Rabu, Agustus 14, 2013

Bung Karno, Dongeng Menjelang 17 Agustus



Sebentar hari lagi, kita akan memperingati proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Sukanro pada 17 Agustus 1945. Mari membaca sejarah sejenak.
Jika beberapa tahun lampau Gus Dur meninggalkan Istana Negara hanya bercelana kolor, kisah terusirnya Sukarno dari Istana jauh lebih dramatis, tapi jauh pula dari kesan peristiwa teater.
Syahdan, tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution, 1967, MPRS menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI. Sukarno menerima surat, dalam waktu 2 X 24 jam, dirinya harus segera meninggalkan Istana.
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu, “Mana kakak-kakakmu?”
Guruh menoleh ke arah Bapaknya, “Mereka pergi ke rumah Ibu.”
“Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara,...”
Pesan yang sama disampaikan Sukarno pada semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan, karena sudah ditangkapi dengan dugaan terlibat Gestapu. “Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara."
“Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan,…” salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Sukarno.
“Kalian tahu apa! Kalau saya melawan, nanti perang saudara. Perang saudara itu sulit. Jikalau perang dengan Belanda, jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri, tidak! Wajahnya sama dengan wajahmu. Keluarganya sama dengan keluargamu. Lebih baik saya yang robek dan hancur, daripada bangsa saya harus perang saudara,...”
Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Sukarno hendak meninggalkan Istana, “Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak. Tapi kami tidak enak bila bapak pergi belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami, untuk masak agak enak dari biasanya,...”
Hari kedua saat Sukarno sedang membenahi baju-bajunya, datang perwira suruhan Soeharto, “Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini!”
Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu, menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Sukarno dengan senapan terhunus. Sukarno segera mencari koran bekas di pojok kamar. Dalam pikiran Sukarno, yang ia takutkan bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Sukarno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas. Ia masukkan ke dalam kaos oblong. Sukarno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Sukarno keluar kamar.
Sesaat ia melihat wajah Saelan, ajudannya, “Aku pergi dulu,...”
“Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak,...” Saelan separuh berteriak. Sukarno hanya mengibaskan tangannya. Sukarno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya, dan meminta sopir mengantarnya ke Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Para tentara itu tak tahu, Sukarno membawa benda milik negara, bendera merah-putih itu. Ia meninggalkan barang-barang koleksi pribadi (seperti lukisan, patung, souvenir, dll) yang dikatakannya sebagai milik negara. Sementara, bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, yang dikibarkan pertama kali pada 17 Agustus 1945, diam-diam dibawanya.
Bendera itu, kini kembali ke negara, dan tiap 17 Agustus menemani bendera tetironnya, diarak dan dikeramatkan. Tapi, kita tak pernah tahu, bagaimana cara membaca sejarah bendera pusaka itu dengan benar, bagaimana bangsa ini sejak lama telah diajari soal khianat.
Perjalananan belum berakhir sampai di sini.
Di rumah Fatmawati, isterinya, Sukarno hanya duduk seharian di pojokan halaman. Matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Kesibukan Sukarno hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit. Ia sakit ginjal parah, namun obat yang biasanya diberikan, sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.
Suatu saat, Sukarno mengajak ajudannya yang bernama Nitri, untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Sukarno sangat kepengen, tapi ia tidak punya uang.
“Aku pengen duku, Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang,...”
Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku, “Pak, bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil.”
Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Sukarno, dengan logat Betawi yang kental, “Mau pilih mana, Pak manis-manis nih,... ”
Sukarno dengan tersenyum senang berkata, “Coba kamu cari yang enak.”
Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya. Ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak, “Bapak,… Bapak,… Bapak,… Itu Bapak,…! Bapaak!”
Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan, “Ada Pak Karno, ada Pak Karno,….”
Tak ayal, orang-orang berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu, dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Sukarno.
Awalnya Sukarno tertawa senang. Ia terbiasa menikmati kegembiraan bersama rakyatnya. Tapi keadaan berubah total dalam pikirannya. Ia takut rakyat yang tidak tahu apa-apa ini lantas digelandang tentara, gara-gara dekat dengan dirinya.
“Tri, berangkat,…. Cepat!” perintah Sukarno, dan ia melambaikan tangan pada rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Pastilah mereka mengerti, pemimpinnya dalam keadaan susah.
Dan kita tahu bagaimana cerita selanjutnya. Mengetahui bahwa Sukarno sering keluar dari jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira Soeharto tidak suka.
Tiba-tiba, pada satu malam, ada satu truk ke rumah Fatmawati. Mereka memindahkan Sukarno ke Bogor. Di Bogor Sukarno dirawat oleh seorang dokter hewan. Hingga kemudian dipindah ke Wisma Yaso, sebagai tahanan politik. Hingga kemudian wafatnya yang sangat menderita, sebagaimana pada hari-hari akhirnya ketika dibezoek oleh Bung Hatta. Kita tahu semuanya itu. Dan kita tidak habis mengerti, bagaimana orang mendudukkan Soeharto sebagai bapak pembangunan.
Kita tahu bagaimana negeri ini kemudian dibangun atas dusta Orde Baru, dan berlanjut sampai kini, ketika integritas bangsa dan negara ditubir maur, ketika intoleransi mendapatkan pembiaran oleh negara, ketika impor barang-barang kebutuhan dari luar, utang luar negeri yang membubung, nilai tukar rupiah yang makin merosot, hanyalah bukti bahwa pintu gerbang kemerdekaan, dan jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur sebagaimana cita-cita 17 Agustus 1945 itu, masih sangatlah jauh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar