Kamis, Desember 26, 2013

Suatu Hari Presiden SBY Menginap di Kupang, NTT

Syahdan menurut sahibul Abu, 34, lelaki dari Alor yang bernama lengkap Abdullah Sulaeman ini, adalah kehebohan di Kupang, karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan hadir dalam Hari Pers Nasional 2011. Ini memang dongeng masa lampau.
Kupang heboh dan berbenah cepat.
"Jalan propinsi dari Kupang sampai Belu, sebulan sebelumnya, sudah dikebut," bertutur Abu, ayah dari empat anak ini.
Dan memang, jalan utama dari Kupang hingga Belu, kawasan terluar NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, benar-benar mulus. Di beberapa wilayah, terdapat tiang-tiang listrik bertenaga surya. Beberapa hari lalu melewati jalan itu, terbayangkan bagaimana ratusan orang bekerja keras untuk mengaspal jalanan yang berkelak-kelok, naik-turun perbukitan, melintasi empat kabupaten, Kupang, TTS dan TTU (Timor Tengah Selatan dan Utara) hingga Belu, sepanjang 187 kilometer.
Jalan utama El Tari ditutup selama dua hari, tentu juga kegiatan keseharian masyarakat di kawasan Rumah Jabatan Gubernur, yang disiapkan untuk istirahat presiden, disterilkan dari kegiatan mahkluk hidup, tak terkecuali Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan keluarga harus hengkang sementara. Pokoknya gawat banget deh. Sampai rumah dinas itu juga harus dicat baru, tempat tidur juga baru. Faktanya, presiden tak jadi menginap dan berkantor selama dua hari di sana, seperti direncanakan semula.
Ketika acara berlangsung sukses, SBY menyalami Ir. Andreas William Khore, Kepala Dinas PU NTT, yang menjadi ketua panitia HPN 2011 itu, "NTT mantap,..." ujar presiden SBY sebagaimana ditirukan oleh Abu. NTT yang semula dipandang sebelah mata, mendapat apresiasi dari pusat. Itu seperti mantra.
"Kamu di mana waktu itu?" saya bertanya pada Abu.
"Saya sopir pribadi dan asisten Pak William Khore, Bapa,..." kata karyawan PU penggemar berat karaoke itu. "Jadi saya bisa ada di dekat mereka,..."
"Kamu sonde salaman?" saya bertanya dengan mengutip bahasa mereka. Sonde, itu kata yang saya hafal, artinya; 'tidak'. Di samping kata 'nona' tentu saja.
"Sondelah, mana mungkin,..."
Karena itu, keputusan dibuat mendadak. Presiden berkenan menginap di Attambua (Belu). Semua orang blingsatan. Tapi presiden memutuskan akan menginap di bawah tenda perang milik TNI. Maka langsung dikirimlah tenda tentara beserta perlengkapannya dari Denpasar, karena NTT masuk wilayah Pangdam Udayana. Tentu saja, karena untuk tidur presiden, tenda ini kelas VVIP. Full AC dan dengan tempat tidur yang jangan dibandingkan dengan bagpacker miskin.
Sepanjang jalan yang melintas Oelamasi, Soe, Kefamenanu, Atambua, anak-anak sekolah berjajar, mengibarkan bendera merah-putih. Mereka diliburkan khusus. Demikian pula para bakul-bakul asongan, pedagang kaki-lima, tentu juga diliburkan. Bus-bus dan angkot trayek Kupang-Belu, harus prei juga, karena jalan mesti steril. Mosok presidennya mau lewat orang masih pada jualan atau sekolah.
Menurut Abu, jendela kaca mobil kepresidenan dibuka penuh kiri-kanan. Tangan presiden, juga isterinya, sampai keluar mobil melambai-lambai ke kiri dan kanan jalan.
"Kamu melihat sendiri?"
"Mobil saya hanya berselisih beberapa mobil pengawal di belakang presiden,..." Abu kelihatan sangat bangga.
"Presiden tentu suka, jalanan di NTT sudah sangat mulus sampai pelosok?"
"Iyalah. Dan dia satu-satunya presiden yang tidur menginap di NTT, belum ada presiden yang lain,..."
"Sukarno bukan hanya sehari, dia berbulan-bulan di Ende, Flores, toh,..." kata saya dalam hati.
"Ah, dia 'bukan nginap, dia di-inap-kan oleh Belanda, toh? Dan dia belum presiden, toh?" Abu balas menjawab dalam hati.
Hati saya diam saja, tidak menyahut.
Tapi yang paling dramatis apa yang terjadi di Pelabuhan Tenau, Belu. Presiden hendak pulang memakai kapal laut, menuju Denpasar, tidak dengan pesawat. Tentu saja, pontang-pantinglah semua orang untuk membenahi pelabuhan itu. Sampai harus membeli beberapa box AC besar yang didatangkan khusus dari Surabaya.
Celakanya, waktu pulang melalui Tenau itu, presiden SBY sama sekali tidak masuk ke ruangan yang full-AC dan sudah direnovasi. Jangankan duduk di ruang tunggu yang disediakan, menengok pun tidak. Karena begitu turun mobil, langsung naik ke kapal.
"Heran saya dengan presiden ini,..." kenang Abu sambil geleng-geleng. "Begitu kapal meninggalkan wilayah NTT, kita semua orang legaaaa,..."
"Jadi, apa gunanya presiden?" saya menyelisik.
"Untuk mempercepat pembangunanlah!" tukas Abu cepat. "Dulu NTT itu artinya Nasib Tiada Tentu,..."
"Sekarang?"
"Nikmat Tiada Tara!"
"Hahahaha,...! Mantap orang NTT!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar