Selasa, Juli 30, 2013

Dialog Bung Karno dengan Sang Sufi




Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Syekh Kadirun Yahya [lengkapnya; Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah.], anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).

“Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.”
“Apa soalnya Bapak Presiden?”
“Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?”
“Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.”
Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau, Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga. Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali. Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?
[Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.]
Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan.”
[Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.

KY menulis dikertas] “10/10 = 1.”
[Bung Karno menjawab] “Ya.”
“10/100 = 1/10.”
“Ya.”
“10/1000 = 1/100.”
“Ya.”
“10/bilangan tak berhingga = 0.”
“Ya.”
“1000000/ bilangan tak berhingga = 0.”
“Ya.”
“Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.”
“Ya.”
“Dosa dibagi sesuatu tak berhingga sama dengan 0.”
“Ya.”
“Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga = tak berhingga. Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Mahaakbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.”
[Bung Karno diam sejenak lalu bertanya] “Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?”
“Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.
[BK berdiri dan berucap] “Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous.” [Kemudian dia merangkul KY dan berkata] “Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.”

Lima tahun kemudian (1970), Bung karno meninggal dunia, dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya.

Bung Karno Pemikir Islam yang Orisinal


(1) | Lazim orang, yang anti-pati tentunya, menghina-dina Bung Karno sebagai seorang sinkretis, seorang Islam abangan, atau bahkan sekuler klenik yang melahirkan Pancasila. Temuan Pancasila, oleh mereka yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia, dituding sebagai thogut yang membuat Indonesia rusak-rusakan sampai sekarang ini.  Tipologi pemikirannya, jika pakai syariat Islam maka Indonesia akan berkah, tapi kalau tetap pakai Pancasila mbok sampai modar nggak akan bisa diridhlai Allah.

Ya, tidak apa-apa. Kita membicarakan seorang manusia bernama Sukarno sajalah, yang meski pun manusia yang banyak salahnya, namun tetap ia mempunyai nilai penting bagi Indonesia sekarang ini. Kita juga bisa mengatakan, Sukarno adalah seorang sufi yang lahir di Indonesia, yang ajarannya mengenai Pancasila sulit dimengerti manusia biasa. Jejak para sufi, seperti jalannya burung-burung di udara, tidak seorang manusiapun yang dapat melihat bekas tapaknya.

Kelompok sufi tidak menulis satu katapun tentang ajaran yang ditempuhnya. Oleh karena itu, kalau ada ajaran tasawuf, bukanlah ajaran para sufi. Sama seperti ajaran-ajaran spiritual, bukanlah ajaran kelompok sepiritualis.

Contohnya Lau Tse. Dia pergi ke hutan, meninggalkan kehidupan duniawi, menunggangi seekor kerbau. Diperbatasan dia di tahan oleh penguasa disana, dia dipaksa untuk menulis ajarannya,  sebelum meneruskan perjalanan. Di sanalah dia menulis Taoisme. Buku Tao hanya memberi petunjuk kepada manusia, tentang dunia ini. Bukan ajaran Tao yang diketahuinya, seperti dikatakan, “Tao yang dapat dikatakan bukanlah tao yang benar.” Hanya gambaran yang dapat dimengerti manusia.

Negara yang dibangun Bung Karno melindungi semua Ideologi dan hak azasi manusia, termasuk ideologi agama dan ideologi komunis yang berlawanan arah. Apakah Agama bisa bersatu dengan Kominis.? Bung Karno menyatukan Nasakom dalam dirinya, karena dia seorang Sufi. Dalam masyarakat, tidak mungkin hal itu bersatu, karena masyarakat bukanlah kelompok sufi.

Ketika militer dari kelompok agama hendak mengambil kekuasaan dengan mengirimkan pasukan menyerbu Istana: Bung Karno dengan pakian militernya keluar dan berkata, “Siapa yang menyuruh kalian datang?”

“Pangab, Pak!” jawab pasukan.

Bung Karno lalu menjawab dengan menunjuk pangkatnya, “Aku adalah Panglima Tertinggi. Aku perintahkan kalian kembali ke pos kalian masing-masing!”

Besoknya, Bung Karno tidak memecat Pangab, melainkan menaikkan jabatannya menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Andaikata Sukarno bukan seorang sufi, misalnya seorang militer seperti Soeharto, malam itu juga pasti dihabisinya, kalau tidak disingkirkannya.

Bung Karno membiarkan kelompok agama mendirikan banyak partai politik, dengan ideologi agama masing. Pada masa Soeharto, semua partai agama diberangus menjadi satu partai agama yang berazaskan Pancasila. Soeharto membungkam kelompok agama dengan kekuatan politik dan militer, Bung Karno membungkam kelompok agama dengan ajaran-ajaran agama tingkat tinggi, sehingga tidak ada ulama ataupun tokoh-tokoh agama yang bisa menyaingi. Misal dia katakan; “Saya adalah seorang Muhamandiyah,” itulah jalannya burung-burung di udara.

Tidak ada tokoh Islam yang dapat memahami kata-kata itu, sebagaimana pula tentang sebutan “Islam Sontoloyo”, hanya Bung Karno yang berani mengatakannya, tanpa orang Islam yang tahu diri menjadi marah.


(2) | Dalam sebuah tulisannya (Kotak Sosio Kultural, Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991), Mohammad Sobary menulis sebagai berikut: "Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. Saya ingin bila kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah."

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu, membujuk agar Buya berbesar jiwa.

Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau dipenuhi.

Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan pada golongan. Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang boleh "berkulit" haji, berbendera Muhammadiyah atau NU memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada.

Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah? Kita tidak tahu. Bung  Karno sendiri tak secara eksplisit menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak  ada.

Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai, sekaligus golongan. Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut dirinya seorang agamawan.

Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa harus berdiri di atas semua   golongan. Agaknya ia beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata Bernard Dahm, hanya   Bung Karno-lah yang karena ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.

Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar memandang Dunia, penyair Taufiq  Ismail bicara tentang pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu, berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak. Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa kita tak sabar  menghadapi kebhinekaan? "Kalau mau serba seragam," kata Rendra, "lebih baik jadilah  pembuat batu bata."

Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa yang otoriter, kaku,  dan dingin, mirip teriak kebulatan tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak fanatisme yang selalu siap mengurung kita.

Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa  sumpek di  bawah keseragaman  yang serba otoriter. Kedua-duanya, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek. Namun, karena  lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan itu baik, asal kita  tidak terkurung. Artinya, di saat diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama, kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung kita karena, sekali  lagi mengutip Nurcholish Madjid, komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.


(3) | “Gaya religius Sukarno adalah gaya Sukarno sendiri,” tulis Clifford Geertz dalam Islam Observed (1982). Betapa tidak? Kepada Louise Fischer, Bung Karno pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu. Di mata pengamat seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai “bergaya ekspansif, seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia”.
Sebaliknya, ungkapan semacam itu -pada hemat BJ Boland dalam The Struggle of Islam in Modern Indonesia (1982), “hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa”. Bagi penghayatan spiritual Timur, ucapan itu justru “merupakan keberanian untuk menyuarakan berbagai pemikiran, yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis sebagai bid’ah”.

Namun ungkapan Bung Karno ini, di mata para penghayat tasawuf, bukanlah hal yang asing.  Ibn Al-‘Arabi (1076-1148) mendendangkan kesadaran yang sama, “Laqad shara qalbiy qabilan kulla shuratin, famar’a lighazlanin wa diir liruhbanin wa baytun li autsanin wa ka’batu thaifi wal wahu tawrati wa mushafu qur’anin (Hatiku telah siap menerima segala simbol, apakah itu biara rahib-rahib Kristen, rumah berhala, Kabah untuk thawaf, lembaran Taurat atau mushaf Al Quran).

Ketika menerima gelar doctor honoris causa (doktor kehormatan) di Universitas Muhammadiyah, Jakarta, Bung Karno menyebut bahwa tauhid yang dianutnya sebagai Panteis-monoteis. Bung Karno yakin bahwa Tuhan itu satu, tetapi Ia hadir dan berada di mana-mana. Tentu saja di kalangan Islam dan Kristen, istilah panteisme ini bisa mengundang salah paham. Kontan saja, orang langsung menghubungkannya dengan sosok legendaris Syekh Siti Jenar, “Al-Hallaj”-nya orang Jawa.

Di satu pihak, dalam berbagai kesempatan Bung Karno mengritik paham kalam asy’ariyah mengenai ketidakcukupan 20 sifat Allah, berbareng dengan kritiknya terhadap paham taqlid dan kejumudan-kejumudan kaum tradisionalis pada zamannya. Kritik Bung Karno ini bisa dilacak dari kegandrungannya pada paham rasionalisme Islam klasik Mu’tazilah dan pemikiran-pemikiran pembaru Islam khususnya Jamaluddin al-Afghani. Tetapi pada pihak lain, Bung Karno tidak bisa melepaskan diri dengan warisan keagamaan Jawa yang sangat kental berciri mistik.

Karena itu, menarik sekali dalam deskripsinya mengenai tauhid, Bung Karno merujuk juga Baghawad Gita. “The Gospel of Hinduism” itu pun dikutipnya begitu bebas, sambil di sana-sini membuat penekanan dengan frasa-frasa buatannya sendiri. Tuhan ada di mana-mana. Bahkan juga, Bung Karno mengutip sabda Khrsna: “I am in the smile of the girl” (pada pidato di tempat lain, “Ik ben in de glimlach van het meisje” Aku ada dalam senyum simpul gadis yang cantik). Tetapi, frasa ini ternyata ciptaan Bung Karno sendiri, dari kata aslinya dalam bahasa Sansekerta: “tejas tejaswinam aham”. Di antara semua keindahan, Akulah kecantikan (Bhagawad Gita X,36). Meskipun mungkin Bung Karno belum sampai menjadi seorang panteis tulen, atau menganut monisme radikal -menurut istilah PJ Zoetmulder SJ yang sama sekali menyangkal bahwa segenap realitas itu lebur menyatu tanpa dualitas.

Sebab di mata Bung Karno, penekanan pada aspek tasybih (imanensi) Tuhan, sama sekali tidak menghapuskan aspek tanzih (transendensi) Allah. Barangkali, istilah yang tepat untuk menggambarkan keyakinan Bung Karno adalah “panentheisme” (pan, “segala sesuatu”; en, “dalam” dan theos, “Tuhan”). Jadi, segala sesuatu ada dalam Tuhan. Maksudnya, totalitas segenap realitas yang diciptakan ada dalam Tuhan, tetapi Tuhan sendiri melebihi totalitas tersebut.

Kita dapat membandingkannya dengan ucapan Imam al-Ghazali (wafat 1111), At Tauhid al-khalis an layaraha fii kulli syai’in ilallah (Tauhid sejati adalah penglihatan atas Allah dalam segala sesuatu). Juga, menurut Ibn al-‘Arabi, segenap alam semesta adalah tajjali atau penampakan dari Allah.

Spiritualitas Bung Karno juga berciri “sakramentalis”. Sebagaimana nabi-nabi semitis dari zaman dahulu, Bung Karno “believed in the beauty of holiness” (percaya kepada kecantikan dari keagungan), berbeda dengan orang-orang Yunani yang “believed in the holiness of beauty” (percaya pada keagungan dari kecantikan) sehingga memberhalakan alam itu (Max I. Dimont, 1995). Sebagaimana “jiwa kosmis” Fransiskus dari Asisi, alam raya dinilainya bukan hanya bernilai profan, melainkan sekalian makhluk adalah sakramen Sabda Ilahi yang menunjuk kepada pribadi Ilahi.

Dalam diri Bung Karno, gaya religiusnya yang unik ini: “religius intelektual artistik” menurut istilah Clifford Geertz-tidak dapat dilepaskan dari warisan tradisionalisme Jawa dan darah seni Bali dari ibunya. “Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai, keponakan Raja Singaraja, wanita dari Bali”, kata Bung Karno pada suatu saat.




(4) | Tak ayal, Bung Karno, seperti para pujangga Jawa kuno (yang karya-karyanya masih dilestarikan di Bali) “berbakti kepada keindahan” (ahyun ing kalangwan) karena keyakinan bahwa Tuhan sendirilah “tattwa ning lango” (inti segala keindahan). Bukankah para sufi mendendangkan tembang yang sama? Tidak seorang pun dari mereka yang berzikir mengagungkan asma-Nya, kecuali bersenandung dengan syair-syair mereka. Kullu jamilun min jamalullah (Semua keindahan adalah berasal dari keindahan Allah). Juga, Inallaha jamilun wa yahibuj jamal (Allah itu maha indah dan mencintai keindahan).

Latar belakang warisan keluarga Soekarno, sudah barang tentu membentuk dan menentukan sosialisasi pemikiran keagamaan selanjutnya. “Spiritualitas semesta” (holistic spirituality) Bung Karno itu-untuk tidak menyebutnya sinkretisme (percampuran) agama-agama, suatu istilah yang sama sekali tidak tepat dalam menggambarkan kecenderungan dasar pemikiran Jawa yang sebenarnya-khususnya tampak dari bahasa teologisnya yang “melintas batas” (passing over) berbagai agama dan tradisi spiritual. Hal itu tampak dari pidato-pidato tanpa teks, ketika ia mengemukakan perbandingan-perbandingan dari berbagai agama, tamsil-tamsil dari ajaran Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Ayat-ayat suci itu dikutipnya bahkan diluar komunitas agama yang menganutnya. Misalnya, tanpa ragu-ragu ia mengutip Injil atau Bhagawad Gita di forum Islam.

Warisan keberagaman itu bukan diterimanya sebagai kontradiksi atau pertentangan, sebaliknya sebagai suatu kekayaan rohani berdasarkan kesadarannya akan kesatuan transendental agama-agama. Dalam menggembleng rakyatnya, Bung Karno, misalnya sering mengutip Al Quran. ar Ra’d 11: Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru ma bi anfusihim (Allah tidak mengubah nasib sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah sendiri nasibnya). Tetapi kita juga mendengar dari Bung Karno kutipan dari Bhagawad Gita (II, 47) ketika menekankan prinsip yang sama: Karmany ewadhikaras temaphalesu kadacana (Berjuanglah dengan tanpa menghitung-hitung untung rugi bagimu).

Bahkan Bung Karno pernah membuat terperanjat Mr Siegenbeek van Heukelom, yang mengadilinya di Landraad Bandung tahun 1930. “Ik ben een revolutionaire” (Saya seorang revolusioner), tegas Bung Karno. Tetapi kata dia selanjutnya: “Ik werk niet met bommen en granaten” (Saya bekerja tanpa bom dan granat). Hakim kolonial itu sangat kaget, karena Bung Karno menyebut bahwa Yesus adalah seorang yang revolusioner, meskipun Ia bekerja tanpa kekerasan. “Revolusi”, kata Bung Karno, adalah “eine Umgestaltung von Grundaus” (perubahan sampai ke akar-akarnya), baik dalam hal politik maupun dalam ajaran keagamaan. Dalam suatu pidatonya, Bung Karno di luar kepala dapat menghapal Injil Yohanes Pasal 1 dalam bahasa Belanda.



(5) | Sebagai seorang Muslim, Bung Karno meyakini petunjuk-petunjuk wahyu dalam Al Quran dan Hadits, tetapi ayat-ayat suci berbagai agama tersebut juga turut memperkaya spiritualitasnya. Hal itu dapat dimengerti, sebagaimana ditulis Cindy Adams, karena kesadaran Bung Karno, bahwa kebenaran itu tunggal dan satu-satunya suara kemanusiaan adalah Kata dari Tuhan (Sukarno An Autobioghraphy, 1965).

Menariknya, seperti diungkapkannya sendiri, spiritualitasnya yang begitu luas dan “melintas batas” agama-agama itu, lahir dari “mi’raj-nya dunia pemikiran”, sebagaimana pendakian seorang salik juga disebut “uruj mir’raj”. Hua al-khuruj ‘an kulli syai’in siwallah (Keluar dari segala sesuatu yang bukan Allah). Bung Karno memakai ungkapan sejajar, “Saya naik ke langit, mi’raj dalam dunianya pemikiran. Bung Karno, in the world of the mind, bertemu dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Thomas Jefferson, Garibaldi, Mustafa Kemal Atarturk, Mustafa Kamil, Karl Marx, Engel, Stalin, Trosky, Dayananda Saraswati, Krisna Ghokale dan Aurobindo Gosye. Kalau ada hadits Nabi berbunyi Utlubul ilma’ wa lau bissin (Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina), Bung Karno juga in the world of the mind pergi ke Tiongkok “minum the bersama Sun Yat Sen”, atau mengalami saat-saat “duduk bersila dengan Gandhi”.

Meskipun Bung Karno menimba, menimba dan menimba dari tokoh-tokoh “negeri seberang” itu, namun akhirnya Bung Karno kembali ke realiteit-nya Indonesia, tatkala pada saatnya ia harus menentukan masa depan dan kelangsungan bangsa menghadapi kenyataan pluralisme yang menjadi warisan sejarah beratus-ratus tahun, termasuk di dalamnya pluralisme agama.

Ketika Ernest Renan mengucapkan pidatonya yang terkenal di Sorbone tahun 1882, “qu’est ce qu’une nation” (Apakah suatu bangsa itu?), salah satu aspek yang ditekankannya adalah bahwa nasionalisme modern tidak dapat lagi didasarkan atas kesamaan agama. Pada zaman itu, agama masih menjadi unsur perekat negara Belgia yang berdiri tahun 1830. Dari pidato Renan ini, bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, telah menggali konsepnya tentang hakikat suatu bangsa. Meskipun Bung Karno menimba konsep nasionalisme dari Renan, namun nasionalisme Indonesia mendapat pijakan historis yang lebih kokoh. Bukan hanya baru abad ke-19, tetapi sejak zaman Majapahit, Mpu Tantular, tidak hanya telah diletakkan landasan politis bagaimana mengatasi pluralisme agama, melainkan malah sudah dikembangkan landasan teologis yang lebih memadai.

Bung Karno juga “berdialog spiritual” dengan Mpu Tantular, lalu dikembangkanlah kesadaran yang kini oleh teolog agama-agama acap disebut sebagai philosophia perennis yang meyakini bahwa kebenaran abadi berada dipusat semua tradisi spiritual, apakah itu sanatha dharma dalam Hinduisme, al-hikmah al-khalidah dalam istilah sufi Islam, atau logos spermatikos (benih sabda Ilahi) dalam pemikiran patristik Kristen. Sesungguhnya kebenaran itu satu dan tidak terbagi, meskipun mewujud dalam simbol-simbol yang secara eksoteris berbeda-beda. Prinsip kasunyatan Tantular ini, oleh Bung Karno diterjemahkan secara politis dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam Pancasila, berbareng dengan dibabtisnya seloka Bhinneka Tunggal Ika dalam lambang negara. Dengan sila pertama itu, Bung Karno telah membebaskan bangsanya dari “keharusan menantikan pesawat penyelamat dari Moskwa atau seorang khalifah dari Istanbul”. Maksudnya, Indonesia tidak menjadi Negara Islam, karena bertentangan dengan realitas kemajemukan bangsa, tetapi juga bukan negara sekuler, karena melawan degup hati sanubari rakyat yang sangat religius.

Bukan rahasia lagi, Bung Karno dijatuhkan oleh sebuah creeping coup d’etat (kudeta merangkak) yang dirancang sangat sistematis. Pada hari-hari terakhirnya, Bung Karno harus menjalani via dolorosa (jalan sengsara) disebuah “karantina politik”. Sendiri dan sepi. Bung Karno tetap menjadi Bapak yang mencintai semua rakyatnya, meskipun orang-orang di sekelilingnya telah mengkhianatinya. Saat itu, ditengah-tengah badai fitnah dan ancaman pecahnya perang saudara, ibu pertiwi laksana harimau lapar hendak memangsa anaknya sendiri. Dan seperti Sutasoma, Bung Karno justru menyerahkan dirinya sendiri, rela tenggelam demi keutuhan bangsa dan negaranya. “Cak Ruslan, saya tahu saya akan tenggelam. Tetapi ikhlaskan Cak, biar saya tenggelam asalkan bangsa ini selamat, tidak terpecah belah”, tegasnya kepada Ruslan Abdulgani.

Bung Karno sadar, pilihan moral itu ibarat salib yang harus dipikulnya menuju “puncak Kalvari politik yang kejam”. Masih menurut Cak Ruslan, Bung Karno terakhir kali menerima delegasi mahasiswa dari GMKI dan PMKRI pada tahun 1967. Pada waktu itu Bung Karno mengutip sabda Yesus: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Juga, “Mereka akan menyesah kamu, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja” (Injil Matius 10:16-18). Maka Bung Karno menempuh jalan ahimsa (tanpa kekerasan), ketika drama pengalihan kekuasaan itu bahkan hanya berlangsung 2-3 babak saja. Semua berjalan begitu cepat dan rapi. Sang Penyambung Lidah Rakyat pun akhirnya tenggelam, meskipun Orde Baru yang “menjambret” kekuasaannya tidak pernah mampu menguburkan pengaruhnya yang besar. Demikian jiwa kenegarawanan Bung Karno. Sejarah juga mencatat, dengan spiritualitasnya yang lapang, terbuka, inklusif dan toleran itu, Bung Karno telah berhasil mempersatukan bangsa yang majemuk ini menjadi satu.

Kini di tengah-tengah fenomena politisasi agama pada tahun-tahun terakhir, kita diingatkan dengan semboyan kaum sufi yang kiranya dapat kita terapkan untuk Bung Karno: “ash Shufi laa madzaba lahu ila madzab al-haqq” seorang sufi tidak mempunyai religi kecuali religi Kebenaran.

Minggu, Juli 28, 2013

FPI di Mata Para Penyanyi dan Musisi Dunia

Kasus di Sukorejo Kendal dengan nyata membuktikan tentang front preman Indonesia yang mengatasnamakan agama. Apa kata musisi dan penyanyi dunia itu tentang FPI? Berikut pernyataan dan jawaban mereka ketika ditanya "What do you think of FPI?"

SIMON & GARFUNKEL, "Bridge over troubled water!"
JULIO IGLESIAS, "Crazy!"
TOM JONES, "He'll have to go,..."
JOHN LENNON, "I don't wan't to be a soldier!"
THE DOORS, "The Unknown soldiers."
METALLICA, "St. Anger!"
NINA SIMONE, "Do I move you!"
MADONNA, "Take a bow,...!" (Indonesianya: Taik Kebo!)
KANSAS, "Dust in the wind."
DREAM THEATER, "Far from heaven,...", "Blind faith!"
SANTANA, "Who's that lad?"
FREDIE MERCURY, "Mr. Bad Guy!"
DEEP PURPLE, "Child in time."
CRASH TEST DUMMIES, "Mmmm, Mmmmm, Mmmmm,...."
MICHAEL JACKSON, "Smooth Criminal,...", "Bad!"

NORAH JONES, "Don't know why,..."
MARIAH CAREY, "Without you!"
BILLY JOEL, "Just the way your are!"
ROBERTA FLACK, "Killing me softly!"
ROLLING STONE, "Bitch!"
BEATLES, "Hey, Bulldog!", "Bad Boy!"
BARBRA STREISAND, "The way we were,..."
THE CORRS, "Everybody hurt,..."
MOZART, "Requiem,..."
FRANK SINATRA, "Some think stupid!"
THE BEE GEES, "Something stupid!"
PINK FLOYD, "Brain damage."
ROD STEWART, "I don't want to talk about it!"

Senin, Juli 22, 2013

Apa yang Ada dalam Otak Programer TV Kita?

Mungkin, dianggapnya, puasa Ramadhan itu ibadah yang amat sangat berat, menyiksa, menyedihkan, menderitakan; maka para puasawan dan puasawati harus habis-habisan dihibur. Maka, program acara televisi kita, menjelang hingga buka dan sahur puasa, mati-matian penuh dengan hiburan, canda-ria, dan maki-ria (mengingat materi siarannya sering berisi caci-maki penghinaan pada orang lain).
Lihat acara-acara televisi pas buka dan sahur terutama di Trans TV, MNC TV, Global TV, ANTV, Trans7, Kompas TV, kadang juga RCTI, SCTV, Indosiar. Entah itu yang acara musik, kuis, dagelan nggak jelas, kita benar-benar tidak melihat korelasinya dengan yang namanya puasa Ramadhan. Yang penting acara meriah, penuh tawa dan tepukan dari penonton (bayaran), dan iklannya banyak. Jadi tak ada hubungan makna puasa yang mestinya asketis dengan ajakan untuk merayakan konsumsi. Deddy Mizwar saja juga ikut sibuk membujuk orang untuk minum air badak, supaya “hah”!
Salah siapa? Sesungguhnya adalah salah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang mestinya menjunjung amanah untuk menjaga kualitas siaran televisi kita. Tapi, slalu saja mereka berkilah begini dan begitu, padahal sudah tahu UU Penyiaran 2002 kita sudah sangat jelas.
Kalau artis-artisnya, terutama yang bernama Olga, Raffi Achmad, dan temen-temen mereka yang sejenis, tak ada yang bisa kita harap. Karena mereka adalah orang profesional yang mau dieksploitir (karena honor jutaan). Siapa yang mengeksplotasi? Tentu saja para programer dan kreatif media televisi. Kenapa programer dan kreatif televisi bisa melakukan hal itu? Karena para komisioner KPI memang tidak berfungsi.
Jadi kalau selalu ada ketidakpatutan yang diulang-ulang dan berulang-ulang, semuanya itu wajar. Dan anggota DPR toh juga tak pernah mengerti, bahwa polusi sampah siaran televisi ini sama berbahayanya dengan korupsi dan narkoba. Karena dalam peemilihan komisioner KPI yang baru kemarin saja, kita tahu kualitas seleksinya juga memprihatinkan, karena anggota DPR yang menyeleksi juga bukan orang yang mempunyai sensitivitas dan sensibilitas gender. Beberapa calon komisioner, terutama yang perempuan, malah jadi obyek pelecehan sexual anggota DPR yang tidak mulia itu. Jadi?

Jumat, Juli 19, 2013

Bangsa yang Sibuk Berkilah, Berbohong, dan Memfitnah


Yang pertama, berkilah. Yang kedua, berbohong. Yang ketiga, melakukan fitnah. Tak ada hubungannya hal itu dilakukan oleh yang beragama atau tidak. Dan di Indonesia, rasanya tak ada di jaman sekarang ini seorang a-theis, atau sebutlah kafir. Orang Indonesia, bahkan sebelum adanya agama-agama samawi, sudah mengenal konsep ketuhanan, apa pun bentuk dan logikanya.
Lihat kasus yang sedang digodog KPK tentang Hambalang dan Impor Daging Sapi. Semua orang yang terlibat di situ, baik tersangka, saksi-saksi, maupun bahkan terdakwa. Mereka bukan saja beragama, melainkan juga berpendidikan formal, bahkan tinggi (atau kalimatnya bisa dibalik, mereka bukan saja berpendidikan melainkan juga beragama). Tapi apa yang mereka lakukan? Jika bisa berkilah cukuplah berkilah saja. Tapi jika berkilah terasa tak meyakinkan, ditingkatkan menjadi berbohong. Tapi jika berbohong tampaknya juga tak menolong, mulailah main fitnah. Melakukan bluffing, sampai-sampai ada ustad yang bangga mengatakan melakukan bluffing. 
Lihat juga kasus yang baru saja terjadi di Kendal (Jawa Tengah), bagaimana orang-orang Front Preman Islamkah (disingkat FPI) pada mulanya berkilah, kemudian berbohong, dan pada akhirnya melemparkan serangan balik dengan fitnah, hingga perlu menyebut-nyebut adanya preman Kristen,...
Itu semuanya tidak luar biasa, meski tentu saja tak patut. Bagaimana kita, orang awam ini, melihat semuanya itu? Ya lihatlah dan kembalikanlah dalam konteks hukum, karena negara kita antara lain menganut hal itu. Artinya, kita akan lihat, pemerintah (dalam hal ini KPK, Kepolisian, Jaksa, Hakim, sebagai aparat penegak hukum) menyelesaikan berbagai kasus hukum tersebut. 
Yang pasti, dari omongan mereka-mereka yang mengaku beragama itu, kita semakin yakin, memang tidak ada korelasi antara agama dan kelakuan mereka. Kalau nilai-nilai agama disebut, semuanya hanya kilah. Itu yang mereka pertontonkan dengan jelas. Masih mau berkilah lagi? 
Celakanya, jika ternyata pemerintah, atau para aparat penegak hukum itu sendiri, juga tukang berkilah. Jadi apa bedanya kita, kalau semuanya tukang berkilah, sebagaimana preman juga tukang berkilah? 
Kita selalu ribet dengan soal kesalehan personal. Sweeping sana-sini tempat mesum. Tapi kita menutup mata untuk melakukan sweeping di mana barang-barang sembako disembunyikan, sehingga membuat harga membubung tak terkendali, para importir menangguk keuntungan, dan rakyat dimain-mainkan dalam kemiskinannya? Apa ada Front Preman Indonesia yang peduli pada kemiskinan rakyat? Tak ada. Karena rakyat miskin tak bisa memberi mereka duit. Sementara dalil preman adalah; maju tak gentar membela yang bayar. Apa dikira kerusuhan Kendal, membuat rakyat miskin bisa melalaikan kelaparan dan kemarahannya, pada pemerintah? 
Selamat berkilah, para preman, semoga sukses!