Kamis, Agustus 01, 2013

Kebenaran Inti Religiusitas Bung Karno



Dalam sidang pengadilannya, yang kemudian dikenal dalam 'Indonesia Menggugat', Bung Karno pernah membuat terperanjat Mr Siegenbeek van Heukelom, di Landraad Bandung tahun 1930. “Ik ben een revolutionaire” (Saya seorang revolusioner), tegas Bung Karno. Tetapi katanya kemudian, “Ik werk niet met bommen en granaten” (Saya bekerja tanpa bom dan granat).
Hakim kolonial itu sangat kaget, karena Bung Karno menyebut bahwa Yesus adalah seorang yang revolusioner, meskipun Ia bekerja tanpa kekerasan. “Revolusi”, kata Bung Karno, adalah “eine Umgestaltung von Grundaus” (perubahan sampai ke akar-akarnya), baik dalam hal politik maupun dalam ajaran keagamaan. Apalagi Bung Karno kemudian di luar kepala dapat menghapal Injil Yohanes Pasal 1 dalam bahasa Belanda.
Sebagai seorang Muslim, Bung Karno meyakini petunjuk-petunjuk wahyu dalam Al Quran dan Hadits, tetapi ayat-ayat suci berbagai agama tersebut juga turut memperkaya spiritualitasnya. Hal itu dapat dimengerti, sebagaimana ditulis Cindy Adams, karena kesadaran Bung Karno, bahwa kebenaran itu tunggal dan satu-satunya suara kemanusiaan adalah Kata dari Tuhan (Sukarno An Autobioghraphy, 1965).
Menariknya, seperti diungkapkannya sendiri, spiritualitasnya yang begitu luas dan “melintas batas” agama-agama itu, lahir dari “mi’raj-nya dunia pemikiran”, sebagaimana pendakian seorang salik juga disebut “uruj mir’raj”. Hua al-khuruj ‘an kulli syai’in siwallah (Keluar dari segala sesuatu yang bukan Allah). Bung Karno memakai ungkapan sejajar, “Saya naik ke langit, mi’raj dalam dunianya pemikiran. Bung Karno, in the world of the mind, bertemu dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Thomas Jefferson, Garibaldi, Mustafa Kemal Atarturk, Mustafa Kamil, Karl Marx, Engel, Stalin, Trosky, Dayananda Saraswati, Krisna Ghokale dan Aurobindo Gosye,..."
Dan, ketika ia mendarat ke bumi Indonesia, ia menghadapi kenyataan-kenyataan bangsanya. Di situlah ia mendapatkan sebutan itu, the founding father of the nation. Orang boleh menghina-dina Pancasila, namun proses penemuan perumusan nilai-nilai dari ke-lima sila itu, bukan hanya proses intelektualitas seseorang, melainkan proses spiritualitas yang berdarah-darah.
Memang hari-hari terakhirnya, Bung Karno harus menjalani via dolorosa (jalan sengsara) di sebuah “karantina politik”. Sendiri dan sepi. Sebagaimana Sutasoma, Bung Karno justru menyerahkan dirinya sendiri, rela tenggelam demi keutuhan bangsa dan negaranya. “Cak Ruslan, saya tahu saya akan tenggelam. Tetapi ikhlaskan Cak, biar saya tenggelam asalkan bangsa ini selamat, tidak terpecah belah”, tegasnya kepada Ruslan Abdulgani dalam salah satu tulisannya.
Masih menurut Cak Ruslan, Bung Karno terakhir kali menerima delegasi mahasiswa dari GMKI dan PMKRI tahun 1967. Pada waktu itu Bung Karno mengutip Yesus: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Juga, “Mereka akan menyesah kamu, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja” (Injil Matius 10:16-18).
Maka Bung Karno menempuh jalan ahimsa (tanpa kekerasan), ketika drama pengalihan kekuasaan itu bahkan hanya berlangsung 2-3 babak saja. Semua berjalan begitu cepat dan rapi. Sang Penyambung Lidah Rakyat pun akhirnya tenggelam, meskipun Orde Baru yang “menjambret” kekuasaannya tidak pernah mampu menguburkan pengaruhnya yang besar. Demikian jiwa kenegarawanan Bung Karno. Sejarah juga mencatat, dengan spiritualitasnya yang lapang, terbuka, inklusif dan toleran itu, Bung Karno telah berhasil mempersatukan bangsa yang majemuk ini menjadi satu.
Tapi kini, di tengah-tengah fenomena politisasi agama pada tahun-tahun terakhir ini, kita diingatkan dengan semboyan kaum sufi yang kiranya dapat kita terapkan untuk Bung Karno: “ash Shufi laa madzaba lahu ila madzab al-haqq”, seorang sufi tidak mempunyai religi kecuali religi kebenaran, dengan K besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar