Senin, Agustus 05, 2013

Lailatul Qadar: Apakah Engkau Mendapatkannya?



Sewaktu masih anak-anak dahulu, tatkala masih bersekolah di Sekolah Dasar, setiap bulan Ramadhan khususnya pada malam-malam sepuluh yang terakhir, teristimewa pada malam 27, baik oleh guru ngaji ataupun kata-kata orangtua, pada salah satu malam itu ada yang disebut sebagai malam Lailatul Qadar, dan sesuai dengan perkataan dari mereka, jika kita bisa bertemu dengan yang namanya malam Lailaitul Qodar tadi, kita akan menjumpai kayu-kayu, gunung-gunung dan segala penghuni alam semesta ini akan sujud dan pintu langit akan terbuka dan juga pada waktu itu segala permintaan akan dikabulkan. Dengan syair dari Taufiq Ismail, Bimbo punya lagu yang bagus mengenai malam Lailatul Qadar itu. Acil yang menyanyikan kalau tak salah.
Salah seorang teman saya, bertanya kepada guru ngaji kami, "Apakah kita bisa meminta sepeda?” 


Dengan spontan guru ngaji kami menjawab, “Bisa! Hanya saja jarang sekali orang mendapatkan waktu itu karena disebabkan mengantuk yang teramat sangat,...”
Pada malam-malam tersebut, khususnya pada malam 27 Ramadhan, kami tetap menyalakan lilin di sekeliling rumah ataupun obor dan mainan yang kesemua itu untuk menerangi perkampungan yang masih sedikit terjamah oleh listrik. Lagi pula, belum ada masjid di kampung kami, hanya di sebuah rumah pribadi dari guru ngaji kami.
Tak sebagaimana sekarang, jika saya pulang kampung, sudah ada beberapa masjid. Di kampung saya sendiri, baru satu masjid, tapi kampung sebelah sudah memiliki empat masjid. Orang-orangtua yang sekarang ini tampak alim, banyak merenung di masjid. Dari yang mengaji, berzikir, dan semua menghadap Mighrab, guna mengharap menemui sesuatu yang selalu dicari, yakni Lailatul Qodar.
Kebiasaan tersebut kini mewabah. Agak mengharukan juga, mengingat kampung saya dulu kampung pinggiran, abangan, dan tempat persembunyian segala macam profesi hitam. Dari maling, copet, pelacur, dan sejenis-jenis itu. Sekarang ini, anak-anak kampung sudah fasih berpakaian taqwa, dengan baju koko, peci, kopiah, jilbab dalam bentuk yang agak berbeda. Tak sebagaimana masa kanak-kanak saya dulu, yang paling-paling hanya memakai sarung, itu pun berfungsi sebagai selimut jika tidur.
Namun pula, setelah kita beranjak dewasa dan perjalanan hidup telah banyak dilewati dengan berbagai macam pergulatan dunia, berangsur-angsur pula kita menyadari, rasanya Lailatul Qodar itu tidaklah pernah kita temui, dan kitapun mulai curiga akan perkataan orang-orangtua serta guru ngaji kami dulu.
Kita, setidaknya kami, atau tepatnya saya, tidak pernah menemui yang namanya gunung dan kayu-kayu sujud, apalagi rumah yang sujud itu seperti apa. Dan ironisnya, melihat orang yang sujudpun kadang kita menjumpai hal yang langka, kecuali di langgar (mushalla) yang ukurannya sama sekali tidak sebanding dengan jumlah penduduk di sekitar masjid sekarang ini.
Dalam hati kita mulai curiga, kepada yang menerangkan kepada kita, akan hal-hal aneh yang tidak masuk akal itu. “Apakah benar ada Lailatul Qodar itu?”
Seorang teman saya, yang dulunya penyair tapi kini menjadi ustadz, dan memiliki sebuah pesantren, menuturkan cerita berikut:
Suatu ketika, Umar Bin Khattab berjalan dengan tergesa-gesa, sambil menenteng pedang terhunus, dan di tengah jalan ia dicegah oleh seseorang sembari bertanya, "Hendak kemanakah kiranya kamu, hai Umar?"
Umar langsung menjawab, “Saya mau mencari Muhammad, dan akan membunuhnya, karena dia telah banyak menyesatkan banyak orang dengan dakwah-dakwahnya,...."
“Sebaiknya, sebelum kamu membunuh Muhammad, ya Umar, alangkah baiknya jika engkau menemui saudara perempuanmu dulu, sebab saudara perempuanmu itu pun telah ikut ajaran yang dibawa oleh Muhammad.”
Segera Umar membalikkan tubuh, menuju rumah saudara perempuannya.
Sesampai di rumah saudara perempuannya, tanpa basa-basi, Umar langsung menendang pintu, dan melihat adik serta suami adiknya sedang belajar (membaca) sesuatu.
Ketika melihat Umar datang, adiknya langsung menyembunyikan tulisan dari kulit unta tersebut, ke balik bajunya. Namun, Umar melihat, dan tanpa banyak bicara langsung membanting adik iparnya, serta kemudian mencengkeram adiknya, “Apa yang kamu baca, dan apa yang kamu sembunyikan di balik bajumu?”
Adiknya menjawab, “Itu ayat Qur’an, dan abang tidak boleh membacanya, karena abang masih musyrik dan masih najis,..."
Tanpa peduli ucapan adiknya, Umar langsung menempeleng bibir adiknya hingga pecah, dan segera menyentakkan buku dari tangan adiknya.
Buku itu dibuka oleh Umar, dan dia menemukan ayat yang tersurat dilembaran buku tersebut, yaitu pangkal Surah Thaha ayat 1-4:

1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk menyusahkan dirimu,
3. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

Badan Umar bin Khatab langsung gemetar, karena serasa yang dibacanya tadi dicurahkan khusus untuknya. Segera Umar tertunduk lesu, dan sambil berpegangan ke dinding rumah, ia bertanya dengan suara pelan kepada adiknya, “Dimana Muhammad sekarang berada?”
“Kami tak akan mengatakannya kepadamu,” jawab adiknya.
“Tolonglah katakan, Saya mau masuk Islam,...”
Dengan perasaan riang gembira, kedua adiknya langsung mengucapkan, “Allahu Akbar,...!” serta menunjukkan kepada Umar, bahwa Kanjeng Nabi berada di rumah sahabat Arqom bin Arqom.
Demikianlah Umar bin Khattab, pada awal Islamnya. Sebagaimana kita ketahui, Umar bin Khattab adalah Seorang pemimpin umat yang bisa menggabungkan antara Ulama dan Umaro.
Bila kita menilik kepada sekitar kita ataupun jika kita membaca sejarah, banyaklah lagi yang kita temui perjalanan hidup seseorang seperti Umar bin Khattab tadi. Pada mulanya, orangnya jahil, dan tiba-tiba oleh kekuasaan Allah, orang tersebut langsung berbalik menjadi orang besar, dan Ulama. Ia diberkati, sebagaimana panjang lebar diuraikan dalam Surah Al-Qodr. Pada malam itu, malaikat turun bersama ruh, dan juga malam itu lebih mulia dan lebih baik, dari pada seribu bulan.
Hati yang tadinya sekeras batu, dan sanggup membunuh anak perempuannya sendiri, akhirnya menjadi apa yang selalu kita sebut dengan hulafa’urrosyidin. Inilah satu detik yang mengubah hidup.
Saya mempercayai, itulah lailatul qadar bagi Umar bin Khatab, dan memunculkan premis berarti Lailatul Qodar tidak hanya bisa dijumpai pada malam-malam bulan Ramadhan. Hal seperti itu akan kita dapati juga pada waktu-waktu lain, jika kita benar-benar masuk (ke inti) sebagaimana disebut Allah dalam surah Al-Baqarah, "Masuklah kamu ke dalam Islam dengan sebenarnya, dan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah Syetan, karena ia musuhmu yang sangat nyata."
Hanya saja pengalaman rohani kita kadang sulit untuk diceritakan kepada orang lain. Imam Al-Ghozali pernah berkata, “Seandainya saya ceritakan kepada kalian, apa-apa yang saya rasakan, pasti kalian akan menuduh saya orang gila,...” Bukan karena ketiadaan atau tumpulnya logika, namun karena soal kepentingan dan keyakinan yang berbeda.
Dunia ini perlu, dan sangat perlu, meski memang sebagaimana kebanyakan dari kita, merasakankan sendiri, betapa susahnya untuk mengurusi masalah duniawi ini. Namun meski demikian, sebagai hamba Allah yang paling sempurna, adakah kita telah adil dengan mengabstraksikan dunia ini seolah tanpa batas, sementara hidup kita berbatas?
"Janganlah dunia ini (harta dan keluarga), menghalangi kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa yang memperbuat demikian maka termasuklah dia orang yang merugi" (QS: Al-Munafiqun Ayat 9).
Meski, memang, lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, yang tidak ada lailatul qadar dan pendapat paling kuat bahwa ia terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23,25,27, dan 29, sebagaimana firman Allah yang artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS.al-Qadar :3). Namun, tidak ada matematika dalam keyakinan itu.
Dalam sunyi i’tikaf kita di malam-malam Lailatul Qadar, seberapa yakin kita menyatukan antara pikiran dan rasa kita. Bukan "sekedar" i'tikaf dalam istilah syar’i, yang berarti berdiam di masjid, untuk beribadah kepada Allah dengan cara tertentu, sebagaimana telah diatur oleh syari’at. Namun i’tikaf yang dalam makna berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri.
Jangan pantaskan diri kita tidak menerimanya, sekiranya kita bersungguh-sungguh meyakini. Karena sedang pada diri kita sendiri, kita sering tidak bisa mengerti, apalagi mengurusi keimanan orang lain, sementara Allah hanya memberikan batasan yang sederhana, ialah berbajik-bajik padanya, dengan 'n' besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar