Sabtu, Oktober 26, 2013

Mimpi-mimpi yang Tidak Terorganisasi

Semuanya dari kita bisa bermimpi, punya mimpi, bahkan mungkin sebagiannya pemimpi (tanpa n). Dan manusia merasa lebih mulia dibanding makhluk lainnya ciptaan Tuhan. Kita menuding karena hewan atau tumbuhan, tidak punya emosi, perasaan, pikiran, atau otak. Padahal, kapan pernah wawancara langsung dengan mereka? Kapan pernah dikasihtahu langsung oleh Tuhan?
Itula...h hebatnya manusia, suka mengklaim, padahal hanya mengetahui bahasa manusia, padahal tidak menguasai bahasa hewan dan tumbuhan, dan bahkan mungkin sangat tidak menguasai bahasa Tuhan.
Ketidakterbatasan dalam keterbatasan itu, adalah salah satu dari sumber kenapa mimpi menjadi ada, mimpi menjadi lebih indah dari kenyataan, mimpi menjadi sumber motivasi dan harapan. Bung Karno dulu senantiasa berkoar-koar, bermimpilah, bermimpilah, bermimpilah!


Para fesbuker se Indonesia Raya yang frustrasi dengan kondisi kepolitikan kita saat ini, mereka bermimpi sambil teriak-teriak, revolusi sekarang juga. Para jendral senior yang jengkel dengan pemerintahan SBY, dikabarkan juga bermimpi menggerakkan kudeta rakyat. Mereka yang gemar mendirikan rumah-rumah perubahan, memimpikan perubahan secepat-cepatnya. Tetangga saya, bermimpi tahun ini harus mengakhiri masa jomblonya, padahal itu ujarnya setiap kali memasuki bulan-bulan yang berakhiran ber-ber. Mimpi kita bisa menyelesaikan buku, naik gaji, pacar baru, nyetak duit sendiri, membunuh presiden, atau melakban mulut politikus busuk. Tapi celakanya, semua menjadi seperti nyanyian marhumah Diana Nasution, mimpi-mimpi tinggal mimpi,...!
Rumusnya sederhana, kenyataan memang (bisa datang) dari mimpi. Tapi, mimpi-mimpi tetaplah hanya bisa hadir dari kenyataan, untuk dinyatakan. Puncak tangga adalah puncak tangga semata, tetapi ketika kau injak anak tangga satu-persatu, kau bukan hanya akan memandanginya, melainkan memegangnya, menguasainya, merasainya.
Menyatakan mimpi itu mudah, ketika hanya di angan dan mulut. Tapi menyatakan dalam makna 'menjadikan nyata', harus dibangun dengan langkah-langkah nyata, langkah-langkah yang terorganisasi. Mengerti kemampuan diri (baik menyadari kelemahan, empan-papan, atau berkeras belajar dan menekuni), mengatur langkah dan menentukan tujuan, mengetahui route perjalanan untuk me-nyata-kannya. Semuanya itu membutuhkan 'EO' di dalam diri kita untuk mengaturnya, mengorganisasi agar satu-sama-lain bisa bekerja sama. Jangan seperti para politikus dan pejabat negara kita saat ini, tak punya mimpi dan tak bisa bekerja sama, itu sungguh-sungguh sangat buruk. Atau bisa jadi masing-masing punya mimpi, hingga satu-sama-lain tak bisa bekerja sama. Itu juga jika di dalam diri kita mempunyai begitu banyak mimpi, dan kita tak mampu mengorganisasikannya. Mana dulu nih, mimpi mengakhiri masa jomblo atau mimpi punya bra yang agak gedean dikit? Kalau yang terakhir itu mimpi seorang lelaki, perlu deh check-up ke psikolog.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar