Jumat, Oktober 18, 2013

Iklan Capres Bagaimana Membacanya?

Iklan politik yang banyak diputar di TV One, adalah iklan Capres ARB tentang ayahnya. Dikatakannya, Achmad Bakrie (1916 – 1988) adalah seorang pengusaha Indonesia, yang hanya anak petani dan hanya tamatan SR (Sekolah Rakyat, atau setingkat SD). Meski hanya tamatan SD, Achmad Bakrie bisa menciptakan lapangan kerja untuk puluhan ribu orang.
Lha, kalau hanya anak petani dan hanya tamatan SD saja bisa sesukses itu, masa iya "kalian" yang lulusan SMK (dan bukan anak petani) tidak bisa melakukan lebih baik? Kalau tidak bisa ('kan logikanya), Achmad Bakrie adalah orang hebat? Orang hebat, (pastilah) akan melahirkan anak yang hebat (yakni ARB), yang pantas sebagai capres. Begitu logika komunikasi yang hendak dibangunnya.
Begitu? Kayaknya tidak!
Achmad Bakrie menurut data sejarah, sekolah di Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ini sekolah pada zaman penjajahan Belanda, pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang, namun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs). Bedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dll.
HIS diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli (maka disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda). Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama pendidikan 7 tahun.
Pada sisi ini jelas bukan? Posisi sosial AB, berbeda dengan rakyat jelata yang kemungkinan dan aksesnya lebih kecil. AB mempunyai previlege dalam akses pendidikan karena status sosial orangtua, yang tidak semua anak mendapatkan. Benarkah AB anak petani? Kalau pun benar, bisa dipastikan bukan "petani" sembarangan. Bisa jadi tuan tanah, atau kaum modal.
Bisa bersekolah di HIS, jika dibaca dalam konteks masa itu, tentu posisi yang hebat. Jika membandingkan dengan lulusan SMKN jaman sekarang, jangan dalam pengertian membandingkan lulusan SD (sekarang) dengan lulusan SMKN (sekarang). Jangankan lulusan SMKN, bahkan lulusan Perguruan Tinggi sekarang pun, yang mampu menciptakan lapangan kerja tidak lebih 5% dari total lulusan perguruan tinggi.
Perbandingan yang adil, adalah buah pikiran yang adil. Adillah sejak dari pikiran, dan Anda akan tidak kelihatan bodo banget. Semoga kita cerdas membaca iklan, dan teliti sebelum membeli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar