Rabu, Agustus 07, 2013

Cobalah Idul Fitri Setiap Hari



                                        -Kepada Setan yang Lumer


Cobalah Idul Fitri tiap hari, pasti ‘kan asyik rasa hati
Karena tiap hari pula, masjid ‘kan slalu penuh
Dan setiap kali pula, kau ‘kan lihat mulut berbusa-busa
Menderetkan alifbakta, dengan kefasihan luar biasa, terbata-bata
Sementara, di jalanan, kemeriahan hura-hura extravaganza
Pesta kuliner aneka rupa, dengan aneka rasa, juga aneka dusta
Berbondong kita, ngiler aroma itu, dan mampu menundanya
Hingga mahgrib tiba, meski tinggal makanan sisa
Karena jauh sebelum bedug, segala selera selesai sudah
Masuk kerongkongan ketika kita tak merasa perlu
Untuk membatalkan puasa, meski bibir masih kerontang

Cobalah Idul Fitri tiap hari, pasti mempesona karena Tuhan bercahaya
Tak sebagaimana sebelum dan sesudahnya, pesta-pora penggoda
Menjadi hiasan kalbu, sekali pun masih juga sibuk ritual rutiniah
Seolah tanpa pause, dan kau begitu suka-cita, karena dibebaskan
Aneka kewajiban, termasuk dzikir malam-malam Lailatul Qadar.
Pernah kau dengar ketika rembulan di tangan kiri dan matahari di kanan
Tak bisa membuyarkan dongeng itu karena ketakutan kita dikira jumawa.
Hingga kemudian, kau bilang, betapa nyamannya mabuk Allah
Dan mulutmu berbuih-buih dengan mata terbang ke langit putih.
Kemudiannya, kita merasa suci bersujud syukur, dengan air mata
Kepada siapa kita tak tahu, dan juga mungkin, tak peduli

Cobalah Idul Fitri tiap hari, pasti para bakul dan pelawak ‘kan suka
Saatnya menangguk rejeki, sembari beramal dan bersedekah kasihan
Kamu kemudian tersipu malu, ketika kepergok malaikat sakti
Dan minta berbagi nikmatnya dunia, sembari kau kayalkan sorga
Di radio, di televisi, di ringtones, atau pun di segala ketik reg spasi
Orang-orang menjanjikan ridhla Allah dan jadi calo-calo kebaikan
Ayat-ayat Quran mendenging-denging, bagai lebah terkunci di lubang angin
Ah, betapa sucinya wajah dosamu, penuh kasih sayang dan kesalehan paripurna
Di balik segala baju koko, sarung gajah bengkak atau pun sajadah Mesir pula
Kerudung Sinustika nan salihah, wahai Allah Maha Resah
Matahari basah kuyup, dan dzikirmu tak putus-putus bagai penyanyi rap yang epilepsi

Cobalah hentikan igauanmu, dan tidurlah.
Di seberang Idul Fitri, dengarlah tangisnya, sang setan durjana
Betapa ia merasa tak lagi berguna, karna manusia lebih paripurna
Hingga ia kemudian tuna-karya, mau ngerjain apalagi, hanya karena
                manusia tak butuhkan lagi tuntunan darinya.
                
                Edan ‘kan?
                Dasar setan!

                (Begitu maki setan yang lumer, pada manusia,…)

                Ia pun kemudian bertobat, dan mulai membaca alifba'ta

                Kemudian, sang manusia pun menggodanya, agar
                Sang setan sudi bersekutu dengannya.


Yogyakarta, 14 September 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar