Kamis, Desember 26, 2013

Sukarno, Che, dan Cerutu

Che Guevara lebih dulu berkunjung ke Indonesia tahun 1959. El Comandante ini berdiskusi panjang lebar soal revolusi di Indonesia. Pada waktu itu, Che juga merupakan wakil resmi pemerintah Kuba untuk membicarakan hubungan dagang antar kedua negara. Sukarno cocok dengan pribadi Che. Keduanya penuh energi dan bergaya informal.
Che sempat berwisata ke Candi Borobudur. Dia yang terkesan dengan Sukarno kemudian mengundang Sukarno untuk ganti berkunjung ke Kuba.
Maka tahun 1960, Sukarno yang melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro langsung menyambutnya di Bandara Havana. Sukarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan 'Viva President Soekarno'. Fidel Castro yang juga anti-Amerika klop dengan Sukarno. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah mau didikte Amerika Serikat.
Sukarno menghadiahi Castro keris, senjata asli Indonesia. Mereka tertawa seperti dua sahabat saat bertukar penutup kepala. Sukarno menukar kopiahnya dengan topi a la komandan militer yang menjadi ciri khas Castro (sayang tak ada fotonya). Che pun tampak senang mengenakan kopiah Sukarno.
Yang unik, rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu. Cerita itu dituturkan ajudan Sukarno, Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' (Gramedia).
Saat itu dalam konvoi Sukarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.
Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Sukarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Sukarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja. "Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi," ujar Bambang.
Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Sukarno. Sangat berbeda dengan lawatannya ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Sukarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong. Eisenhower menganggap remeh Sukarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga.
Dibiarkannya Sukarno menunggu di Gedung Putih hampir setengah jam lamanya. Amarah Soekarno pun meledak.
"Apakah kalian memang bermaksud menghina saya. Sekarang juga saya pergi," ujar Sukarno dengan marah.
Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Sukarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Sukarno.
Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Dia sadar Sukarno tak bisa diremehkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar