Selasa, Agustus 06, 2013

Centhini, dan "Sex, Lies, and Videotape"



Ingat tokoh bernama Ann Uskup Mullany, yang menikah dengan John dan belum pernah mengalami orgasme sepanjang perkawinan yang berujung pada tuntutan cerai? Pertanyaannya bisa diperpendek sih, pernahkah Anda nonton film “Sex, Lies, and Videotape?” besutan Steven Soderbergh (1989) ini?
Jika tak ingat dan belum pernah nonton, baiklah saya simpulkan, film pemenang Palme d’Or di Cannes yang sangat berpengaruh dalam revolusi gerakan film independen awal 1990-an ini; sebuah film yang (dimainkan antara lain oleh Andie McDowell dan James Spader itu) menceriterakan bagaimana orgasme dalam sebuah perkawinan adalah penting. Itu yang kemudian mengundang masalah, ketika muncul lelaki lain, Graham, yang juga mengalami hal sama. Juga dengan kehadiran “rekaman video tape”, kebohongan yang pelan-pelan, yang pada dasarnya demi orgasme itu juga. Betapa penting banget yang bernama orgasme itu.

Dan sayangnya, baik Ann, John, atau juga Graham dan Elizabeth dalam film itu tidak pernah membaca Serat Centhini. Sungguh sayang banget. Karena, kalau saja mereka mau tekun membaca Serat Centhini, banyak bertebar ajaran tentang sex, yang bahkan tidak kalah seru dengan sastra dunia. Menurut Ibu Elizabeth D. Inandiak, yang pernah menerjemahkan beberapa pethilan Serat Centhini dalam bahasa Perancis, bahkan disebutnya tak ada sastra Eropa yang membicarakan sex begitu detail bahkan sampai ke pemahaman mistik.
Dalam budaya Jawa diajarkan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik, maka proses awal penciptaan juga harus baik, dan dengan restu Tuhan sebagai Sang Maha pencipta. Demikian pula dengan proses hubungan seksual. Untuk dapat berhubungan seksual dengan baik maka dibutuhkan pengetahuan mengenai segala hal tentang seks. Pengetahuan mengenai hubungan seksual sangat dibutuhkan karena akan berhubungan dengan kehidupan selanjutnya. Jika prosesnya sudah salah, maka akibat yang ditimbulkan akan buruk.
Dengan pengetahuan yang memadai, maka diharapkan orang dapat berpikir lebih jauh mengenai hubungan seksual, sehingga tidak melakukannya dengan sembarangan karena akibatnya sangat fatal bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Akibat yang fatal tersebut, muncul pada keadaan masyarakat sekarang. Banyak orang mulai melakukan hubungan seks tanpa mengindahkan norma serta etika, munculya masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat, sepeti pemerkosaan, semakin banyak anak-anak terlantar hingga terjadinya peningkatan kriminalitas, bahkan sampai pada tindak korupsi, induvidualitas, dan lain sebagainya sebagai dampak dari selangkangan. Beberapa kyai Jawa, bahkan dengan bahasa vulgar mengatakan, “ubenging donya iku marga saka selangkangan”. Dunia berputar karena masalah sex. Dalam serat Nitimati dituliskan “yen anglaras, penggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas.”
Di dalam Serat Centhini, ada banyak membahas tentang tahap-tahap perjalanan seseorang saat mengalami ekstase. Yaitu sebuah kondisi spiritual saat seseorang mengalami dekat dengan Tuhan. Serat babon tanah Jawa yang terdiri dari 12 jilid ini, bukan hanya membahas malam-malam pertama dalam ranjang Syekh Amongraga dan Tambangraras, melainkan juga berbagai tokoh anonim yang betualang dalam perilaku sexual paling kontroversial pun. Bagian-bagian Centhini edisi hard-core ini, yang menyebabkan kitab ini disebut Kamasutra Jawa. Padahal, tentu saja beda. Kalau Kamasutra (India) adalah buku petunjuk bersenggama, Serat Centhini hanya membuat sex sebagai bagian dari kehidupan (masih banyak tema lain dalam serat ini, seperti kuliner, politik, melatih kuda, herbal, kecantikan, bahkan sampai sejarah Budha dan Nabi Isa, Jesus, pun muncul di sini).
Tapi, model ensiklopedis yang dituturkan itu, membuat pengisahan sex di Serat Centhini lebih smooth sifatnya. Bahkan dalam bagian-bagian yang menceriterakan petualangan Raden Mas Cebolang, intercouse manusia itu bisa sangat beragam, perempuan dengan perempuan, lelaki dengan lelaki, three-some, bahkan party-sex, dengan berbagai gaya super bebas, sampai ke kandang sapi segala. Bukan hanya tentang male-chauvinisme, tetapi juga mengisahkan seorang janda hyper-sex yang tiap hari membutuhkan tiga lelaki sekaligus untuk tiga kali permainan pada pagi, siang, malam.
Bagaimana fenomenalnya Serat Centhini, karena ia ditulis pada tahun 1814-1823, dan film bokep kelas hardcore paling jorok buatan masa kini pun, harusnya tak perlu malu mengakui bahwa kitab klasik ini bisa menjadi sumber referensi yang keren (wah, kok malah kasih ide jorok)!
Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala. Termasuk apa yang kemudian dilakukan oleh KGPAA Amangkunagara II, ketika itu (1814), dan kelak kemudian diteruskannya ketika beliau naik tahta yang pendek, selama tiga tahun, hingga wafatnya setelah usai dirampungkannya penulisan Serat Centhini (1823).
Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang, antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas. Justru karena itulah serat ini menjadi termasyhur, bahkan di kalangan para pakar dunia, dan terutama jadi unduhan anak-anak muda di dunia maya, dan sayangnya, tak ada yang menguraikannya dalam bahasa yang dimengerti. Karena karya sastra hanyalah bisa dinikmati jika ia dibaca dari karyanya itu sendiri (bukan gubahan, bukan resensi, ihtisar atau rangkumannya). Itu sebabnya, setelah 200 tahun lalu dituliskan, maka munculnya Serat Centhini Dwi Lingua (yang memuat teks aseli dan transliterasinya ke bahasa Indonesia), akan sangat membantu generasi kini untuk membacainya.
Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan. Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari, bisa dengan sangat lugasnya dalam Serat Centhini. Masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling.
Sangat berlawanan dengan etika sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks. Masalah seksual diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus. Menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, gaya persetubuhan, dan lain-lain. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme (sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan).
Dalam Centhini II diuraikan dengan gamblang soal "ulah asmara" yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi. Atau dalam jilid yang lain, diuraikan secara blak-blakan bagaimana gaya persetubuhan, serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.
Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima, kepada lelaki.
Masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. "Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya Bulan --ini berdasar pada kalender Jawa. Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama.
Karena itu, dalam beberapa hal, pihak keraton dan para penyangga kebudayaan luhur, sering menuding bahwa Serat Centhini adalah kitab kotor, yang tak pantas menjadi bagian kebudayaan Jawa. Kontroversi itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Namun, sebagaimana tekad Pakubuwana V waktu itu, ketika hendak menulis Serat Centhini, kitab ini memang ditujukan untuk anak muda jamannya, dengan bahasa populer, yakni kepada generasi dari suatu abad kebodohan dan kemiskinan setelah Surakarta digoyang oleh berbagai perang dan krisis ekonomi.
Dan Serat Centhini, apalagi dalam bentuk tembang, benar-benar menjadi sumber referensi penting dan paling populer waktu itu, hingga bisa melahirkan 12 versi lisannya. Sebagai karya ensiklopedi yang unik, maka Pakubuwana V patutlah dikagumi sebagai komunikator ulung, yang mampu memberikan pegangan bagi rakyatnya waktu itu. Bahkan, dengan daya kreativitasnya yang luar biasa, dia juga menyodorkan kenyataan, bahwa dalam soal erotika, sex, manusia Jawa membuktikan mempunyai sejarahnya sendiri, bahkan seperti kata Inandiak, tidak ditemukan dalam sastra Eropa, atau pun dalam film Soderberg yang dibilang sangat erotic dan artistic itu.
Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya.
Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid.
Namun berbeda dengan Kamasutra, seksualitas dalam Serat Centhini tidak dituangkan dalam bentuk panduan langsung seperti buku manual, melainkan dijalin ke dalam rangkaian plot yang berwarna-warni. Fragmen-fragmen kecil yang sungguh sangat menggoda, untuk sebuah buku sebanyak 12 jilid dengan rata-rata per-jilid 300-an halaman.
Adegan seks dalam Serat Centhini barangkali lebih vulgar daripada stensilan porno, atau pun video bokep versi hardcore. Namun cara penggambarannya yang deskriptif, justru terasa orisinal, segar, sering lucu, sesekali hiperbolis, dan benar-benar kita tak habis pikir, bagaimana bisa?
Gaya penceritaannya khas orang Jawa, blak-blakan dan mengena, kadang bikin kita geleng-geleng kepala. Sekilas pandang, tampaknya stereotipe gender tentang seks didobrak oleh Serat Centhini, yang terlihat dari tokoh-tokoh wanita yang mengidap deviasi seksual (hiperseks dan eksibisionis) dan beberapa kali digambarkan bahwa wanita bisa menjadi inisiator hubungan seksual. Bahkan, ada kisah janda kaya yang haus sex dan selalu membutuhkan korban dengan tiga lelaki sekaligus, sesuatu yang tak terbayangkan muncul dalam imajinasi seorang raja Jawa.
Tentu saja, kita tidak bisa sembarangan mengambil kesimpulan tergesa, mengingat penulis Serat Centhini adalah pria dan apa yang ditulisnya bisa jadi fantasi belaka (seperti wanita yang menggemari fiksi cinta sesama pria dan pria menyukai adegan wanita bercumbu dengan sesamanya). Namun bagaimana pun, sekali lagi, lebih tak terbayangkan itu muncul dari fantasi seorang raja Jawa, dan dituliskan, dan disampaikannya secara terbuka kepada rakyatnya.
Serat Centhini juga merupakan satu-satunya naskah kuno yang menggambarkan hubungan homoseksual (penetrasi anal) dengan deskriptif. Ini membuktikan bahwa homoseksualitas sudah ada sejak berabad-abad lalu di Indonesia.
Mau tahu resep ala Serat Centhini dalam menyembuhkan penyakit kelamin? Meski sunggu sama sekali tidak terjamin secara medis, untuk menyembuhkan sakit gonorrhea itu, disebutkan dalam Serat Centhini, masukkan saja penis yang sedang ereksi ke dalam liang vagina kuda betina yang sedang menstruasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar