Kamis, Desember 26, 2013

Sampah Bisa Diolah Menjadi Berkah

Sampah dalam pengertian kita, adalah sampah. Tak ada makna lain, selain sesuatu yang sudah dianggap tidak berguna, kekotoran, sesuatu yang tersisa dan mesti dibuang, dan mungkin bau busuk, sumber penyakit, dan seterusnya yang buruk-buruk. Di Jakarta, selain sumber penyakit, sampah juga salah satu penyebab banjir, karena kedisiplinan warga yang rendah dalam urusan sampah ini.
Sebagai negara terbesar ke-empat dalam jumlah penduduk, kita bisa bayangkan, berapa produksi sampah kita tiap hari. Jakarta, sebagai ibukota negara, tiap hari memproduksi 6.500 ton. Sebagian besar dari sampah rumah tangga (53%), selebihnya sampah industri.
Ketika mengunjungi Kota Stromstad, Swedia, saya melihat sampah yang ajaib. Kota Gothenburg sangat rapi. Bangunan tua masih tetap anggun di antara bangunan baru yang juga menampilkan wajah klasik. Taman kota dan ruang terbuka bagi rakyat berekreasi. Tua-muda, pria, perempuan, penduduk kota dan pelancong berbaur di taman dan ruang terbuka kota. Betapa beda dengan Jakarta, dan kota-kota besar Indonesia lainnya.
Kemakmuran Swedia, bukan datang dari sumber daya alam, melainkan dari keunggulan sumber daya manusia. Kemajuan teknologi dari negeri asal mobil Volvo (yang banyak dinaiki politikus busuk kita) ini sungguh luar biasa. Swedia menempati peringkat teratas di bidang inovasi dan pemanfaatan teknologi, mengalahkan Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Dengan kemampuannya itu, semua produk primer diolah dengan sangat baik hingga nyaris tanpa waste atau bagian produk yang terbuang sia-sia.
Yang paling mengesankan, negara ini dikenal sangat maju dalam pengelolaan sampah. Dalam data statistik Eurostat, jumlah sampah yang menjadi limbah di negara-negara Eropa adalah 38 persen. Swedia berhasil menekan angka itu menjadi satu persen. Swedia adalah negara terbesar ke-56 di dunia, dikenal memiliki manajemen sampah yang baik. Mayoritas sampah rumah tangga di negara ini bisa didaur ulang. Dampaknya Swedia kini kekurangan sampah untuk bahan bakar pembangkit energi.
Yang paling gila, Swedia kini mengimpor 800 ton sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa. Sampah-sampah ini sekaligus untuk memenuhi program Sampah-Menjadi-Energi (Waste-to-Energy) di negara itu. Dengan tujuan utama mengubah sampah menjadi energi panas dan listrik.
Tingkat kemiskinan di Swedia termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasi penduduknya. Tidak ada slogan yang lebay di sana, seperti "Berbenah. Maju. Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat" seperti kemarin diyel-yelkan di Sentul.
Menurut laporan Eurostat, setiap penduduk di Swedia memproduksi sampah hanya tujuh kilogram saja pada 2009. Bandingkan dengan penduduk Inggris yang memproduksi 260 kg sampah per orang. Sebaliknya, Swedia membakar 235 kg sampah per orang, sementara Inggris hanya 9 kg. Dari total sampah yang diproses, hanya menyisakan 4% limbah saja. Dengan ini, Swedia memimpin pemenuhan arahan berkelanjutan Uni Eropa 2020 (Euro 2020 sustainable directive), sekaligus pionir dalam pemanfaatan sampah untuk energi.
Weine Wiqvist, Kepala Asosiasi Perdagangan Manajemen Persampahan Swedia mengatakan, ada tiga keuntungan yang diperoleh Swedia dari sampah. Pertama, Swedia mendapatkan uang dari negara lain yang memberikan sampah mereka. Kedua, Swedia mendapatkan uang dari penjualan energi hasil pembakaran sampah. Ketiga, Swedia juga bisa menjual sisa sampah tak terbakar yang sering berupa logam.
Mendengar hendak dijalinnya kerjasama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang telah berdiskusi dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi (hadeuhhh, Jokowi lagi) untuk memanfaatkan sampah di kota Jakarta agar bisa menghasilkan listrik, cukup melegakan. Akhirnya, ada juga sedikit orang waras yang mau memecahkan masalah. Karena selama ini, yang ada hanya pembuat dan sumber masalah, tanpa jalan keluar khas politikus dan pejabat negara kita. Jika Jakarta bisa menjadi pelopor, dengan sumberdaya sampahnya yang luar biasa, sebagian permasalahan ibukota negara ini akan teruraikan. Dan pasti itu bisa menginspirasi kota-kota lainnya untuk lebih kreatif dan inspiratif dalam mengelola wilayahnya. Orang-orang seperti Jokowi dan Kamil Ridwan (walikota Bandung) misalnya, patut diacungi jempol, meski yang tidak suka mereka boleh mengejek dan memfitnahnya. Kita percaya pada kata Pak Presiden Sukarno; Bersatu karena kuat, kuat karena bersatu! Selama ini, mengolah sampah menjadi berkah hanya diinisiasi segelintir voluntir, para relawan dan pahlawan tanpa liputan dan citraan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar