Minggu, September 22, 2013

Pak Tua SBY, Sudahlah!

Kita sering benar-benar merasa jengkel, benarkah hanya negara kita yang blangsak? Apakah negeri-negeri lain baik-baik saja? Di Amerika, Eropa, Jepang, RRC, Timur Tengah? Apakah di sana tak ada korupsi, kolusi, nepotisme, dan seabreg kedogolan pemerintahannya?
Itu urusan masing-masing tentu. Tapi, berita-berita media kita, disesaki dengan banyak hal negatif di dalam negeri. Siapa dalang dari semuanya ini? Tentu saja kepemimpinan nasional, karena semua pangkal persoalan dari sana. Apakah itu dari yang bernama Presiden, Wakilnya, para Menteri Kabinet serta orang-orang di sekitar presiden. Belum lagi para politikus, anggota Parlemen, para pejabat negara dan penyelenggara pemerintahan dari tingkat nasional hingga kelurahan.
Tak ada yang baik? Tentu saja ada, tapi bukan alasan untuk berhenti menyatakan bahwa yang buruk wajib dikritisi. Bukan karena benci, tetapi justeru ingin mengingatkan, apakah tidak ada niatan baik atau tidak mampu?
Yang kita lihat ketidakkonsistenan, dan itu bahaya paling awal dari kepemimpinan. Presiden selalu menekankan, agar para menterinya bekerja 24 jam. Itu artinya mereka harus bekerja keras. Tapi, tiba-tiba SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, 'menginginkan' Gita Wiryawan, Dahlan Iskan, dan juga Dino Patti Djalal menjadi peserta konvensi capres dari Pardem. Dan itu menimbulkan blunder tersendiri. Dalam politik, setiap langkah blunder, beranak-pinak pada blunder berikutnya. Akhirnya, secara moral politik, tiga orang itu didesak untuk mundur dari jabatannya. Supaya tidak terjadi abuse of power.
Dua orang sudah menyatakan siap mundur (Dino dan Gita, apalagi ketika yang terakhir gencar beriklan dan nampang di berbagai ruang publik sebagai Menteri Perdagangan, dengan anggaran mencapai Rp 50-an milyar). Sedangkan Dahlan Iskan, berkilah bahwa dia tidak akan kampanye, mau tetap bekerja sebagai menteri BUMN (yang tentu dalam komunikasi politik Indonesia = itu kampanye).
Ketidakkonsistenan SBY juga terlihat dalam soal 'membiarkan' (artinya membolehkan) Menteri Perindustrian meluncurkan proyek mobil murah. Sementara bagaimana dengan pencanangan 17 Paket Pengembangan Angkutan Umum untuk Mengatasi Kemacetan yang diumumkan pemerintah? Macet. Dan benarkah kata 'murah' pada mobil baru yang sangat didukung pemerintah dengan nama LCGC ini? Bagaimana dasar penetapan PPnBM-nya? Bagaimana kajian akademisnya? Bagaimana bisa dibilang 'murah' jika mobil ini harus minum pertamax, karena kalau memakai premium mobil bakal cepat rusak (kalau cepat rusak bukannya berarti mahal)? Pemakaian pertamax itu saja, sudah ambivalen dengan soal mobil murah, karena mobil dibeli tentu untuk digunakan, dan harus minum BBM. Kenapa BBM, kalau ini LCGC, kenapa bukan mobil tenaga surya, atau gas?
Sementara mengenai harga, dengan cara mencicil, maka yang bisa membeli adalah yang berpenghasilan per-bulan di atas minimal Rp 4 juta. Sedangkan mereka yang masuk golongan rakyat miskin, yang berpenghasilan maksimal Rp 2 juta, tidak akan mampu membelinya (meski mencicil dengan mengangsur atau mencicil dengan mata hampir keluar). Di mana mobil murah berekuivalen dengan rakyat miskin, yang katanya sudah 68 tahun Indonesia merdeka tak bisa beli mobil itu?
Isyu mobil murah, justeru muncul pada saat pemerintah gagal menangani permasalahan harga kedelai, harga beras, harga daging sapi, dan harga-harga lain yang lebih dibutuhkan rakyat dengan label 'murah', daripada soal mobil murah yang hanya trik dagang. Atau dalam hal mobil murah pun, juga ada istilah kartel dengan sebutan ATPM?
Tahun 2013-2014 adalah saat-saat utang luar negeri pemerintah dan swasta harus dibayar. Dollar lenyap dan rupiah tertekan. Tidak semua orang susah, karena yang menyimpan dollar bisa tersenyum. Pundi-pundinya naik, dan lumayan bisa untuk main-main politik pada 2014. Rakyat? Hanyalah deretan angka yang diotak-atik oleh para ahli ekonomi lulusan Amerika, yang hanya asyik pada persoalan makro, tapi tak pernah melihat perekonomian Indonesia selama ini selalu ditopang oleh mikro-ekonomi kita yang real.
Indonesia adalah negeri ke-empat terbesar di dunia (karena jumlah penduduk dan sumber daya alam negerinya). Tapi di tangan pemimpin yang hanya berpikir tentang diri dan kelompoknya, dan tak mempunyai imajinasi masa depan bangsanya, segala potensi itu dijualnya langsung ke luar negeri. Murah-murahan.
Maka, seperti lagu ciptaan Iwan Fals yang dibawakan Boomerang; "Pak Tua, Sudahlaaaahhhh,...!"

Minggu, September 01, 2013

Jalan Politik Anies R. Baswedan

"Lalu, apakah saya harus menunggu semuanya sempurna, tata kelolanya, baru kemudian saya masuk? NO, itu namanya ceremonial leadership. Kita di-training dulu untuk apa? Menjadi fighting leadership. Kita ini ingin jadi petarung. Kita hadir untuk bertarung, kita hadir untuk ikut mendorong perubahan," demikian Anies R. Baswedan (ARB) menjawab banyak pertanyaan kenapa ia mengiku...ti Konvensi Demokrat.
Mohon maaf kepada para pendukungnya. Secara normatif, tampaknya benar adanya alasan itu, dan sah (namanya juga alasan politik, harus politis). Apakah yang dimaksud ceremonial leadership 'hanya' seperti itu? Ini perlu diskusi lebih dalam, dan sepertinya tidak. Sama tidaknya dengan definisi 'fighting leadership'. Dan menjadi agak mengherankan ketika ARB yang satu ini ingin menjadi petarung. Petarung yang seperti apa?
Dengan Indonesia Mengajar, ARB ini mempunyai reputasi yang luar biasa. Inspiring dan keren. Dan kita bangga ketika ia masuk dalam 100 anak muda berpengaruh di dunia. Tetapi, tidak dengan begitu saja semua reputasinya move on to presidential.
Hal yang tak dibicarakan dalam pilihan politik ARB ini, adalah soal moral politik dan (yang paling penting) psikologi politik. Moral politik, berkait yang dibilang 'tak ada yang sempurna di dunia ini', justeru mengapa memilih (dan dipilih) Demokrat? Pasti di sana ada pragmatisme pilihan, kenapa ini dan bukan itu. Sementara apa itu Demokrat, ARB ini tentu bukannya tidak tahu, dengan segala resiko.
Masalah pokoknya, dengan psikologi politik, secara teoritik ARB ini pasti sudah tahu kalkulasi dan akibat ikutannya. Dan dia menantangnya (termasuk dengan suka-rela menjadi bagian kampanye gratis bagi Demokrat, untuk mengerek elektabilitas partai yang ambrol). Apa tujuannya?
Seandainya 1. Demokrat tidak memenuhi presidential threshold, seandainya perolehan angka Demokrat dalam Pileg 2014 jeblog, apa yang akan terjadi?
Seandainya 2. Keputusan konvensi tidak memilihnya menjadi capres, apa sebenarnya yang menjadi target ARB ini?
Seandainya 3. Demokrat menang dan ARB terpilih menjadi capresnya, apakah ia akan melenggang sebagai calon tunggal (tak ada kompetitor)? Pertanyaan susulannya, apakah probabilitasnya memadai untuk 117 juta pemilik suara Indonesia, sementara kita tahu bagaimana kualitas politicking di Indonesia, dan apakah mayoritas 117 juta penduduk Indonesia yang punya hak pilih mengetahui dia 100 orang terkuat di dunia, dan apakah yang mengetahuinya juga akan memilihnya? Buatlah kalkulasi logis atas hal itu.
ARB sesungguhnya adalah generasi baru Indonesia yang pasti akan sangat mewarnai Indonesia kelak. Dengan gerakan Indonesia Mengajar, ia sebenarnya sudah menjadi faktor pendorong penting untuk melakukan perubahan, yang mungkin saat ini belum terasakan, tetapi 10-20 tahun ke depan, kita akan merasakan bahwa ia telah berjasa bertarung melakukan perubahan itu. Sedang dalam 'politik praktis' konvensi ini? Betapa para akademisi menjadi tidak sangat meyakinkan.
Fase 'ikut konvensi' bagi ARB ini, lebih sebagai test the water bagi dirinya. Dan itu sah saja, tanpa harus menyebut ini kepemimpinan seremonial atau jiwa petarung. 
Masalahnya, kalau Partai Demokrat mengadakan konvensi presiden, dan siapapun calonnya, apakah Anda kelak akan mencoblos partai ini pada Pemilu 2014? Itu dulu pertanyaannya.
Selamat bertarung.