Jumat, Oktober 18, 2013

Agama Kepentingan Kita Apa?

Kalau seseorang, yang kebetulan menduduki jabatan tinggi dan terhormat, atau ia seorang yang terkenal, top idolatry, dipuja-puja banyak orang, kemudian melakukan korupsi, kesalahan, ketidakpatutan, atau aib; apa yang dikatakan para pemuja atau pembelanya?
Dia 'kan juga manusia!
Maka sering muncul kata-kata usang, bahwa rocker juga manusia, presiden juga manusia, ketua MK juga manusia, anggota parlemen juga manusia, rektor juga manusia, ketua parpol juga manusia, capres juga manusia, menteri juga manusia, fesbuker juga manusia. Dan seterusnya.
Apakah kita lupa, bahwa maling ayam juga manusia, copet juga manusia, pelacur Dolly juga manusia? Kenapa mereka tidak korupsi, atau maling duit negara?
Ya, tidak mungkin, jawab kita. Mereka 'kan bukan pejabat negara.
Kalau demikian, lantas kalau mereka beda dalam jabatan dan status, tetapi sama-sama manusia, di mana sesungguhnya persoalan kita?
Ikan hidup di air. Singa hidup di hutan raya (tentu manusia sajalah yang membuatnya hidup di kandang). Onta hidup di Arab (hanya kitalah yang mengandakannya di kebun binatang). Semua punya sistem, mekanisme, dan hukum masing-masing.
Namun kepentingan telah mengubahnya begitu rupa. Pemujaan kita pada manusia, apalagi pada pejabat negara atau pejabat publik, kadang tidak rasional dan tidak proporsional. Hanya karena dia telah menolong kita, memberi duit dan jabatan pada kita, atau karena kita seneng dengan dia karena satu ideologi dan sebagainya. Dan jiwa yang korup, pasti akan melemahkan daya kritis kita dengan iming-iming itu.
Kepentingan telah menjadi agama baru kita. Dan orang akan bertarik-urat soal ini, jika tak ada kepentingan, bagaimana kita bisa hidup? Tentu saja. Tapi bukankah artinya semua orang punya kepentingan? Dan kepentingan bisa tidak sama, atau bahkan bertabrakan?
Para nabi, para filsuf, para leluhur atau nenek-moyang kita, telah mengajari kita, bahwa kemutlakan semutlak-mutlaknya bukanlah milik manusia. Lihat saja Soeharto, lihat saja MK Indonesia, lihat saja nanti Atut Choisiyah, lihat saja nanti SBY dengan Pardem, dan seterusnya.
Apa kepentingan kita sebenarnya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar