Senin, Desember 02, 2013

Dialog-dialog Raja Monolog Kita, Belajar dari Kasus SS

Apakah topik kita hari ini di ruang-ruang maya? Masih tetap dari topik kemarin lusa dan kemarin hari? Makin kenceng? Di dunia maya, semua hal, semua topik yang biasa akan menjadi kelihatan sangat luar biasa, tapi masalah yang luar biasa juga bisa begitu terkesan sangat biasa saja.
Jangankan ruang-ruang maya, ruang publik kita dibangun dengan aneka rupa wacana. Ada yang pandai menghitung hingga trilyunan, namun ada yang tertatih dan terjerembab dalam hitungan belasan saja. Ada yang mampu menafsir goa-goa sunyi yang bergantungan di langit, ada pula yang sedang belajar alifbata dengan pen elektronik karena terbujuk iklan home-shopping di televisi. Ada yang,...
Dan tiba-tiba, semua itu dicemplungkan di kubangan yang sama, dipertemukan dengan anak kunci gadget yang sama, entah bernama handphone 3G multi visual, BB, atau handphone bikinan entah yang sekali banting dua-tiga pulau terlampaui. Maka kita melihat sebuah tragik komedi, ketika komunikasi itu lintang-pukang tak jelas ke mana arah. Yang terjadi bukan dialog melainkan berbagai judgment, penilaian, dengan menyeret-nyeret berbagai literatur dari kasanah masing-masing.
Yang pinter akan mencanggih-canggihkan kata. Yang bermoral akan memoral-moralkan wacana. Yang absurd akan lebih gila membuat masalahnya menjadi kian absurd dan akut.
Padahal, semuanya sesungguhnya sederhana. Yang membuatnya mbulet, lebih karena siapa berbuat apa. Sangat Indonesia, karena jargon kita selama ini bukan pada "apa" melainkan "siapa". Kita selalu merindukan hero dengan prototype pabrikan. Makanya dulu ada majalah berita dengan rubrik "apa dan siapa". "Siapa"-ya jauh lebih menonjol. Bukan pada "apa" yang kita katakan dan lakukan, tapi "siapa" yang mengatakan dan melakukan. Itu so sexy!
Jangankan soal yang canggih, yang basic saja, jika ada laki-laki belajar masak atau kecantikan, hal itu akan menjadi persoalan. Lelaki kok belajar kayak gituan? Siapanya jauh lebih penting daripada apanya.
Tidak yang di kampung-kampung becek, di udik-marudik, maupun yang baru pulang dari Sorbone ataupun Ohio. Apalagi kalau itu temen, kacau deh logikanya!
Di tambah, itu tadi, dalam dialog di ruang hampa, yang dibangun dengan monolog-monolog dari ruang dan waktu masing-masing. Belajar dari kasus Sitok Srengenge, kita memang mesti terus belajar tentang keadilan dari sejak kita berpikir, bahkan bagaimana berpikir tentang keadilan itu sendiri.

Lho, kok jadi inget Butet Kartaredjasa sang Raja Monolog itu ya? Hari ini, kamu lagi monolog apa dialog, Tet?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar