Jumat, Oktober 18, 2013

Dialog Dua Ekor Tikus Got

"Beruntunglah kita jadi tikus, Beib. Tidak kayak sapi dan kambing itu. Kasihan mereka besok!"
"Beruntung gimana, Say? Di sini kita jadi simbol koruptor, tapi kita nggak pernah nikmati duit yang mereka korup."
"Itu salah kita, kenapa berumah di rumah orang miskin! Kalau berumah di rumah mereka, pasti kita nikmati hasil korupsi mereka 'kan, Beib?"
"Terus berumah di rumah Akil Mochtar? Rumah Atut Choisiyah? Rumah SBY? Baru nongol kumismu, bisa celaka kita, Say,..."
"Kan rumah mereka pasti bersih, Beib, aman,..."
"Tentu saja, Say. Rumah mereka bukan hanya dijaga Satpol PP, tapi juga Polisi, bahkan di Cikeas, dijaga tentara pilihan!"
"Ada CCTV-nya juga, Beib?"
"Ada 'lah, Say! Kalau langsung ditembak mati ngga papa, tapi kalau di-interograsi mereka itu lho, capek kita njawabnya. Lagian, makanan mereka pasti dimasukin ke kulkas, kulkas tujuh pintu, brrrrr, gimana masuknya?"
"Lha kalau kita jadi simbol koruptor, 'kan kita pasti punya kemampuan lebih dari koruptor, Beib? Kita pasti bisa nembus. Makanan mereka pasti enak-enak. Bosen tikus kok cuma makan tempe ama tahu mulu. Nggak keren!"
"Nggak keren gimana, Say? Di negeri ini, harga kedelai mahal, sementara harga mobil murah. Itu tandanya, makan tempe ama tahu itu lebih keren daripada makan mobil murah! Lihat, AM ama TCW, mereka beli mobil yang mewah, bukan mobil murah."
"Kalau AM 'kan sopirnya yang beli mobil mewah, bukan AM-nya. Kalau sopirnya bisa beli mobil mewah, AM-nya pasti gengsi beli mobil mewah. Lagian dia 'kan hakim yang agung, negarawan, Beib. Pasti soal dunia sudah beyond. Makanya dia kepilih jadi ketua MK. Sopirnya beli mobil mewah dia tenang saja. Enakan ngeganja, enjoy, Beib!"
"Terus kita protes pada siapa, Say?"
"Protes pada kartunis, atau ke Iwan Fals tuh. Mereka yang ngambingitemin kita jadi koruptor, Beib."
"Kita jadi ke Cikeas nggak, Say?"
"Nggak usah. Kita mengerati makanan manusia-manusia miskin saja, Beib. Rumah mereka lebih aman untuk kita,..."
"Lha, koruptor 'kan juga ngomongnya gitu, Say?"
"Tapi 'kan bahasa ama caranya beda. Lagi pula, mereka mesti sekolah dulu, sampai ke luar negeri, jadi doktor, Beib. Kita 'kan tikus got yang sejati, bukan manusia jejadian,...!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar