Kamis, Desember 26, 2013

THE WAR ON MEN THROUGH THE DEGRADATION OF WOMEN


Jada Koren Pinkett Smith (September 18, 1971), seorang perempuan yang komplet. Ia seorang aktris, penyanyi-penulis lagu, dan pengusaha. Ia memulai karirnya di tahun 1990, dalam sebuah sitcom"True Colors", kemudian membintangi A Different World (Bill Cosby) dan tampil bersama Eddie Murphy (The Nutty Professor, 1996), Menace of Society II (1993), Set It Off (1996). Setidaknya lebih dari 20 film dalam berbagai genre, termasuk Scream 2, Ali, The Matrix Reloaded, The Matrix Revolutions, dan dubber untuk Madagascar (1, 2, 3).
Tahun 2002, ia juga membentuk band metal Wicked Wisdom, sebagai penyanyi dan penulis lagu, selain kemudian (2004) menulis buku. Bersama suaminya, aktor Will Smith (1997), Jada mendirikan Will and Jada Smith Family Foundation, sebuah organisasi amal yang berfokus pada pemuda urban, dan berbagai aktivitas lainnya.
Ia punya pandangan yang menarik, seperti bisa dibaca dalam tulisannya; "The War On Men Through The Degradation of Women", tentang pengerdilan peranan kaum perempuan. Menurut Jada, ketika seorang lelaki merendahkan seorang perempuan, ia akan merugikan dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin seorang lelaki bisa mengenali dirinya sepenuhnya, kemampuan sejatinya, bila ia memandangnya perempuan secara tidak utuh? Seorang perempuan yang telah terlucuti identitas ke-Illahi-annya, direndahkan dan hanya dihargai karena pantatnya yang semog, dan payudaranya yang montok, semata untuk kepuasan fisik belaka. Perempuan yang telah dibungkam sehingga melupakan esensi spiritualnya, karena kata-katanya mampu mengusik pemikiran-pemikiran di luar ranah yang nyaman. Perempuan yang telah dikerdilkan, dengan menutupi semua yang membusuk dalam dirinya, dengan rajutan dan sepatu beralas merah.
Aku yakin bahwa lelaki, yang telah merombak struktur masyarakat kita (yang semula menempatkan perempuan pada posisi terhormat), tak menyadari dampak dari tindakannya itu. Mereka tidak sadar bahwa pada akhirnya, bahkan para lelakipun, akan menjadi kosong dan merindukan sesuatu yang lebih berarti. Suatu hubungan yang lebih dalam.
Ada kesedihan yang mendalam yang kurasakan, ketika menyaksikan seorang lelaki tak mampu mengenali kekosongan yang dirasakannya, ketika ia memposisikan diri-sendiri sebagai bankir, dan benar-benar percaya, bahwa ia bisa membeli cinta dengan uang dan status. Yang lebih menyakitkan lagi, menyaksikan pengkhianatan seorang perempuan yang mau menerima tawarannya itu.
Lelaki (yang demikian) itu, tak menyadari, bahwa perempuan “cacat” yang diciptakannya itu, justru berkontribusi terhadap perasaan marahnya yang terpendam, dan perasaan frustrasi yang timbul karena ia merasa juga tak lagi utuh. Dia mungkin lantas tak mampu mencintai perempuan manapun, atau mungkin ia akan “memelihara” banyak perempuan-perempuan tak utuh sebagai piala bergilir.
Lelaki itu tak menyadari, bahwa dengan ia menceburkan diri dalam budaya petarung yang tak seimbang, dengan kekerasan menjadi sarana untuk mendapatkan kehormatan dan kekuasaan, itulah yang membuatnya sanggup memukul wajah perempuan, yang telah mempersembahkan anak-anak baginya.
Ketika perempuan kehilangan jati dirinya, begitu pula pria. Seorang perempuan adalah jendela ke hati seorang lelaki, dan hati seorang lelaki adalah gerbang menuju jiwanya.
Kekuasaan dan kontrol tak akan pernah bisa menggantikan cinta."
Demikian menurut Jada Koren Pinkett Smith, mengenai relasi lelaki-perempuan, utamanya dalam sebuah rumah tangga. Dalam renungan Friedrich Nietzsche, tentang relasi lelaki-perempuan dalam sebuah pernikahan, “It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages.” Ini bukan (karena) kurangnya cinta, tapi (karena) kurangnya persahabatan yang membuat pernikahan yang tidak bahagia. Dikarenakan konsep degradasi tadi, yang akan beranak-pinakkan pada pen-degradasi-an berikutnya. Tentu saja ini bukan ajakan perang, tetapi ajukan persahabatan dan perdamaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar