.
Lahirnya buku "33 Tokoh,..", hanyalah sebuah contoh, bagaimana perspektif sejarah diabaikan, bahkan untuk melakukan kanonisasi atas perjalanan patrap kebudayaan (sastra) selama 100 tahun, yang hendak dibekukan oleh Tim 8, Jamal D. Rahman dkk. Apalagi dengan ukuran, kriteria, yang terbuka untuk digugat dan diperdebatkan. Kontroversi yang muncul tentu soal siapa mereka, dan bagaimana mereka melakukan otorisasi publik, dengan memakai institusi publik yang sudah teruji seperti PDS-HBJ dan KPG (sebagaimana Maman S. Mahayana mau diundang masuk Tim 8 karena menyangka berkait Majalah Horison dan PDS-HBJ. Ada unsur kriminal di sana, ketika PDS-HBJ menolak terlibat. Dan menjadi aneh, Maman S. Mahayana menolak Denny JA masuk dalam 33 Tokoh Sastra. Demikian juga resonansi yang terjadi, dengan mundurnya Cecep Syamsulhari dari posisi sebagai redaktur Majalah Sastra Horison, berkait dengan buku 33 Tokoh). Semua itu menjadi relevan untuk dipertanyakan. Bahwa Tim 8 tidak cukup representatif, hingga ia perlu digugat dan bahkan ditolak.


Sunardian Wirodono, dan Prof. Faruk Tripoli
Persoalannya, bagaimana caranya? Membuat petisi, membakar, menarik buku itu dari peredaran dengan meminjam tangan kekuasaan? Diskusi di Yogyakarta (dengan pembicara Halim Hade dan Anindita S. Thayf, dan moderator Kamerad Kanjeng, 27/1) itu, adalah awalan yang bagus bagi teman-teman yang menolak, untuk memikirkan cara. Karena berbeda dengan produk obat atau makanan, yang mempunyai PPOM/POMG sebagai lembaga yang kompeten, dengan penelitian laboratorium dan klinis. Lha buku, apalagi buku sastra? Indonesia tidak mempunyai lembaga yang legitimated untuk itu. Di Jakarta saja, masing-masing menciptakan musuh sendiri-sendiri, antara Palmerah, Salihara, Depok, Komunitas Bambu, Sastra Buruh, Sastra Boemipoetra, dan lain sebagainya. Belum pula suara-suara dari Yogyakarta, Bandung, Bali, Makasar, Medan, Padang, Aceh, dan lain sebagainya.
Pergerakan kebudayaan kita, berbeda dengan negara-negara Amerika Latin yang dipersatukan secara bahasa dan ideologis (sebagai negara pinggiran), yang mampu secara genealogis mengidentifikasi dan merepresentasikan pada karya kreatif mereka. Sementara di Indonesia, sastra kita hari ini sangat terdidik untuk berkompromi pada regimentasi pasar, sehingga yang muncul adalah karya-karya dengan nafas pendek.
Semua orang tentu berhak menyampaikan pemikiran, namun ketika masuk ke wilayah publik dengan cara-cara yang anomali dan ahistoris, akan menimbulkan persoalan serius di kemudian hari. Apalagi ketika kita masuk pada nilai-nilai ukuran dengan kata "paling" dan "berpengaruh", dan dengan pembatasan jumlah. Sementara jika kita bicara otoritas dan legitimasi, kebebasan berkarya yang diberikan oleh adab kebudayaan, tidak 'mereka' lakukan dengan cara yang sepadan, tentang apa yang disebut ukuran atau kriteria, yang bahkan oleh Tim 8 juga tidak konsisten menjaganya. Tiba-tiba menjadi aneh dan berbahaya, jika mereka mengklaim sebagai buku teks sejarah sastra Indonesia yang paling sahih dalam 100 tahun ini. Jika klaim itu kemudian dipakai sebagai ukuran Depdiknas, untuk menjadikan "33 Tokoh,.." sebagai Buku Pelita, Buku yang diborong pemerintah, untuk dibagikan gratis kepada siswa-siswa SMP dan SMA Indonesia, banyak hal harus diurus; bagaimana Wowok Hesti menjadi "lebih berpengaruh" dibanding Wiji Thukul dengan data empiriknya. Dan seterusnya, kenapa begini kenapa begitu.
Anindita S. Thayf (Makasar) yang berbaik hati meresume isi buku "33 Tokoh,..." menyampaikan pendapat, bagaimana konsep dan kriteria yang menyebabkan pilihan Tim 8 atas tokoh sastra 'hanya' berjumlah 33, juga menunjukkan ketidakkonsistenan itu. Apalagi, masing-masing penulis disitu, menulis "sendiri-sendiri" di kamar masing-masing, dan kemudian seperti dikatakan Halim Hade, tidak ada yang "berani" mengambil peran sebagai editor. Maka Jamal D. Rahman menuliskan 'dkk' di belakang namanya, bukan 'editor' misalnya. Karena sejak awal, the man behind 'design' itu, kata Halim, lebih penting diusut. Dan selama Tim 8 tidak muncul ke ruang publik untuk mempertanggungjawabkan karyanya, maka kredibilitas mereka dipertanyakan.
Semestinya, diskusi-diskusi publik mengenai hal itu, menarik dikembangkan. Sinisme di luaran, tidak perlu ditanggapi berlebihan. Karena bagi yang mencintai dunia sastra Indonesia dan masa-depannya, pasti akan tahu pentingnya pergulatan ini.


Sunardian Wirodono
Yogyakarta, 27 Juli 2014