Selasa, Mei 07, 2013

Pilkada Jateng Pertarungan antara PDI Perjuangan dan PKS

Ada yang menarik dalam proses Pemilihan Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah, Mei 2013 ini. Hadi Prabowo dan Don Murdono, keduanya sebenarnya merupakan kader PDI Perjuangan, namun lantaran PDIP Pusat melakukan strategi cattenacio untuk mengunci Rustriningsih, keduanya kemudian maju melalui gabungan partai PPP, PKB, PKNU, Gerindra, Hanura, dan PKS. Artinya, PKS hanya se-perenam bagian dari koalisi partai ini. Tapi siapapun tahu, PKS paling berambisi memenangkan pilkada Jawa Tengah ini.
Pada sisi lain, PDIP, yang mengacaukan konstelasi politik dengan menetapkan calon mereka pada detik-detik akhir, yang dengan tanpa ampun menghukum habis Rustriningsih, percaya diri sendirian mengusung Ganjar Pranowo. Dari hasil keputusan itu, dan tak adanya komunikasi politik DPP PDIP dengan Rustriningsih, menunjukkan gaya berpolitik preman dari Megawati, yang beda jauh dengan gaya berpolitik Sukarno, bapaknya.
Sementara itu, dengan mengajukan Bibit Waluyo, koalisi Demokrat, Golkar, dan PAN, menunjukkan qua-politicnya yang standard, konvensional, dan khas dari politisi normatif yang main aman. Saya ingat persis kejadian 2003, bagaimana ketika berdebat langsung berhadapan-hadapan dengan jendral ini waktu masih sebagai Pangkostrad. Pemarah dan tak bisa menerima kritik.
Dilihat dari tiga pasangan calon itu, pertarungan sesungguhnya menginti pada pertarungan antara PDIP dan PKS. Kenapa demikian? Saya berani mengatakan, Bibit Waluyo adalah kartu mati, sekali pun trio kwek-kwek seperti Demokrat, Golkar dan PAN bisa memaksimalkan birokrasi untuk mati-matian memenangkan pilkada ini, pendongkrakan suaranya luar biasa sulit.
Dengan kemenangan PKS di Jawa Barat dan di Sumatera Utara, di bawah Anis Matta, partai ini menjadi sangat ambisius untuk memenangkan semua pertarungan. Dan apakah kemenangannya murni? Kita bisa menjawabnya murni, sekali pun sesungguhnya partai ini selalu diuntungkan oleh situasi politik massa mengambang. Karena fakta selalu menunjuk, jumlah perolehan suara PKS hanya bisa dikalahkan oleh suara golput. Golput di Jabar dan Sumut dalam Pilkada belum lama lalu, melebihi perolehan calon yang didukung PKS. Kenapa demikian? Karena masyarakat yang a-politis menjadi sumber kontra-produktif dari goblognya partai-partai lain yang hanya mengandalkan calon mereka tapi tidak didukung mesin partai.
Kita lihat contoh Pilkada DKI Jakarta 2007, ketika PKS sendirian mengusung Adang Daradjatun, dan partai lain keroyokan mengusung Fauzi Bowo. Hasilnya mencengangkan. Adang Daradjatun mendapatkan angka di atas 45%. Sementara Foke dengan dukungan 11 partai politik (termasuk PDIP, Golkar, dan Demokrat tentu) hanya bisa "meraih" sisanya. Cairnya kekuatan Foke, dibaca oleh PKS dengan mendesak agar ada tiga calon, tapi partai-partai lain melihat gelagat itu, dan memaksakan mereka harus kompak dengan satu calon. Tapi buat apa kalkulasi elitis yang tidak mengakar itu? Jika ada tiga pasang calon, bisa dipastikan PKS menang dan Adang Daradjatun mampu mengalahkan Foke.
Kenapa bisa demikian? Karena PKS sebagai partai, jauh memiliki mesin partai yang solid, sementara partai-partai politik lainnya, hanya sekumpulan orang yang melihat partai sebagai kelompok narsistik, fans-club, elitis, tempat untuk cari uang mulu, dan menyebar uang untuk mendapatkan uang yang lebih besar. Tak ada ideologi kepartaian yang mereka bangun, meski ada yang memakai nama gagah nasionalis religius, kanan agak kiri, tengah agak pinggir, dsb, dsj, dll, dllajr.
Dengan dorongan kemenangan di Jabar dan Sumut (paska ditangkapnya Lutfie Hassan dan naiknya Anis Matta), adalah momentum bagi PKS untuk membuktikan diri, mereka paling siap menghadapi Pemilu 2014, dan tak mau terpuruk karena partai ini toh juga sama dengan partai lainnya, doyan duit dengan korupsi, meski dalil agama sering dikemukakan.
Sementara itu, PDIP dengan mengabaikan Rustriningsih (konon karena Megawati marah mendapat kabar Rustriningsih hendak menyeberang ke Nasdem, tapi ada isyu lain Mega takut Rustri akan membuat Puan susah naik citranya, atau gabungan keduanya itu dimanfaatkan para penjilat), dan tak juga melakukan komunikasi politik dengan meteor lokal ini, sebenarnya telah melakukan bunuh diri. Bunuh diri itu dengan fakta bahwa HP dan Don, yang pada dasarnya kader PDIP, akan juga jadi ancaman bagi Ganjar. Setidaknya, lawan Ganjar bukan hanya Bibit, melainkan dari Hadi, dan juga kubu Rustriningsih (yang terakhir ini, sebenarnya kubu paling solid di seluruh Jateng). Sementara Ganjar sebagai anggota DPR pusat, meski kelahiran Kutoarjo, lebih dikenal oleh Megawati daripada rakyat Jawa Tengah.
PKS dengan segala daya akan memenangkan pilkada ini, sampai-sampai semua petinggi PKS diturunkan ke Jawa Tengah, dan melakukan hal yang selama ini ditentangnya. Ziarah ke makam Walisanga, bersilaturahmi dengan kyai-kyai dan pesantren tradisional. Semua halal dilakukan, untuk membumihanguskan Jateng dari basis kandang banteng. Pentingkah kemenangan demi kemenangan itu bagi PKS? Tentu saja penting, dengan teori makan bubur panas, jika banyak pilkada dimenanginya, ideologi yang selama ini disembunyikan, bisa diformalkan melalui kekuasaan politik (propinsi Jawa Barat dan kota administratif Depok, bisa menjadi contoh bagaimana syariat Islam mulai dicobakan, dan hubungan mereka dengan kelompok FPI begitu kental, sementara intoleransi agama lebih banyak terjadi di Jawa Barat). Di parlemen, para kader PKS paling gigih menolak UU Ormas yang mencantumkan Pancasila sebagai azas ideologi.
Akankah tujuan PKS itu berhasil? Jawabannya akan ditentukan oleh para golput yang dikecewakan PDIP. Sepanjang partai ini hanya memakai pencintraan, mengandalkan tampang cakep, kemudaan dan kejujuran Ganjar Pranowo, Jokowi pun tak bakal bisa mengatrolnya. Sayang, PDIP tetap saja tak mau belajar jadi partai yang baik, dengan belajar dari kekalahan di Jabar dan Sumut. Kurang apa Efendy yang Simbolon, toh kalah dengan Gatot Pudja anak Magelang yang diusung PKS.
Kita lihat pada pencoblosan 26 Mei 2013 mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar