Senin, Juli 22, 2013

Apa yang Ada dalam Otak Programer TV Kita?

Mungkin, dianggapnya, puasa Ramadhan itu ibadah yang amat sangat berat, menyiksa, menyedihkan, menderitakan; maka para puasawan dan puasawati harus habis-habisan dihibur. Maka, program acara televisi kita, menjelang hingga buka dan sahur puasa, mati-matian penuh dengan hiburan, canda-ria, dan maki-ria (mengingat materi siarannya sering berisi caci-maki penghinaan pada orang lain).
Lihat acara-acara televisi pas buka dan sahur terutama di Trans TV, MNC TV, Global TV, ANTV, Trans7, Kompas TV, kadang juga RCTI, SCTV, Indosiar. Entah itu yang acara musik, kuis, dagelan nggak jelas, kita benar-benar tidak melihat korelasinya dengan yang namanya puasa Ramadhan. Yang penting acara meriah, penuh tawa dan tepukan dari penonton (bayaran), dan iklannya banyak. Jadi tak ada hubungan makna puasa yang mestinya asketis dengan ajakan untuk merayakan konsumsi. Deddy Mizwar saja juga ikut sibuk membujuk orang untuk minum air badak, supaya “hah”!
Salah siapa? Sesungguhnya adalah salah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang mestinya menjunjung amanah untuk menjaga kualitas siaran televisi kita. Tapi, slalu saja mereka berkilah begini dan begitu, padahal sudah tahu UU Penyiaran 2002 kita sudah sangat jelas.
Kalau artis-artisnya, terutama yang bernama Olga, Raffi Achmad, dan temen-temen mereka yang sejenis, tak ada yang bisa kita harap. Karena mereka adalah orang profesional yang mau dieksploitir (karena honor jutaan). Siapa yang mengeksplotasi? Tentu saja para programer dan kreatif media televisi. Kenapa programer dan kreatif televisi bisa melakukan hal itu? Karena para komisioner KPI memang tidak berfungsi.
Jadi kalau selalu ada ketidakpatutan yang diulang-ulang dan berulang-ulang, semuanya itu wajar. Dan anggota DPR toh juga tak pernah mengerti, bahwa polusi sampah siaran televisi ini sama berbahayanya dengan korupsi dan narkoba. Karena dalam peemilihan komisioner KPI yang baru kemarin saja, kita tahu kualitas seleksinya juga memprihatinkan, karena anggota DPR yang menyeleksi juga bukan orang yang mempunyai sensitivitas dan sensibilitas gender. Beberapa calon komisioner, terutama yang perempuan, malah jadi obyek pelecehan sexual anggota DPR yang tidak mulia itu. Jadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar