Minggu, September 01, 2013

Jalan Politik Anies R. Baswedan

"Lalu, apakah saya harus menunggu semuanya sempurna, tata kelolanya, baru kemudian saya masuk? NO, itu namanya ceremonial leadership. Kita di-training dulu untuk apa? Menjadi fighting leadership. Kita ini ingin jadi petarung. Kita hadir untuk bertarung, kita hadir untuk ikut mendorong perubahan," demikian Anies R. Baswedan (ARB) menjawab banyak pertanyaan kenapa ia mengiku...ti Konvensi Demokrat.
Mohon maaf kepada para pendukungnya. Secara normatif, tampaknya benar adanya alasan itu, dan sah (namanya juga alasan politik, harus politis). Apakah yang dimaksud ceremonial leadership 'hanya' seperti itu? Ini perlu diskusi lebih dalam, dan sepertinya tidak. Sama tidaknya dengan definisi 'fighting leadership'. Dan menjadi agak mengherankan ketika ARB yang satu ini ingin menjadi petarung. Petarung yang seperti apa?
Dengan Indonesia Mengajar, ARB ini mempunyai reputasi yang luar biasa. Inspiring dan keren. Dan kita bangga ketika ia masuk dalam 100 anak muda berpengaruh di dunia. Tetapi, tidak dengan begitu saja semua reputasinya move on to presidential.
Hal yang tak dibicarakan dalam pilihan politik ARB ini, adalah soal moral politik dan (yang paling penting) psikologi politik. Moral politik, berkait yang dibilang 'tak ada yang sempurna di dunia ini', justeru mengapa memilih (dan dipilih) Demokrat? Pasti di sana ada pragmatisme pilihan, kenapa ini dan bukan itu. Sementara apa itu Demokrat, ARB ini tentu bukannya tidak tahu, dengan segala resiko.
Masalah pokoknya, dengan psikologi politik, secara teoritik ARB ini pasti sudah tahu kalkulasi dan akibat ikutannya. Dan dia menantangnya (termasuk dengan suka-rela menjadi bagian kampanye gratis bagi Demokrat, untuk mengerek elektabilitas partai yang ambrol). Apa tujuannya?
Seandainya 1. Demokrat tidak memenuhi presidential threshold, seandainya perolehan angka Demokrat dalam Pileg 2014 jeblog, apa yang akan terjadi?
Seandainya 2. Keputusan konvensi tidak memilihnya menjadi capres, apa sebenarnya yang menjadi target ARB ini?
Seandainya 3. Demokrat menang dan ARB terpilih menjadi capresnya, apakah ia akan melenggang sebagai calon tunggal (tak ada kompetitor)? Pertanyaan susulannya, apakah probabilitasnya memadai untuk 117 juta pemilik suara Indonesia, sementara kita tahu bagaimana kualitas politicking di Indonesia, dan apakah mayoritas 117 juta penduduk Indonesia yang punya hak pilih mengetahui dia 100 orang terkuat di dunia, dan apakah yang mengetahuinya juga akan memilihnya? Buatlah kalkulasi logis atas hal itu.
ARB sesungguhnya adalah generasi baru Indonesia yang pasti akan sangat mewarnai Indonesia kelak. Dengan gerakan Indonesia Mengajar, ia sebenarnya sudah menjadi faktor pendorong penting untuk melakukan perubahan, yang mungkin saat ini belum terasakan, tetapi 10-20 tahun ke depan, kita akan merasakan bahwa ia telah berjasa bertarung melakukan perubahan itu. Sedang dalam 'politik praktis' konvensi ini? Betapa para akademisi menjadi tidak sangat meyakinkan.
Fase 'ikut konvensi' bagi ARB ini, lebih sebagai test the water bagi dirinya. Dan itu sah saja, tanpa harus menyebut ini kepemimpinan seremonial atau jiwa petarung. 
Masalahnya, kalau Partai Demokrat mengadakan konvensi presiden, dan siapapun calonnya, apakah Anda kelak akan mencoblos partai ini pada Pemilu 2014? Itu dulu pertanyaannya.
Selamat bertarung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar