Jumat, Juli 19, 2013

Bangsa yang Sibuk Berkilah, Berbohong, dan Memfitnah


Yang pertama, berkilah. Yang kedua, berbohong. Yang ketiga, melakukan fitnah. Tak ada hubungannya hal itu dilakukan oleh yang beragama atau tidak. Dan di Indonesia, rasanya tak ada di jaman sekarang ini seorang a-theis, atau sebutlah kafir. Orang Indonesia, bahkan sebelum adanya agama-agama samawi, sudah mengenal konsep ketuhanan, apa pun bentuk dan logikanya.
Lihat kasus yang sedang digodog KPK tentang Hambalang dan Impor Daging Sapi. Semua orang yang terlibat di situ, baik tersangka, saksi-saksi, maupun bahkan terdakwa. Mereka bukan saja beragama, melainkan juga berpendidikan formal, bahkan tinggi (atau kalimatnya bisa dibalik, mereka bukan saja berpendidikan melainkan juga beragama). Tapi apa yang mereka lakukan? Jika bisa berkilah cukuplah berkilah saja. Tapi jika berkilah terasa tak meyakinkan, ditingkatkan menjadi berbohong. Tapi jika berbohong tampaknya juga tak menolong, mulailah main fitnah. Melakukan bluffing, sampai-sampai ada ustad yang bangga mengatakan melakukan bluffing. 
Lihat juga kasus yang baru saja terjadi di Kendal (Jawa Tengah), bagaimana orang-orang Front Preman Islamkah (disingkat FPI) pada mulanya berkilah, kemudian berbohong, dan pada akhirnya melemparkan serangan balik dengan fitnah, hingga perlu menyebut-nyebut adanya preman Kristen,...
Itu semuanya tidak luar biasa, meski tentu saja tak patut. Bagaimana kita, orang awam ini, melihat semuanya itu? Ya lihatlah dan kembalikanlah dalam konteks hukum, karena negara kita antara lain menganut hal itu. Artinya, kita akan lihat, pemerintah (dalam hal ini KPK, Kepolisian, Jaksa, Hakim, sebagai aparat penegak hukum) menyelesaikan berbagai kasus hukum tersebut. 
Yang pasti, dari omongan mereka-mereka yang mengaku beragama itu, kita semakin yakin, memang tidak ada korelasi antara agama dan kelakuan mereka. Kalau nilai-nilai agama disebut, semuanya hanya kilah. Itu yang mereka pertontonkan dengan jelas. Masih mau berkilah lagi? 
Celakanya, jika ternyata pemerintah, atau para aparat penegak hukum itu sendiri, juga tukang berkilah. Jadi apa bedanya kita, kalau semuanya tukang berkilah, sebagaimana preman juga tukang berkilah? 
Kita selalu ribet dengan soal kesalehan personal. Sweeping sana-sini tempat mesum. Tapi kita menutup mata untuk melakukan sweeping di mana barang-barang sembako disembunyikan, sehingga membuat harga membubung tak terkendali, para importir menangguk keuntungan, dan rakyat dimain-mainkan dalam kemiskinannya? Apa ada Front Preman Indonesia yang peduli pada kemiskinan rakyat? Tak ada. Karena rakyat miskin tak bisa memberi mereka duit. Sementara dalil preman adalah; maju tak gentar membela yang bayar. Apa dikira kerusuhan Kendal, membuat rakyat miskin bisa melalaikan kelaparan dan kemarahannya, pada pemerintah? 
Selamat berkilah, para preman, semoga sukses!

2 komentar:

  1. Salam kenal.
    Suka sekali artikel2nya/

    Salam
    Bp

    BalasHapus
  2. Salam kenal.
    Suka sekali artikel2nya/

    Salam
    Bp

    BalasHapus