Kamis, Desember 26, 2013

Sonde Ada Uang untuk Sekolah di NTT

Perjalanan ke perbatasan Indonesia dengan Timor Leste, di Nusa Tenggara Timur, agak membuat frustrasi sesungguhnya. Waktu yang pendek tak memberi peluang pengenalan yang baik. Apalagi masuk ke kantong-kantong pengungsian di daerah perbatasan di kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Krisis politik sehabis jajak pendapat 1999, rupanya masih begitu terasa. Pilihan menjadi warga negara Indonesia atau Timor Leste, masih menyisakan cerita duka, dan juga curiga.
Begitu pun dengan mereka yang memilih Indonesia sebagai negaranya. Antara ketakutan yang traumatis bercampur kecurigaan berhadapan dengan "orang asing", menjadikan mereka sangat pendiam dan irit bicara. Itu berbeda dengan kaum Dayak di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat dan Timur. Mereka jauh lebih terbuka, ketawa-ketiwi. Ah, teringat pada Gak Mulyadi, kepala desa Suruh Tembawang (Kalbar) yang menghangatkan tubuh dengan tuak air tape merah hangat.
Aku baru bertemu dengan seorang ibu yang bisa melucu dan ketawa-ketawa, dalam perjalanan pulang antara Kefamenanu dan Soe (Timor Tengah Selatan).
Tanta Inor (38), bersama para tetangga warga Kesetnana, Soe, berjualan hasil bumi seperti pisang, ubi, alpukat. Dia mempunyai tiga lapak, yang ditungguinya bersama dua anaknya, Asti dan Winta.
"Itu nama gaul, Bapa,..." kata Tanta Inor ketika kutanya soal nama yang aneh bagi orang Timor itu.
"Nama asli?"
"Nama asli hanya Tuhan yang tahu,..." jawab Tanta Inor sambil ketawa lepas.
"Wah. Berapa umur anak Tanta ini?"
Tanta Inor seagai ibu kandung, ternyata lupa berapa umur anaknya. Dia menepuk-nepuk jidatnya. Ya, sudahlah. Tapi yang pasti, Asti kelas 4 SD. Sementara, Winta sang kakak, kabur ketika melihatku mencoba memotretnya.
"Kok tidak sekolah?" tanyaku soal Asti, karena waktu itu masih pagi, sekitar jam 9.
"Sekolah nanti, cari duit dulu, Bapa,..." jawab Tanta Inor memamerkan giginya yang merah karena mengunyah sirih dengan pinang.
Jika kita melintasi jalan antara Belu-Kupang pada pagi hari, kita pasti akan berjumpa anak-anak berseragam sekolah, bersepatu atau pun telanjang kaki, bergerombol berjalan ke sekolah mereka yang umumnya jauh dari rumah. Jika naik angkutan desa, mereka mesti bayar Rp 2.000. Ada pula yang sekolah membawa jerigen isi air, karena konon di beberapa tempat air bersih susah didapat.
Tapi tak hanya Asti yang pagi itu bolos sekolah, dan memilih cari duit. Tak jauh dari patung kejayaan Kala Hitam Halilulik (Belu), sebagai penanda "kemenangan" TNI atas perang dengan Timor Leste dulu, banyak anak-anak sekolah yang juga membolos. Mereka berjualan penganan dan mengejar-ngejar bus jurusan Kupang (ibukota NTT) ke Belu (wilayah terpinggir NTT yang berbatas langsung dengan Timor Leste). Dibutuhkan sekitar 6-7 jam perjalanan untuk itu, dengan ongkos sekitar Rp 75.000 hingga Rp 100.000. Melintasi jalanan yang berbukit-bukit, turun-naik, dengan kelak-keloknya yang tajam. Panorama di kiri-kanan jalan, begitu penuh pesona.
Tapi Tanta Inor, dan para tetangga, pernah dilarang berjualan oleh Pemda. Apa pasal?
Waktu itu, usai menghadiri Hari Pers Nasional di Kupang, 2011, presiden SBY hendak menginap di Atambua, Belu. Praktis sepanjang jalan Kupang-Belu, harus bersih. Barangkali, protokoler negara takut presiden ditembak dengan ubi. Dan anak-anak sekolah disuruh berdiri berjajar, dengan melambai-lambaikan bendera merah-putih dari plastik. Padahal cuma melintas sekejapan mata doang. Wusss!
"Kenapa Nona sonde sekolah, ha?" tanyaku berlagak dengan bahasa mereka. Nona adalah sapaan anak perempuan Timor yang belum menikah.
"Sonde ada uang,..." jawab Nona Asti.
Oh, sekolah ternyata harus pakai uang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar