Kamis, Desember 26, 2013

Doa Istighotsah untuk Ratu Atut Chosiyah

Setelah sempat menghilang beberapa hari, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah akhirnya muncul di hadapan publik. Ia hadir dalam pengajian yang digelar keluarga besarnya di Masjid Darussolichin, Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, Senin (7/10/2013) pagi. Ia meminta didoakan agar mendapat kelancaran dalam menghadapi ”musibah” yang sedang dihadapi keluarga besarnya.
Kontan berita ini langsung disambar di twitter dan fesbuk, dengan berbagai sinisme, sindiran, dan bahkan caci-maki. Apa yang salah dari yang dilakukan oleh Ratu Atut Chosiyah ini? Tak ada. Kalau pun ada yang merasa dikibuli, masyarakat diminta datang karena ini istighotsah untuk hut Banten (padahal pemprov Banten mengatakan tak ada acara itu). Namun tetap saja hamba Allah berdoa dan minta didoakan agar selamat, tak ada yang salah. Penipuan undangan, itu hal lain yang harus dinilai dari hukum tipu-menipu undangan.
Kenapa tak salah? Karena doa itu ibadah. Hamba Allah yang baik, berserah dirilah pada Allah yang kuasa membolak-balikkan hati dan hidupmu. Lha perkara apakah yang namanya TCW bisa lepas dari jeratan sebagai tersangka, dan apalagi tak jadi terdakwa, dan lebih apalagi tak jadi terpidana, itu soal lain lagi. Itu soal bagaimana sesuai keyakinan pasal-pasal pelanggaran hukum, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) bisa membuktikan tuduhannya dengan bukti, saksi, dan pengakuan (terdakwa). Demikian juga jika ternyata dugaan keterlibatan Ratu Atut Chosiyah tidak terbukti, dan bahkan tidak ada, itu juga soal lain lagi.
Tapi, jika meski sudah didoakan para ulama, jawara, Haji Arifin Ilham, dan sejenisnya, dan TCW akhirnya jadi terpidana, dan Ratu Atut Chosiyah ternyata juga bukan hanya dicekal, melainkan naik status jadi tersangka, terdakwa, terpidana, jangan salahkan doanya tidak makbul. Apalagi kemudian menuding ini kemenangan konspirasi zionis dan sejenisnya.
Allah pasti mendengar doa umatnya. Dan pasti mengabulkannya. Disesuaikan dengan hukum Allah juga, yakni tergantung bagaimana doa itu dipanjatkan sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Bahkan santet pun tidak akan bisa menakuti hakim yang memutus penghukuman dunia itu, sepanjang hukum Allah menginspirasi sistem pengadilan dunia. Yakni jujur, transparan, adil, berdasarkan fakta dan bukan rekayasa. Kalau santet duit, nggak jamin lho.
Saya inget, duluuu banget waktu ngasih duit seorang pengemis tua, dia mendoakan saya lulus sekolahnya. Mbok nganti njengking, doa pengemis itu tak akan dikabulkan, wong saya nggak sekolah. Itu sama persis dengan doa istighotsah anak-anak sekolah yang menghadapi UAN dulu, pensil 2B-dikumpulkan untuk didoakan. Biar bisa menjawab soal ujian dan lulus semua. Persis dongeng Cak Asmuni dulu, ketika bambu runcing para pejuang diberi ishim Mbah Kyai, biar ampuh dan selamat. Eh, waktu ditembaki bedil Belanda, pada mati juga.
Kenapa doa perlu dipanjatkan? Kata Gus Dur, karena doa tak bisa manjat sendiri. Agar bisa memanjat, lakukan dengan perbuatan dan amalan-amalan baikmu. Itu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar