Senin, Juli 01, 2013

Perilaku Anjing dalam Bernegara dan Berpolitik Kita


Selain kerbau, hewan yang tak kalah banyaknya masuk ke peribahasa Indonesia, anjing (dalam bahasa Jawa disebut ‘asu’, Su!). Para sastrawan Poedjangga Lama, dengan setting Padang, Bali, Jawa, sering memasukkan anjing ini untuk menggambarkan kemiskinan yang dekat pada kekumuhan atau kesunyian.
Dalam peribahasa, ada beberapa yang menganalogikan anjing sebagai rakyat kecil (misal; bagai anjing menyalak di ekor gajah, yang mengandaikan orang hina atau miskin melawan orang berkuasa atau kaya,...), sesuatu yang tentu membuat tersinggung rakyat miskin (khususnya saya, hiks).
Tapi, hampir dari semua peminjaman kata ‘anjing’ dalam peribahasa kita hampir semuanya buruk. Misal; Anjing ditepuk menjungkit ekor, orang yang sombong disanjung sedikit saja sudah bangga.
Anjing itu jika dipukul sekali pun, berulang juga ia ke tempat yang banyak tulang. Orang jahat akan mengulang kejahatannya meski sering dihukum. Anda lihat, bagaimana pejabat negara, pemerintahan, politikus, sudah diingatkan berkali-kali jangan korupsi, jangan selingkuh, jangan ngomong tanpa otak, eh, tetap saja bandel. Hal buruk bukan saja diulang, tapi tambah buruk, dan hal baik belum pernah dikerjakan. Seperti disalak anjing bertuah, sudah tak dapat ditangguhkan lagi.
Melihat para selebritas politik kita, seperti anjing menggonggong tulang (hampir sama dengan ‘seperti anjing berebut tulang’). Orang loba selalu berusaha untuk mendapatkan kekayaan orang lain.
Dia tidak peduli, seperti anjing kepala busuk. Sudah tidak peduli meski banyak orang menghinakan karena kejahatannya sudah diketahui. Datang diperiksa KPK malah nyengar-nyengir ke sana-kemari dengan salam tiga jari. Metal, Ustad?
Dalam Pemilu, rakyat hanya diminta partisipasi setiap coblosan, setelah politikus duduk di kursi parlemen, rakyat ditinggal. Rakyat hanya dipakai sebagai pendorong mobil mogok, atau dalam peribahasa disebut; Melepaskan anjing terjepit, sesudah lepas ia menggigit. Rakyat memberi pertolongan kepada orang tak berbudi, kadangkala dibalas dengan kejahatan. Makanya disebut pemilu, pembuat pilu. Kalau kata John Lennon, general election itu menjadi general erection!
Aneh tentu jika rakyat dan wakilnya malah jadi seperti anjing dan kucing, selalu bermusuhan.
Tapi jangan khawatir, anjing menyalak tiada menggigit. Orang yang bermulut besar biasanya penakut. Anda tahu berapa kali (dengan diam-diam) Ruhut Sitompul minta maaf pada orang yang dikasari mulutnya? Atau bagaimana Sutan Batoeghana akhirnya mencium tangan Ibu Sinta Nuriyah, setelah menuding Gus Dur korup? Persis seperti anjing kepegang ekor, orang yang gelisah minta pertolongan kesana-kemari.
Masihkah kita memberi ruang pada yang seperti itu? Toleran? Memaafkan sembari berkata manusia adalah letak ketidaksempurnaan? Kalau tidak sempurna jangan jadi wakil rakyat dong! Anjing diberi makan nasi, bilakah kenyang? Tak ada gunanya menanam kebaikan kepada orang jahat.
Itu kata peribahasa. Membalas kejahatan pejabat pemerintahan dan pejabat parpol, politikus, adalah dengan tidak memilihnya kemudian. Apalagi yang terindikasi berkomitmen rendah pada pemberantasan korupsi, dan apalagi memakai dana kampanye dari hasil korupsi.

1 komentar:

  1. lha si ruhut kan doyan ma daging anjing...hihihi

    BalasHapus