Kamis, Desember 26, 2013

Yanto, Petani Lahan Berpindah

Kupikir dia dari Jawa, tapi dugaan itu ternyata salah. Dia Dayak aseli dari suku Sukung. Tapi namanya itu? Ceritanya panjang, katanya. Umurnya baru 38 tahun, tapi tampak tua dengan rambut putihnya.
Ia seorang peladang berpindah. Kadang ia bertanam jagung, sahang (merica), lada hitam, atau pulut (ketan).
Ladangnya berpindah-pindah. Bukan karena tuan tanah. Tapi ia harus membuka ladang terlebih dulu. Membakari hutan, kemudian mendiamkannya selama 6 bulan, lantas mengolah tanah, dan baru kemudian menanaminya. Sehabis panen, ia harus cari tempat lain lagi. Sekali babat hutan, bisa sampai 3-6 hektar, tergantung lokasi dan kemampuannya. Dan di Kalimantan, dengan bukit-bukitnya, lahan kosong masih sangatlah luas.
Dia kerjakan beramai-ramai? Tidak. Dia sendiri saja. Menanam sahang, lebih menguntungkan, karena sekilo dia bisa jual di Malaysia seharga Rp 40-an ribu. Kenapa ke Malaysia? Untuk mencapai pasar Malaysia, dan di sana banyak tukang tadahnya, hanya butuh waktu 2-3 jam, dengan sepeda motor menembus hutan atau jalan setapak. Sedang ke pasar Entikong, harus jalan kaki, sambung speedboat, jalan kaki lagi, speedboat lagi, membutuhkan waktu 12 jam saja kalau air (sungai) baik. Dan biayanya? Bisa habis di atas Rp 1 juta, karena untuk speedboat saja, akan habis bensin 80-an liter. Sudah demikian, harga di Entikong lebih rendah dari Malaysia.
Di rumah bedengnya, ada TV, antena parabola, dan mini-genzet untuk semua kebutuhannya itu. Ada juga kompor gas ternyata, di dalam rumah yang hanya dibuat dari palang-palang kayu ditutup dengan dinding anyaman bambu dan bekas-bekas poster para caleg serta iklan motor.
Kalau hasil baik, dari ladang pulut misalnya, dalam setahun dan sekali tebas, ia bisa mendapat sedikitnya Rp 200 juta. Untuk sahang dan lada hitam, akan jauh lebih tinggi lagi.
"Punya keluarga?" aku bertanya padanya.
Yanto menggeleng. Sudah 20 tahun ia hidup sendiri, dan sepanjang itu pula ia tinggal di hutan-hutan, atau di pinggir sungai.
"Kenapa tidak tinggal di kota saja, dengan pendapatan sebesar itu?"
Yanto hanya menggeleng, dengan sesungging senyuman.
Jalan rintisan Cipta Karya PU, baru dimulai dengan cara mengiris bukit-bukit dan hutan. Tapi di musim hujan ini, dengan kontur tanah liat, jalan darat justeru jadi neraka tersendiri (sepatu gunung yang aku beli di Entikong, hanya tahan sehari dan jebol sudah), apalagi banyak sungai-sungai kecil memotongnya, dan hanya berjembatan potongan batang pohon yang butuh keahlian melintasinya.
"Presiden memikirkan mobil murah, ramah lingkungan, hybrid, untuk rakyatnya yang tinggal di desa-desa,..." saya bertanya pada Yanto yang ternyata juga menyimpan beberapa cd karaoke.
Yanto tak segera menjawab. Matanya yang letih melongok ke bawah, tikungan Riam Pelanduk pangkalan paling berbahaya di sepanjang Sei Sekayam. Dinamakan Riam Pelanduk, karena hanya mereka yang punya akal pelanduk, alias kancil, yang bisa lolos selamat dari ancamannya. Sudah banyak sampan hancur dan orang tewas tenggelam di situ.
Desa Suruh Tembawang adalah batas atas dari dusun-dusun di bawah menuju Entikong, sementara di atas Riam Pelanduk, adalah dusun-dusun paling pinggir, di atas perbukitan, berbatas langsung dengan Malaysia.
Yanto mendesah, "Macam mane mobil murah? Tak ade hal,..."
Aku teringat dongeng tentang seorang politikus, yang menjanjikan sebuah jembatan, di daerah yang bahkan sama sekali sungai pun tak ada.
Memang sialan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar