Kamis, Desember 26, 2013

Mencintai Tuhan Dengan Sederhana

Kerinduan kita yang paling naif, sering menyeret-nyeret cinta yang daif, “Tuhan, bicaralah padaku. Bicaralah padaku Tuhan. Kita bermuka-muka, begitu saja!”
Dan tak pernah terdengar suara Tuhan bicara, apalagi rupa. Dan hanya mimpi para sufi yang menceriterakan mengobrol dengan Tuhan sembari menyeruput kopi dan roti bantat yang lezatos.
Alangkah indahnya andai, kita bisa mendengar langung suara Tuhan. Jika kita bilang penyanyi idola kita bersuara keren dan sexy, bagaimana pula dengan suara Tuhan? Hingga kita kemudian abai, ketika mendengar burung kutilang, suara gemericik air dari bebatuan kali dan gunung.
Maka, kerinduan atas Tuhan, membuat kita berteriak-teriak, “Tuhan, bicaralah padaku! Bicaralah, please,...! Ayo tampakkan dirimu, dan jatuhkan segepok uang di depanku, plok!”
Segala macam guntur, petir, dan sejuta topan badai mengguruh, tiada harga untuk kita dengar. Manusia hanya melihat sekelilingnya, dan bersungut, “Tuhan, biarkan aku melihat Engkau. Biarkan kutatap wajahmu, wahai!”
Keterpesonaan akan nafsu, membuat kita tak lagi melihat keindangan bulan dan bintang, meski pun bersinar terang. Manusia tidak melihatnya, karena gitu inginnya melihat pesona wajah Tuhan.
Dan, kita terus, terus, dan terus berteriak lagi, “Tuhan, tunjukkan aku keajaibanmu, mu dengan M besar, karena alangkah kurangajarnya jika aku menuliskan mu dengan m kecil!”
Segala pernik huruf saja bisa membuat orang dihukum sebagai kafir.
Terus dan terus kita berseru, dalam keputusasaan, “Tuhan, jamahlah aku, Tuhan! Raihlah! Sentuhlah! Eluslah! Belailah! Touch me now, my Lord!”
Tapi, kita mengusir kupu-kupu yang terbang mengitari putik bunga. Kita melenguh-lenguh melihat keringat berleleran di tubuh, dan kita buru-buru menggantinya dengan bergalon-galon air masuk ke tubuh kita. Membasahi kerongkongan kering kerontang.
Kita memalingkan wajah dari wajah-wajah nelangsa di jalanan terik. Sembari membiarkan matahari terus bergulir, tenggelam dalam kelam malam, dan muncul kembali di ufuk fajar keindahan.
Tuhan belum nampak jua. Dan kita berkeluh-kesah, bahwa Tuhan diam belaka, tak hendak sejenak pun menjenguk kita.
Di mana Tuhan, di mana Tuhan!
Hingga pita suara kita lecet dan serak, “Tuhan, aku membutuhkan pertolonganmu! Cash and carry! Please, come on,...”
Namun lagi-lagi, beribu sms, beratus email, berjuta status di fesbuk, milyaran huruf-huruf para ikhwan dan akhwat,lewat gitu saja dari mata kita.
Kita selalu ingin mengekstrak Tuhan, menjadi material beku, yang bisa kita sentuh setiap waktu, bagaikan patung-patung batu dari sejarah peradaban kita, bagaikan liontin pada kalung keimanan kita.
Namun, bersamaan itu pula, semakin kita kehilangan kepekaan, bahwa Tuhan senantiasa hadir, menyusup dalam ruang dan waktu, denyut nafas dan aliran darah kita. Kita, sering terlalu bermewah-mewah, bahkan dalam mencintai Tuhan pun, kita kehilangan kesahajaan, kesederhanaan, kerendah-hatian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar