Senin, Agustus 05, 2013

Memaafkan Sebagai Kekuatan



Pernahkah Anda merasakan benci pada seseorang? Pernahkah seseorang berbuat salah, sehingga Anda sulit memaafkannya? Meskipun pada akhirnya dimaafkan juga, mungkin kita semua pernah merasakan, betapa sulit memaafkan seseorang.
Kebencian menarik kebencian, kemarahan menarik kemarahan, kebahagiaan menarik kebahagiaan. Dalam hukum ketertarikan, yang kita kenal dengan istilah law of attraction, Anda akan menarik lebih banyak perasaan yang dirasakan.
Pada saat Anda merasakan kebencian, kemarahan, hasrat balas dendam, maka Anda akan menarik lebih banyak perasaan yang diasakan itu. Kemarahan, kebencian, sikap negatif dan tidak memaafkan luka masa lalu, membuat kita hidup di masa lalu, bukan hidup dimasa sekarang.
Solusi terbaik dari sebuah kebencian, rasa balas dendam, kemarahan, dan sikap-sikap negatif lainnya, hanya satu kata yaitu memaafkan. Memaafkan membuat kita kembali ke masa sekarang. Jika kita tidak melepaskan sikap-sikap negatif itu, maka timbulah sebuah kemelekatan, dan kita tahu kemelekatan tidak akan mendatangkan kebahagiaan.
Tentu saja, memaafkan itu mungkin tidak semudah mengedipkan mata, tidak semudah menulis status di facebook. Apalagi kebencian luar biasa, dendam tujuh turunan, sakit hati pada pasangan, dan lain-lain. Dan ketika Anda tidak memaafkan, semua itu akan menjadi sebuah kemelekatan di dalam diri. Hanya orang yang kuat mampu memaafkan, kata Mahatma Gandhi.
Semua hal di dunia ini, membutuhkan proses. Begitu juga memaafkan. Sebagai manusia biasa, kadang kala kita juga berat melakukannya. Tetapi dengan proses pembelajaran, maka hal itu semakin mudah kita lakukan. Jadikan saja masa lalu sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Berawal dari kemauan dan belajar untuk memaafkan, maka kita juga akan mendatangkan kebahagiaan.
Mengapa Kita Sulit Memaafkan? Untuk menuju proses memaafkan, kita harus terlebih dulu menghentikan kenangan yang menyakitkan hati, yaitu dengan cara menumbuhkan kekuatan untuk melupakan. Mencoba melupakan kenangan menyakitkan, merupakan awal kita dapat mengampuni, dan mengundang kita untuk saling memaafkan.
Tidak realistik kalau kita beranggapan, bahwa memaafkan dapat menghilangkan perasaan marah. Kita tidak bisa menghapus masa lalu, tapi hanya bisa menyembuhkan rasa sakit yang ditinggalkannya. Ketika menuju proses memaafkan, perasaan dengki pelan-pelan akan hilang. Dengki inilah yang membuat kita tidak rela dan tidak ingin melihat orang lain bahagia.
Kembali kita sitir Gandhi yang menyatakan: Kalau mata dibalas dengan mata, maka seluruh dunia akan buta. Dendam tidak ada habisnya. Balas dendam tidak pernah memberi kita apa yang kita inginkan. Keadilan yang dituntut tidak pernah tercapai karena bobot sakit hati tidak bisa ditimbang, kecuali kita secara obyektif mampu berdamai dengan diri sendiri, dan bukannya mementingkan diri kita sendiri, yang sesungguhnyalah hanyalah salah satu partikel dari rangkaian kerumitan benar dan salah. Tentu saja, ini nasehat dalam konteks personal, bukan yang berkiat dengan kebijakan publik oleh pejabat publik, karena ukurannya, tentu berbeda.

Begitulah diri kita sebenarnya. Karena kita adalah garam dunia. Sekali pun kita suka bertanya, mungkinkah kita akan menjadi garam, bila kita tidak “mati”? Kita akan menjadi garam kalau berani kehilangan “sikap membela diri”.
Tanah yang subur, mudah dicangkul dan menyerap air apa saja. Tanah itu selalu siap untuk ditanam “biji-bijian”, yang menjadi benih tanaman untuk bertunas. Apakah kita ini siap menjadi biji gandum, biji rambutan, biji padi, yang siap ditanam?
Tanah itu bisa jadi hidup kita bersama, ada yang tandus, ada yang subur, ada yang dikelilingi semak berduri, atau seperti tanah di atas bebatuan, atau seperti tanah di pinggir jalan? Terhadap orang lain, kita dipanggil menjadi tanah yang subur, agar sahabatku bagaikan biji padi, siap bertunas, tumbuh dan berbuahkan bulir padi yang bermutu. Bagi diri sendiri, kita dipanggil untuk menjadi “biji” yang siap mati untuk ditanam, di manapun kita akan hidup.
Tuhanlah yang memberi hidup dan pertumbuhan kepada biji itu, dan kitalah yang dipanggil untuk saling merawat dan memupuk tanah kehidupan bersama. Semoga hari esok ada banyak kejutan, yang membuat hidup ini menjadi tanah yang subur bagi banyak orang! Semoga kita mau menjadi biji padi yang jatuh ke tanah dan mati, agar berlimpah buah padinya saat panen nanti. 

Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I'm not sure about the the universe (Albert Einstein)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar