Kamis, Desember 26, 2013

Wiji Thukul Seorang Penyair dan Seorang Ayah yang Berani


Pagi itu kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku
yang menonton. Istriku kaget. Sebab
seorang letnan jenderal menyeret-nyeret
namaku. Dengan tergopoh-gopoh
selimutku ditarik-tarik. Dengan
mata masih lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata
keluar dari mulutnya: "Namamu di
televisi...."

Puisi di atas, menceritakan bagaimana untuk pertama kaliya, nama Wiji Thukul disebut di televisi sebagai biang kerusuhan peristiwa 27 Juni 1996. Sejak tahun itu, sosoknya raib, meski nama dan puisi-puisinya tak bisa diculik atau pun dibungkam.

Ia seorang penyair yang berani. Penyair yang “jika tak ada mesin ketik/ aku akan menulis dengan tangan/ jika tak ada tinta hitam/ aku akan menulis dengan arang/ jika tak ada kertas/ aku akan menulis pada dinding/ jika aku menulis dilarang/ aku akan menulis dengan/ tetes darah!” sebagai kredo ke-penyair-annya (1988).
Agak snob dan gagah. Tapi itu keyakinannya. Karena baginya, hanya ada satu kata; Lawan. Satu kata itu kemudian menjadi mantra pemberontakan. Bukan hanya kaum muda Indonesia, bahkan kini, kata-kata itu menginspirasi kaum oposisi Malaysia. Bekas anggota parlemen Malaysia, Nurul Izzah dalam konferensi pers kelompok oposisi Malaysia itu, beberapa waktu lalu mengutip puisi Wiji; “Hanya ada satu kata. Lawan tetap lawan,” tegas Nurul. Hal itu pun disambut hiruk-pikuk oleh massa yang hadir.
Menurut Nurul, puisi Wiji Thukul diperkenalkan oleh ayahnya, Anwar Ibrahim yang merupakan tokoh oposisi, sejak 1998. Hal senada disampaikan Yusmadi Yusuf, bekas anggota parlemen Malaysia. Puisi Wiji adalah doping menghadapi situasi Malaysia saat ini yang hampir sama dengan Indonesia saat awal Reformasi.
Grup Musikimia, yang didirikan Fadly seusai bekunya Padi, menghidupkan puisi Wiji Thukul dalam salah satu lagu di mini album bertajuk "Indonesia Adalah". Lagu itu berjudul "Merdeka Sampai Mati".
Fadly yang membacakan sebuah puisi karya Wiji Thukul, mengatakan, "Ini adalah peringatan (maksudnya bisa jadi ‘penghargaan’) untuk beliau. Di mata kami, orang orang seperti beliau mencintai tanah air dengan caranya mereka sendiri."
Wiji Thukul memang raib. Semenjak  namanya disebut-sebut di TV, pada Juni 1996  itulah, Wiji Thukul menjadi target buruan pemerintah. Hal ini tentu saja mengecewakan hatinya dan hal ini ia ungkapkan dalam pusinya berjudul Aku Diburu Pemerintah Sendiri;

aku diburu pemerintahku sendiri
layaknya aku ini penderita penyakit berbahaya

aku sekarang buron
tapi jadi buron pemerintah yang lalim
bukanlah cacat
pun seandainya aku dijebloskan
ke dalam penjaranya.

Bisa dikata, hampir seluruh puisi-puisi tercipta dari pengalaman dirinya dalam memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Sebuah puisi yang ditujukan untuk salah satu sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yang berjudul ‘Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?’, mencerminkan pengalaman dirinya dan keluarganya saat ia telah menjadi buron;

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek --biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku --4 th-- melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo (lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963) adalah seorang sastrawan dan aktivis Indonesia. Lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP.
Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.
Pendidikan tertinggi Thukul adalah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang. Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.
Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Mengalami cedera mata kanan (1995) karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.
Dalam ‘Peristiwa 27 Juli 1998, sosoknya kemudian seolah menghilangkan ditelan bumi, hingga saat ini. April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Tapi seolah menembus ruang hampa.
Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru. Dua kumpulan puisinya : Puisi Pelo dan Darman dan lain-lain diterbitkan Taman Budaya Surakarta.
Pernah diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut (1989), kemudian tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta, 1991), dan pada tahun yang sama memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra. Pada 2002, dianugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002". Tinuk Yampolsky, membuat film dokumenter tentangnya, 2002.

Wiji Thukul adalah juga seorang ayah yang menyangi keluarga dan anak-anaknya. Dia tahu bahwa statusnya sebagai buronan pemerintah akan membawa dampak tidak menyenangkan buat keluarganya. Karenanya dalam puisinya yang berjudul Wani, Bapakmu Harus Pergi, Thukul menyampaikan sebuah pesan yang membesarkan hati anaknya;

Wani,
bapakmu harus pergi
kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja :
"karena bapakku orang berani"

Sebuah puisi yang (bagi saya), sangat menggetarkan. Salute, Wiji Thukul, sang penyair dan ayah yang berani;


Kalimalang, Jakarta Timur, 3 Desember 2013, dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar