Minggu, Mei 12, 2013

Tragedi Mei 1998, 15 Tahun yang Lampau

MEI 1998, 15 TAHUN LAMPAU. Mengulik sebuah tulisan yang sederhana, tapi menggetarkan dari Dewi Tjakrawinata, mengenai apa yang diketahui dan dirasainya, pada Mei 1998:
 
Limabelas tahun lalu di sebuah hotel di Singapura, aku terduduk memandang dengan tidak percaya siaran televisi Indonesia: Amuk massa, chaos. Itu Negara ku, itu kotaku, itu bangsaku, bedil itu,....
Aku menyuruh Kevin, yang saat itu berumur lima tahun, untuk pergi ke tempat temannya yang menginap di hotel yang sama. Aku tidak mau ia punya kenangan buruk tentang negara ibunya. Morgan dalam kandunganku.
Kami dipaksa mengungsi dari Jakarta, karena perusahaan tempat Pol bekerja saat itu, tidak berani ambil resiko dan tidak bisa menjamin keselamatan keluarga expatriate, yang ada di Indonesia. Sampai saat ini aku masih ingat, situasi ketika kami berangkat beberapa hari sebelumnya.
Sebelumnya kami semua ditempatkan di sebuah hotel yang dijaga sangat ketat, dengan tank dan tentara yang siap tembak, dengan senjata laras panjang. Pada hari keberangkatan, kami dibawa dengan 3-4 bus besar yang dikawal panser.
Sepanjang jalan Semanggi menuju bandara, kami melihat asap dan api dimana-mana; ruko-ruko yang dijarah kemudian dibakar, tapi juga sepi yang menghujam: ini kota kelahiranku?
Ponsel tidak berfungsi. Sebelum berangkat, aku hanya sempat bicara dengan ibuku, untuk saling menguatkan dan mendoakan. Di bus kami itu, hanya aku dan sopir yang orang Indonesia. Sesak dada dan kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan keluarga lain. Aku juga tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Adakah teman yang tahu saat itu juga, apa yang terjadi? Di bandara ke-chaos-an menjadi luar biasa. Ini bukan bandara, tapi tempat pengungsian ratusan ribu orang yang sepertinya tumplek di sana.
Tidak ada yang percaya setiap kali aku ceritakan kemudian, bahwa pegawai penerima uang fiskal sampai terjepit di antara tumpukan rupiah yang menggunung. Pada saat terakhir, GM perusahaan tempat Pol bekerja, memintanya untuk tinggal dan meneruskan membantu proses pengungsian, karena ia satu-satunya expat yang lancar berbahasa Indonesia.
Aku sempat menawarkan tiketku dan Kevin, ke seorang perempuan muda keturunan Tionghoa dan ibunya yang menangis terus, hampir histeris. Saking chaosnya, bahkan tiket kami pun tidak ada namanya. Kami sudah menyerahkan tiket kami, ketika tiba-tiba si perempuan tersadar, dan hampir terjatuh, mengatakan: “Terima kasih mba, tapi kami tidak bisa berangkat, Ibu saya tidak punya paspor,...”
Si ibu menggelosor, dan menyuruh anaknya saja yang berangkat, sambil melolong.
Aku bahkan tidak sempat menanyakan apa-apa lagi, karena panitia pengungsian kemudian mendorongku masuk ke ruang tunggu.
Lama sesudahnya, dan sampai sekarang setiap kali 'Tragedi Mei' diangkat, aku ingat wajah perempuan muda itu dan ibunya. Di manakah mereka?

| Menolak lupa, atas apa yang terjadi dengan perempuan keturunan Tionghoa itu.


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar