Kamis, Desember 26, 2013

Bung Karno, Hidup Atas Imagination dan Jiwa Besar

Saudara-saudara, djuga saja pernah tjeritakan di negara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa. Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia.
Bahwa manusia di dunia ini, Saudara-saudara, "basically", pada dasar dan hakekatnja, adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, "the makers of history". Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan, dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa di seluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa "world prosperity", "world emancipation", "world peace", jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia: bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika (terutama sekali di Amerika), Djerman, dan lain-lain dengan membawa rombongan. (Pada) rombongan inipun selalu saja katakan: Lihat, lihat , lihat, lihat! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini: Lihat, lihat, lihat! Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, "Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!"
Saudara-saudara dan rombongan: Buka mata! Buka mata! Buka otak! Buka telinga!
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal-hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu, terutama sekali di Amerika Serikat, apa jang saja katakan tempoh hari di sini "Hollands denken" tidak ada.
"Hollands denken" itu apa?
Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa "Hollands denken" artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara, "That is thinking penny-wise, proud and foolish," katanja.
"Thinking penny-wise, proud and foolish."
Amerika, orang Amerika berkata ini, " Thinking penny-wise", artinja hitung,... satu sen. Satu sen,... lha ini nanti bisa djadi dua sen apa ndak? Satu sen, satu sen,... "Thinking penny-wise,..."
"Proud": congkak, congkak.
"Foolish": bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah. Kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan "Hollands denken" itu.
Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir "penny-wise, proud and foolish" (secara gampangnya, 'hanya berfikir untung rugi', pragamatisme, ed).
Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian. Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa-bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian; mempunjai kesediaan menghadapi risiko; mempunjai dinamika.
George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara. Masja Allah! Itu bukan bikinan tahun ini; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara.
Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai imagination tidak bisa membikin Washington Monument.
Bangsa jang tidak mempunjai imagination, ja, bikin tugu ja "rong depa" ('a' dibaca seperti dalam kata "mall", artinya dua depa, dua kali panjang bentangan tangan, artinya 'amat pendek', ed), Saudara-saudara.
Tugu "rong depa" katanja sudah tinggi, sudah hebat.
"Pennj-wise " tidak ada, Saudara-saudara.
Mereka mengerti bahwa kita, atau mereka, djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai imagination. Imagination (jang) hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan, tetapi djangan djembatan jang selalu tiap-tiap sepuluh meter dengan tjagak (tiang, ed), Saudara-saudara.
Ja, umpamanja kita di sungai Musi.
Tiga hari jang lalu saja ini di tempatnja itu lho, Gubernur Sumatera Selatan, Pak Winarno di Palembang. Pak Winarno, hampir-hampir saja kata dengan sombong,
menundjukkan kepada saja "ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi."
Saja diam sadja.
"Sungai Ogan,..."
Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu.
Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan!
Kalau bangsa dengan imagination, zonder tjagak (tanpa tiang, ed), Saudara-saudara!
Tapi, sini beton! Tapi, situ beton! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu di bawah djembatan itu!
Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air, hingga limapuluh meter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar di bawah djembatan itu.
Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja,...
Imagination, imagination, imagination,...! Tjiptaan besar!
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur; (tapi sekarang, ed) kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!
Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan di dalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu "rong depa" (bangsa yang kerdil, ed).

Kutipan Tjeramah Presiden R.I., Ir. H. Sukarno di Semarang, 29 Djuli 1956

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar