Jumat, Oktober 18, 2013

Rizal Mallarangeng, Manusia Biasa Saja, dan Bisa Salah

"Kali ini KPK salah. KPK itu juga manusia, manusia bisa salah, hanya Tuhan yang tidak bisa salah," demikian kutbah Rizal Mallarangeng mengomentari penahanan Andi Malarangeng, kakaknya, yang terbelit kasus Hambalang.
Jika kita memakai logika Celly (RM) ini, kita akan ikut sesat pikir. Pertama tentu maklumilah kegundahan beliau sebagai adik atau bagian dari marwah keluarga. Tapi mengatakan KPK adalah juga manusia, sama seperti ketika orang bersalah dan dirinya (atau pembelanya) mengatakan "kita manusia biasa, manusia biasa bisa salah, hanya Tuhan yang tidak bisa salah".
KPK tentu saja bukan manusia, semua orang tahu. KPK adalah Komisi Pemberantasan Korupsi, lembaga negara yang dibentuk dan dijalankan oleh suatu sistem, aturan, yang tentu saja dipikirkan dan dijalankan oleh manusia.
Pernyataan Celly me-nonsens-kan sistem yang ada di sana. Jika sistem bekerja dengan baik, dijalankan dengan taat aturan dan diawasi atau diaudit secara ketat, maka dari sanalah kita harus menilai atau mengukurnya. Bukan karena soal manusia atau bukan.
Kenapa menilai "lawan kepentingan" dengan dalil normatif, dan kehilangan keadilan serta daya kritis? Kita mengatakan, itulah manusia. Tapi pada mesin uang bernama ATM, kita percaya saja dan tidak cerewet ketika mengambil uang disana. Baru complain kalau kartu ATM kita ketelen, atau "lho, kok saldonya minus,..." Tapi toh itu semua akan bisa diurus (dengan manusia pegawai bank), jika semua datanya valid? Jika begitu, apa masalahnya? Sistem dan mekanisme yang teratur bukan?
Manusia bukan mesin. Karena itu, Akil Mochtar bisa berkata dia ke Singapura untuk menonton Formula One. Misalnya itu benar, itu pun tentu akan jadi persoalan (etik). Hakim agung, negarawan, nonton balap F1 ke Singapore? Nanti pasti ada yang menjawab; "hakim 'kan juga manusia biasa, butuh hiburan,..." Iyalah, kalau luar biasa, tentu tidak korup!
Bagaimana kalau kenyataannya, seperti pengakuan TCW yang disampaikan pengacaranya, bahwa Akil Mochtar memang bertemu dengan Ratu Atut di Singapura untuk membicarakan kasus sengketa Pilkada? Mana yang manusia dan mana yang bukan manusia?
Kilah manusia ini di sisi lain juga bisa untuk melecehkan fungsi manusia pada sebuah lembaga. Sebut contoh misalnya, ketika "lawan-lawan politik" atau pembenci Jokowi-Ahok. Setahun memimpin Jakarta, ada kritik bahwa keduanya tidak punya ide orisinal. Semua itu warisan Ali Sadikin, Sutiyoso, Foke, dan seterusnya. Tapi di sisi lain, kalau ganti pejabat ganti aturan, kita marah-marah. Hei, apa sih maumu? Adillah dalam berfikir.
Penilaian itu benar banget. Jokowi-Ahok pun terbuka mengatakan itu. Memimpin Jakarta itu mudah, wong semua sudah dipiikirkan bahkan sejak puluhan tahun lampau. Masalahnya, kenapa tidak berjalan dan tidak ada eksekusi? Orang disebut eksekutif karena dia bertugas mengeksekusi. Jika tak ada keputusan apapun, eksekutif macam apa?
Mindset kita tentang pejabat negara, mengidolakan dia bukan manusia tetapi dewa, manusia setengah dewa atau setengah malaikat.
Padahal, mestinya dari presiden, menteri, anggota parlemen, itu memang manusia biasa dalam konteks mereka bekerja sebagai manusia, di dalam sistem yang dipikirkan dan dibuat untuk kemaslahatan bersama. Itu saja. Jokowi-Ahok bisa jadi dicintai dan didukung justeru karena mereka manusia biasa, bekerja secara biasa, sebagai pekerja, sebagai pelayan.
Manusia biasa adalah manusia yang tidak complex. Sementara Celly tampak belibet banget dengan bahasa dan istilah-istilah, yang kesimpulannya sudah final, bahwa pihak lain salah. Itu pikiran kepentingan, sama seperti Amien Rais, dan para pengritik Jokowi-Ahok. Kecenderungannya sama, kehilangan perspektif, dan jadi tidak proporsional. Kelak, jika jaman peradaban ini makin computerized, akan lebih nyaman kita punya presiden berjenis robot?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar