Kamis, Desember 26, 2013

Air Kencing Pemimpin Besar Revolusi

Pada awalnya adalah panggilan pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi, pada tanggal 8 Agustus 1945. Terauchi sama sekali tidak menjelaskan apa maksudnya. Hal ini membuat Sukarno dan Hatta bertanya-tanya.
Berangkatlah para pemimpin Indonesia itu diiringi 20 pejabat tinggi militer Jepang. Pesawat yang ditumpangi Sukarno penuh sesak. Tapi tak ada yang mau bicara soal alasan pemanggilan tersebut.
Ternyata pertemuan Sukarno-Hatta dengan Terauchi di Dalath (kota kecil seperti Cipanas bagi Jawa Barat), Vietnam, ini sangat penting dalam sejarah Indonesia. Jepang mengaku tidak akan menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. Jepang sadar mereka sudah dikalahkan pasukan sekutu. Kondisi peperangan sama sekali berubah. Jepang sudah kalah habis-habisan dalam Perang Dunia II di Pasifik.
Alkisah, pulanglah Sukarno-Hatta dan kawan-kawan seperjuangan, ke Indonesia. Kali ini mereka tidak naik pesawat penumpang yang bagus seperti saat berangkat. Mereka naik pesawat pembom yang sudah rongsokan. Banyak lubang bekas tembakan di badan pesawat itu.
Hanya ada kursi panjang pada dua sisi dinding pesawat. Sebagian penumpang duduk di lantai pesawat atau berbaring. Tidak ada juga pemanas, sehingga para penumpang menggigil kedinginan. Parahnya, tidak ada juga kamar kecil.
Nah, yang jadi masalah, saat itu Sukarno ingin kencing. Dia berbisik pada Suharto, dokter pribadinya, "Aku ingin kencing. Apa yang harus kulakukan?".
Mendapat pertanyaan itu, Suharto pun bingung, tidak ada kamar kecil. Maka dia menunjuk bagian ekor pesawat yang penuh lubang bekas tembakan.
"Tidak ada tempatnya, jadi tidak ada jalan lain. Bung harus kencing di sana," kata Suharto.
Sukarno pun, seperti yang kemudian dituturkannya pada Cindy Adams dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat' (1970), melangkah perlahan ke bagian belakang, dan melampiaskan hajat.
Tapi, begitu Sukarno kencing, tiupan angin yang keras menghempas melalui lubang-lubang bekas peluru, mendorong balik air kencing Sukarno itu ke seluruh ruangan pesawat. "Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan air istimewa," beber Sukarno pada Cindy Adams.
Alhasil, saat mendarat di Jakarta, seluruh pemimpin bangsa Indonesia itu masih setengah basah, dan pesing, berkat siraman air kencing sang pemimpin besar revolusi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar