Sabtu, Oktober 05, 2013

Akil Mochtar dan Sang Kangguru

Akil Mochtar, dulu selaku juru bicara Mahkamah Konstitusi (Maret 2012), pernah mengatakan ide pemberian hukuman kombinasi, antara pemiskinan dan potong satu jari bagi koruptor. Alasannya, penjara dan bayar denda tak memberi efek jera.
Catatan Yusril Ihza Mahendra (September 2013) dalam kasus sengketa Pilkada Kediri, Akil Mochtar pernah berucap jika ada hakim MK terima suap, akan dia gantung di tiang gedung MK.
Kemudian kita tahu, pada 2 Oktober 2013, Akil Mochtar selaku Ketua MK, dicokok KPK dengan dugaan kasus penyuapan. Sehari kemudian, kita juga tahu AM ini dijenguk oleh isteri kedua. Dan tak lama kemudian, kita juga tahu, di ruang kerjanya ditemukan adanya ganja, ekstasi, dan obat kuat.
Apa yang ada dalam pikiran kita mengenai sosok AM, sebagai orang berposisi RI-9 di negara Republik Indonesia ini?
Karena jika sangkaan pada dia benar terbukti, belum lagi Reffly Harun pernah mengindikasikan kasus itu tiga tahun lampau, dan jika kita mendapatkan fakta lain: Banyak kepala daerah jejadian, yang kalah di pilkada tapi menang melalui rezim MK yang korup, betapa berbahayanya manusia ini. Berapa puluh juta rakyat dijahatinya?
Bagaimana mungkin ada manusia seperti AM di Indonesia yang pancasila? Mungkin saja. Persis dongeng sang Kangguru, yang setelah dibentengi pagar dari 10 hingga 40 kaki, tetap saja masih bisa lepas kandang. Semua bisa terjadi karena sang petugas lupa mengunci pintu kandang.
Kurang apa ketika proses seleksi dan saringan yang diperlakukan? Ternyata memang banyak kurangnya. Seleksi yang tidak fit and proper, pengawasan dan kontrol yang tak ada, serta kewenangan yang otoritatif dan tak bisa diganggu-gugat. Sudah demikian, pintu kandang juga tidak dikunci.
Dan celakanya, AM bukan kangguru. Dia manusia.
Jadi? Jangan mudah terpesona pada manusia, apalagi yang berlagak suci. Apalagi kemudian kita hanya tenganga dan ngedumel; "Kok bisa ya, 'kan dia doktor, 'kan dia rajin menyebut-nyebut Tuhan, 'kan dia,..."
Nilailah manusia dari tindakannya. Bukan latar belakang, apalagi status dan aksesorisnya. Apalagi cuma dari status di fesbuk, atau blognya. Siapa tahu, kita tak jauh beda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar