Kamis, Desember 26, 2013

Sukarno dan Tiga Referat Kecil Untuknya

(1) FILM SOEKARNO | Sebelum dan sesudah menonton film 'Soekarno' karya Hanung Bramantyo (2013), pendapat saya tetap, bukan sebuah karya film yang bagus. Bahkan setelah menontonnya, ternyata film ini memang lebih buruk dari penilaian saya.
Bukan karena kebetulan keduanya (Sukarno maupun Hanung) bukan idola saya, tetapi Hanung hanya bagus ketika membuat Brownies, sebagaimana Garin Nugroho yang hanya bagus dengan Bulan Tertusuk Ilalang, selebihnya, film-film mereka gagal menjadi juru bicara yang baik bagi reputasi selanjutnya. Bahkan baik Garin maupun Hanung sendiri, juga bahkan gagal menjadi juru bicara bagi film-filmnya kemudian, seperti kita lihat dalam Soegija maupun Sang Pencerah.
Saya memilih mengajak anak saya untuk membacai semua koleksi buku tentang Sukarno yang ada di perpustakaan rumah kami. Dan kami bisa belajar jauh lebih banyak tentang Sukarno, daripada apa yang sudah di-freeze oleh Hanung dalam filmnya. Tentu saja Hanung boleh berkilah soal sudut pandang dan tak mungkin memuaskan semua pihak (hei, siapa yang butuh dipuaskan? Dasar, seniman kok ngomong tukang pemuas!)
Bukan berarti jika Sukarno digarap oleh Spielbergh atau Oliver Stone akan lebih bagus dari Hanung. Tidak dalam pengertian itu. Namun, Hanung hanyalah pembuat film yang manis, atau dimanis-maniskan. Di jaman internet dan digital ini, menjadi sutradara bercitarasa international bukan sesuatu yang susah, apalagi dari Indonesia yang super kreatif. Tonton 50 film DVD bajakan, dan cobalah bikin film bagus! Kita akan gampang melihat angle atau frame copycat!
Tapi Hanung bukanlah seniman dalam tingkatan yang punya kepekaan dalam sebuah gusto komunikasi massa, sebagaimana mestinya ia sebagai orang yag mendapat kesempatan pertama memfilmkan Sukarno. Sehingga ketika berhadapkan dengan expectacy, kita tahu dia tidak mempunyai konsep yang bagus untuk itu. Film bagaimana pun adalah tontonan, dan bagi saya Hanung gagal mempertontonkan Sukarno dalam gala primier bioskop Indonesia.
Saya lebih bangga mengajak anak lelaki saya nonton Jango, film koboi garapan Quentin Tarantino (2012) yang bertutur tentang sejarah perbudakan Amerika abad 18.
Sukarno, pemimpin besar revolusi itu, terlalu besar untuk dikecilkan oleh Hanung. Dan luput. Tapi kalau mau nonton karena rasa kasihan sebagai karya teman, tak apalah. Masih lebih baikan dibanding karya FTV di televisi-televisi kita kok. Sedikit.


(2) PARA PEMBENCI SUKARNO | Bagi para pembenci Sukarno, mudah saja mengatakan Sukarno buruk hati ketika menceraikan Inggit Garnasih 'demi' mengawini Fatimah (Fatmawati). Apalagi setelah menonton film tentang Sukarno yang menceriterakan dalam scene yang miskin tentang itu.
Tapi bagi Sukarno, waktu itu, tentu bukan perkara mudah.
Ketika menjadi mahasiswa di Bandung, Sukarno sudah dalam posisi dinikahkan oleh HOS Tjokroaminoto dengan Oetari, anaknya.
Tapi karena Oetari masih di bawah umur, Sukarno sama sekali tidak 'menyentuhnya' dan menganggapnya adik. Cinta Sukarno bertaut pada Inggit Garnasih, ibu kost yang adalah masih isteri orang (Haji Sanusi).
Dalam pergulatan cinta yang panas, Sukarno melamar Inggit pada Haji Sanusi. Dan sang suami Inggit itu pun merelakannya.
Betapa Sukarno sangat mengagungkan Inggit, karena separoh nyawanya ada pada perempuan yang oleh Hatta dinilai mempunyai rasa kemanusiaan dan intelektualitas besar, meski buta huruf dari kampung.
Sampai ketika kegelisahannya sebagai lelaki, yang menginginkan adanya anak keturunan, Sukarno berada di persimpangan jalan ketika bertemu Fatimah di Bengkulu. Sukarno tak mau menceraikan Inggit, tapi Inggit 'pamali' untuk dimadu (hal yang sama kemudian terjadi, ketika Fatimah pun kemudian juga menolak dimadu, ketika Sukarno hendak menikahi Hartini).
Sukarno adalah lelaki yang romantik, tetapi ia berbeda dengan SS atau GM misalnya yang mesti harus ketahuan surat cintanya oleh Mytha, atau juga berbeda dengan R, atau SDD, JO, ST, SW, RR, PO, PCS, MA, SBY, HR, ARB, ASU, BA, JING, AN, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan anak-anak Sukarno yang suka menyebut para perempuan di sekitar Sukarno sebagai "hindul markindul-kindul"?
Semua mereka (baik yang lelaki maupun yang perempuan), dilibet dengan situasi batin dan hanya mereka yang mengetahuinya secara persis, atau bahkan justeru mungkin tidak mengetahuinya sama sekali. Dan apa hak kita mengadilinya, dengan segudang interpretasi?
Pandangan kita tentang relasi personal dan seksual lelaki-perempuan, lebih banyak dipenuhi kepentingan kita masing-masing. Tentu saja demikian. Tetapi lantas bagaimana menyelesaikan perbedaan, jika sesungguhnya kita sendiri juga secara personal tidak sangat serius mengujinya secara proporsional?
Kata seorang komedian Amerika, persoalannya adalah karena lelaki menginginkan perempuan, dan perempuan menginginkan lelaki. Kecuali mereka yang memiliki orientasi berbeda.
Padahal, representasi manusia bukanlah dari soal relasi seks semata, tetapi bagaimana relationship-nya sebagai manusia secara utuh.
Gossip murahan, tidak pernah mendewasakan kita. Termasuk gossip tentang Sukarno tentu. Karena kalau kita ngomongin Aidit, Tan Malaka, Syahrir, pada ujung-ujungnya akan sampai pada gossip yang satu itu. Seperti ketika mengritik Kartini, yang katanya pejuang perempuan tapi mau-maunya jadi selir seorang bupati. Ataukah hanya itu ujung ketertarikan kita pada yang dinamakan tokoh? Dan kita makin terlatih untuk makin tidak proporsional. Infotainment banget!


(3) FILM SEBAGAI KARYA | Saya teringat pada bagaimana kepiawaian Teguh Karya ketika menggarap film 'November 1828' (1979). Sebuah film fiksi mengenai sejarah perjuangan masa perang Diponegoro (1825-1830). Ada banyak ahli sejarah dilibatkan di sana, ikonografi, dan sebagainya. Diponegoro tidak nongol di sana, tapi auranya hadir. Langkah lebih berani dilakukan oleh Eros Djarot dalam film Tjoet Nja Dhien (1988), dengan menghadirkan sang tokoh, masuk ke dalam sebuah riset yang bisa dipertanggungjawabkan.
Teguh seorang seniman yang bukan hanya mempunyai wawasan dan gagasan, melainkan juga tingkat keterampilan teknis yang bisa dibanggakan. Proses pembuatan film, dari sejak gagasan awal hingga eksekusi terakhirnya, bisa menjadi sebuah formulasi ilmu pengetahuan yang terbuka.
Dunia perfileman Indonesia jarang memberi ruang pada tema-tema besar dan pilihan personal kreatornya. Trend membuat film dengan mengangkat nama tokoh-tokoh besar, masih tetap didominasi pertimbangan dagang, hingga yang muncul adalah kompromi-kompromi di segala sudutnya (termasuk pemilihan tokoh dengan segala kontroversinya atau pun seberapa besar pengaruh, follower sang tokoh dengan minimal target audiens 'kita', bahkan sampai soal casting pemain segala).
Celakanya, meski berangkat dari tokoh sejarah, karakterisasi tokoh tak pernah meyakinkan dalam bangunan skenarionya. Karenanya, tak banyak muncul nama tokoh dengan permasalahan, tetapi lebih pada tokoh dan peristiwanya. Peristiwa tetap menjadi pertimbangan penting, sebagai vote-getter, karena di sana diharap kontroversi bisa jadi daya tarik. Tapi, bagi mereka yang inginkan sebuah nilai, jangankan substansi, aura inti permasalahan pun belum tentu didapatkan.
Seniman sebagai kreator, akan ditentukan pada konsistensi pilihan, dari konsep hingga eksekusinya. Kita masih menunggu datangnya sineas Indonesia yang berkarya demi karya itu sendiri. Semakin banyak orang terlibat di sana, semakin terlatih kita untuk berkarya, bukan sekedar terlatih dalam berkilah.
Dan ketika sebuah karya disodorkan ke publik, mestinya ia sudah selesai dan siap pula menerima beragam reaksi publik, dan terbuka dengan perbincangan, apa pun bentuknya.
Kesibukan membela-bela karya, hanya menyodorkan fakta, bahwa karya itu belum lahir dari sebuah proses yang layak.
Kita ngomongin film lho ini, bukan ngomongin siapa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar