Kamis, Desember 26, 2013

Belajar dari Indonesia

Syahdan, pada suatu ketika, presiden Megawati berkunjung ke Thailand. Ia bertemu dan kemudian bertanya pada Raja Bhumibol Adulyadej, "Kenapa pertanian di Thailand begitu maju?" Dengan santun Raja Bhumibol yang pernah belajar di IPB (Institut Pertanian Bogor) itu menjawab, "Saya belajar dari Indonesia,....!" Indonesia, memang selalu menjadi pembelajaran bagi siapapun. Termasuk bagi Obama, Hugo Chavez, Mahathir Muhammad, dan apalagi negara-negara di Afrika Selatan. Dan hasilnya? Negeri dan manusia pembelajar, selalu menjadi lebih baik, dibanding guru yang hanya berbekal talenta dan pemberian yang tak terawat.
"Lho, presidenmu 'kan lulusan IPB dengan gelar doktor dan cum-laude?" lain waktu Raja Bhumibol bertanya pada SW, yang tak sengaja menemuinya di Pasar Klithikan.
"Halah, sampeyan ini 'kan raja. Raja 'kan monarkhi, bukan berdasar demokrasi modern. Kami-kami 'kan budak teori modernisasi, pis deh!" entah siapa yang jawab, karena SW cuman diem saja.
Maka kemudian ramailah pasar klithikan yang menjual barang-barang bekas pakai (yang ternyata tetap bisa dipakai lagi) itu.
"Lho, katanya, di Inggris sudah ada parlemen, waktu Gajah Mada melakukan sumpah tan amukti Palapa?" tukas seorang penjual kaset bekas, "jadi, monarki ama demokrasi modern sama-sama ketinggalan jaman dong?"
"Ya, tapi 'kan kita berkarakter budak terjajah, dari Sabang-Merauke citarasa kita sama deh," sahut seorang penjual barang rongsokan, "dari soal makanan, sepatu, pakaian, hingga filsafat dan teori politik, luar negeri minded! Meski sama-sama jadulnya!"
"Ohhh, pantes, makanya yang mengiklankan diri jadi capres di TV itu kok pada cadel-cadel semua,..." kata penjual TV bekas.
"Yang mana?" tanya si penjual makanan bekas.
"Itu yang ngomongnya bareng tante Titik Puspa, syintailah floduk-floduk Endonesiaaah, haiyaaa,...!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar